Dua Lelaki

Dua Lelaki
Lebih sulit mengikhlaskan.


__ADS_3

"Nggak, sih." Rangga merasa malu. Dengan senyuman sekecil itu saja dirinya sudah kalah. Bagaimana kalau sampai Kania melabuhkan hati untuknya? Mungkin dunia dan seisinya akan terasa lebih indah. "Memang benar apa katamu. Kita seharusnya protes kalau dirasa menemukan sesuatu yang janggal."


Kendaraan berjalan lagi, termasuk milik Rangga. Lelaki itu kembali menyetir dan terus berusaha untuk fokus pada jalanan juga perbincangan ini.


Kania sesegera mungkin mengalihkan pandangan ke depan, melihat ke arah jalanan yang masih saja padat seperti di jam waktu pulang kerja. "Nah, kalau Mas paham. Berarti Mas bisa jawab pertanyaan aku tadi."


Rangga menelan ludah. Sebagai anak perempuan pertama, Kania memang cukup memiliki nyali yang kuat dan rasa penasaran yang tinggi pula. Ini terbawa sampai usia perempuan itu dewasa, memang kalau sudah watak itu agak sulit dihilangkan.


Kania menunggu dengan baik. Merasa ada yang janggal dan pasti disembunyikan Rangga.


"Aku cuma menebak aja, lagian dari catatan pekerjaan Gendis itu baik. Jadi, ya, aku bisa menyimpulkan kalau dia memang cekatan," jawab Rangga. Masih saja sama.


Kania diam. Sudah saatnya menghentikan perdebatan sekarang, tidak akan ada habisnya. "Ah, gitu, ya. Aku kira Mas kenal dia." Sedikit menyunggingkan senyum.


Rangga terdiam. Hanya fokus pada pekerjaan tanpa ingin menjawab apa pun lagi. Mereka akhirnya lebih membahas tentang tempat makanan yang mana untuk menikmati makan malam sekarang. Dan, pilihan keduanya jelas saja jatuh pada sebuah restauran ayam yang dinilai sangat enak oleh berbagai orang.


***

__ADS_1


Radit kembali ke rumah disambut oleh ibunya. Lelaki itu langsung membersihkan diri dan turun ke lantai bawah untuk makan malam.


"Sayang, kamu jadi menetap di sini sekarang?" Bu Irma mengambilkan nasi dengan soto ayam yang memang kesukaan sang Anak tersebut. "Bunda, bakal senang kalau seperti itu." Usianya memang sudah tak muda lagi. Terkadang sering sakit, sehingga tidak jarang membutuhkan bantuan orang lain. Namun, sekali pun begitu, ia tak mungkin meminta anak lelakinya untuk diam di rumah saja. Membiarkan Radit berkembang ke arah yang diinginkan adalah hal yang perlu dilakukan.


Radit mengambil piring yang sudah diberikan sang Bunda. "Iya, Bun. In Syaa Allah, yang lalu ini nggak lagi dipindahkan." Radit bisa dengan jelas mengatakan seperti demikian, karena sudah memiliki kesepakatan dengan Rangga sebelumnya. Bukan tak ingin dipindahkan lagi, tetapi ia juga memiliki keinginan sebelum berkenan ditarik lagi.


Bu Irma duduk di kursi samping, mengelus rambut anak lelakinya dan berkata, "Syukurlah, Nak. Bunda bisa tenang kalau seperti itu." Lega rasanya.


Radit ikut lega, walaupun akan terasa lebih berat. Otaknya membawa Radit ke kejadian tadi di depan pintu utama. Melihat sendiri Kania dibawa oleh Rangga rasanya tak bisa berkutik. Posisinya jauh lebih rendah dibandingkan Rangga, bukan sekadar di perusahaan saja, melainkan di mata hukum pun. Rangga berhak atas Kania dalam hal apa pun.


Radit menghela napas kasar, berhasil membuat sang Bunda sedikit penasaran dan memperhatikannya.


Radit tersadar. Mengambil sendok dan berkat, "Nggak, kok, Bun. Memangnya kenapa?" Tak lupa membawa doa sebelum makan, mencicipi kuah soto yang sudah menyatu dengan nasi. Mantap sekali. "Masya Allah, makanan Bunda memang paling enak."


