Dua Lelaki

Dua Lelaki
Radit pulang


__ADS_3

"Semuanya sudah siap?" tanya Pak Gani pada seseorang di ujung telepon sana.


Jawaban yang memuaskan pun didengar telinga lelaki paruh baya itu. Semua prosesnya siap.


"Ok. Biar nanti diambil orang suruhan saya sendiri." Pak Gani mematikan sambungan telepon tanpa mengucapkan salam.


Pandangan lelaki itu lekat ke arah pintu. Melihat jam, lalu segera mengirimkan pesan pada Rangga. Meminta anaknya itu ke ruangan setelah sampai di kantor.


Sementara itu di lantai bawah Rangga baru saja sampai. Sesuai janjinya, ia menunggu Kania di pintu utama. Begitu perempuan itu terlihat, ia menyambut dengan senyuman.


"Hari ini mau makan siang sama-sama?" tanya Rangga ketika mereka berjalan ke arah lift dengan langkah kaki yang sama.


"Bukan berdua, tapi sama Desi juga," jelas Rangga agar teman perempuannya itu tidak salah sangka.


Beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Bisik-bisik manja terdengar. Sudah pasti mengamati dirinya dan Rangga.


Untung saja Desi datang sebelum Kania dan Rangga masuk lift. "Selamat pagi," sapanya dengan suara sedikit berbeda.


Kania langsung menoleh cepat ke samping kanan dan berkata, "Suaramu ke mana?" Tak mengindahkan sapaan sang Teman. "Kamu sakit?"


Desi tersenyum kecil. "Biasa, Nia. Habis nyinden semalam." Bukannya menjawab dengan jelas, perempuan itu justru bercanda.


Kania menghela napas kasar. "Kamu ini."


Rangga diam sampai akhirnya masuk. Merasa diacuhkan, tetapi tidak masalah. Barangkali Kania sungkan, padahal ia mendekat karena memang keputusan perempuan tersebut.


Mereka sampai di lantai empat. Berjalan menuju meja masing-masing, tetapi berbeda dengan Rangga. Lelaki itu kembali naik lift karena harus menemui ayahnya.


***

__ADS_1


Di tempat lain Radit bekerja semana mestinya. Sore ini ia akan pulang untuk menemui keluarga. Tentunya ada seseorang dicintai juga di sana.


"Semoga saja pekerjaan hari ini nggak terlalu banyak. Aku mau langsung pulang aja. Nggak usah ke apartement dulu," imbuh Radit.


Layaknya karyawan pada umumnya, lelaki itu juga bersukacita menunggu upah dari bekerja selama sebulan masuk. Setelah angka di rekeningnya bertambah, hal pertama yang dilakukan adalah mengirimkan uang pada rekening sang Bunda, lalu pada sebuah yayasan yang sering ia kunjungi dengan Kania dulu.


Jarum jam terasa berjalan dengan sangat lambat sekali. Rasanya tidak bergerak. Mungkin karena lelaki itu terus saja menunggu waktu jam pulang datang.


Mengingat masih pukul dua siang dan pekerjaannya tinggal sedikit. Radit memutuskan untuk pergi membeli kopi. Rasa kantuk ini menghalangi. Terlebih setelah salat Jumat tadi, ia belum sempat makan siang karena memilih mengerjakan pekerjaan.


Radit turun ke lantai bawah. Berjalan di sana dan tidak sengaja bertemu Gendis. Ada yang salah dengan mata gadis itu, sedikit bengkak.


Gendis berada di depan Radit. Tak bisa menghindar karena mereka berada di jalur yang sama, walaupun beda arah. "Selamat siang, Pak Radit." Gadis itu mengangguk hormat sambil mengurai senyum.


Radit membalas senyum. "Siang." Pandangannya tidak lepas dari kedua kantong mata Gendis. Mungkinkah gadis itu habis menangis semalaman? Sebab, tadi pagi ia memang tidak bertemu. "Matamu bengkak, kenapa?"


Gendis menelan ludah, bimbang. Sebisa mungkin menutupi rasa gugup. "I-ini cuma kurang tidur saja, Pak. Semalam saya bawa pekerjaan ke kantor."


Radit kurang suka. Bukan karena bisa saja mengurangi jatah tidur, hal itu juga bisa berdampak pada kesehatan Gendis. "Seharusnya kamu jangan bawa pekerjaan ke rumah!" Suaranya sedikit tegas. "Di rumah itu kamu harusnya istirahat, bukan bekerja lagi."


