
Setengah jam kemudian Radit merasakan basah di bagian kening. Matanya mulai terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar yang sama. Ini ruangannya. Tangan kanan Radit bergerak menyentuh kening. Ada kain dan basah.
Secepat mungkin lelaki itu sadar. Berusaha bangun, walaupun belum sepenuhnya kuat. Beberapa detik kemudian harum masakan tercium kuat. Siapakah yang sedang ada di dapur
Radit memegang kepala. Sakitnya masih terasa, sekali pun memang tidak terlalu kuat seperti tadi. Ia bisa duduk dengan lebih baik, melihat sekitar. Ini ruangannya. Lantas siapakah yang ada di dapur.
Berdasarkan rasa penasaran Radit pun berdiri, hendak melangkah. Namun, suara Gendis menyapa telinganya dengan kencang. Gadis itu rupanya yang hadir di sini.
"Jangan dulu bangun, Pak!" seru Gendis dengan memakai celemek. Bisa saja Radit marah ataupun kesal karena kelancangan dirinya masuk. Akan tetapi, untuk urusan itu Gendis tidak ingin ambil pusing. Yang penting Radit bisa sehat lebih dulu.
Gendis berdiri di depan Radit yang mengangkat kepalanya ke atas. "Maaf, Pak, saya lancang." Gadia itu menunduk penuh malu.
Radit tidak mempermasalahkan hal itu. Barangkali Gendis yang sudah membantunya ketika keadaanya gawat. "Kamu kenapa ada di sini?" Radit memilih diam di tempat. Tak ingin bergerak sedikit pun. "Saya ingatnya terkapar di sofa saja."
Tanpa menatap Radit, gadis manis itu menjelaskan. "Tadi pas saya mau berikan sup ke sini. Pak Radit keluar dan langsung pingsan. Saya panik."
Radit mengenang kejadian setengah jam yang lalu. Ingatannya memberikan sedikit ulasan dan benar saja. "Astagfirullah, saya baru ingat. Maaf, merepotkanmu."
Barulah Gendis berani menatap kedua bola mata Radit. Melihatnya dengan jelas dan masih dalam posisi berdiri seperti tadi. "Saya minta maaf karena lancang masuk ke sini."
Radit sama sekali tak mempermasalahkan. Hanya saja ia bimbang bagaimana Gendis bisa memindahkan tubuhnya yang cukup berat ke sini. "Saya tidak masalah, tapi memangnya kamu kuat bawa saya dari pintu ke sofa ini?"
"Bukan saya yang bawa, Pak.' Gendis tidak berbohong. Tak ada gunanya juga.
"Lalu siapa"
"Tadi saya minta tolong scurity."
Radit lagi-lagi memahami. "Terima kasih atas kebaikanmu. Semoga Allah menggantinya dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin."
"Amin. Tuhan itu baik, Pak." Gendis tersenyum kecil. Segera ke dapur karena tengah membuat bubur.
Radit berusaha sekuat tenaga untuk tetap bangun dan mengambil wudu. Jika memang tak bisa berdiri, setidaknya ia bisa melakukannya dengan berdiri. Semana kata Gendis bahwa Tuhan itu baik dan dengan itu Tuhan memberikan keringanan bagi hamba-Nya. Itulah mengapa kita perlu patuh atas ketetapan Sang Maha Kuasa.
Radit shalat Magrib, walaupun sudah mau mendekati waktu Isya. Ia tak sengaja melakukan hal tersebut. Bukan sengaja.
Radit selesai ketika Gendis membawa semangkuk bubur ke meja. Masih menggunakan celemek, gadis itu duduk di sofa kecil dan berkata, "Sebaiknya Pak Radit makan dulu. Saya tinggal pulang." Kehadirannya di sini karena Radit sakit. Melihat lelaki itu sudah membaik, ia rasa sudah cukup. Jangan sampai ada fitnah kejam di antara mereka.
"Kamu sudah makan?" tanya Radit sambil duduk.
Gendis menggeleng cepat. "Belum, Pak."
"Sebaiknya makan dulu, baru pulang."
__ADS_1
Gendis ragu. Hatinya ingin, tetapi mulutnya susah menjawab. Rasanya sulit membuka anggota tubuh tersebut.
"Jangan takut. Ayo, makan. In syaa Allah, aku tidak berbuat aneh-aneh." Radit tak enak hati pada Gendis. Gadis itu meluangkan waktu untuk mengurusnya. Mana mungkin ia tak membalas sebaik mungkin. "Ambil lagi bubur untukmu. Maaf, saya tidak bisa menjamumu padahal ini kunjungan kamu ke ruangan ini."
Gendis menggelengkan kepala cepat. Justru ia yang malu karena masuk tanpa izin. "Tidak apa-apa, Pak."
