
"Bukan mau aku lakukan itu. Semuanya terjadi memang nggak sengaja." Rangga menjelaskan sambil berjalan ke toilet.
Kania diam. Melirik jam, lalu berteriak, "Ya Allah, jam lima." Dengan cepat turun dari ranjang dan bersiap salat. Lupakan apa yang terjadi sebagai pembuka hari tadi, anggap saja pemanis.
Rangga berada di kamar mandi. Mengenang lagi kejadian beberapa menit ke belakang. Ini bukan maunya, tetapi berharap lebih juga. Tak bisa dipungkiri sebagai seorang lelaki dewasa dan susah menikah, jelas saja ada kebutuhan biologis yang perlu dipenuhi. Hanya saja, ia tak bisa memaksa jika Kania tidak ridho. "Bukan tubuhku, jadi aku cuma perlu sabar."
Rangga secepat mungkin mengambil wudu. Melupakan yang terjadi, sama seperti Kania dan keluar.
Keduanya sudah siap salat Subuh bersama. Fajar ini Rangga tak bisa ke masjid karena telat. Tak apa, yang penting masih melakukan kewajiban terhadap Tuhan. Di rumah pun, tidak masalah. Memang lebih baik di masjid untuk kaum Adam.
Dalam balutan suasana Subuh yang dingin dan belum tercampur polusi udara, dua insan itu menikmati waktu salat menghadap Yang Maha Kuasa. Rangga berperan sebagai iman, dan Kania makmum.
Begitu salat selesai, Rangga berbalik badan, menyodorkan tangan dan akhirnya Kania pun mencium. Ini hal biasa, interaksi kecil di antara mereka.
"Aku minta maaf atas kejadian tadi. Sama sekali aku nggak bermaksud lain." Rangga tak ingin Kania salah paham.
Keduanya duduk bersila saling berhadapan. Kania menunduk, merasa bersalah juga.
"Seperti yang sudah aku bilang, tidak akan menyentuhmu tanpa izin. Jadi, sebisa mungkin aku meminimalisir sentuhan fisik antara kita," sambung Rangga.
Kania menelan ludah. Rasa bersalahnya kian bertambah. "Aku juga minta maaf, Mas, karena tadi sempat nendang Mas ke belakang. Jujur, aku kaget." Memang benar adanya. Hal yang tak pernah dilakukan, tiba-tiba terasa. "Ini masih pagi, dan aku langsung dapat sarapan seperti itu."
Rangga tersenyum kecil. Sedikit manis juga kalimat Kania. "Itu baru sarapan kecil, kamu mungkin mau yang lebih manis lagi?" Entah mengapa senang sekali menggoda istrinya.
Sontak saja Kania mengangkat kepala. Memberikan tatapan lekat. "Mas!" Kesal.
Rangga tertawa kecil, lalu membalikan badan dan berkata, "Ini hari minggu dan masih pagi. Kalau kamu mengizinkan, aku boleh tiduran di pangkuanmu sekarang. Setiap kali aku melihatmu, rasanya sedang bersama Ibu."
Kania tersentak. Sepertinya Rangga sedang merindukan sosok ibunya.
"Dulu, aku sering melakukan itu di pangkuan Ibu. Tenang rasanya." Rangga diam, berharap Kania memberikan jawaban indah.
__ADS_1
Kania menatap punggung lebar Rangga, cukup menenangkan sepertinya jika bersandar di sana. "Kalau Mas merasa lebih tenang, silakan."
Rangga terkejut. Kania perlahan bisa menerima pernikahan ini. Suatu saat akan lebih baik dan maju juga.
"Makasih." Tanpa ragu Rangga langsung merebahkan badan dan menidurkan kepala di pangkuan Kania. Benar-benar tenang. Lelaki itu memejamkan mata sejenak, merasakan kedamaian yang hanya bisa dirasakan saat berada di samping Kania saja. "Nia, aku ucapkan terima kasih karena kamu mau memilihku. Aku mungkin bukan pemenang hatimu, tapi setidaknya aku bisa ada di sampingku untuk menjaga kamu selamanya."
Lentiknya bulu mata Rangga menjadi objek utama Kania. Jika dilihat dari dekat, lelaki itu memang sangat manis. Bahkan Rangga memiliki wajah yang cukup rupawan untuk seorang lelaki, wanita mana yang tak takluk.
"Terima kasih juga karena kamu selalu ada di belakangku, jadi orang yang setia memegang tangan." Rangga tak membuka mata sedetik pun, hanya berucap saja.
Kania memperhatikan lekat sampai akhirnya penasaran. "Mas, selain karena jatuh cinta pandangan pertama. Apa alasan Mas meminang aku?"
Obrolan kecil seperti ini biasanya akan merekatkan hubungan pasangan. Sebab, komunikasi yang baik akan mempengaruhi hubungan. Itu sudah terbukti di lapangan.
Rangga akhirnya membuka mata. Mengangkat sedikit kepala dan melihat manisnya Kania dari bawah. "Mungkin karena adab dan keras kepalamu."
Kening Kania mengerut kencang. "Memangnya aku keras kepala, Mas?" Rasanya tidak.
