
Radit bekerja seperti biasa. Memeriksa laporan penjualan yang masuk. Awal bulan sehari lagi akan tiba. Itu artinya ia akan segera pulang weekend ini. Tak sabar menemui Kania.
Radit melihat tumpukan pekerjaan di atas meja. Melelahkan memang, tetapi mencari rezeki tidaklah mudah. Selain harus berdoa kepada Yang Maha Kuasa, ia juga memerlukan usaha lebih giat lagi.
"Bismillah, kerja yang lain biar bisa lamar gadis orang lain," kata Radit menyemangati diri supaya lebih bersemangat lagi.
Satu bawahannya masuk dan memberitahu jika ada meeting dengan pimpinan perusahan cabang ini. Radit mengerti dan bersiap untuk membawa materi. Penjualan bulan ini memang meningkat tajam. Alhamdulillah, perlu disyukuri.
Karyawan itu kembali keluar. Radit membenarkan dasi. Rasanya hari akan lebih melelahkan dari biasanya. Tak masalah, sebab semua manusia itu perlu proses untuk bisa menjadi seseorang yang dikatakan sukses. Baik itu dalam menggapai urusan dunia atau akhirat sekali pun.
Radit memulai kerja dengan menggarap semua laporan sebelum meeting di mulai pukul sepuluh pagi lewat tiga puluh menit. Masih ada waktu dua jam lebih untuk menyelesaikan semua ini.
Waktu terus berlalu mengikuti kesibukan setiap karyawan. Baik atasan ataupun bawahan, semuanya bekerja keras. Sesekali mereka berbincang sambil bekerja hanya sekadar untuk merilekskan diri. Sebab, tak dipungkiri jika berkutat dalam dunia kerja itu melelahkan.
Arloji di tangan kanan Radit menunjukkan pukul sepuluh pas. Rasa ngantuk sudah mendera tubuh. Ingin membeli kopi, tetapi sudah mepet untuk meeting. Terpaksa lelaki itu diam dan menahannya.
Tiba saatnya untuk meeting. Radit bergegas ke lantai enam bersama dua karyawan di bawah naungannya. Mereka memulai meeting dengan sangat rapi dan tertib. Radit menjelaskan bagaimana persentase penjualan mereka di bulan ini.
"Kami mengalami kenaikan hampir dua puluh persen," kata Radit.
Kabar baik itu diterima penuh suka cita oleh pimpinan perusahan cabang ini. Dengan hal itu tim penjualan akan mendapatkan bonus tambahan. Jelas saja ini juga kabar baik bagi mereka.
"Pak Radit memang hebat."
"Aku bangga jadi bawahannya."
Dua karyawan yang iku meeting saling berbisik. kenaikan ini memang terjadi setelah Radit bergabung dengan mereka dan menggantikan ketua tim sebelumnya.
Meeting selesai. Radit lega. Lelaki itu masih duduk di ruangan meeting sendiri ketika semua orang sudah pergi. Merogoh ponsel di saku jas dan langsung ke aplikasi pesan. Melihat apa Kania sedang online atau tidak.
Sudah lama tidak berjumpa, rasanya rindu ini menyiksa. Padahal ia sadar jika ini sangat salah. Merindukan seseorang yang belum halal baginya. Namun, sebagai manusia biasa kekhilafan pasti terjadi. Tetap saja melakukan kesalahan. Pada hakikatnya manusia itu selalu kesusahan dalam memerangi hawa nafsu sendiri.
Radit mencari foto masa lalu Kania. Di mana gadis itu masih duduk di bangku kuliah. Dengan jilbab merah dengan gamis hitam membuat aura Kania semakin terpancar lebih cantik.
"Aku harus bisa temui orang tuamu pulang ini, Nia." Batin Radit tak lagi berperang. Menekadkan diri untuk melamar gadis pujaan hati sekaligus cinta pertamanya. "Aku selalu minta sama Allah biar bisa berjodoh sama kamu, Nia. Tapi ... kalau semua usahaku tidak ada hasilnya. Doakan biar aku bisa menerima takdir."
__ADS_1
Pandangan Radit semakin lekat pada foto Kania. Ia segera mengeluarkan aplikasi itu sambil berkata, "Astagfirullah, aku kebawa suasana."
Radit berdiri. Menyimpan ponsel lagi dan bergegas kembali ke ruangannya. Setelah salat Dzuhur nanti, tepatnya makan siang. Ia perlu menemui Gendis.
Radit kembali disambut dengan tumpukan laporan. Pemandangan yang tidak pernah habis setiap harinya. Lelaki tersebut menghela napas kasar dan berkata, "Jangan banyak ngeluh. Alhamdulillah, masih bekerja di saat orang lain susah dapat kerja. Semangat, ngumpulin uang buat nikah!"