Gendis dengan cepat pergi ke dapur. Membawa bubur untuknya disantap bersama Radit. Ini layaknya mimpi indah yang sama sekali tidak terbayangkan. "Tuhan, aku harus bisa ngontrol diri. Ini cuma rasa terima kasih dari Pak Radit saja."
Gendis segera kembali ke Radit. Mereka duduk saling diam dengan menyantap bubur yang dirasa Radit sungguh enak. Ini bahkan melebihi makanan buatan bundanya. Bisa dikatakan hampir sama.
"Kamu suka masak?" tanya Radit memecah keheningan di antara mereka.
Gendis mengukir senyum kecil. "Iya, Pak. Saya dari kecil suka masak. Sudah diajarkan Ibu juga. jadi ... terbiasa masak sendiri sampai sekarang. Paling beli pas lagi capek atau memang sibuk."
Radit mendengarkan dengan seksama. Tak berniat menyela sedikit pun.
Gendis begitu antusias menceritakan masa lalunya di mana pernah ikut lomba masak tingkat kota dan menang. Hanya saja gadis itu harus mengubur dalam mimpi dalam bidang masak karena ayahnya lebih suka dirinya menjadi pegawai kantoran saja.
Radit memahami perasaan Gendis. Menempatkan diri jika itu terjadi pada dirinya. "Kamu wanita hebat."
Gendis tersenyum kecil. Menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi akan diri. Memperlihatkan sisi kuatnya pada Radit seakan dunianya baik-baik saja.
"Kamu cukup jadi diri sendiri. Kalau pun kamu jadi pegawai karena ayahmu, tidak masalah. Anggap saja berbakti pada beliau. Tapi ... yang perlu kamu pahami kalau tidak selamanya harus menuruti keinginan orang lain. Kamu berhak memilih jalur sendiri," nasihat Radit.
Melihat Gendis membuatnya teringat akan Kania. Gadis itu pun sama, walaupun memang bisa berekspresi sesuai keinginan. Akan tetapi, Kania sering sekali mengalah demi seseorang.
"Pak Radit mau tau cerita cinta saya?" tanya Gendis. Terlalu nyaman mengakibatkan Gendis membuka seluruh pintu hatinya untuk Radit. Bahkan perempuan itu tidak peduli lagi perihal priviasi
Radit diam sejenak. Ia bukan tipe orang yang ingin tahu masalah atau masa lalu orang lain, tetapi jika orang tersebut yang berkenan bercerita. Dengan senang hati Radit mendengarkan. Barangkali ada banyak pelajaran yang bisa ia petik.
"Kalau Bapak berkenan. Maaf." Sekali lagi Gendis merasa malu karena merasa terlalu dekat. Bisa saja Radit membencinya. Ia kembali menyantap bubur yang tinggal satu suap lagi. Bubur polos ini diberi nilai tinggi oleh Radit. Sungguh ... itu adalah piagam paling berharga yang pernah Gendis dapatkan.
"Boleh." Radit menjawab selanjutnya. Wajah Gendis langsung berubah sumringah. Nyata sekali bahwa suasana hati gadis itu bisa berubah dengan cepat. "Kamu bisa ceritakan semuanya."
Gendis mengukir senyum di bibir. Dengan ini kebebasannya bercerita dimulai. Tak peduli Radit adalah orang baru atau bukan. Yang jelas ia hanya ingin lelaki itu tau banyak tentang dirinya.
Gendis menghela napas kasar. "Saya adalah orang yang jarang sekali bergaul dengan yang lain. Pulang kerja langsung ke apartement. Dulu, saya punya kenalan dan dia itu baik sekali. Wajahnya tampan, putih dan tinggi. Kami bertemu tidak sengaja di dekat kantor. Dia pemimpin perusahaan di kota lain."
Radit menyimak. Membiarkan Gendis menguasai semua waktu dan memanfaatkannya untuk bercerita.
"Kami akhirnya saling kenal dan dekat. Dia sering datang ke sini minimal dua minggu sekali. Kami menghabiskan waktu bersama. Sampai ke titik kami benar-benar ingin serius, tapi ayahnya kurang setuju. Kami bingung, aku sendiri tetap bertahan." Gendis mulai memasang wajah sendu.
Dari sana Radit bisa menebak jika cinta gadis itu berakhir tragia. Minimal tidak bersama karena tak mendapatkan restu dari pihak lelaki. "Jangan tahan tangismu. Keluarkan saja."
__ADS_1
Gendis meraih tisu. Satu tetes cairan bening lolos tanpa persetujuannya. Ia sampai susah menatao Radit lagi. Akhirnya bisa menemukan tempat cerita terbaik yang tidak mempertanyakan banyak hal.