Pujian ini selalu keluar setiap kali Radit menikmati makanan buatan Bu Irma. Ini bisa menjadi bentuk rasa terima kasih karena sang Bunda sudah bersusah payah membuatkan makanan nikmat.


Bu Irma tersenyum kecil, bahagia. Hati Ibu mana yang tak akan senang tatkala melihat anaknya makan dengan lahap setiap kali diberikan makanan. Sungguh ... kebahagiaan yang bisa memberikan kedamaian. "Kamu dari tadi ngelamun aja. Bunda khawatir kalau kamu lagi ada masalah besar di kantor."

__ADS_1


Radit patut bahagia karena memiliki seorang Bunda yang luar biasa. Bisa memposisikan diri dengan baik dan tidak terlalu mencampuri urusan pribadinya termasuk masalah percintaan.


Bu Irma menatap lekat anak lelaki yang ia besarkan seorang diri. Masih teringat jelas jeritan tangis ketika harus merasakan kehilangan suami dan terus kuat untuk sang Anak. Ini bukan hal yang mudah, tetapi itulah kenyataannya. "Nak, apa pun yang sedang kamu hadapi sekarang, jangan lupa minta solusinya sama Allah. Kamu harus yakin kalau apa pun yang Allah tetaplah itu yang paling baik."


Nasihat ini terasa menentramkan jiwa. Pantas saja Almarhum ayahnya dulu sangat mencintai ibunya, inilah alasan paling kuat. Karena, ibunya adalah orang yang bisa memahami seseorang dengan baik. Peka pada apa pun yang terjadi, tanpa mempedulikan bagaimana kondisi diri sendiri.


Bu Irma meraih tangan kanan Radit, mengelusnya dengan lembut seraya berkata, "Nak, kalau masalah yang kamu hadapi ini adalah perasaan susah melepaskan Kania. Bunda, harap kamu segera mendapatkan pengganti yang lain. Buka hatimu, ajak damai jiwamu. Kania sudah punya suami. Mencintai itu bukan harus selalu memiliki, tapi juga merelakan dia bahagia dengan yang lain. Kamu pasti ngerti bukan?"


Naluri seorang Ibu hadir kuat di perbincangan kali ini. Bu Irma memang bisa memahami jika itu perihal Kania. Radit dan Kania sudah hidup dalam satu keadaan juga lingkungan yang sama sejak dari lahir, jelas saja akan sulit menerima kenyataan.


Radit awalnya diam, tetapi lama kelamaan lelaki itu tersenyum getir. Tanpa sadar pula setetes air mata yang bahkan tidak pernah diperlihatkan dalam keadaan sulit apa pun, keluar begitu saja. "Bunda, aku kalah."


Bu Irma menggeleng cepat sambil menebar senyum. Memberikan rasa hangat agar anak lelakinya ini tumbuh dengan baik, walaupun tanpa didampingi sang Ayah. "Nak, kamu tidak kalah. Tapi, mengalah untuk kebahagiaan orang yang kita cintai itu lebih baik."


Radit diam sejenak. Kuah soto sudah menyatu sempurna dengan nasi, sudah sulit untuk dipisahkan. Mungkin itu gambaran jelas dan pastinya perasaan cinta Radit pada Kania. "Bunda, ternyata mengikhlaskan seseorang itu tidak semudah saat kita jatuh cinta. Prosesnya lebih menyakitkan dan pastinya butuh waktu yang lama. Apalagi kita terus menerus melihat dia di depan mata, sedikit sesak. Tapi, inilah kenyataan."


Untuk pertama kali dalam hidup Radit mencurahkan isi hati tentang hal percintaan pada sang Bunda. Mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, dan betapa tersiksa dirinya saat ini. Jiwa yang porak-poranda itu belum pulih, masih berserakan tanpa arah. Menyedihkan.

__ADS_1


"Dia lebih manis sekarang, padahal Radit sadar dia milik orang lain," imbuh Radit kembali.


__ADS_2