Dua Lelaki

Dua Lelaki
Tamu tiba


__ADS_3

Suasana pagi hari di rumah Kania jelas berbeda. Tak seperti biasanya. Ada Bu Lala yang membuat kue dan masak untuk menjamu tamu.


Kedatangan Rangga dan Pak Gani sudah dipastikan oleh Kania. Lelaki itu sendiri menghubungi di malam hari. Meminta Kania bersiap karena ayahnya Rangga tidak pernah bercanda.


"Bun, memang beneran Kakak mau dilamar?" Adit seolah tidak percaya. Tak ada angin ataupun hujan, kakak perempuannya langsung menikah. Bukan lagi berpacaran. Dahsyat bukan?


Kala itu Bu Lala sedang membersihkan daging. Kali ini ia akan membuat soto daging sapi yang terkenal dengan bumbu santannya. Menu satu ini mendapatkan banyak penggemar di seluruh penjuru negeri.


"Katanya, iya." Bu Lala menjawab dengan cepat. Sesekali air mengalir dari keran itu dihentikan untuk memberi jeda bisa membersihkan bulu kecil dari bagian ayam. "Kakakmu bilang seperti itu."


Sekali pun Adit ini lelaki, ia tipe orang yang senang di dapur. Tak heran membantu sang Bunda bukan lagi beban untuknya. Seperti saat ini, lelaki itu sedang mengupas bawang merah di atas meja makan. "Kenapa mendadak, sih?"


Itulah pertanyaan yang ada di benak semua anggota keluarga, termasuk Bu Lala. "Entahlah, Nak." Terus mengangkat ayam dari wastafel dan menyimpan di tempat kering.


Kania sendiri sedang masih ada di kamar. Perasaanya campur aduk. Radit sama sekali tidak ada kabar dari kemarin. Katanya hendak pulang, batinnya terus berkata demikian.


"Ada baiknya juga kalau dia nggak pulang. Setidaknya nggak lihat kejadian ini." Kania menghela napas kasar. Berdiri dan segera keluar kamar.


Langkahnya menuruni anak tangga, kian cepat ke arah dapur dan mendapati sang Bunda dengan Adiknya sendiri memasak.


"Bun, aku mau bantu." Langkah perempuan itu semakin cepat.


Adit yang masih mengupas bawang langsung menoleh ke sumber suara. "Nggak usah, Kak. Dapur bisa kayak kapal pecah kalau Kakak bergabung!"


Ledekan itu menghentikan langkah Kania. Kalimat Adit tidak ada salahnya. "Kamu suka bener, Dek, kalau ngomong." Bukannya tersinggung, Kania justru terkekeh geli. Kembali melangkah mendekati bundanya dan berkata, "Aku bantu siapkan pelengkapnya, ya, Bun?"


Berbeda dengan Adit, Bu Lala menerima tawaran Kania. Memang sudah saatnya anak perempuan itu tahu memasak.


Waktu terus berjalan dengan cepat. Semua persiapan dimulai. Sesuai perkataan Rangga, lelaki itu akan datang pukul sembilan pagi.


Kania sudah bersiap di kamar. Duduk di depan meja rias. Menatap pantulan wajah dari cermin.

__ADS_1


Tak berapa lama pintu terbuka, Bu Lala datang sambil berkata, "Assalamualaikum. Bunda, boleh masuk?" katanya masih berdiri di ambang pintu.


Kania menoleh segera ke arah pintu. "Wa'alaikum sama. Masuk aja, Bun."


Setelah mendapatkan persetujuan, akhirnya Bu Lala pun masuk. Wajahnya dipenuhi senyuman manis, ikut senang tatkala anak gadisnya ada yang datang melamar. Ya ... sekali pun belum bisa memastikan jika akan dapat restu atau tidak dari sang Kepala Keluarga.


"Sayang, kamu udah siap?" tanya Bu Lala berdiri di samping kanan Kania.


Kania tersenyum kecil. "Alhamdulilah, udah, Bu."


Memandangi Kania dari pantulan cermin dengan lekat menjadi kegiatannya kali ini. "Nak, apa Rangga ini benar-benar serius sama kamu?"


Kania tersentak. Diam membatu.


"Maksud Bunda seperti ini." Ada keraguan dalam kalimat Bu Lala. Takutnya Kania tersinggung seolah bundanya sendiri meragukan. "Apa dia sudah meyakinkan dirinya untuk melamar?"


