
Kaki Kania terasa berat melangkah. Ia terdiam, sesekali menghitung mundur di dalam hati. Jiwanya dibuat bimbang, sampai akhirnya lelaki yang berada di depan menghampirinya duluan. "Ayo, pulang. Aku nunggu kamu," katanya.
Tanpa aba-aba lelaki yang diyakini Kania sebagai sang Suami itu menarik tangan kanannya dan membawa pergi dari tempat itu, sementara lelaki yang diyakini adalah Radit dan saat ini berada di belakang tak ada bersuara lagi.
"Kita harus makan malam habis ini." Rangga terus membawa Kania ke arah parkiran gedung tersebut. Menggenggam erat tangan sang Istri tanpa meminta izin lebih dulu. Tak masalah, mereka sudah sah menjadi pasangan halal.
Kania sendiri tak ada niatan memberontak. Layaknya seekor kucing yang tunduk pada majikan, Kania terus mengekor di belakang sambil menatap punggung lebar Rangga.
Mereka sampai di parkiran, Rangga langsung melepaskan tangan Kania dan berkata, "Maaf, aku sampai lupa minta izin buat sentuh tangan kamu. Habisnya kamu dari tadi diam saja dipanggil." Bagaimanapun Rangga perlu mendahulukan adab. "Malam ini kamu mau makan di rumah atau di luar?"
Kania belum sadar. Ini seperti mimpi. Dua suara menyapa telinganya, lalu Rangga menarik tubuh mungilnya itu ke parkiran. Ah, ini mimpi! Yakin. Namun, seberapa kuat pun Kania meyakinkan bahwa ini adalah mimpi, maka semakin susah pula untuk keluar dari kesadaran.
Rangga berbalik badan, memperhatikan Kania yang masih saja belum membuka suara. "Aku pulang ke rumah sebentar, mandi dan ganti baju juga sholat. Setelah itu langsung ke sini lagi karena ingat istriku masih kerja."
Kalimat itu berhasil menarik Kania dari khayalan dan mengangkat kepala perempuan itu ke atas. "Mas, nggak capek?" Akhirnya Kania bersuara. Ia yakin menjadi pemimpin baru akan sangat melelahkan, terlebih banyak sekali permasalahan yang terjadi ketika Rangga diangkat menjadi Direktur Utama termasuk beberapa orang dari jajaran paling tinggi yang kurang suka.
Rangga tersenyum kecil. Mendengar pertanyaan itu saja dari Kania sudah seperti kado mahal yang pastinya akan dikenang semasa hidup. seuntai perhatian kecil yang diberikan Kania terasa lebih menyenangkan dibandingkan ribuan pujian dari orang. Mungkin ini yang dinamakan nikmatnya memiliki pasangan hidup.
"Nggak. Lagian menjemput istri itu juga kewajiban. Aku nggak mungkin biarin kamu pulang sendiri pakai taxi. Ya, walaupun memang nggak pa-pa juga selama kamu merasa nyaman," jawab Rangga cepat.
__ADS_1
Kania diam sejenak. Melihat antusias Rangga yang membludak membuat Kania merasa bersalah. Dengan cepat mengembangkan senyum kecil sebagai bentuk rasa terima kasih atas perhatian suaminya tersebut. "Makasih, Mas."
Kening Rangga berkerut. Sedikit gugup juga. Bisa-bisanya perempuan di depannya itu dengan santai tersenyum manis bagaikan bidadari. Bisa gila Rangga. "Ayo, masuk. Nanti keburu malam." Rangga menghindari pertemuan mata kembali dengan Kania. Ia terlalu malu memperlihatkan wajah gugupnya. Apa ini? Padahal ia seorang lelaki. Ah, jangan sampai memalukan.
Rangga masuk lebih dulu, sedangkan Kania sempat melirik ke belakang. Mendapati sosok yang tadi memanggilnya juga dan dengan cepat bayangan orang itu kabur dari pandangan mata. Rasanya ingin menyapa, tetapi tak tahu harus mulai dari mana. Setelah menikah, kecanggungan mulai terasa. Mungkin sebaiknya bersikap biasa saja demi menghindari terputusnya tali silaturahmi pertemanan di antara mereka.
"Kania." Suara Rangga memanggil nama istrinya lagi. Dengan cepat Kania segera masuk mobil. Memakai sabuk pengaman dan kendaraan beroda empat itu pun segera pergi dari sana. Meluncur bebas dari parkiran menuju gerbang dan bergabung dengan yang lainnya di jalan raya.