"Setahun lamanya saya dan dia bersama, tapi kami tidak kunjung dapat restu. Sampai akhirnya dia nekad melamar tanpa ayahnya. Orang tua saya awalnya ragu, tapi perlahan luluh karena melihat anaknya sendiri begitu berharap. Akhirnya kami memutuskan untuk menikah dan dia akan ikut keyakinan saya. Tapi ...." Gendis berhenti. Dadanya mulai terasa sesak. Jiwanya memberontak. Ingin lebih banyak bercerita, tetapi mulut sulit diajak kerja sama. Sesuatu yang butuh perjuangan luar biasa.
Radit bergeming. Tidak berkomentar apa pun. Hanya melihat dan mendengar langsung isak tangis Gendis yang terdengar menutupi ruangan ini. sakit sekali sepertinya.
"Maaf, Pak, saya susah mengendalikan emosi," imbuh Gendis.
"Tidak pa-pa. Keluarkan saja perasaanmu. Emosimu. Jangan pendam terlalu lama. Kamu harus hidup lebih baik dari sebelumnya," jawab Radit.
Suasana berubah hening tatkala isak tangis Gendis berakhir. Ia bisa sedikit mengendalikan diri dan jiwa. Berdamai dengan keadaan dan mengontrol emosi yang berkecamuk dalam dada.
"Jadi, apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Radit yang mulai penasaran. Nasi sudah menjadi bubur. Tak bisa dikembalikan lagi kecuali disantap dengan tenang.
Gendis menetralisir perasaan yang masih saja belum membaik. Sudah empat tisu yang ia habiskan. Tentunya untuk menghapus jejak kemalangan di pipi.
"Dia memutuskan bunuh diri karena tekanan batin," sambung Gendis yang berhasil membuat kedua pupil mata Radit membesar. Berita mengejutkan ini menyapa telinga lelaki itu. Di luar dugaan.
"Ayahnya terlalu menekan di kehidupan pribadi. Belum lagi soal pasangan, ayahnya juga bilang sudah mempersiapkan calon paling baik untuknya. Padahal dia sudah mati-matian menentang, mengutarakan isi hati termasuk membawa saya ke sana sebagai bukti. Tapi, hasilnya tetap nihil. Tidak ada yang merubah keputusan ayahnya," imbuh Gendis dengan nada paling lemah.
Perempuan itu menunduk lagi. Kali ini bukan karena malu, tetapi memang sedih. "sayamarah ke diri sendiri pas tau dia melakukan itu. Bahkan sepucuk surat perpisahan pun dia tulis sehari sebelum kejadian. Saya menyesal tidak ada di sisinya."
Isak tangis Gendis lagi-lagi pecah di hadapan Radit. Sudah tak ada rasa malu karena memang gadis itu merasa nyaman bisa berbagi cerita.
Radit pun membiarkan. Mungkin dengan seperti ini bisa meringankan sedikit beban Gendis. Terkadang orang yang sedang bercerita hanya ingin didengar saja tanpa perlu ditanya banyak hal yang bisa membuatnya lebih terluka.
"Dia pergi membawa semua cintanya. Tidak ada yang tersisa kecuali rasa kehilangan yang dalam. Saya sampai mau gila karena tidak terima," kata Gendis.
Radit bisa merasakan kesedihan serta kehilangan dari sorot mata Gendis. Tak bisa berbuat apa pun karena mereka bukan sebuah pasangan halal.
"Alasan saya selalu senang dekat Pak Radit itu cuma satu," lanjut Gendis lagi.
Kening Radit mengerut kencang. "Alasannya?"
Kedua bola mata Gendis menatap lekat Radit. Dadanya kembang kempis menahan perasaan yang tak bisa terungkap sepenuhnya. Ingin memeluk, tetapi sungkan. Paham jika Radit begitu menjaga jarak dengan lawan jenis. Hanya berinteraksi seperlunya saja.
"Apa saya mirip dengan dia?" Rupanya Radit menebak ke jalur sana.
Gendis tertegun. Tak berapa lama menganggukkan kepala dengan cepat dan berkata, "Benar sekali, Pak. Semua yang ada pada diri Pak Radit hampir sama dengan dia. Saya jadi merasa dia masih hidup sejak bertemu dengan Bapak. Mohon maaf."
Radit tak keberatan karena pada sering sekali orang menganggap orang lain sama dengan kenalan atau kerabat bahkan kekasihnya jika dirasa mirip.
Gendis menelan ludah. "Andaikan saya boleh meminta ke Tuhan. Saya mau Pak Radit yang jadi bagian hidup. Menemani saya melewati hari sampai tua dalam bentuk pernikahan, tapi saya sadar kalau jodoh itu sudah diatur sebaik mungkin. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap baik, justru paling buruk menurut Tuhan."
__ADS_1
Radit setuju. Sedikit terkejut juga dengan kalimat Gendis.
"Ini mungkin terlalu cepat, tapi saya sudah jatuh cinta ke Pak Radit dari awal bertemu. Jangan terlalu terbebani, saya cuma ingin mengutarakan perasaan saja," sambung Gendis dengan senyumam kecil.