
"Kami datang ke sini untuk melamar anak Pak Kemal untuk anak saya Rangga," kata Pak Gani.
"Saya datang ke sini juga untuk melamar anak Pak Kemal untuk anak saya, teman masa kecilnya Kania, Radit," imbuh Bu Irma
Di samping mereka duduk masing-masing lelaki muda. Menatap Pak Kemal seolah ingin menelanjangi.
Pak Kemal mencoba tenang di tengah hantaman badai dalam diri. Rasanya ingin gila, dua keluarga datang di waktu yang sama dengan niat yang juga sama. Ini mimpikah? Bukan senang, melainkan lebih dominan bingung. Terlebih untuk putri kesayangannya..
Pak Kemal menghela napas kasar. "Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas niat baik dua keluarga karena menemui langsung saya sebagai ayahnya Kania, tapi untuk keputusan akhir mungkin hanya Kania yang bisa menentukan," jawab Pak Kemal.
Rangga mengurai senyum kecil. "Saya dan Ayah pun meminta maaf jika kedatangan kami membuat kaget keluarga Pak Kemal, tapi sebelum hari ini datang, saya sudah mendapatkan izin dari Kania."
Radit melirik sekilas. Kurang percaya. Ia mungkin hanya datang dengan seorang Ibu, tetapi kedatangan mereka pun memiliki niat yang sama.
Radit memusatkan pandangan pada Pak Kemal lagi. "Om, aku mungkin belum dapat izin dari Kania, tapi In Syaa Allah, niatku karena Allah."
Rangga bergeming. Ini bukanlah sebuah pertempuran yang harus perlu bertanding dengan ketat. Biarkan saja Kania yang memilih. Sekali pun nanti perempuan tersebut memilih Radit, berlapang dada adalah cara terbaik.
"Saya serahkan sepenuhnya pada Kania. Dia berhak menentukan pilihan terbaik." Rangga tampak lapang dada.
Hal ini mencuri perhatian Pak Gani, lelaki paruh baya itu memberikan tatapan tajam. Seakan marah pada Rangga.
__ADS_1
Bukan hanya Kania yang akan bimbang, Pak Kemal pun merasakannya. Di satu sisi anak gadisnya itu sudah memvonis Rangga sebagai calon suami, tetapi melihat keberanian Radit melamarnya. Mungkinkah Kania akan berbalik arah?
Pak Kemal mengerti. "Saya sendiri tidak akan melarang Kania untuk menikah dengan siapa pun, selama lelaki itu memang bisa menuntun anak saya ke jalan yang baik." Sebagai seorang orang tua, tentu Pak Kemal ingin yang terbaik.
ayah kania diam sejenak untuk menjeda kalimatnya. Akhirnya hari ini pun tiba, di mana ia akan mendengar sendiri sang Anak memilih pendamping hidupnya. Fase yang sebenarnya berat, tetapi baru awalan saja. Sebab, ada fase yang paling berat tentunya. Itu adalah ketika melepas sang Anak pada suaminya kelak.
"Kania, wanita manis yang mungkin Nak Rangga dan Nak Radit lihat sekarang itu saya didik dengan baik. Saya jaga seperti berlian, saya sekolahkan, saya beri makan dan penuhi kebutuhannya dengan keringat sendiri. Jadi ...." Sesak dalam dada menguat. Pak Kemal memilih diam sebentar untuk kedua kalinya.
Rangga peka. "Maaf, bukan bermaksud memotong pembicaraan Bapak, tapi sampai di sini pun saya paham." Lelaki itu terlihat lebih bijak dari keempat orang yang datang. Auranya pun terpancar lebih banyak positif. "Saya mungkin lelaki baik, bukan juga orang yang punya, tapi saya pastikan membahagiakan anak Bapak sesuai kemampuan. Bukan cuma dengan materi, tapi menghujaninya dengan cinta."
Pupil mata Radit membesar. Dengan penuh keyakinan juga ketenangan, sang Lawan pun meyakinkan sasaran mereka.