Kania menatap ke jendela samping. Yakin jika itu memang Radit. Berusaha untuk tetap tenang karena saat ini bersama suaminya.
"Kamu sudah bertemu dia?" Mendadak Rangga mengeluarkan pertanyaan ketika mobil sudah berjalan hampir lima menit.
Otomatis Kania menoleh ke arah Rangga dan berkata, "Dia itu siapa, Mas?" Takutnya bukan Radit yang dimaksud Rangga. "Soalnya aku takut salah jawab."
Kania bergeming. Ternyata benar tebakannya. "Ah, Gendis, ya." Suara Kania bergetar. Nama perempuan itu manis sekali, bahkan sangat terdengar lebih indah darinya.
Dari jawaban Kania saja Rangga sudah menyimpulkan jika perempuan di sampingnya sudah mengetahui. "Kamu udah ketemu?"
Kania mengangguk cepat. "Tadi dia udah ke tim keuangan. Duduk di bangku bekas Mas Rangga."
__ADS_1
"Kalian jadi partner kerja yang baik. Dia itu lumayan cekatan dan bisa diandalkan." Rangga bercerita dengan bebasnya.
Kania tertegun. Sedikit janggal. Semua yang dikatakan Rangga seperti orang yang sudah mengenal baik. Ah, mana mungkin. Gendis itu kan karyawan baru. "Kok, Mas, bisa tau?" Entah mengapa Kania mulai sedikit bisa nyaman dekat dengan Rangga. Perlahan bisa memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan baik pada lelaki itu. "Bukannya dia karyawan baru, ya? Mas, juga baru pertama kali jadi Direktur utama."
Rangga menggaruk pundak, entah apa yang gatal. Namun, yang pasti lelaki itu memberikan jeda untuk bisa menjawab pertanyaan dari Kania. "Aku bekerja itu udah lama, walaupun bukan di bidang ini juga. Cukup melihat dari bahasa tubuh seseorang juga catatan bekerjanya selama di perusahaan saja, aku bisa menebak dia seperti apa."
Kania tertarik berdebat dengan Rangga. Sudah lama tidak bertemu Adit, satu-satunya mahluk di bumi ini yang selalu menjadi teman berdebatnya. Sedikit rindu juga, tetapi agak lega karena bisa jauh dari anak satu itu. "Aku rasa itu nggak bisa jadi patokan, Mas."
Rangga sempat menoleh sebentar ke arah Kania. Tidak bisa lama, sebab ia tengah menyetir saat ini. "Alasannya?" Senang melihat respon Kania yang tak begitu canggung lagi. Ini bisa jadi awal mula dari perkembangan baik untuk hubungan mereka.
Kania yang memang notabennya anak perempuan jelas saja suka berdebat. Ia berwatak sedikit keras kepala dan memiliki prinsip kuat, sekali pun terkadang goyah juga karena keadaan. "Karena kita itu nggak bisa nebak seseorang, Mas."
Rangga suka dengan keadaan sekarang. Tak masalah mereka mendebatkan hal sekecil apa pun, itu akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Rangga. "Kamu ternyata suka dengan perdebatan. Aku baru tau." Rangga menyunggingkan senyum kecil. Senang sekali hanya dengan seperti ini saja. "Coba keluarkan sifat aslimu, Nia. Aku mau tau banyak."
Kania tersentak. Rangga ini sedikit aneh, mana ada orang yang ingin memperlihatkan sifat asli dengan begitu saja. Sudah pasti akan ditutupi ketika berhadapan dengan orang lain. "Aku sebenarnya nggak terlalu suka debat, Mas." Kania harus meluruskan ini demi nama baiknya.
Mobil Rangga berhenti di lampu merah dengan kendaraan lainnya. Sudah menjadi aturan yang berlaku.
"Tapi, kalau harus berdebat untuk meluruskan sesuatu. Aku rasa itu perlu." Kania menambahkan cepat. Bagaimanapun Rangga jangan sampai berpikiran yang macam-macam. "Mas, juga bakal lakuin itu, kan, kalau ngerasa ada yang aneh bukan?"
__ADS_1
Di tengah keramaian jalanan, dua insan itu saling menatap satu sama lain. Tidak peduli sedang berada di posisi mana keduanya.
"Aku salah apa nggak, Mas?" Kania kembali menyunggingkan senyum kecil yang berhasil membuat Rangga tersipu malu.