Entah mengapa setiap kali perkataan itu keluar semangatnya pun membara tiada takaran. Seakan hal itulah yang menjadi suntikan penyemangat.
Radit bekerja lagi. Suasana di luar ruangan gaduh ketika dua karyawan memberitahu tentang bonus yang mereka dapatkan.
"Kita bisa makan-makan."
"Ayo, kita ajak Pak Radit makan."
"Setuju."
Kira-kira seperti itulah perbincangan mereka. Radit membawa hoki, menurut mereka.
Waktu memang sudah dihentikan. Baru saja menyelesaikan dua laporan, telinga Radit sudah mendengar suara adzan berkumandang. Sesegera mungkin meninggalkan semua pekerjaan karena ada panggilan Yang Maha Kuasa perlu dipenuhi.
"Saya shalat duluan," kata Radit.
"Iya, Pak." Kedua orang tadi merasa tersindir karena yang lainnya sudah pergi.
Radit turun menggunakan lift ke lantai bawah. Berjalan ke arah kanan dengan beberapa karyawan yang memang satu keyakinan. Di antara keduanya adalah dua lelaki dengan umur di atas Radit sedang membicarakan Gendis.
"Namanya Gendis, orangnya culun, tapi cantik," kata lelaki yang memakai kemeja biru.
"Coba aja deketin. Biasanya yang culun gitu nggak tau apa-apa." Temannya tertawa seolah memandang lemah para perempuan.
Radit berada di samping mereka, walaupun tidak terlalu dekat. Membiarkan mereka berbicara sesuka hati sambil menunggu seberapa gila dua lelaki yang katanya berpendidikan tinggi.
"Gue mau coba, ah," kata lelaki berkemeja itu.
"Sikat, Brother!"
__ADS_1
Mereka tertawa tanpa malu sama sekali. Tak mempedulikan sampingnya ada siapa.
Sesampainya di mushola, Radit langsung mengambil wudu dan salat berjamaah. Hal yang selalu dia buru saat waktunya menghadap Yang Maha Kuasa. Gerakan shalat dilakukan dengan khusyu serta dipimpin seorang imam yang memiliki suara merdu. Menenangkan hati yang tengah gundah gulana.
Shalat selesai. Radit tidak langsung berdiri. Menguntai dzikir lewat bibir indahnya. Terus memuji Sang Khalik sebagai pemberi nyawa dan segala kehidupan di dunia ini.
Semuanya selesai. Radit lega. Ia secepat mungkin pergi dari mushola. Barangkali Gendis sudah menunggu di tempat yang ditentukan.
Di kantin, Gendis duduk menunggu dengan tenang. Sesekali melirik ponsel, melihat tampilan dirinya di layar benda canggih itu. Sudah baik. Kacamata itu memang membuat dirinya terlihat culun, tetapi hal ini tak bisa dihilangkan. Seseorang di masa lalu mengatakan sangat indah dan pas di dirinya.
"Kamu cantik karena dirimu sendiri," gumam Gendis.
Dua menit kemudian Radit datang. Tersenyum kecil sambil menarik kursi, "Maaf, saya lama."
Gendis membalas senyum. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Radit sengaja memilih kantin karena ramai dan pastinya tidak perlu berduaan.
"Kamu sudah pesan makanan?" tanya Radit.
Gendis menggelengkan kepala. "Belum. Aku masih kenyang habis makan kue." Padahal ia sama sekali belum memakan apa pun. Rasa gugup menutupi segalanya.
Radit akhirnya memesan mie ayam juga dua es jeruk. Satu untuknya dan satu untuk Gendis. Perempuan itu dipaksa pun tidak ingin makan
Sebelum menjawab, Radit lebih dulu menghabiskan makan siangnya. Jelas ini menambahkan rasa gugup Gendis. Seolah disiksa tak karuan.
Makan selesai. Radit menghela napas kasar dengan pandangan lurus ke depan. "Sebelumnya saya berterima kasih karena kamu sudah mau menyukai lelaki biasa seperti saya."
Gendis meng-klarifikasi. "Pak Radit itu luar biasa. Bagi saya."
Sekali pun mendapatkan pujian satu gunung pun dari mulut Gendis. Radit sama sekali tidak ingin terbang ke angkasa dan menyombongkan diri.
Bagian inilah yang dinantikan Gendis. Hatinya sudah siap jika mendapatkan penolakan sekali pun.
"Tapi, saya minta maaf," sambung Radit yang berhasil membuat Gendis semakin diam. Tak perlu diteruskan pun, ia tahu kelanjutannya.
"Saya tidak bisa bersamamu," jawab Radit dengan yakin.
__ADS_1