
Waktu makan siang tiba. Azan Dzuhur berkumandang. Kania bergegas ke mushola. Dia sendiri tanpa Desi. Teman perempuannya itu sedang tidak shalat.
"Aku tunggu di sini aja, ya." Sakit perut yang melanda Desi juga membuat perempuan itu tak bisa ke mana-mana.
"Nanti aku belikan makanan, ya. Sama teh manis hangat sekaliam," kata Kania yang kasihan juga.
Desi setuju.
Di ruangan yang tidak terlalu luas, tetapi cukup menampung jamaah sekitar seratus orang lebih ini. Kania mulai melaksanakan salat berjamaan dengan yang lainnya.
Imam kali ini adalah Rangga. Kania bisa mengenali betul suara lelaki itu melantunkan takbir seakan Kania diajak ke dunia yang penuh dengan kedamaian.
Salat selesai. Banyak jamaah langsung kabur begitu selesai. Namun, tak sedikit juga yang masih diam untuk sekadar berdzikir atau berdoa bersama.
Kania berada di barisan yang berdzikir lebih dulu. Merasakan nikmatnya kedamaian yang ada di rumah Tuhan tersebut. Tentram dan seolah tidak ada masalah sedikit pun.
Dua menit berlalu, Kania bergegas berdiri. Membuka mukena dan menyimpannya kembali. Ketika akan keluar mushola, tak sengaja berpapasan dengan Rangga. Lelaki itu tersenyum manis padanya.
"Mau ke kantin?" tanya Rangga.
Kania mengangguk pelan. "Ya."
"Ayo, bareng. Aku juga sama."
Kening Kania mengerut kencang. Pasalnya, Rangga ini jarang sekali pergi ke kantin. Biasanya membeli makanan secara online.
Mereka keluar dahulu. Kini keduanya berada di teras mushola. Tak peduli beberapa bisikan gila dari orang karyawan lain. Yang penting Kania dan Rangga tidak melakukan hal yang gila.
"Kamu bukannya sering beli makanan di luar?" kania memakai sepatu lagi.
Rangga pun demikian. "Iya, tapi katanya di kantin banyak makanan yang enak."
Kania selesai memakai sepatu. "Bukan enak lagi, tapi mantap. Cobain deh mie ayamnya, udah pasti kamu ketagihan."
Rangga sama selesai. Senang mendengar Kania tak lagi canggung padanya. Setidaknya wanita itu bisa lebih dekat. Perubahan yang lebih baik. "Kamu mau temani?"
Kania meneguk ludah. Apalagi Rangga mengatakan itu sambil menatapnya dalam. "Aku harus makan sama Desi."
"Kenapa?" Rangga heran. Bukannya kedua perempuan itu sering bersama. "Dia tidak ke kantin?"
__ADS_1
Kania diam. Sedikit ragu mengatakan akan alasannya. Memgingat ini menyangkut tentang perempuan. Malu juga. Bisa saja disangka manja.
"Dia sakit perut,' jawab Kania.
Rangga mengerti. "Ya udah, lain hari kita makan bersama. Tidak perlu berdua kalau kamu merasa risih. Bisa ajak Desi."
Kania tidak keberatan jika seperti itu. "Boleh."
"Ya sudah, kita ke kantin langsung."
Keduanya pun segera meninggalkan mushola tanpa sadar bahwa ada dua pasang mata yang mengamati dari kejauhan.
"Mereka semakin dekat," kata Kinan yang kesal.
Kania dan Rangga melewati koridor kantor menuju kantin. Di sana banyak sekali karyawan yang sudah memadati. Makanannya pun beragam.
"Aku duluan, ya." Kania pamit. Tak enak hati juga mendapati tatapan gila para wanita. Bisa gila dirinya.
Rangga tak masalah. Mereka berpencar. Ia sendiri memilih makan nasi dengan menu rumahan. Hal yang paling dirindukan setelah keluarganya seperti ini.
"Dulu dia sering bujuk aku buat ke sini, tapi sekarang aku sendiri yang datang. Maaf," gumam Rangga yang teringat seseorang.
Langkah kaki lelaki itu pelan mendekati kedai nasi. Memilah dan memilih apa yang diinginkan, lalu membawanya ke tempat duduk.
"Kamu makan apa?" tanya Kinan.
Rangga mengangkat kepala. Ia tak suka adanya Kinan, tetapi tak lantas membencinya juga. "Seperti yang kamu lihat."
Piring Rangga berisikan nasi, capcay, ayam goreng dan tumis kerang. Tak lupa juga satu sendok sambal pedas.
Kinan tetap tenang. Menghadapi Rangga memang harus lebih sabar. "Aku belum makan."
"Cepatlah makan. Jangan buang waktu istirahat," kata Rangga yang kini selesai berdoa dan mulai makan.