"Kamu tidak merasa?"
Rangga terkekeh geli. Tangan kanannya ke atas, ingin menyentuh hidung. Namun, tertahan cepat. Kania melihat jelas "Maaf." Rangga menurunkan kembali. "Kamu itu memang keras kepala, tapi kamu punya prinsip yang kuat. Kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu putuskan, walaupun memang terkadang masih susah untuk diatur."
Kania diam. Melihat tangan kanan Rangga turun kembali terasa ada jutaan rasa bersalah dalam dada. Lelaki di depannya memang mempegang teguh sebuah ucapan, terlihat dari sikapnya sekarang.
"Aku suka kamu karena itu, dan hal ini jugalah yang buat aku harus lebih sabar hadapi kamu," tambah Rangga.
Kania diam. Masih merasakan lonjakan rasa bersalah yang kini hampir mengisi seluruh jiwanya. "Mas, tangannya kenapa diturunin lagi?" Entah mengapa Kania justru tertarik menanyakan itu.
"Ah, ini, ya karena aku udah janji sama kamu." Rangga mengukir senyum kecil. Bohong, dia sedang menutupi ketidakmampuan untuk melawan diri. "Jadi, kamu bisa tenang, kan, sekarang? Aku tidak mungkin melakukan hal gila tanpa izinmu."
Sontak Kania mengambil tangan kanan Rangga. Membuat pria itu terdiam. Perlahan menaikkan kembali tangan suaminya itu dan ditempelkan ke pipi kanan. "Tadi Mas mau sentuh pipi aku, kan?" Nada bicara Kania pelan, lembut dan membuai jiwa lawan bicaranya. "Kalau sekadar sentuh pipi, kenapa harus izin? Nggak masalah."
__ADS_1
Telapak tangan Rangga akhirnya menyentuh bagian pipi kanan Kania. lembut, halus dan licin. Sungguh ... betah sekali tangannya di sana. Mereka saling menatap satu sama lain, hanyut dalam keadaan yang dibuat sendiri.
"Kamu cantik." Kata pujian keluar dari mulut Rangga. Lelaki itu berusaha menahan diri, jangan sampai bertingkah seperti binatang buas yang menerkam mangsa tanpa ampun. "Terima kasih."
Perlahan Rangga membelai pipi kanan Kania. Merasakan semakin banyak ketenangan. Kian lama, ia akan kian larut. Bahkan melayang ke udara.
Kania diam, setiap sentuhan halus tangan Rangga dirasakan menenangkan. Sampai akhirnya tersadar dan berkata, "Maaf, Mas, sepertinya kita perlu sarapan."
Kania menurunkan pelan tangan Rangga, begitu pun Rangga yang langsung bangun. Kania hendak berdiri, tetapi Rangga menarik tangan kanannya dan mendekap erat sang Istri. "Kalau kamu bersikap semakin lembut, aku takut bersikap posesif ke kamu. Sebelum itu terjadi, tolong pastikan dulu perasaanmu dengan benar."
Kedua bola mata Kania membulat sempurna. Pelukan Rangga begitu erat, tetapi tidak sampai mencekik. Setiap kata yang dikeluarkan pria itu menyentuh sanubari.
Rangga berkali-kali meminta maaf karena melakukan itu, lalu keduanya pun berpisah. Kania pergi ke dapur, sementara Rangga sendiri ke ruangan olahraga. Semakin hari, semakin banyak kemajuan. Namun, kebimbangan pun kian menyelimuti diri Kania.
Waktu sarapan pun tiba. Kania mengajak Rangga. Di sana terlihat lelaki tersebut tidak terlalu menikmati menu makan pagi kali ini.
"Mas, kenapa?" tanya Kania, penasaran.
"Nggak. Aku cuma kurang istirahat aja." Rangga mulai merasakan pusing di kepala. Akan tetapi, tetap berusaha kuat agar tak membuat Kania khawatir.
Kania mengerti. Mengingat menjadi pemeran Direktur Utama itu tidaklah mudah. Banyak tugas dan kewajiban yang perlu dilakukan dan hal itu bisa mempengaruhi keadaan tubuh.
Sarapan selesai, Kania mencuci piring. Hari ini keduanya memilih berdiam diri di rumah. Tak ada acara yang menarik, mungkin menghabiskan waktu berdua dengan segala aktivitas lebih menyenangkan.
Waktu terus berjalan ke angka sepuluh siang. Kania sedang bermain game di ruangan keluarga, begitu pun dengan Rangga yang hanya diam di sopa. Rasa pusing di kepala lelaki tersebut terus saja menerjang, ia sedari tadi tak memegang ponsel. Bahkan suhu badannya mulai meningkat panas.
Ketika Kania yang berada di sopa kecil sedang bermain ponsel, justru sebuah pesan diterima dari Adit. Wanita itu membacanya cepat dan langsung berdiri. "Astagfirullah, Radit!"
***
Jangan lupa ikutan GA.
__ADS_1
sertakan hastag #Dualelaki di komentar kalian.🥰🥰
Like, vote sebanyak mungkin.