Dua Lelaki

Dua Lelaki
Angin Malam


__ADS_3

Kania berdiam diri sejenak. Memandangi sosok di depan yang hanya berjarak sekitar dua meter saja. Entah angin malam seperti apa yang menarik tubuh Kania, berjalan cepat seolah senang dengan kehadiran sosok itu.


Kania mendekat, kemudian memeluk erat. Aromanya masih sama, bahkan lebih manis malam ini. Tak peduli siapa pun yang melihat, ia melewati masa-masa terbimbang dan akhirnya berhasil keluar.


Sosok itu tersentak atas perubahan Kania yang signifikan. Kemudian, memeluk erat kembali. Merasakan kehangatan yang hadir di tengah dinginnya malam.


Dua sejoli saling berpelukan di depan tempat bekerja. Mungkin jika ada pasang mata yang menatap, jelas akan iri.


"Assalamualaikum, Nia. Aku datang." Suara lembut Rangga menyapa telinga Kania. Benar-benar lembut dan selama ini jarang sekali bernada tinggi. "Maaf, karena tiga hari meninggalkan kamu. Aku bekerja keras biar bisa pulang lebih cepat."


Kania terdiam, menempelkan pipi kanan di dada suaminya. Masih dengan pakaian lengkap yaitu setelan jas hitam, Rangga datang menenteng tas hitam pula. Bisa dipastikan jika lelaki itu benar-benar mementingkan bertemu dengannya dulu dibandingkan pulang ke rumah. 


"Wa'alaikum salam. Selamat datang kembali, Mas." Kania baru bersuara. Ternyata tiga hari berpisah cukup memberikan pelajaran berharga bahwa, sepasang suami istri itu akan tetap berjalan bersama, walaupun awalnya dimulai dari rasa terpaksa. Itu pun jika kedua belah pihak tidak ada yang saling memaksa, hanya terus memberikan dorongan dan menunggu waktu saja.


Untuk pertama kalinya, Rangga bisa bebas menyentuh Kania. Di mana, ia bahkan tetap harus meminta izin ketika memegang tangan istrinya itu saja. Malam ini, jelas ia telah sedikit melebarkan haknya. "Terima kasih sudah mau menyambutku." Rangga merasakan cinta tulus yang sudah lama hilang ditelan bumi. Dibawa pergi oleh sang Kakak yang nyatanya memberikan beban berat pula. "Aku sudah lama tidak merasakan pelukan hangat penuh cinta, terima kasih."


Kania tak lagi berbicara apa pun, hanya diam sambil menikmati waktu yang ada. Entah apa yang ada di otaknya sekarang, tetapi hatinya menyukai ini.


Setelah lima menit saling berpelukan, Rangga pun mengajak istrinya pulang. Sebelum itu, ia menjelaskan kenapa ada di sini sekarang.

__ADS_1


"Jadi, Mas telpon ke rumah Ibu, ya?" Kania memastikan setelah mereka berada di mobil.


Rangga mengangguk pelan. "Ya. Aku beberapa kali telepon aku, tapi tidak diangkat. Jadi, karena merasa cemas. Aku telepon Ibu."


"Astagfirullah, apa benar?" Kania kaget. Sesegera mungkin mengambil ponsel di tas, melihat layar benda itu. Dan, rupanya benar sekali. "Ya Allah, maaf, Mas. Aku tadi pakai mode getar aja. Di kantor banyak pekerjaan." Kania merasa bersalah.


Rangga terkekeh kecil. Hatinya bisa bernapas bebas sekarang. Kehidupan rumah tangga yang diperkiraan akan hancur pun, nyatanya bisa melewati fase menakutkan. Sudah saling menyadari posisi masing dan akhirnya memilih berdamai dengan keadaan. Rangga yang siap ditinggalkan, sedangkan Kania yang ternyata belajar banyak dari kesalahan. Terus saling memupuk rasa percaya satu sama lain, sampai mereka berada di posisi saat ini.


Kania mengerutkan kening. "Aku serius, lho, Mas." Perempuan itu tampak kesal. Padahal sudah sangat serius, tetapi reaksi Rangga berbeda. 


Rangga menyelesaikan tawa yang dirasa sangat lepas. Bahkan, sudah lama hilang dari hidupnya. "Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Mungkin karena aku merasa senang saja."


Kania turun lebih dahulu dengan menenteng tas, membuka pintu, dan langsung masuk. Beberapa kali Rangga menegur. Namun, rasa dongkol itu masih saja susah hilang.


"Nia, maaf." Rangga mengikuti dari belakang. Keduanya kini naik ke lantai atas, masuk kamar dan terlihat Kania tidak berbalik badan.


"Aku kesel tau, Mas!" Kania menghela napas kasar. Rangga berada di belakangnya. "Aku beneran nyesel karena nggak bisa angkat telepon, tapi Mas malah seperti itu!"


Rangga diam. Wanita kalau sudah marah, memang tampak mengerikan. 

__ADS_1


"Memang harusnya aku nggak marah seperti ini, tapi susah aja gitu." Kania sama sekali tidak memahami perdebatan di hatinya. 


Rangga berniat melangkah sekali ke depan, dan tanpa diduga seluruh ruangan gelap. Mati lampu. Sontak Kania berteriak dan berbalik badan. Menabrak tubuh Rangga dan akhirnya berdiam diri. "Jangan takut, ada aku."


Sebelumnya tidak ada pemberitahuan untuk mati lampu kali ini. Mungkin ada hal yang perlu dibenarkan. Dan, hanya hitungan menit saja, lampu nyala kembali. Posisi Kania masih sama, kali ini mereka bisa saling menatap satu sama lain.


Rangga menelan ludah, ini terlalu mendesak. Namun, ragu juga. 


Kania sendiri seakan terhipnotis dengan kedua netra Rangga yang bulatannya sempurna, cantik sekali.


"Nia, maaf." Mata Rangga seolah berbicara sesuatu.


Kania masih saja berdiam.


"Matikan lampu utama, nyalakan lampu tidur." Dengan hanya berkata seperti itu serta diiringi gerakan tepukan tangan sekali, keadaan kamar menjadi remang-remang.


Jantung Kania berdentam, susah dikendalikan. 


"Aku minta maaf sebelumnya. Tolong, jangan dibenci." Rangga tersenyum sebentar.

__ADS_1


Kania tidak merespons apa pun, menolak pun jelas tidak. Pada akhirnya mereka saling terbuka satu sama lain agar bisa merekatkan hubungan. Sebuah awal yang mungkin menuju ke hal yang lebih baik. Berharap langkah Kania ataupun Rangga, tidak salah lagi. 


__ADS_2