Dua Lelaki

Dua Lelaki
Memasak nasi goreng


__ADS_3

Esok pun tiba. Radit masih berada di rumah. Ia menghabiskan waktu bersama sang Bunda seharian. Niatnya untuk makan malam bersama dua keluarga pun musnah karena orang tua Kania pergi ke sebuah acara. Tak masalah. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat.


Radit duduk di teras rumah siang ini. Pukul empat nanti ia akan berangkat lagi keluar kota. Tentunya meninggalkan Kania dan segala ketenangan di sini. Suka atau tidak, ia perlu menerimanya.


"Sayang!" panggil Bu Wati dari dalam. Suara langkah kaki perempuan setengah baya itu pun terdengar mendekati anaknya. Begitu sampai di luar pintu berkata lagi, "Tolong kasih ini ke Tante Lala, ya. Katanya mau dipakai nanti sore."


Sebuah cetakan kue. Mungkin sekitat empat ada di tangan bundanya.


Radit menoleh seraya berkata, "Sekarang, Bun?" Berdiri. Menghadap bundanya.


"Kalau bisa tahun depan aja, Nak."


Radit terkekeh geli. "Bunda ini bisa aja. Iya, deh aku mau." Mengambil cetakan itu. "Kalau tahun depan keburu Kania jadi mantu." Bergerak menjauh.


Bu Wati tidak terkejut sama sekali. Sudah biasa. Menganggap sebagai guyonan semata. "Anak itu. Kadang masih nggak percaya kalau dia sudah dewasa. Masya Allah, anak pintar." Bu Wati menatap kepergian anaknya.


Radit berjalan keluar gerbang. Berjalan sedikit ke samping kanan dan bertemu satpam rumah Kania.


"Den Radit, bawa apa itu?" tanya satpam.


Radit berhenti. Mengangkat loyang di tangannya. "Biasa, Pak. Titipan bunda buat Tante."


"Sip, Den." Satpam mengacungi jempol.


Radit melewati gerbang rumah Kania. Suasana pekarangannya saja memang sudah adem dan damai. Jelas di dalamnya pun akan terasa tentram.


Sejak kejadian kemarin, ia sendiri belum bertemu Kania. Sepertinya perempuan itu sedikit marah. Namun, ia sendiri bergerak sesuai keadaan. Cemburu pula melihat kedekatan Rangga dengan teman masa kecilnya tersebut. Terbiasa ke mana-mana bersama, jelas akan menimbulkan rasa itu.


Radit berada di depan pintu. Memencet bel semana tamu yang lainnya. Sekali, dua kali, bahkan tiga kali. Tak ada jawaban dari dalam. Radit tetap menunggu sampai akhirnya Adit datang membukakan pintu.


"Eh, Kak Radit. Aku kira siapa," katanya.


Radit memperhatikan mata Adit yang menangis. Apakah terjadi sesuatu? Sepertinya begitu. "Kamu habis nangis, Dek?"


Adit menggeleng cepat. "Nggak, Kak." Perasaan biasa saja.

__ADS_1


"Tuh air matamu berlinang."


Adit paham. "Ah, ini, ya." Tangannya menyeka sudut kanan mata. "Habis potong bawang merah disuruh Kak Kania. Emang dasar Kakak perempuan itu kadang ngeselin!"


Radit tertawa kecil. "Emang kalian lagi masak apa?"


"Maunya nasi goreng, tapi nggak tau deh. Kakak hapal sendiri kalau kakak perempuanku itu nggak bisa masak. Dapur aja udah kayak kapal pecah, perabot di sana sini. Pusing." Adit menepuk kening tanda pusing.


"Ya udah, bawa ini aja. Biar Kakak yang masakin," kata Radit. Cetakan itu diserahkan pada Adit. Ia masuk begitu saja melewati Adit. Terus berjalan ke arah dapur. Mendengar suara gaduh yang pastinya datang dari kegiatan yang dilakukan Kania.


Benar saja. Mata Radit langsung disuguhi dengan pemandangan luar binasa. Ada banyak perabot di mana-mana. Belum termasuk sayuran dan makanan yang entah di mana tempatnya.


"Astagfirullah." Radit mengelus dada. Heran.


"Ini bumbunya apa aja, ya. Kok nggak enak sih," kata Kania berbicara sendiri. Berniat mengembangkan kemampuan masak, justru perempuan itu membuat ruangan ini terasa seperti kapal pecah. Jika ada orang lain yang melihat, jelas akan risih.


"Kalau bunda bikin, kok, enak. Perasaan bumbunya sama aja." Terdengar nada pasrah dari sang Perempuan. Berhasil menarik Radit mendekat. Mungkin Kania perlu pertolongan pertama, pikirnya.


