
"Ada apa, Ayah?" Rangga memulai percakapan. Ternyata yang menghubungi Kania adalah sang Ayah. Rangga sendiri bisa menebak arah topik pembicaraan saat ini, tetapi memilih mengikuti alur.
Pak Gani melipat kedua tangan di dada dengan punggung bersandar di kursi, menatap lekat Kania dan berkata, "Apa kalian istrimu lupa tentang janjinya ke Ayah?"
Kania terkejut. Keningnya berkerut kencang.
Rangga sendiri berusaha bersikap tenang. "Janji yang mana?" Menghadapi ayahnya bukan dengan emosi, harus lebih cantik dan bisa mengikuti lebih dahulu. "Bisa dijelaskan."
Pak Gani tidak mengalihkan pandangannya dari Kania seolah menantunya ini adalah sasaran paling empuk. "Istrimu pasti tau." Sengaja menunggu Kania membuka suara.
Rangga memegang tangan kanan Kania, sudah berjanji akan melindungi sang Istri. "Barangkali Kania lupa. Ayah, bisa langsung jelaskan saja." Rangga masih dalam tahap sabar.
Kania menghela napas kasar. Pandangannya lurus ke depan, ke arah sang Mertua. "Mungkin maksud Ayah itu tentang janjiku soal cucu." Otak Kania sudah mengarah ke sana. Apa lagi? Hanya janji itu yang diucapkannya.
__ADS_1
Rangga sendiri diam, melirik Kania sebentar. Kemudian, kembali fokus pada ayahnya. "Kalau soal itu, aku rasa Ayah tidak perlu menagih. Kami sedang berusaha, tapi Allah yang menentukan." Jelas tidak akan langsung cepat, karena baru beberapa hari mereka bisa bersatu. "Jangan terlalu menagih sesuatu yang bukan ranah manusia, Ayah."
Pak Gani menurunkan kedua tangan. Kali ini menatap Rangga tajam. "Usaha seperti apa yang sudah kalian lakukan?"
Kania terdiam, memilih menyerahkan semuanya ke Rangga saja. Biarkan jiwa kepemimpinan lelaki itu berkibar dengan tinggi.
"Usaha yang seperti manusia biasa lakukan." Rangga langsung menjawab tanpa takut.
"Ikut program hamil?" Pak Gani bertanya lebih detail.
"Sudah Ayah duga, kalian belum berjalan lebih cepat." Pak Gani mulai geram. "Itu memang kuasa Allah, tapi kita juga harus ada usaha."
Tangan kiri Kania mengepal, menahan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
__ADS_1
"Kalian harus lebih giat lagi berusaha!" Pak Gani semakin tegas.
"Jangan terlalu kasar, Ayah!" Rangga tidak terima. Tangannya terus mengepal tangan sang Istri. "Aku sudah menuruti semua permintaan Ayah, kali ini biarkan Kania yang menentukan. Karena, itu adalah hal Kania."
"Kamu kalah dengan perempuan?" Pak Gani tidak percaya.
"Aku bukan kalah, tapi menghargai dan menghormatinya sebagai seorang perempuan dan istri. Di rumah tangga ini, bukan cuma aku yang berperan dalam mengambil keputusan. Kania juga berhak. Jadi, aku harap mulai saat ini Ayah tidak perlu ikut campur!" Rangga berdiri, menarik Kania sekaligus. "Aku menghormati Ayah juga sebagai orang tua, tapi sekarang aku punya sosok Istri yang juga perlu aku hormati."
Pak Gani mendongakkan kepala. Menatap begitu tajam serat lekat. "Kakakmu pasti marah melihatmu seperti ini."
"Kakak justru bangga, Ayah!" Rangga benar-benar marah. Bahkan Kania bisa merasakan energi negatif itu begitu besar dari tubuh sang Suami. "Kakak marah karena Ayah terus mendesak anak-anaknya sesuai keinginan Ayah. Kakak marah karena Ayah selalu ingin semuanya terlihat sempurna."
Suasana berubah menegangkan. Rangga tidak ingin diperbudak lagi, saat ini tubuhnya bukan hanya harus melindungi diri sendiri. Akan tetapi, juga Kania.
__ADS_1
"Kami undur diri, Ayah. Assalamualaikum." Masih dengan posisi menggenggam tangan istrinya, Rangga berbalik badan. Jika diteruskan, pembicaraan ini hanya akan melukai hati juga pikirannya.
Pak Gani berdiri seraya berkata, "Tunggu, Nak!" Suaranya masih tinggi dan tegas. Kania masih belum membalikkan badan, menatap wajah mertuanya yang mendadak terlihat menyedihkan. Sementara Rangga sendiri mengurungkan niat untuk berjalan ke depan. "Ayah punya alasan, mengapa mendesak kalian tentang cucu. Ayah, bukan menekan Kania terlalu dalam. Ini penting."