
"Terima kasih," kata Bu Irma begitu menerima masakan dari Kania.
"Sama-sama, Tan. Aku berangkat kerja dulu, ya. Assalamualaikum." Kania tersenyum manis.
Bu Irma membalas senyum kecil. "Wa'alaikum salam. Hati-hati, ya, Sayang."
"Iya, Tan."
Kania berangkat memakai bus setiap hari. Padahal mobil ada. Namun, kemacetan yang sering terjadi membuatnya kesal sendiri.
"Duduk di dekat jendela seperti ini memang paling mantap," kata Kania.
Sekilas pikirannya terbang memikirkan nasib kehidupan. Usianya memang sudah mapan. Bisa dikatakan siap menempuh perjalanan hidup pernikahan. Hanya saja sampai detik ini hatinya masih ragu. Belum bisa menentukan arah dan tujuan.
Bus terus berjalan sampai akhirnya berada di halte yang mendekati kantor. Sekitar empat kali pemberhentian lagi. Mata Kania mendapati sosok Rangga masuk.
Sosok itu berjalan terus ke belakang. Menatap Kania, hampir dikatakan terkejut. "Kamu." saosnya.
Kania tersenyum simpul sebagai tanda sapaan. "Kamu naik bus juga?" Rangga duduk tepat di samping Kania.
Bus pagi ini memang penuh. Wajar karena waktunya berangkat kerja dan sekolah. Tidak heran juga banyak orang rela berdiri asalkan bisa sampai ke tempat tujuan.
Rangga menatap lurus ke depan. Duduk tenang tanpa sepatah kata pun. Kania melirik sekilas, memperhatikan Rangga.
"Oh, ya, temanmu yang satu lagi. Ke mana?" Rangga memulai pembicaraan.
Rania peka. "Oh, Desi." Hanya itu teman satu-satunya Kania di sini. Setidaknya yang perempuan. "Dia beda arah."
"Oh." Rangga mengerti.
Canggung. Keadaan keduanya seakan memiliki batas dengan tembok tinggi.
Bus berhenti di halte ke dua mendekati kantor. Semakin penuh dan desak-desakan. Bahkan seorang lelaki yang di samping Rangga harus berbagi tempat dengan yang lainnya. Hal ini menyebabkan Rangga pun ikut berbagi pada kursi Kania. Secara otomatis, mereka semakin dekat.
Kania diam, begitu pun Rangga.
"Maaf, ya, aku nggak bermaksud tanpa jarak," imbuh Rangga dengan suara pelan. Yakin jika Kania juga risih akan keadaan ini.
"Iya, Mas. Nggak pa-pa." Entah mengapa Kania masih memanggil Rangga demikian. Padahal usia mereka tidak terlalu jauh.
Rangga diam sejenak, lalu berkata, "Jangan panggil Mas. Aku merasa jadi suamimu."
Kania tertegun. Ini gila.
__ADS_1
"Panggil saja Rangga. Kita satu divisi ini." Rangga meneruskan kalimatnya.
Kania mengangguk paham. Keadaan ini berjalan hanya selama satu halte saja, selanjutnya mereka bubar bersama di halte berikutnya.
Rangga dan Kania berjalan menuju kantor. Sesekali Rangga memberi nasihat agar Kania terhindar dari pelecahan.
"Kalau sedang padat seperti itu, biasanya rawan pelecehan. Sebaiknya wanita harus lebih waspada dan berani," kata Rangga.
Percakapan ini meleburkan keadaan. Kania hanyut. "Kamu benar juga. Aku kadang lihat sendiri kejadian seperti itu. Banyak sekali korbannya. Biasanya mereka mengincar anak-anak remaja. Lebih banyak."
Langkah Rangga berhenti ketika berada di dekat pintu utama kantor. Menoleh ke samping dan berkata, "Perempuan itu memang sumber fitnah. Itu tidak bisa dipungkiri. Kita harus bisa menjaga diri sendiri. Jangan lengah dan jangan banyak berinteraksi terlalu dekat dengan orang yang kurang dikenal ataupun lawan jenis."
Hati Kania tersentuh. Nasihat Rangga tidak salah bahkan lelaki itu memberinya semangat dalam meningkatkan kewaspadaan.
"Kadang kita sudah berusaha sebaik mungkin menjaga diri, tapi takdir berkata lain. Ada wanita di luar sana yang kehilangan kehormatannya secara paksa," imbuh Kania.
