Dua Lelaki

Dua Lelaki
Nasi goreng


__ADS_3

"Terima kasih sudah mengantar anak kami."


Kalimat itu yang didapat Radit dari sepasang suami istri paruh baya.


Perjalannya memang sekitar setengah jam. Radit terpaksa diam beberapa jam untuk mengobrol sekaligus mengajak lagi Gendis pulang. Bukan tanpa sebab mereka bersama lagi. Mengingat besok bukanlah wekeend dan Gendis masih harus bekerja.


"Nggak perlu datang, Nak. Doakan saja Ibu sehat.' Perempuan paruh baya itu mengantarkan anak perempuannya keluar. "Banyak-banyak terima kasih ke Tuhan karena kamu punya atasan yang baik."


Sampai setengah perjalanan, Gendis terus saja teringat kata-kata ibunya. Menyentuh juga menyadarkannya tentang arti keberadaan Radit yang menjadi berkah bagi dirinya juga keluarga.


Pikiran Gendis sampai teringat sesuatu. Tentang tujuan Radit keluar rumah. "Maaf, Pak Radit mau keluar rumah untuk makan bukan? Kalau iya, saya jadi tidak enak hati."


Terlalu gelisah membuat perempuan itu lupa menanyakan hal tersebut.


Radit tak bisa memungkiri itu. Setelah shalat Magrib tadi, ia memang berniat pergi makan atau ke supermarket. Namun, mendadak kenyang karena melihat kecemasan di wajah Gendis.


"Sebenarnya, iya." Mengakui pertanyaan Gendis tanpa segan.


Gendis terkejut bukan main. Berdosa dirinya. "Ya Tuhan, saya minta maaf, Pak." Wajahnya berubah menjadi penuh penyesalan termasuk sorot matanya. "Saya sama sekali tidak kepikiran." Gendis membungkukan kepala sebagai permintaan maaf.


Radit terkejut juga dengan reaksi Gendis. Ia sempat melirik sekilas, lalu fokus lagi ke depan.


"Kalau begitu, bagaimana kalau saya traktik Pak Radit makan? Apa saja." Gendis ingin menebus rasa bersalahnya. "Hujannya juga sudah reda."


"Nggak perlu. Saya mau ke minimarket saja, beli mie." Radit bukan menolak makan bersama, tetapi arloji di tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak baik juga terus berduaan. Ini hanya karena terpaksa.

__ADS_1


"Jangan, Pak. Makan mie terus menerus bisa bikin Pak Radit sakit. Saya masakan saja setelah sampai. Kebetulan di rumah banyak stok sayur dan lauk," cegah Gendis.


Radit menolak lagi dengan alasan tidak ingin merepotkan orang lain karena hal sepele saja.


"Kali ini jangan menolak, Pak. Saya cuma ingin membalas budi,' imbuh Gendis yang berhasil meluluhkan hati Radit.


Pada akhirnya lelaki dengan jaket biru musa itu pun menerima. Perjalanan tersebut lebih cepat dari saat berangkat karena hujan reda. Keduanya berpisah menuju kamar masing-masing.


Gendis langsung memasak. Malam ini ia hanya akan membuatkan nasi goreng seapod saja. Simple, tetapi mengenyangkan. Praktis juga di saat perut lapar.


"Selesai juga." Gendis sengaja membawa nasi goreng itu dengan kotak makan tertutup agar tidak menganggu orang lain oleh harumnya. Bisa-bisa satu gedung minta dibikinkan.


Sambil berjalan keluar kamar dan naik ke lantai empat. Hati Gendis berdebar. Perlakuan manis Radit terus saja mengusik di pikiran. Ingin menariknya ke masa lalu yang bisa membuat mabuk kepalang.


"Aku harus sadar kalau Pak Radit itu punya orang," gumam Gendis menyadarkan diri. Lebih baik seperti itu daripada terus membuai jiwa lebih jatuh ke perasaan yang jelas-jelas sudah bertolak belakang.


"Sekali lagi." Tangan kanan Gendis mengetuk kembali. Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka.


"Sebentar, ya, aku buka pintu dulu." Seiring dengan terbukanya pintu. Suara Radit pun terdengar sambil memegang ponsel. "Nanti aku hubungi lagi. Assalamualaikum."


Gendis terdiam. Kedatangannya di saat yang salah karena Radit sepertinya sedang berbicara dengan seseorang. Mungkin saja perempuan tercintanya tersebut.


