Dua Lelaki

Dua Lelaki
Cerita Rangga.


__ADS_3

Rangga hanya satu malam di rumah sakit. Keluarga Kania pun tidak ada yang tahu. Ini kesepakatan mereka berdua.


Setelan kepulangan Rangga dari rumah sakit, keduanya mulai kehidupan yang baru. Kania lebih sedikit terbuka, walaupun masih belum sepenuhnya terbiasa. Perlahan, tetapi pasti. Semua akan berjalan sesuai keadaan.


Pagi ini Rangga bangun lebih awal, menyiapkan sarapan karena Kania masih mandi setelah salat Subuh dan berolahraga sebentar. Di rumah ini tidak ada peraturan yang mewajibkan hanya istri saja yang memasak. Sebab, keduanya terlibat dalam segala aktivitas pengerjaan pekerjaan rumah.


Masakan Rangga cukup simpel, hanya kari ayam dengan chicken katsu. Salah satu menu yang cukup berat, tetapi mengenyangkan. Kania turun ke lantai bawah dengan terburu-buru, mendapati suaminya sudah siap di meja makan dengan dua piring makanan. 


"Sarapan dulu, Nia." Rangga menyambut sang Istri semanis mungkin.


Kania merasa bersalah. Berjalan cepat dan menarik kursi di depan suaminya. "Maaf, Mas, aku semalam mengerjakan beberapa dokumen. Jadi, tidur agak larut malam."


Rangga tak masalah. "Nggak pa-pa. Yang penting kamu tetap jaga kesehatan. Dan, jangan pernah bawa pekerjaan lagi ke rumah. Bukan tidak boleh, tapi istirahatmu jadi terganggu."


Kania mengangguk paham. "Iya, Mas." Kania mengambil sendok. Melihat masakan suaminya yang cukup menggoda lidah. Benar-benar seperti chef bintang lima.


"Berdoa dulu." Rangga memimpin doa seperti biasa. Kania mengangkat kedua tangan, mengucap doa bersama sang suami.


Makan di mulai. Kania bercerita bagaimana pekerjaan banyak yang perlu diselesaikan akhir-akhir ini. "Aku sampai mau muntah lihatnya, tapi aku yakin Mas lebih sibuk daripada aku."


Rangga hanya tersenyum simpul.


Rasa masakan buatan Rangga rupanya enak. Rasanya pas dengan bumbu kari yang kental. Kania baru menyantap sekali ini saja. "Mas, minggu nggak keluar kota, kan?"


Rangga yang sedang mengunyah pun seketika terdiam. Menghabiskan lebih dulu makan di mulut, lalu berujar, "Aku harus keluar kota hari rabu nanti. Tapi, sepertinya yang kali ini akan lama."


Kania tertegun.

__ADS_1


Rangga menghela napas kasar. Memang sedikit berat meninggalkan Kania, tetapi inilah risiko dari pekerjaan yang perlu dijalani. "Aku harus memantau beberapa cabang anak perusahan. Aku juga ada janji dengan salah satu client untuk perancangan busana."


Kania mengerti. Menatap lekat Rangga yang tampaknya tidak terlihat lelah, walaupun segudang pekerjaan di ambil. "Mas, apa nggak terlalu capek mengurus perusahan dengan butik? Aku aja yang lihatnya lelah."


Seperti tadi lagi, Rangga memilih menghabiskan dahulu makanan di mulut. Tidak ada kata lelah dalam kamus kehidupannya. Sebab, ia sudah terbiasa dari kecil. "Sebenarnya lelah itu ada, wajar karena manusia. Tapi, aku yang terbiasa menggapai sesuatu dengan kerja keras dari kecil. Sudah biasa."


Kania terdiam. Selama ini tidak pernah banyak tahu bagaimana keadaan Rangga sesungguhnya. Apa yang terjadi masa kecil? ataupun tentang beban yang lelaki itu tanggung. Mungkin belum tahu, tetapi pasti akan tahu. 


Kania tertarik dengan kalimat Rangga ini. Menghadirkan rasa penasaran di jiwa Kania. "Maaf, ya, Mas." Sedikit ragu. Namun, tetap harus dikatakan.


"Jangan sungkan. Kamu istriku." Rangga seolah bisa menebak isi hati istrinya. 


Kania memikirkan beberapa kali lagi tentang pembahasan yang cukup sensitif ini. Bisa jadi mungkin mengungkit masa lalu. Hanya saja, jika dirinya saja tidak mengenal betul sang Suami. Lantas bagaimana mereka akan memulai kehidupan baru? Maka dari itu, diwajibkan bagi Kania mengetahui sedetail mungkin kehidupan Rangga sebenarnya.


Rangga menunggu sambil mengunyah makanan. Ekspresi Kania saja sudah mewakilkan bahwa, ada segudang pertanyaan di benak Kania. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mendengarkan tentang pertanyaannya itu.


Rangga menghabiskan setengah gelas air putih. Menyimpannya kembali dan berkata, "Nggak pa-pa. Aku tau kamu bakal tanyakan ini." Begitu tenangnya Rangga menghadapi pertanyaan istrinya. Ia menghela napas panjang. "Begini …."