Beberapa karyawan yang berada di sekitar mereka memperhatikan. Mengamati keduanya.
"Mereka cocok, ya."
"Aku jadi ingat masa muda."
"Yang cowok itu anak pemilik perusahaan, kan? Hebat banget wanitanya bisa dapetin."
Tak dipungkiri desas-desus layaknya bisikan tetangga pun terdengar di telinga Kania dan Rangga.
Rangga menyunggingkan senyuman kecil. "Jangan layu cuma gara-gara lupa disiram. Kamu bisa tumbuh sesuai keinginanmu." Entah apa maksud lelaki itu. Yang jelas ia segera masuk dan meninggalkan Kania sendiri.
"Dia kadang misterius juga," gumam Kania pelan.
"Kania!' Suara Desi mengagetkan Kania dari belakang. Merangkul pundak temannya itu. "Aku lihat kamu udah ngobrol aja sama Rangga. Tambah dekat, ya?"
Kania menelan ludah. "Ah, nggak. Kebetulan aja kita satu bus, pagi ini."
Desi membulatkan kedua bola mata. "Serius?" Seakan kabar ini lebih mengejutkan daripada kenaikkan harga sembako yang terjadi akhir-akhir ini. "Kamu satu bus terus?"
Untuk hal ini Kania belum bisa memastikan. Yang jelas, ia hanya dua kali bertemu Rangga. "Nggak bisa dibilang seperti itu juga, sih. Kita cuma pernah dua kali aja di bus yang sama."
Keduanya masuk.
Desi berpikir lebih dalam. "Aku baru sadar kalau Rangga itu nggak pernah bawa kendaraan ke kantor. Padahal, kan, dia anaknya bos. Udah nggak diragukan lagi kalau soal banyaknya mobil."
Langkah keduanya terhenti ketika bertemu Pak Joni di dekat lift.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak," sapa Kania.
"Selamat pagi." Desi ikut menyapa.
Pak Joni menoleh ke belakang. "Pagi." Matanya menyorot tajam. "Oh, ya, kamu ini Kania, ya?"
Kania diam sejenak, lalu berkata, "Iya, Pak."
Tanpa berkata lagi Pak Joni langsung masuk ke lift bersama empat karyawan lainnya termasuk Kania dan Desi.
Fasilitas kantor itu naik sesuai arahan. Berhenti di lantai dua, lalu naik lagi sampai ke lantai empat. Kania dan Desi turun. Hormat pada Pak Joni.
Kania bergegas ke arah meja. Ada secangkir teh manis hangat di sana. Perempuan itu mengamati sekitar, tidak ada satu pun office boy. Heran.
"Kenapa?" Rangga peka. Mengamati gerak-gerik Kania.
"Oh, ini teh siapa, ya?" tanya Kania.
"Punyamu."
Kening Kania mengerut kencang. "Tapi, aku baru sampai."
Desi duduk di meja samping kanan Kania, sedangkan Rangga sendiri berada di samping kiri. Posisi Kania terhimpit.
"Mungkin ada yang naruh buat kamu," sela Desi sambil menyimpan tas di meja. Menyalakan laptop. Siap bekerja. "Udah diminum aja."
Kania duduk dengan wajah heran. Teh ini sama persis dengan yang sering diseduh, bahkan gelasnya pun sama.
"Kamu, kan, sampai sini duluan. Kamu lihat nggak orang yang simpan ini?" Kania mencoba mencari tahu dengan bertanya pada Rangga.
Bahu lelaki itu terangkat ke atas secara bersamaan. "Nggak." Jawaban Rangg singkat dan jelas.
Kania tak bisa memaksa lebih jauh. Ia memilih diam sendiri dan menyalakan laptop miliknya.
"Aku nggak mau minum dulu. Takut juga," gumam Kania pelan.
Rangga mendengar jelas. Menoleh sekilas dan berkata, "Sebaiknya dibuang saja. Takutnya memang ada yang jahil."
"Benar juga." Desi setuju.
Kania mengangguk pelan. Membawa gelas itu ke arah pantry kecil, tempat tersedianya cemilan dan minuman ringan. Membuang teh itu di wastafel sembari melamun. "Biasanya kalau Radit masih ada, itu memang dia yang buat. Tapi … sekarang mana mungkin."
Perlahan pikiran Kania terfokus lagi pada sosok Radit. Entah sedang apa lelaki itu sekarang? Sukar sekali menendang perasaan yang memang sudah tumbuh lebih dalam.
__ADS_1