Dua Lelaki

Dua Lelaki
Radit dan Kania


__ADS_3

Esok pun tiba. Kabar lamaran ini diterima Desi dengan penuh keterkejutan. Mengingat hasil diskusi semalam bahwa, pernikahan akan diadakan seminggu lagi. Tentu saja Kania dan Rangga harus mulai fitting baju.


Siang ini Kania yang diantar Desi menemui Rangga di butiknya sesuai permintaan lelaki itu. Sebelum berangkat, Bu Lala sempat berpesan pada sang Anak Sulung.


"Nak, apa pun yang terjadi ke depan. Bunda, harap kamu semakin bijak dalam menentukan keputusan. Kamu bisa mencari pendapat dari orang sekitar. Setelah menikahi nanti, berusahalah jadi istri yang baik," pesan Bu Lala.


Kania mengerti. Menyimpan nasihat dengan baik di memori otak.


Adit sempat ingin ikut, tetapi sang Bunda memintanya mengantar ke kajian hari ini. Sudah lama juga tidak mengajak anak bungsunya. Lelaki itu sempat protes. Namun, kekuatan seorang Ibu dengan nasihat lembut mampu meluluhkan batu sekali pun.


Kania pamit. Keluar rumah dan tak sengaja bertemu Radit yang hendak masuk rumah. Mereka saling diam di tempat. Terlebih untuk Kania, merasa canggung setelah kejadian semalam.


Radit berusaha lapang dada, menerima keputusan Kania. "Kamu mau pergi?" tanyanya seperti tidak terjadi apa-apa.


Kania mengukir senyum. Ingin memperlihatkan pada teman masa kecilnya jika ia memang baik-baik saja dengan keputusan tersebut. "Iya, Dit. Rangga, nyuruh ke butik buat fitting baju pengantin."


Hati Radit tersentak. Rupanya rencana pernikahan sudah didiskusikan juga. Sebaiknya memang seperti itu supaya kedua lawan jenis itu tidak terkena fitnah, terlebih Rangga dan Kania bekerja di ruangan yang sama. Akan sangat rawan dengan interaksi yang intens, sehingga bisa saja menimbulkan berbagai fitnah.


"Kalian sudah memutuskan menikah?" Radit tetap bersikap semana mestinya. Seorang lelaki sejati harus bisa menerima kekalahan. Mencintai seseorang itu tidak perlu dengan memiliki raganya sebab, rasa cinta yang dibarengi keikhlasan akan membuat jiwa tenang sekali pun sang Pujaan bersama yang lain.

__ADS_1


Kania tak bisa memungkiri hal itu. Kabar baik ini akan segera menyebar ke ribuan telinga termasuk Radit. Tak ada gunanya pula menutupi. "Ya, Dit. Doakan saja. Kami berencana menikah seminggu lagi." Di kalimat itu tidak tersirat keraguan sedikit pun. Tak ada rasa gugup, Kania tenang. Badai ini memang menerjang jiwanya begitu kencang. Namun, ia hanya harus bangkit untuk bisa melanjutkan kehidupan.


Radit memperlihatkan senyum lebih mekar lagi layaknya mawar merah. "Alhamdulillah, seharusnya memang disegerakan. Selamat, ya. Semoga kalian jadi pasangan yang langgeng sampai akhir hayat. Aamiin."


Ucapan itu terdengar indah di telinga orang lain. Akan tetapi, menyakitkan untuk Kania. Ingin kabur, hanya saja sudah terlanjur datang untuk berperang. Lanjutkan saja. "Aamiin. Terima kasih, Dit."


"Sama-sama. Aku ke dalam dulu, ya. Mau kasih ini buat Adit." Memperlihatkan sebuah kado kecil. Entah apa isinya. "Kemarin dia malak." Sekarang bibir manis Radit mengeluarkan tawa sedikit. Sepertinya sebagai penghibur diri.


"Astagfirullah, Anak Itu!" Kania kesal. Adit terkadang berani meminta pada Radit karena menganggapnya kakak juga. "Berapa harganya, Dit? Biar aku yang bayar." Hendak mengeluarkan dompet dari tas kecil.


"Nggak perlu, Nia." Radit langsung melarang. Menghentikan gerakan tangan Kania. "Ini nggak seberapa. Bagiku dia itu adik juga, sama seperti kamu. Sampai kapan pun, pergi ke mana pun, dan bersama siapa pun, kamu tetap pemilik hatiku."


