Dua Lelaki

Dua Lelaki
Ridho Rangga.


__ADS_3

Rangga terkejut, ikut terbangun. Badannya memang panas, tetapi berusaha seperti biasa. "Ada apa, Nia?"


Kania kebingungan. Kemudian, menatap Rangga. "Mas, Radit kecelakaan."


Rangga terkejut. "Innalillahi wa innailaihi rojiun, di mana?" Kabar buruk itu sanggup memberikan energi lebih sekaligus mengusir sejenak rasa pusing.


"Katanya di jalan pas mau pergi ke rumah temannya." Kania panik. Sedari kecil sudah bersama, jelas akan khawatir.


Mereka hanya diam beberapa menit. Kania sibuk membalas pesan dari Adit untuk menanyakan kabar terbaru dari temannya tersebut. Tak lupa juga menanyakan rumah sakit tempat lelaki tersebut dilarikan.


Rangga memperhatikan wajah Kania. Begitu khawatir dan terlihat resah. Cinta itu masih ada, tampak nyata. Benar kata orang, akan sulit rasanya melupakan cinta pertama. Pria itu mendekat, menatap Kania lekat. "Kamu mau menemui Radit?"


Kania tertegun. Jari kanannya berhenti mengetik, hanya menunduk tanpa menjawab.


Rangga paham. Tak mungkin juga melarang. "Pergilah, aku mengizinkan." Seutas senyum diberikan pria itu. Mungkin inilah yang diinginkan Kania. "Lihat kondisi Radit dan katakan kalau aku tidak bisa datang. Badanku remuk semua."


Kania diam. Perlahan mendongakkan kepala, melihat dua bola mata milik suaminya.


Masih dengan senyum manis, Rangga kembali berujar, "Pergilah, aku ridho."


"Mas." Suara Kania tertahan.


"Aku mengizinkanmu bukan karena tidak cemburu, tapi ini konteksnya beda. Keadaannya juga genting, jadi pergilah. Aku ridho atas itu," lanjut Rangga tanpa beban sama sekali.


Kania masih membisu. Sulit berpikir lebih jernih saat ini. Satu sisi ingin diam, tetapi sisi lain menariknya untuk segera melangkah pergi dari sini. Ingin tahu jelas keadaan Radit yang sudah punya tempat di kehidupannya.


Rangga melangkah dua kali ke depan Kania, mengikis jarak di antara mereka. "Turuti kata hatimu atau kamu akan menyesal. Aku tidak akan menahanmu di sini."


Kania tersenyum getir. "Terima kasih, Mas. Suatu saat nanti aku bakal balas kebaikan Mas Rangga."

__ADS_1


Rangga cukup mengulum senyum kecil. "Aku akan tagih nanti. Janji?"


Kania mengangguk cepat. "In Syaa Allah, Mas."


"Pergilah, lihat keadaan Radit. Titip salam dari aku." Rangga harus berlapang dada, ini keadaan genting. Tidak seharusnya mengedepankan ego.


"Iya, Mas. Assalamualaikum." Kania langsung naik ke lantai atas.


"Wa'alaikum salam." Rangga hanya bisa menatap punggung Kania yang semakin lama, semakin menjauh. Cintanya memang bertepuk sebelah tangan dengan nyata, tetapi ia yang menyeret Kania ke pernikahan ini. Maka dari itu, kesabaranlah yang perlu dinikmati. "Aku juga mau jadi orang sepenting Radit di hidupmu, Nia. Mungkin nanti atau mungkin tidak sama sekali."


Setelah Kania turun, perempuan itu langsung pergi keluar meninggalkan Rangga. Tak berapa lama, Rangga ambruk ke sopa. Tak kuasa menahan rasa pusing yang kembali mendera. Ia sakit, tetapi lebih sakit jiwanya.


***


Di ruangan sebuah rumah sakit Radit terbaring. Bu Irma terdiam melihat kondisi anaknya. Untung saja tidak sampai mengalami luka berat, hanya ringan saja. Kecelakaan itu tidak dapat dihindari karena keadaan lalu lintas yang padat dan semua orang ingin segera sampai. Truk di depan mobil Radit tiba-tiba menurun, dan akhirnya Radit memilih membanting stir ke kanan.


"Ya Allah, Nak, Bunda sampai nangis dengar kamu kecelakaan." Bu Irma terus menangis di dekapan Bu Lala.


"Alhamdulillah, Radit langsung banting stir, Bun. Jadi, nggak terlalu parah juga." Radit mencoba menenangkan bundanya dengan meraih tangan kanan Bu Irma. Memegang erat, memberikan ketenangan sebisa mungkin. "Jangan nangis lagi, Bunda."


