
Kania menurunkan tangan kanannya yang dipakai membungkam mulut Rangga. Mereka mungkin sudah ada beberapa kali terlibat interaksi fisik, tetapi dalam konteks yang tidak sengaja. Kali ini berbeda, Kania berinisiatif sendiri. "Maaf, Mas, aku nggak sengaja bungkam mulut kamu."
Lembut tangan Ririn yang menempel ke bagian bibir Rangga membuat lelaki itu terdiam seakan sulit untuk bergerak. Padahal hanya tangan saja, tidak lebih dari itu. "Kamu seharusnya jangan memotong pembicaraan seperti itu." Rangga memasang wajah sedikit kesal. Akan tetapi, perasaannya jelas berbeda.
Kania tersenyum manis. Kali ini tak ada keterpaksaan sama sekali. "Maaf, Mas, habisnya Mas nggak bisa diam." Wanita itu menunduk.
Rangga menghela napas kasar. "Aku khawatir."
"Aku paham." Kania langsung menjawab, walaupun dengan keadaan menunduk. "Tapi, aku udah bilang kalau cuma sakit perut biasa."
"Bagiku, kamu mau sakit perut ataupun sakit gigi sekali pun, itu sudah jadi kekhawatiran sendiri. Kamu nggak akan tau rasanya jadi aku, kalau kamu nggak berada di posisiku sekarang. Sebagai seorang suami, ah mungkin bisa dibilang lelaki yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku pasti nggak akan mau lihat orang yang dicintai sakit." Rangga menjelaskan agar Kania bisa mengerti.
Kania mengangkat kepala. Menatap dalam suaminya. Keheningan ini menarik perempuan itu pada sebuah pertanyaan yang harus segera diberikan. "Aku penasaran satu hal. Mungkin ini sudah Mas katakan berkali-kali, tapi apa boleh aku tanyakan sekali lagi?"
Rangga mengangguk pelan. "Silakan. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu selama itu memang dalam konteks yang wajar." Lelaki itu tidak merasa bersalah, maka dari itu tak perlu takut juga. Rangga menarik kursi yang ada, duduk menghadap pada Kania. "Kamu bisa tanyakan apa pun."
__ADS_1
Kania sebelumnya terdiam sejenak, menimbang lagi apa yang akan diucapkan. Kemudian, berkata, "Alasan terbesar Mas menikahiku apa? Menerimaku dengan keadaan yang masih mencintai Radit sampai sekarang?"
Rangga sedikit terluka dengan kalimat terakhir Kania. Tak masalah, ia perlu menanamkan banyak kesabaran. "Itu simple. Mungkin orang akan mengira aku sebagai seseorang yang pemaksa, sudah tau kamu mencintai Radit dan terpaksa dengan pernikahan ini. Tapi, aku seperti tidak ingin membantu. Jujur, kekuatanku belum bisa sepenuhnya melawan Ayah, aku cuma bisa mendukungmu sendiri untuk kabur dari situasi seperti ini. Tapi, kamu memilih tetap duduk tenang."
Kania mengerti itu.
Tatapan Rangga penuh cinta. Tidak ada jeda sedikit pun. "Setelah apa yang aku lakukan, kamu memilih untuk diam. Akhirnya, aku juga ikut diam. Berpikir, mungkin nanti akan berubah perlahan-lahan." Lelaki itu menjeda sebentar kalimatnya. Menarik napas dalam, menghembuskan perlahan-lahan. "Rasanya memang sulit, menerima istri sendiri dengan keadaan jiwa dan hatinya untuk lelaki lain. Tapi, aku juga tidak mau membuatmu kurang nyaman di sampingku. Lebih baik menahan setiap gejolak dada dibandingkan membuatmu sungkan setiap berhadapan denganku."
Keheningan itu semakin memberikan rasa tersendiri di hati masing-masing. Mungkin mereka hanya perlu waktu berdua seperti ini tanpa kehadiran orang lain.
Kania tertegun.
Di sela-sela keheningan, seseorang masuk. Rupanya tim kesehatan yang datang, memeriksa keadaan Kania agar memastikan aman. Rangga menunggunya dengan baik sampai selesai.
"Istri saya biarkan istirahat di sini dulu. Kalian tolong jaga dengan baik," kata Rangga pada petugas kesehatan.
__ADS_1
Dua orang yang memakai jas putih itu pun mengangguk cepat. Pamit kembali keluar karena tak ingin jadi nyamuk di sini.
Posisi Rangga sekarang berdiri di samping Kania. Sudah satu jam lebih mereka menghabiskan waktu di tempat ini. Memang waktunya bekerja lagi untuk Rangga. Lelaki itu melirik arloji di tangan, ah sudah waktunya ternyata. "Aku ada beberapa dokumen penting yang harus ditinjau. Kamu tunggu di sini sampai pulang. Aku jemput sore."
Kania diam. Tidak ada reaksi apa pun. Hampir membuat Rangga bimbang.
"Aku cuma pergi kerja, bukan perang. Kamu nggak perlu murung." Entah angin dari mana yang membuat pria itu berkata konyol. Ini mungkin caranya agar Kania bisa sedikit terlihat biasa lagi. "Aku pasti kembali, jangan takut."
Benar saja, Kania langsung mengangkat kepala. "Siapa yang takut, Mas?" Sifat keras kepalanya tidak bisa dilepaskan. "Aku cuma ngantuk, tapi Mas belum pergi dari tadi." Hatinya tidak berkata seperti itu.
"Oh. Ya sudah, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik di sini. Aku kerja sebentar. Jangan khawatirkan apa pun, perkataanku tadi sebagai bentuk kalau memang aku tidak memaksamu untuk ada di sampingku terus. Kamu bisa berkembang lebih baik lagi. Assalamualaikum." Rangga berbalik badan.
Baru saja selangkah menjauh, dengan gerakan cepat Kania yang sedang duduk di ranjang pun memeluk pinggang lelaki itu sambil berkata, "Kenapa sekarang aku yang takut?"
Rangga terkejut. Eratan kedua tangan Kania benar-benar nyata. Interaksi fisik mereka kian intens.
__ADS_1