Pak Kemal mengangguk kepala pelan. "Terima kasih sebelumnya, Nak Rangga." Pak Kenal senang bisa dipahami. "Saya berbicara seperti ini bukan ingin menekan calon menantu, tapi ingin menyampaikan kalau nanti saat perjalanan rumah tangga ada yang membuat dia kurang senang dengan anak saya. Baik secara akhlak, fisik, atau memang sudah tidak suka lagi. Setelah melewati segala cara lembut pun tidak membaik, saya harap pulangkan saja anak saya ke rumah. Jangan sakiti dia, apalagi memukulnya. Jangan runtuhkan kehidupan manis tanpa pukulan yang saya bangun untuk anak saya sendiri."
"Saya akan didik ulang anak saya dengan baik. Pulangkan saja. Jangan ambil jalan kekerasan." Kalimat itu keluar dari sanubari Pak Kemal paling dalam. Menitipkan anaknya nanti pada calon suaminya.
Rangga dan Radit mengangguk bersamaan tanda paham. Suasananya berubah menjadi syahdu.
Sementara itu Kania sendiri masih terpaku. Bu Lala pun sempat kaget. Namun, sebisa mungkin untuk terus tenang. Merangkul lengan kanan Kania dan berkata, "Ayo, temui tamunya." Suaranya lembut sembari mengayunkan langkah.
Kania tersadar. Jantungnya berdetak tak karuan. Keringat dingin bercucuran membasahi tangan. Kegugupan ini tidak bisa ditutupi. Sorot matanya saja sudah menunjukkan perasan Kania saat itu.
__ADS_1
Kania dan Bu Lala sampai. Kedatangan mereka langsung disambut senyuman dari Radit, sedangkan Rangga sendiri hanya menatap Kania lekat.
"Mohon maaf, Bapak, Ibu, anak saya baru selesai siap-siap." Dengan sangat lembut mendudukan Kania di sofa panjang. Berhadapan langsung dengan empat orang yang seolah ingin menerkam Kania.
Bu Lala pun duduk di sofa yang sama. "Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kedatangan dua keluarga ke rumah kami dengan niat yang sangat baik." Menyambut tamu seramah mungkin menjadi kebiasaan yang baik.
Bu Irma tersenyum simpul. Memegang tangan kanan Radit lembut. Menguatkan anak itu jika terjadi kekalahan dalam melangkah.
Kania menundukkan wajah. Sungguh ... ia bimbang saat ini. Rasanya ingin pergi saja, entah ke bagian bumi yang mana. Yang terpenting bisa keluar dari kenyataan sekarang
Janjinya pada Rangga menjadi pertimbangan paling berat, tetapi di satu sisi rasa senangnya memuncak karena keberanian Radit datang melamar. Ibaratnya, mimpi yang lama terpajang di etalase itu pun akan segera terbeli dan dibawa pulang. Siapa yang tak ingin?
Pak Gani sedikit kecewa. "Pak Kemal, saya tidak punya banyak waktu untuk menunggu terlalu lama. Jika memang anak perempuan Bapak sudah siap menjawab, silakan diutarakan."
Rangga tidak enak hati. Sang Ayah melakukan ini hanya karena kesal dengan keadaan, padahal hal ini sangat sulit bagi Kania. Sudah dipastikan begitu.
Kania semakin gugup. Tertekan sudah pasti. Ia bahkan sampai kesulitan untuk sekadar mengangkat kepala, menatap satu per satu bola mata dari keempat orang di hadapannya.
Pak Kemal menoleh ke samping kanan. Mengamati keadaan anak perempuannya. Andaikan tak banyak orang dan sedang berada di situasi serius. Rasanya ingin memeluk Kania. Memberikan ribuan kasih sayang dan dukungan terbaik secara langsung.
"Semua kita serahkan pada Kania. Silakan dijawab, Nak." Dengan berat hati menyerahkan keputusan terbaik pada Kania.
__ADS_1
Kania terus berpikir, sekali pun sulit. Radit sendiri gugup, penuh dengan kecemasan. Berbeda hal dengan lawannya, Rangga lebih tenang. Menyerahkan sepenuhnya pada takdir Tuhan. Sudah siap untuk kecewa dan menghadapi amukan ayahnya. Menyusun rencana agar bisa menolong perusahan Pak Kemal, sekali pun ia bisa saja ditendang dari keluar sendiri. Tak masalah.
Bu Lala meraih jari jemari kanan Kania dan berbisik, "Jangan ragu. Kamu bisa menentukan pilihan sesuai isi hati."