Tangis itu masih memenuhi ruangan kamar rumah sakit yang cukup luas untuk ukuran kamar nomor satu di rumah sakit ini. Memang tak bisa menyewa VIP, tetapi ini pun sudah bagus.


"Nak, Bunda berharap kamu selalu baik di mana pun dan pergi ke mana pun. Temannya Bunda cuma kamu," kata Bu Irma.


Bu Lala mengelus punggung tetangganya yang sudah berpuluh-puluh tahun di kenal. "Kita serahkan semuanya ke Yang Maha Kuasa. Terus berdoa yang terbaik untuk anak-anak."


Adit terdiam, menatap lekat Radit dan berkata, "Aku udah kasih tau Kak Kania soal ini. Dan, kayaknya Kakak lagi jalan ke sini juga."


Perkataan Adit berhasil membuat kedua bola mata Radit terbuka, panik juga. "Seharusnya kamu tanya Kakak dulu, takutnya kakakmu lagi sibuk. Kania, kan, sudah menikah sekarang. Ada suaminya juga."

__ADS_1


"Mungkin Kania khawatir sama temannya, Nak Radit," sela Bu Lala. Wanita paruh baya itu bisa menebak isi hati Kania saat ini. Memang tidak membenarkan jika sampai Kania pergi ke sini tanpa izin Rangga, tetapi jika suaminya ridho. Tidak masalah, karena Radit sudah seperti keluarga. "In Syaa Allah, Kania datang dengan izin Nak Rangga juga."


Bu Lala yakin. Anak perempuannya mungkin belum bisa menerima pernikahan itu, tetapi Kania tahu tak akan bergerak tanpa izin.


Pak Kemal hanya diam, lalu pergi keluar. Duduk di kursi hendak menunggu anak perempuannya. Sesekali melihat ke arah kanan, berharap Kania segera datang. Ada hal yang perlu dibicarakan.


Radit sendiri diam. Jantungnya mendadak berdentam tak karuan. Sudah seminggu pindah, tetapi belum bertegur sapa dengan Kania. Lebih tepatnya mereka pun sama-sama menghindar bertemu. Sempat hendak mendekati. Namun, bersama dengan Rangga juga.


"Kalian di kantor memangnya tidak bertemu, ya? Kania bilang belum ketemu sama kamu, Dit." Bu Lala teringat akan cerita Kania.


Radit tersenyum sambil menggeleng cepat. "Aku sama Kania memang lagi sibuk kerja, Tan. Jadi kami juga jarang bisa ketemu, walau satu kantor. Apalagi Radit sekarang kerjaannya tambah banyak."


Bu Lala paham. Tangis Bu Irma mereda, cukup lega. Memang menangis bisa meredakan sedikit sesak dalam dada. "Pantas saja Kania bilang belum sempat ketemu. Apalagi sekarang dia memang sibuk sama Nak Rangga. Tante juga baru ketemu tiga hari lalu, dia nginap beberapa malam aja di sini selama suaminya keluar kota."


Radit diam, mendengarkan.


"Ah, Kakak mah nggak bisa diatur. Aku malah pengen tinggal sendirian di rumah, bebas." Adit justru iri. Berdiam diri di rumah tanpa orang itu adalah kebebasan yang hakiki, bisa berbuat apa pun.


Bu Lala melirik Adit.


"Maaf, Bu. Habis kesel sama Kak Kania, udah nikah aja masih takut tinggal sendiri. Aku suruh ikut keluar kota, malah ngejawab segala macam. Kan, enak bisa sekalian liburan juga." Adit mengeluarkan unek-unek. Sebenarnya rindu debat bersama Kania. Susah memang diungkapkan.


"Astagfirullah, kamu ini, Nak." Bu Lala menghela napas kasar, tak habis pikir dengan pola pikir anak bungsunya.


Radit semakin terdiam. Semakin lama, rasanya bukan semakin menghilang, melainkan kian membara. Perasaan itu susah dibunuh, walaupun sudah mencoba berbagai cara.


"Kak Rangga itu kan kaya, pengusaha juga. Kalau Kak Kania mau ikut, pasti diajak. Bisa berpetualangan ke berbagai kota, enaknya." Adit berbicara sembarangan, entah apa maksudnya.


Bu Lala mencubit lengan kanan Adit, terkadang mulut anak lelakinya ini sulit sekali dijaga. Entah mirip siapa.

__ADS_1


Dua menit setelah itu suara pintu terbuka, semua orang menoleh ke arah sana. Termasuk Radit. Di ambang pintu Kania terdiam, menangkap orang yang kini posisinya sudah duduk dengan menggunakan infusan. Kania mengatur napas, perlahan masuk dan berkata, "Assalamualaikum."


__ADS_2