"Maaf, Pak, saya menganggu.' Gendis tetap mempertahankan wajah manis dengan sedikit senyum. Memberikan kotak bekal tersebut pada Radit dan berkata, "Ini cuma nasi goreng, tapi setidaknya bisa mengganjal perut."


Tangan kiri Radit memegang ponsel, jadi tangan kanan yang mengulur mengambil pemberian Gendis. "Alhamdulillah. Saya minta maaf karena merepotkanmu."

__ADS_1


Gendis merasa senang, bukan direpotkan. Bisa memasakkan makanan kesukaan lelaki pujaannya saja bisa, sudah bersyukur sekali. Tak apa tidak bisa memiiliki, seperti ini saja. "Jangan sungkan, Pak. Ini cuma nasi goreng."


Harum khas nasi goreng menyapa telinga Radit. Menggoda perut, ingin segera menyantap habis. Yakin enak. Semua yang dimasak perempuan berkacamata di depannya ini tidak pernah gagal. Ia merasa memiliki seorang Ibu. "Sekali lagi terima kasih, tapi maaf saya tidak bisa mengajakmu makan bersama."


Gendis memahami itu. Sudah malam juga. Tak enak dengan yang lain. Bisa saja mereka tertempa gosip gila. "Tidak masalah, Pak. Sama-sama."


Gendis segera pergi dari sana. Ia sempat mendengar Radit kembali berbicara dengan orang yang berada di sambungan telepon tadi. Ia berhenti tak jauh dari pintu apartement Radit. Berdiri dengan perasaan berbeda. Sudah ikhlaskan dirinya dengan keadaan ini? Padahal tidak seharusnya rasa cemburu itu ada.


"Beruntungnya wanita itu bisa dapatkan hati Pak Radit yang bisa dikatakan sempurna." Gendis menghela napas kasar. Menetralkan perasaan sendiri, lalu segera melangkah kembali menuju lift. Tak ada yang perlu dirisaukan. Tuhan itu baik. Selalu kalimat itu yang menjadi pemicu semangat Gendis untuk selalu bergerak maju ke depan.


Sementara itu Radit membawa kotak makan ke sofa. Duduk di sana dan menjawab pertanyaan ibunya.


"Bunda, nggak perlu khawatir. Aku baik-baik aja di sini,' kata Radit.


Setelah penolakan lamaran minggu kemarin, Bu Wati sering sekali menghubungi anaknya. Menanyakan kondisi lelaki itu, takutnya down karena ditolak oleh perempuan yang dicintai.


'Sayang, kamu mau pulang minggu ini? Menghadiri pernikahan Kania," tanya Bu Wati.


Sejenak Radit terdiam. Jika tak datang, akan malu dengan Kania. Namun, kalaupun datang, ia belum memastikan apakah hatinya akan baik-baik saja. Sebab, sampai detik ini pun rasa cinta ini menyelimuti diri. Mengungkung dirinya dalam sebuah labirin yang bahkan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.


"Kalau kamu ngerasa nggak baik-baik saja, nggak perlu datang, Nak. Bunda, nanti minta maaf sama Kania." Suara Bu Wati kembali terdengar. Lebih memperhatikan perasaan sang Anak. "Jangan paksakan dirimu untuk seseorang. Kania juga paham."


Radit masih saja bergeming sampai akhirnya meyakinkan diri dengan keputusan. "In syaa Allah, aku datang, Bun. Nggak enak sama Om dan Tante, apalagi Kania. Mereka sudah baik dari dulu. Jangan sampai penolakan ini berujung memutuskan silaturahmi."


Bu Wati memahami. Mengingat sudah malam, Radit pamit makan. Bundanya tidak tahu jika saat ini ia sedang dihadapkan dengan sekotak makan dari Gendis.

__ADS_1


Radit menyimpan ponsel di meja kaca. Membuka kotak makan itu yang langsung memberikan aroma harum. Sontak saja nafsu makannya meningkat. Sudah waktunya mengisi tenaga.


"Bismillah." Radit membawa sendok lebih dahulu ke dapur. Kembali ke tempatnya dan mulai makan. Begitu suapan pertama masuk, ia langsung disodorkan rasa nikmat. "Masya Allah, enak sekali." Wajahnya tersenyum.


__ADS_2