Dengan gerakan cepat Radit memegang cutil yang tengah berada di tangan Kania. Posisinya kini ada di belakanh perempuan tersebut. "Kamu mau masak atau perang?" bisik Radit.


"Ini cuma nasi goreng, Nia," kata Radit lagi.


Kania mencoba menetralkan diri. Menenangkan jantung agar tetap aman dan bisa bergerak sesuai keadaan. Rasanya memang tidak enak.


"Iya, aku tau," jawab Kania.


Radit melepaskan tangannya. Bergerak ke samping kanan dan berkata, "Kamu kasih bumbu apa saja tadi?"


Kania masih saja bergelut dengan diri. Keadaan diri belum sepenuhnya stabil. Ia perlu menenangkan lebih lama lagi. Ini gila memang!"


Dengan cepat Radit mengambil sendok di meja makan. Mencicipi rasa nasi goreng yang ternyata asin luar biasa. "Astagfirullah." Ia memuntahkan langsung ke wastafel. "Kamu pakai garam berapa sendok, Nia?"


"Dua." Dengan wajah tanpa dosa Kania menjawab.


Kedua bola mata Radit membulat sempurna. Pantas saja. Ini bukan makanan, tetapi racun. Bisa sakit perut yang menyantapnya.

__ADS_1


Radit berkumur setelah mengeluarkan semua makanan. Rasanya tidak enak. "Kamu bisa bikin orang sakit. Jangan terlalu banyak. Setengah sendok kecil aja, cukup."


Kania mematikan kompor. Wajahnya sendu. Rupanya ia masih kalah dengan Radit dalam pengetahuan memasak. Mungkin karena lelaki itu senang sekali berada di dapur, sedangkan ia sendiri memang kurang senang sejak kecil.


"Kamu mau makan nasi goreng?" Radit mendekati Kania lagi. Menatap sendu wajah perempuan yang tertunduk lesu. Kasihan juga. "Kalau gitu biar aku yang ajarkan buat nasi goreng paling enak."


Kania otomatis mengangkat kepala. Senang. Matanya berbinar seolah mendapatkan durian runtuh. "Beneran kamu mau?" Memasang wajah semanis mungkin.


"Demi keselamatan perut kamu dan Adit, aku mau ngajarin. Bisa sakit perut kalau kalian makan ini."


Benar juga. Kania tidak bisa memungkiri hal itu. "Ya udah, ini buang aja, ya. Sebenarnya sayang juga kalau buang makanana. Di luaran sana banyak banget yang nggak bisa makan. Tapi ...." Kania tak bisa meneruskan kalimatnya. Mengingat bagaimana beberapa orang yang ditemuinya di jalan dalam keadaan lapar tanpa makanan.


Radit paham. "Aku tau, tapi ini kalau dimakan malah jadi boomerang. Kita buat yang baru dan enak."


Kania setuju. Terpaksa nasi tadi dibuang ke tong sampah. Sedikit miris juga.


Radit mulai meramu bumbu seperti bawang merah, bawang putih dan cabai. Kania melihat dengan seksama. Berada di samping kiri Radit yang kini sudah memakai celemek.


"Nah, kalau pakai ini enak," kata Radit.


Kania mengangguk saja. Mengamati tanpa banyak bicara. Akhirnya ia memutuskan untuk mengiris sosis. Salah satu bahan pelengkap. Ketika irisan kelima, tanpa sengaja jarinya mengenai pisau yang tajam. Darah keluar. "Aw."


Radit yang tengah sibuk mengurusi bumbu pun seketika mendekat. Mengambil jari kanan yang berdarah itu, lalu mencari tisu untuk menyumbat darah. "Ini yang selalu bikin aku khaewatir kamu pergi ke dapur. Kamu itu ceroboh. Lihat ini!" Tanpa sadar lelaki itu meninggikan suara karena panik akan keadaan Kania.


"Perih, Dit," adu Kania.


Radit bergerak mencari kotak obat. Menemukannya di lemari sebelah kanan. Mencari obat merah ataupun benda lain yang bisa menolong Kania.


"Ketemu," kata Radit.


Sesegera mungkin Radit mengobati jari Kania dengan telaten. Ia bahkan menyuruh temannya itu untuk duduk di kursi lebih dahulu. "Jangan gerak. Aku obatin dulu."


Tangan kania bersentuhan dengan tangan Radit. Terasa nyaman. Ini mungkin salah, tetapi perhatian Radit pada Kania meleburkan semuanya. Terlebih saat ini yang dilakukan lelaki itu hanyalah menolongnya dari kesakitan.


Radit menempelkan handplas ke luka. Sebelum itu pun dibersihkan lebih dulu. "Jangan buat khawatir terus. Setidaknya kamu bisa urus diri sendiri."

__ADS_1


__ADS_2