
Esok pun tiba. Kania berangkat bekerja seperti biasa. Di Divisi keuangan, memang perlunya kerja dengan cepat dan teliti. Tentu hal ini agar bisa membuahkan hasil paling baik.
"Sayang, Bunda minta tolong buat belanja mingguan, ya," kata Bu Lala ketika mereka sarapan.
Adit sudah lebih dulu berangkat karena dijemput oleh temannya.
Pak Kemal sendiri masih berolahraga. Ingin libur menikmati hari bersama sang Istri padahal sudah hari Senin. Tak apa-apa, selama masih ada waktu untuk bersama.
"Boleh, Bun. Nanti bilang aja mau beli apa. Biar aku nggak lupa," jawab Kania. Perempuan itu menikmati dua lembar roti tawar yang diberi selai coklat dan stroberi. Makanan tersimple yang selalu ada ketika malas makan berat.
Bu Lala sedang memasak tumis kangkung karena sang Suami meminta ini untuk sarapan.
"Nanti Bunda kirim via pesan aja. Kalau catatan, takutnya kamu lupa," imbuh Bu Lala.
"Iya, Bun."
"Oh, ya, Nak. Bisa tolong antarkan kue ke ibunya Radit. Kemarin katanya pesan buat acara."
Kania tersedak. Tangan kanannya bergegas mengambil segelas air di meja, meneguk perlahan, dan menyimpan kembali. "Memangnya ada acara apa, Bun?" Rasa penasaran pun menggiring Kania untuk bertanya seperti itu.
Bu Lala diam sejenak. Memberikan bumbu pada masakannya, lalu berujar, "katanya syukuran karena Radit udah naik jabatan. Bunda ikut senang dengarnya."
Kania mengangguk. Dari kemarin sampai detik ini, ia belum menerima satu pesan pun dari Radit. Mungkin lelaki itu juga memiliki kesibukan tersendiri yang tak perlu harus dilaporkan.
"Bunda bangga sekali, walaupun Radit itu bukan anak Bunda. Soalnya Bunda juga ngerasain ngedidik aja zaman waktu kalian kecil," imbuh Bu Lala.
Beberapa potong kenangan masa kecil Radit dan Kania pun berputar lagi dalam ingatan. Bukan hanya karena masalah ini saja, tetapi juga rindu dalam melakukan segala hal ketika keduanya masih kecil.
__ADS_1
Ternyata benar, jika masa kecil anak itu memang tidak akan terulang lagi. Maka dari itu, kita perlu memastikan untuk memberikan momen indah pada mereka agar bisa dikenang. Bu Lala rasa tidak ada salahnya dengan kalimat itu.
"Kania masih ingat pas Radit nangis karena dimarahin ayahnya. Dia malah nyari Bunda karena sering dielus." Kania tertawa kecil.
Bu Lala selesai masak. Mematikkan kompor dan berjalan ke arah meja makan. Jika membahas tentang Radit, anak perempuannya ini memang terlihat antusias dan ceria. Hal ini membuat ia penasaran bagaimana isi hati sebenarnya sang Anak.
Bu Lala menarik kursi di depan Kania. Duduk dengan tatapan sulit diartikan yang berhasil membuat Kania terdiam.
"Bunda, kenapa?" tanya Kania heran.
Bu Lala celingukan. Memastikan keadaan lebih dulu, barulah fokus pada dua netra Kania. "Nak, Bunda mau tanya. Ini mungkin sedikit privasi dan sensitif buat kamu."
Suasana berubah menjadi tegang untuk Kania. Pasalnya, ia teringat akan perbincangan sang Ibu dan Ayah kemarin sebelum pergi keluar. Dada Kania mendadak sesak dengan kedua tangan bergemetaran, bahkan tidak sanggup meneruskan kegiatan makanannya. Ia memilih menyembunyikan tangan itu di bawah meja.
"Soal apa, Bun?" tanya Kania.
"Begini …." Bu Lala menjeda sebentar perkataannya, kemudian meneruskan. "Kamu dan Radit nggak ada perasana saling suka, kan?"
Kania menelan ludah. Pertanyaan macam apa ini? Langsung ke inti tanpa pemanasan lebih dulu.