"Maaf, karena aku terlambat datang ke sini. Aku pengecut karena terlalu memikirkan hubungan kita sebagai teman masa kecil." Sesak dalam dada Radit terasa lagi. Padahal bibirnya sudah mengucapkan beberapa kali kata ikhlas. Dasar manusia! Selalu saja begitu.


"Tapi, dibalik ini justru banyak hikmah yang aku ambil termasuk rasa syukurku karena nggak akan kehilangan kamu. Kalau menikah, mungkin kita bisa renggang saat ada masalah. Beda halnya dengan sahabat atau teman, selamanya selalu bersama. Itu yang aku mau." Berbohong itu tidak baik, tetapi Radit melakukannya demi sebuah kebaikan di antara mereka berdua. "Aku berharap bisa selalu ada buat kamu, sekali pun nanti kamu sendiri sudah menikah."


Kania bergeming. Percakapan mereka bukan lagi tentang bagaimana hari-hari keduanya, melainkan keterbukaan perasaan masing-masing.


"Jujur ... kalau ditanya, apa aku bisa lupakan kamu sebagai cinta pertamaku? Jawabannya jelas, nggak!" tegas Radit.

__ADS_1


Kania merasa bersalah. Besar pengharapan Radit padanya. Hanya saja situasi saat ini memaksanya untuk tetap pada jalur yang tengah ditempuh. Tak bisa berbelok ataupun berputar arah. Kata maaf terus terbesit dalam pikiran. Berharap Radit bisa memahami dan menerima dengan baik. Jangan sampai ada dendam dan kekecewaan terdalam sebab, manusia memang gudangnya kecewa untuk manusia lainnya.


"Aku minta doanya agar bisa terus jadi pribadi yang lebih baik. Kalau suatu saat, di perjalanan pernikahan kamu dengannya terjadi peperangan paling hebat sampai kamu terluka. Datanglah! Aku menyediakan obat." Radit tersenyum tipis yang selalu berhasil membuat Kania terpukau.


Sebisa mungkin Kania menahan lonjakan air mata yang ingin keluar. Menggedor kencang pintu gerbang bola mata agar diizinkan membasahi pipi. Sungguh ... situasi macam apa ini? Menghanyutkan jiwa.


"Jangan ragu. Tanganku masih bisa menguatkanmu, perasaanku masih akan tetap sama. Aku pastikan itu!" Radit dengan tegas mengatakan itu. Tak tersirat sedikit pun keraguan. "Tapi ... yang terpenting dari itu, aku berdoa semoga pernikahan kamu tetap bahagia dan langgeng. Jangan ada perpisahan, kecuali maut."


Kania tak tahan. Semakin lama berbicara dengan Radit, hatinya bisa kian hancur. "Terima kasih, Dit." Melirik arloji di tangan kanan. "Waktunya sudah mepet. Maaf, ya, aku tinggal. Assalamualaikum."


Kania bergerak melewati Radit begitu saja. Dua raga yang tidak bisa bersama, tetapi memiliki ikatan jiwa yang saling terhubung satu sama lain.


"Wa'alaikum salam." Radit membalas cepat. "Hati-hati di jalan." Suaranya merendah. Takut Kania mendengar. Setelah memastikan suara langkah kaki Kania tidak terdengar jelas, ia segera masuk rumah.


Sementara itu Kania berbelok ke kanan. Tepatnya bagasi mobil. Masuk dan segera mengeluarkan kendaraan roda empat itu dari tempatnya. Meluncur menjauhi pekarangan rumah yang akhirnya mengeluarkan ia dari gerbang berwarna hitam tersebut.


Kania menyetir dengan fokus. Pandanganya lurus begitu bergabung di jalan raya. Perkataan Radit terus berputar di ingatan, mengusik jiwa sampai ia tak kuasa menahan linangan air mata.


Pada akhirnya keluar juga. Cairan bening itu membasahi kedua pipi lembut Kania. Isak tangisnya menyesakan. Saat hatinya sudah terpatri untuk Radit, justru semesta punya rencana lain.

__ADS_1


"Maaf. Maaf." Kata itu terus terucap dari bibir mungil Kania. Bayangan Radit disertai sorot mata lelaki itu yang lesu menari-nari di mata. Kania gagal mengontrol diri. Memutuskan menepikan kendaraan di sisi, lalu menyembunyikan wajah di stir mobil. "Ya Rabb, kuatkan aku kalau ini memang jalan takdirmu. Aku yakin rencanamu paling indah dibanding keinginanku."


__ADS_2