"Sudah kenyang lihat kamu juga."
Jawaban itu tidak lantas membuat Rangga merasa beruntung. Sebab, Kinan adalah orang yang sudah dikenalnya lama.
Kinan hanya memesan sop buah sebagai makan siang. Memang perempuan tersebut menjaga sekali pola makan agar badannya tetap bagus. Sudah bukan rahasia lagi.
__ADS_1
Melihat Rangga makan dengan lahap saja membuat perempuan yang berprofesi sebagai sekertaris Pak Gani itu senang. Ia pernah diratukan, walau bukan dengan Rangga.
"Aku kira tidak akan bertemu kamu lagi," imbuh Kinan.
Rangga terus saja mengunyah. Andaikan bisa bersembunyi, jelas lelaki itu ingin melakukannya dari hadapan Kinan sekarang. Pasalnya perempuan itu pasti akan membahas tentang masa lalu.
"Sejak dia pergi, aku cuma punya kamu," ujar Kinan.
Rangga tersedak. Segera minum dan berkata, "Jangan ungkit masa lalu. Aku dan kamu itu cuma saling kenal. Dia juga pasti marah kalau tau wanita yang akan dinikahinya begini."
Kinan mengulum senyum. "Tapi, takdir berkata lain bukan? Mungkin saja jodohku itu kamu."
Rangga menghela napas kasar. Sepertinya begini rasanya tertekan. Disudutkan dari berbagai arah, tetapi mentalnya harus kuat.
"Ayahmu butuh cucu dan aku siap menikah. Kenapa kita tidak menikah?" tanya Kinan.
Rangga kehilangan selera makan. Perkataan Kinan di luar dugaan. Ia menghempaskan sendok dan garpu ke piring. Mengangkat kepala dan berkata, "Kamu bukan wanita biasa, kan?" Sorot matanya tajam.
"Tentu. Memangnya kenapa?' Dengan rasa bangga Kinan menunjukkan bagaimana dirinya. "Aku ini wanita yang berkelas. Bukan cuma dari segi pendidikan saja, tapi juga jabatanku di sini lebih baik."
Alis kanan Rangga terangkat ke atas. "Kamu yakin berkelas?" Sindiran halus bagi Kinan. Bahkan kedua tangan Rangga melipat di dada. "Wanita berkelas itu bukan dilihat dari segi pendidikan dan pekerjaannya saja, tapi juga dari adab."
Kinan menelan ludah. Merasa tersindir jjga. "Maksud kamu?" Tak ingin kalah di perdebatan ini. Sorot matanya pun tidak kalah tajam seperti milik Rangga.
Rangga tersenyum miring. "Kamu seharusnya tidak mengajak orang makan berbicara. Ini namanya adab dan itu perlu dilatih dari kecil sampai menghasilkan adab yang baik. Kalau kamu merasa menjadi seorang wanita berkelas. Seharuanya kamu paham bagaimana harus beradab."
Tangan kanan Kinan mengepal di bawah. Dibandingkan dia yang pergi, menghadapi Rangga memang banyak kesulitan. Baik dari pola pikir ataupun cara pandangnya yang sedikit kritis.
Kinan berdiri. Tidak terima dengan kalimat Rangga. "Wajar saja kalau ayahmu menjulukimi anak yang kurang bermanfaat. Memang seperti itu adanya. Kamu diberi banyak kemewahan bahkan kedua matamu itu bukan milikmu sendiri!"
Suara Kinan kencang dan tentunya terdengar oleh pengunjung yang lain. Menimbulkan banyak pertanyaan di benak mereka masing-masing.
"Kenapa? Kamu ingin meminta dua bola mata ini juga?" Rangga bertanya dengan santainya. Sama sekali tidak ada ketakutan.
"Kamu bisa mengambilnya kalau mau. Dengan senang hati aku mengembalikannya lagi. Anggap saja ini kenang-kenangan yang bisa dia berikan," tambah Rangga.
Bisikan tetangga terdengar merdu. Semuanya tidak menyangka akan kabar tersebut. Menganggap Rangga lahir sempurna, ternyata ada kecacatan yang ia sembunyikan.
Di pojok kiri Kania terdiam. Sama terkejutnya dengan yang lain. Hanya saja ia tak bisa berbuat apa pun.
__ADS_1
Rangga terlihat berdiri. Mengamati sekitar yang tertuju padanya. Tak peduli seberapa kesal dirinya saat ini. Ia hanya perlu berlapang dada akan aibnya yang terbongkar.
"Mata ini memang bukan milik saya, tapi anggota tubuh ini saya rawat sebaik mungkin. Saya pakai untuk melihat kebaikan. Jadi ... kira-kira pemilik aslinya akan marahkah?" Suara Rangga sengaja dibesarkan. Bertujuan agar semua kuping menangkap dengan baik.