Gendis paham. Hanya saja, tak ada jawaban yang lebih baik dari begadang. "Kalau gitu saya pamit duluan, Pak. Permisi." Dengan perasan bercampur aduk melewati tubuh Radit. Tercium harum parfum lelaki tersebut dengan menyengat, tetapi anehnya bagi perempuan itu hal ini menyenangkan.


Radit diam. Perubahan sikap Gendis terasa sekali. Tak mungkin juga ia berpura-pura tidak tahu. "Saya minta maaf." Dengan lantang Radit mengatakan itu.


Gendis seketika berhenti.


"Saya harap kamu bisa hidup lebih baik. Cinta memang tidak bisa memilih ke siapa dia datang, tapi kita bisa mengontrolnya dengan baik," lanjut Radit.


Gendis sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata. Hanya anggukan pelan sebagai bentuk jawabannya. Mulut tak bersuara, tetapi hati memberontak. Meringis.

__ADS_1


Mereka berpisah di sana. Radit tak bisa menyalahkan diri sendiri, begitupun dengan Gendis. Menjadi dewasa memang perlu mental baja. Banyak hal yang membuat kita terluka dan kecewa.


Waktu terus berjalan tanpa henti, hingga waktu pulang pun tiba. Semua karyawan bergegas meninggalkan kantor. Radit sendiri masih ada di ruangannya. Sedang mengangkat telepon dari sang Bunda.


"Sayang, kamu yakin?" tanya Bu Wati ketika anaknya mengutarakan niat baik. Bukan tidak setuju, tetapi terlalu bahagia. Setidaknya Radit memilih calon istri yang baik.


Radit dengan penuh keyakinan menjawab. "In syaa Allah, Bun."


Terdengar beberapa kali kata hamdalah yang diucapkan Bu Wati dari ujung telepon sana. Berharap niat baik anaknya ini bisa berjalan lancar.


"Bunda, senang banget, Nak. Nggak nyangka kamu punya pilihan yang sama seperti, Bunda." Akhirnya Perempuan yang tanpa suami itu mengatakan isi hati. Ingin berbicara sejak lama tentang ini, tetapi ragu. Bukan tidak berani. Hanya saja, takut anak lelakinya ini punya kandidat lain. "Bunda, mau pesan kue sama sekalian baju buat Kania juga. Parcel buah-buahan juga."


Mengingat Ibu satu anak itu tahu fostur tubuh Kania, tak sulit baginya untuk mencarikan pakaian.


Radit tersenyum simpul. "Nggak usah, Bun. Radit sudah pesan dan mungkin malam ini dikirim ke rumah. Kalau misalkan Radit belum sampai. Tolong, diterima dulu, ya?"


Suara antusias Bu Wati terdengar memenuhi gendang telinga Radit. "Alhamdulillah, iya, Nak. Kamu juga hati-hati. Jangan ugal-ugalan. Kania nggak akan ke mana-mana." Tawa kecil mengiringi kalimat Bu Wati.


Radit cukup tersenyum kecil. Persiapan ini tidak dilakukan hanya sehari. Sudah jauh-jauh hari dipesan. Semoga saja membuahkan hasil yang sangat baik.


"Kalau gitu, Radit tutup dulu teleponnya, ya, Bun. Mau langsung pulang ke sana. Assalamualaikum," imbuh Radit. Perjalanan yang akan ditempuhnya bukanlah sebentar. Keadaan diri perlu diperhatikan.


"Baik, Nak. Wa'alaikum salam."


Sambungan telepon itu terputus. Radit diam sejenak, lalu berdiri. Tak lupa menyimpan ponsel di saku jas. Bersiap pulang.


"Bismillah, Ya Allah, aku pasrahkan hasilnya padamu. Jika memang Kania, nama yang Engkau takdirkan bersamaku untuk mengarungi lautan pernikahan. Mudahkanlah semua urusanku. Aamiin," ujar Radit.


Besar pengharapan Radit pada niat lamaran esok hari. Tak ingin terus terkurung dalam cinta yang berkedok teman masa kecil. Ia membulatkan tekad. Memberanikan diri keluar dari zona nyaman.

__ADS_1


__ADS_2