Pria yang kini memakai setelan jas warna hitam pun memikirkan rangkaian kalimat yang bisa dipersembahkan untuk Kania. Jangan sampai salah jawaban, bisa salah paham juga. 


"Aku memang anak kandung Ayah, tapi dari Ibu yang berbeda. Kakak dan aku hidup bahagia, istilahnya aku anak yang membawa kesialan untuk Ayah." Terlihat jelas Rangga terlihat sedih. Nada bicaranya pun penuh kesedihan. "Selain terlahir dengan cacat, aku juga dibenci Ayah karena tidak ada kesempatan meneruskan perusahaan. Kakak sempat mau membuat perusahaan sendiri, tapi Ayah bilang kalau tidak ada anak lagi yang lebih baik dari Kakak."


Kania mendengarkan dengan baik. Setiap kata-kata itu penuh kesakitan, tetapi Rangga menceritakannya tanpa beban. Mungkin hendak menyembunyikan. 


Rangga teringat masa kecil. Menarik napas dalam, menghembuskan perlahan-lahan. Jangan sampai terbawa suasana sampai sulit menerima keadaan lagi. Ini yang lebih berbahaya. "Kakak, juga penuh tekanan dari Ayah. Apa pun yang Kakak mau memang diberi, tapi tidak soal percintaan dan juga pekerjaan. Kakak yang notabennya seorang penulis pun harus merelakan bakat itu untuk dipendam. Sedangkan aku, susah payah sendiri untuk bisa meraih pendidikan tinggi dengan kondisiku seperti itu."


Sarapan kali ini penuh haru dengan cerita Rangga. Sebuah fakta yang sama sekali tidak ketahui publik dan tersembunyi rapi. Benar-benar di luar dugaan. Pak Gani yang terlihat seperti pemimpin adil dan bijaksana pun ternyata memiliki sisi gelap tersendiri bagi anak-anaknya. Siapa sangka, kedua anaknya itu ditekan mentalnya dan harus menurut.

__ADS_1


"Kakak, sempat memberontak. Berkali-kali protes dan menentang Ayah, tapi karena kepintaran Ayah dalam hal seperti ini. Akhirnya Kakak tidak berdaya. Sampai sewaktu-waktu Kakak datang dengan penuh harapan ke Ayah, meminta restu untuk menikahi seorang gadis dari kalangan yang memang terbilang bawah juga berbeda keyakinan dengan kita," sambung Rangga terus mengenang perjalanan kehidupan mereka.


"Jujur, aku nggak tau Mas Rangga. Yang aku tau itu Pak Gani cuma punya satu anak, kakaknya Mas." Di sini Kania berkata jujur. Semua orang pun tidak mengira Pak Gani memiliki dua anak. 


Dua sudut bibir Rangga terangkat ke atas membentuk senyuman. Rasanya sudah bukan hal aneh lagi. Bahkan, di rumah pun ayahnya seolah tidak menganggap keberadaan Rangga. Biarkan saja. "Mungkin karena aku lahir cacat, jadi Ayah malu mengakui. Begitu aku bisa sempurna, Ayah baru mempublikasikan siapa aku."


Dada Kania sesak. Rasanya tertusuk beberapa jarum tajam dan sanggup merobek jantung. Sakit sekali.


"Lalu, apa yang terjadi sama kakaknya Mas?" Kania penasaran. Cerita yang tak pernah didengarnya dari siapa pun.


"Jelas saja Ayah menentang." Rangga langsung menjawab.


Sudah Kania duga. Kriteria calon menantu Pak Gani itu memang tinggi dan harus sesuai seleksinya. Jelas saja tidak akan semudah itu. "Apa benar Kakaknya Mas itu meninggal karena kecelakaan?" Gosip itu beredar beberapa tahun lalu, dan diyakini sebagai penyebab kematian kakak dari suaminya tersebut.


Rangga ingin tertawa, kocak sekali. Ayahnya sangat berkuasa sampai berita itu pun disulap semanis mungkin.


Di sinilah Kania mulai curiga. Reaksi Rangga tak biasa. "Apa ada hal lain yang publik nggak tau, Mas?" Memberanikan diri menanyakan lebih lanjut.


Mengingat Kania adalah istrinya dan tidak mungkin juga wanita itu bergosip dengan yang lain. Rangga yakin mengungkap fakta ini. "Bukan kecelakaan, tapi kakakku meninggal karena bunuh diri. Terjun dari lantai atas, tempat yang sekarang aku pakai. Dan, kejadian itu tengah malam saat cuaca hujan."


Kania membulatkan kedua bola mata, sungguh tidak mengira. "Astagfirullah." Mulutnya menganga lebar, benar-benar di luar dugaan.


Rangga berusaha untuk menenangkan diri. Keterkejutan Kania ini belum seberapa dengan sesuatu yang akan dikatakan selanjutnya. "Dan, kamu tau apa yang lebih mengejutkan dari itu?" 


Kania menggelengkan kepala. "Nggak, Mas. Memangnya ada fakta apa lagi."


Rangga tertunduk lesu. Menahan perasaan yang bercampur aduk yang sulit diartikan. "Aku yakin kamu nggak akan sanggup kalau jadi aku." Tak henti-hentinya Rangga menghela napas kasar. Membuat Kania semakin penasaran.

__ADS_1


__ADS_2