
"Bismillah." Kania mulai memantapkan hati. Mengangkat kepala pelan. Menatap satu per satu dua lelaki yang saat ini terfokus padanya. "Sebelumnya aku ucapkan terima kasih karena kalian punya niat yang baik, lalu aku ucapkan mohon maaf kalau di antara kalian ada yang tidak aku pilih. Jangan merasa dikalahkan karena ini bukan pertandingan."
Radit meneguk ludah. Rasanya kemenangan ada padanya, tetapi tidak menutup kemungkinan kekalahan pun akan menghampirinya juga.
Rangga sendiri tenang. Tetap duduk dengan posisi tegak bukan karena dia memiliki kesepakatan dengan Kania, melainkan menghormati sepenuhnya apa pun keputusan perempuan itu.
Kania sejenak diam. Berat hati mengatakan jawaban. "Radit." Suaranya lembut sekali. Otomatis lelaki itu semakin gugup. "Terima kasih sudah datang. Aku terharu."
Kedua sudut bibir Rangga terangkat sebentar. Sudah tahu akhirnya seperti apa. Sebaiknya ia mempersiapkan diri menghadapi sang Ayah.
Besar harapan Bu Wati untuk bisa mendengar nama Radit disebut Kania sebagai pemenang dari lamaran ini. Semoga saja tidak melesat.
"Rangga." Kali ini bibir perempuan berhijab itu memanggil lelaki yang sejak tadi tenang.
"Ya." Rangga langsung menyahut. Sudah siap dengan segala kekalahan. Tak akan mungkin menang berperang dengan cinta yang sesungguhnya, sementara ia hanya bertepuk sebelah tangan.
"Aku terima lamaranmu, Rangga," imbuh Kania.
Radit terkejut, apalagi Rangga. Kedua lelaki itu terpaku tanpa kata. Kedua orang tua Kania hanya bisa saling memandang satu sama lain, sedangkan Pak Gani menyunggingkan senyum.
Bu Wati tersenyum ikut bahagia, sementara Adit yang mendengarkan dari jarak yang tidak jauh cukup mengamati saja.
Rangga gugup. "Kamu menerima lamaranku?" Sekali lagi ingin mendengar jawaban dari Kania.
Kania mengangguk pelan dengan senyuman manis. "Iya. Aku terima lamaranmu."
Seutas senyum paling bahagia diperlihatkan Rangga. Sungguh ... di luar dugaan. Sebab, bisa saja Kania berubah pikiran ketika melihat Radit melarang.
"Kamu yakin?" Rangga masih saja belum percaya. "Sudah dipertimbangkan secara matang?"
Mendengar itu Radit sempat melirik Rangga.
"In Syaa Allah, aku yakin." Kania masih mempertahankan senyuman indah.
__ADS_1
"Ok. Kalau begitu, anak saya yang berhasil melamar anak Pak Kemal." Pak Gani tidak ingin terlalu lama berbasa-basi.
Seiring dengan kalimat itu, wajah Kania menunduk kembali.
Pak Kemal tidak bisa berbuat apa pun. Semua keputusan ada di tangan anak sulungnya. "Sepertinya begitu. Alhamdulillah, sekarang sudah jelas."
Radit dan Bu Wati menerima dengan lapang dada karena beberapa kali pun Kania ditanya, jawabannya tetap sama. Rangga, orang yang akan ia nikahi. Mengingat lamaran berjalan tidak baik, mereka pun pamit pulang. Tak ingin mengganggu pertemuan dua keluarga yang mungkin setelah ini akan membahas perihal pernikahan.
Sebelum pulang Radit sempat melirik Kania sekilas, lalu beranjak dari rumah perempuan itu. Berjalan keluar didamping bundanya.
"Jangan sedih. Bunda, sudah bilang kalau jodoh itu nggak bisa semau kita. Semoga Allah segera pertemukan jodoh untukmu. Aamiin." Bu Wati terus menguatkan Radit. Terlihat sekali wajah kecewa, wajar.
Radit memaksakan senyum. "Iya, Bun. Aamiin." Mereka pun pergi dari sana dengan segudang perasaan yang bercampur aduk dalam diri.
Sementara itu di dalam Pak Gani berdiskusi dengan Pak Kemal juga Bu Lala perihal kelanjutan lamaran.
"Saya tidak suka menunda niat baik. Kalau memang kedua mempelai sudah siap, tunggu apa lagi?" tanya Pak Gani.
Lelaki itu tulus mencintai Kania. Menjaganya sebaik mungkin.
"Rangga, kalian itu bukan anak kecil lagi. Tidak mungkin juga bersama tanpa ikatan. Bisa menimbulkan fitnah. Apa Pak Kenal dan keluarga ingin seperti itu juga?" Tatapan Pak Gani fokus ke arah calon besannya. "Bukankah kita tau kalau dua orang ini bisa saja terbujuk rayuan setan?"