"Bunda cuma mau tau karena kalian ini dari kecil udah dekat banget. Malahan lebih dari sodara. Kamu aja sering nangis kalau Radit pergi, padahal kalau adikmu pergi. Biasa aja," sambung Bu Lala yang berhasil membungkam mulut anaknya sendiri.
Hening. Tak ada jawaban dari Kania. Perempuan dengan hijab merah itu sedang berpikir memilih kata terbaik untuk dipersembahkan pada sang Ibu. Lebih tepatnya mungkin bimbang juga untuk menjawabnya.
Bu Lala mengambil teko yang berisi teh manis hangat. Menuangkan ke gelas kecil, lalu menyeruput sedikit. Dengan kedua tangan memegang gelas, ia kembali bersuara. "Kamu jangan merasa terbebani dengan pertanyaan Bunda tadi. Melihat kedekatan kalian, dan kita tau kalau tidak ada pertemanan pria dan wanita yang seratus persen tanpa campur tangan rasa cinta. Makanya, Bunda tanya. Bicara dari hati ke hati."
Kania paham. Dengan metode ini, ia pun merasa tersentuh dan merasa dirangkul oleh sang Bunda. Hanya dengan waktu yang sangat singkat, mereka bisa berbicara berdua saja dengan mempertimbangkan topik yang baik.
__ADS_1
Kania menghela napas kasar dan berkata, "Bunda, mau dengar jawaban jujur bukan?"
Bu Lala mengangguk cepat. "Tentu, Nak. Bukannya Bunda sering mengajarkan kalian untuk jujur dalam hal apa pun karena kita tau kalau jujur itu lebih baik, sekali pun menyakitkan."
Kania tersenyum tipis. "Kalau gitu, jawaban Kania 'ya' ada. Tapi, mungkin cuma Kania aja."
Dua bola mata Bu Lala membesar. Dugaannya tidak salah. Dari bahasa tubuh anak perempuannya pun sudah terbaca jelas ketika perpisahan panjang akan terjadi dengan Radit.
"Kania suka sama Radit bahkan bisa dikatakan cinta pertama. Tapi, seperti yang Bunda ajarkan kalau cinta sebelum sah itu tidak baik. Makanya, Kania sama sekali nggak bilang apa pun ke Radit. Kalau memang Radit itu jodoh Kania, In Syaa Allah, bisa bersama."
Jawaban Kania mengharukan. Bu Lala menatap lekat anaknya. "Benar sekali, Nak. Suka itu boleh, tapi jangan sampai terobsesi. Karena manusia itu wajar punya rasa cinta ke lawan jenis. Allah kasih itu seperti bonus untuk memperindah kehidupan kita."
Kania kembali tersenyum. Dadanya lega serta tangannya berhenti bergetar. Ia bisa lagi menghabiskan sisa roti yang ada.
"Apa Radit selama ini nggak ada bilang apa puh ke kamu, Nak?" tanya Bu Lala lagi.
Kepala Kania menggeleng cepat. "Nggak, Bun. Kita biasa aja."
Bu Lala diam. Teringat lagi perkataan ibunya Radit yang menceritakan tentang anak lelakinya itu menggiau nama Kania.
"Memangnya kenapa, Bun?" Kania bertanya balik.
Bu Lala menyimpan gelas. Berdiri, dan berkata, "Ah, nggak. Bunda cuma tanya aja. Kamu habiskan dulu sarapannya, baru antar kue ke rumah ibunya Radit. Jangan lupa cek lagi tas buat kerja. Jangan sampai ada yang ketinggalan."
Sekejap Kania bergeming, sebelum akhirnya mengiyakan perkataan sang Bunda. Ia merasa ada hal yang disembunyikan bundanya di belakang. Namun, apa pun itu, ia tak berhak mencari tahu selama tak menyangkut akan dirinya.
Sarapan selesai. Kania juga telah mengecek tas bekerja dan semuanya lengkap. Ia pamit pada Bu Lala, tak lupa menyambar kotak kue yang harus diberikan.
__ADS_1
"Katanya Radit mau pulang Minggu ini," ujar Bu Lala ketika Kania sudah berjalan tiga langkah ke depan setelah pamitan.