Kania memahami. Berusaha untuk tidak berpikir terlalu jauh. "In Syaa Allah, Bun. Dia itu tipe lelaki yang nggak suka bercanda. Banyak seriusnya."


Ucapan itu seakan menandakan jika Bu Lala memang merasa terlalu cepat waktu berjalan. Kania bisa paham.


"Oh, ya, Nak. Katanya Radit mau pulang, tapi Bunda nggak lihat dia ke sini?" Bu Lala berhenti mengelus kepala Kania. Menoleh ke jendela kamar yang terbuka. Dari sana bisa dilihat kamar Radit yang bersebelahan dengan kamar anaknya itu masih tertutup.


Biasanya, Radit akan membuka jendela ketika berada di rumah. Dengan itu mereka bisa memastikan jika lelaki dengan senyum manis tersebut ada.


Kania terpaku. Justru berharap Radit tak ada karena lebih menyakitkan baginya. "Mungkin nggak jadi pulang, Bun."


Bu Lala masih saja menatap lekat ke arah jendela. Ada rasa kurang percaya, tetapi segera menampiknya. "Iya, mungkin, Na." Mengalihkan pandangan ke depan lagi. Mengamati penampilan anaknya yang tampak cantik, walaupun tidak banyak memakai riasan.


Di tengah percakapan mereka Adit datang dengan napas memburu seolah dikejar hantu. Anak itu masuk tanpa mengucapkan salam. Masih berdiri di ambang pintu seraya berkata, "Bun, Kakak. Gawat!"


Sontak Bu Lala dan Kania menoleh ke arahnya. Tampak Adit berjalan cepat mendekati mereka.

__ADS_1


"I-itu." Suaranya gugup. Tidak seperti biasa.


Bu Lala menenangkan. "Dek, kamu kenapa?" Takutnya ada kejadian menakutkan yang terjadi di luar.


Kania juga penasaran. "Kamu dikejar hantu, Dek atau gimana?" Keningnya berkerut kencang.


Adit mencoba mengatur napas. Terlalu shock melihat pemandangan di lantai bawah. "Di bawah ada ...." Kalimatnya terpotong karena desakan napas yang belum teratur dengan baik.


Bu Lala menepuk pelan pundak anak lelakinya. Mencoba menenangkan sebisa mungkin. "Dek, coba tarik napas dulu. Ada apa?"


Kania menjadi gelisah. Reaksi Adit ini di luar kebiasaan. Mengingat mereka adalah saudara kandung, sudah pasti tau kebiasaan masing-masing.


Adit menarik napas panjang. Mengembuskannya perlahan-lahan.


"Tarik napas, keluarkan yang pelan." Kania memberi instruksi. "Ceritakan pelan-pelan. Ada apa?"


Adit mulai tenang. Pandangannya terfokus pada Kania. Setelah dirinya membaik, sudah pasti giliran sang Kakak yang panik. "Di bawah ada tamu."


Kania mengerti. "Kak Rangga sudah datang?" Jelas hanya lelaki itu yang saat ini mengkonfirmasi akan datang. "Sama ayahnya?"


Adit bukannya menjawab, ia justru menarik lengan kanan Kania dan membawanya berdiri. "Kakak, sebaiknya cek ke bawah. Aku nggak mau ngomong apa pun."


Kania tersentak sekaligus penasaran. Begitu pun dengan Bu Lala. Oleh karena itu, kedua perempuan berbeda usia tersebut langsung keluar kamar. Berjalan cepat dengan pemikiran masing-masing menuruni tangga.


Begitu sampai lantai bawah. Tepatnya masih di dekat tangga, terdengar ricuh beberapa orang saling berbicara. Ada beberapa suara yang dikenal Kania. Secepat mungkin wanita berhijab putih itu mengambil langkah ke ruangan tamu.


Kakinya berhenti saat pemandangan di depan mampu mengguncang sanubari. Di kursi tamu sang Ayah menyambut hangat tamu tersebut.


"Mungkin Kania sedang bersiap-siap dulu," kata Pak Kemal.


Kalimat itu bisa ditangkap jelas oleh telinga Kania, tetapi tubuhnya justru tidak bisa bergerak. Semesta punya rencana apa ini? Sungguh ... di luar pemikiran.

__ADS_1


__ADS_2