Pak Kemal paham untuk ke arah sana. Jangan sampai terjadi. "Saya jelas tidak mau. Mendidik anak perempuan itu tidak mudah, jadi mana mungkin saya berharap Kania terjerumus ke arah sana."
Pak Gani tersenyum kecil. "Lalu, apakah Pak Kemal keberatan jika pernikahan dilakukan seminggu lagi? Semua persiapan saya dan Rangga yang urus. Termasuk biaya, gedung dan hal lainnya."
Kania diam tanpa ingin mengeluarkan pendapat. Terlalu lelah berdebat dengan calon mertuanya. Yang terpenting saat ini bisa menyelamatkan keluarga inti dari kebangkrutan. Itu saja, selanjutnya terserah.
Bu Lala pamit ke dapur untuk mempersiapkan yang kurang untuk hidangan. Tak sengaja bertemu Adit yang ternyata sedang duduk termenung di salah satu kursi meja makan.
"Dek, kamu kenapa?" Bu Lala mendekat. Memegang pundak kanan Adit sampai anak lelakinya itu terkejut dan langsung menoleh ke belakang. "Kamu melamun, kenapa?"
Wajah Adit tak seperti biasa, mengisyaratkan isi hatinya. "Nggak, Bun. Aku cuma lapar, tapi mesti nunggu yang lain." Mulutnya tertawa lepas seakan tak ada beban.
__ADS_1
"Astagfirullah, Dek. Bunda kira kamu kenapa." Bu Lala bergerak ke depan. Mengamati meja makan, takutnya ada yang kurang.
Adit tertawa kecil lagi. Kembali diam dengan pandangan yang susah diartikan.
Di ruangan tamu masih berlangsung diskusi. Pak Gani ingin tetap melangsungkan pernikahan seminggu lagi dengan alasan yang sangat jelas, tetapi Rangga pun masih berusaha menghadang niat ayahnya untuk kenyamanan Kania.
"Saya rasa kita perlu tanya ke anak-anak saja, Pak." Akhirnya Pak Kemal mengembalikan semua ketentuan pada dua belah calon pengantin tersebut. "Kita cuma bisa mendoakan juga mempersiapkan."
Rangga sendiri iri pada Kania saat ini. Perempuan itu bukan hanya tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh cinta, tetapi juga memiliki sosok Ayah yang bijak dan tidak semana-mana dalam mengambil keputusan. Sesuatu yang mungkin untuk Kania biasa. Namun, untuknya justru sebuah impian yang susah digapai sampai sedewasa ini.
"Benar, Pak," kata Rangga.
"Jangan panggil Bapak." Pak Kemal tersenyum kecil. "Nak Rangga, bisa panggil dengan sebutan Ayah sama seperti Kania."
Baru seperti ini saja hati Rangga berbunga-bunga layaknya lelaki yang tengah jatuh cinta. Merasa dihargai dan diakui keberadaannya. Padahal sejak kecil, ia telah kehilangan jati diri di rumahnya sendiri.
Pak Gani acuh. Tak peduli perihal itu. Niatnya bukan untuk hal sereceh itu.
"Baik, Ayah. Terima kasih." Rangga menyambut antusias.
Keputusan kembali dialihkan pada Rangga dan Kania. Keduanya berhak menentukan kapan siap menikah.
"Kania ikut Rangga saja, Yah. Sudah jelas akan menikah dengan Rangga," jawab Kania.
Rangga tertegun. Kepasrahan Kania menurunkan semangatnya. Nada bicara Kania saja sudah lesu, tetapi perempuan itu tetap tidak ingin mundur. Bagai buah simalakama. Mundur, kena. Maju pun, kena. Gila rasanya.
Rangga menghela napas kasar. Setelah memikirkan beberapa menit, keputusan bisa ia ambil. Ketegasan perlu dilakukan agar Kania paham jika tidak seharusnya mempermainkan perasaan. "Kita akan menikah minggu depan. Persiapkan mental juga dirimu."
Kedua pupil mata Kania membesar. Dua netra cantik itu mendapati ketegasan di binar mata Rangga. Lelaki ini sedang tidak main-main.
Pak Gani bangga, sedangkan Pak Kemal sendiri masih menunggu persetujuan Kania. Masih perlu mempertimbangkan pendapat anak sulungnya.
"Kamu bisa menentukan tema seperti apa untuk acara pernikahan nanti. Aku ikuti semuanya!" tegas Rangga. Nasi sudah menjadi bubur, tinggal dinikmati saja. Entah asin atau justru kurang garam, habiskan saja.
__ADS_1