Dua Lelaki

Dua Lelaki
Tak sengaja


__ADS_3

"Terima kasih jawabannya." Gendis tersenyum manis. "Akhirnya lega juga." Senyumnya kian merekah.


Radit bergeming. Sorot matanya tak sama dengan ukiran bibir kecil itu. Seuntai kecewa dirasakan, tetapi tertutupi dengan rapi. Pintar sekali.


"Tapi ... apa boleh kita seperti ini terus?" Gendis menghela napas kasar. "Maksudnya dekat saja. Saya merasa nyaman ada di dekat Pak Radit. Bukan karena Bapak mirip mantan tunangan saya saja, tapi memang kedamaian itu seperti berasal dari Pak Radit."


Rasanya tega jika Radit sampai tidak memperbolehkan selama itu masih dalam batas wajar. Yakin juga jika Gendis akan tahu ranah mana yang tak bisa ia ikuti.


"Silakan. Kita bisa berteman seperti biasanya," balas lelaki itu sambil meraih segelas jus. Menyedotnya perlahan, manis sekali. Hampir sama dengan senyumnya Gendis kali ini. Mengingatkan ia pada sosok Kania yang selalu menebar senyum, menggoyahkan pertahanan dirinya sampai sulit dibangun kembali.


Lagi-lagi terucap jelas kalimat terima kasih dari mulut Gendis. Mereka terpisah karena jam makan siang berakhir. Gendis sendiri pamit ke toilet sebentar. Ada yang ingin ia lakukan.


Gadis itu berjalan di antara lalu lalang karyawan lainnya. Kebisingan tak sedikit pun mengusik. Menikmati lamunannya sendiri seolah sedang berada di dunia mimpi.


Begitu sampai di toilet, gadis itu memasuki salah satu ruangan. Diam sejenak. Mengundang beberapa tetes air mata yang sengaja keluar untuk menemani. Hatinya rapuh, tetapi tetap ingin terlihat tegar karena tahu keadaan yang bergulir.


"Jangan biarkan aku lebur, Tuhan. Dia berhak menentukan pilihan." Menetralisir rasa sakit sendiri memang salah satu cara yang terbaik. Tak ada yang lebih sayang pada diri selain kita sendiri.


***


Esok pun tiba, Kania sudah diwanti-wanti Adit untuk membelikan voucher game.


"Pokoknya aku mau dibelikan itu!" Keputusan Adit ini tidak bisa diganggu gugat.


Kania yang baru saja selesai sarapan menoleh ke arah kanan dan berkata, "Ya, bawel! Jangan lupa jumatan hari ini. Awas aja kalau nggak, Kakak potong semua uang jajanmu!"


Adit bergedik ngeri. Ancaman sang Kakak tidak pernah main-main. Selalu benar dan terbukti. "Ampun, Kak!" Tangannya menghalangi kepala seolah akan terjadi tindakan kekerasan.

__ADS_1


Kania mengerutkan kening. "Astagfirullah, Dek. Memangnya kakakmu ini mau mukul?" Kania bergegas pergi dari ruangan makan. Jumat biasanya memang masuk lebih awal.


Adit terkekeh geli dengan kelakukuannya sendiri. Secepat mungkin mengajak sang Ayah untuk berangkat.


"Jangan lupa pesan kakakmu, ya." Bu Lala pun mengingatkan. Sebagai seorang Ibu sudah sepantasnya ia mengajarkan anak-anak tentang beribadah sesuai keyakinan. Tak ingin mereka tersesat sampai susah menemukan jalan pulang. "Bunda mau ke kajian nanti siang. Kalau kamu pulang dan lapar, banyak makanan di kulkas. Tinggal panaskan."


Kepala Adit mengangguk pelan pertanda paham. Tak lupa mencium telapak tangan bundanya dan pamit dengan mengucapkan salam.


Berbeda dengan Pak Kemal, mereka melakukan ritual layaknya suami istri yang tengah mengantar berangkat kerja. Cium kening, cium tangan.


"Hati-hati di jalan, ya, kalau mau ke kajian," pesan Pak Kemal.


Usia pernikahan keduanya memang bukan seumur jagung lagi, tetapi bagi Pak Kemal sang Istri tetaplah wanita paling spesial. Dua anaknya lahir dengan perjuangan istrinya yang ikhlas mempertaruhkan nyawa. Lantas, alasan apa yang membuatnya tidak menganggap Bu Lala spesial?


"Iya, Ayah." Balasan dari Bu Lala tak kalah manis. Berhasil membuat iri diri Adit sebagai anak. Ingin juga pasangan seperti itu.


"Ayah berangkat, Assalamualaikum." Pak Kemal pamit. Pergi lebih dahulu keluar rumah diantar senyuman sang Istri yang kian merekah.


Adit harus kuat. Mentalnya dibentuk untuk terus melihat kemesraan kedua orang tua. Namun, ini justru sumber kebahagiaan. Sebab, dari orang tua bahagialah ia bisa mendapatkan segudang cinta. Tidak perlu mengemis pada orang lain di luaran sana bahkan memikirkannya pun, tak pernah.


Kania kembali dengan membawa tas. Pamit pada bundanya seperti Adit.


"Oh, ya, Sayang." Bu Lala sedikit ragu untuk meneruskan. Bisa saja Kania tersinggung.


Tangan Kania masih berada di tangan bundanya. Saling menyatu. "Ada apa, Bun?" Menatap Bu Lala lekat. Merasa ada yang aneh. "Bunda, mau nitip sesuatu?"


Bu Lala menimbang lagi untaian kalimat yang akan dikeluarkan. Sudah benarkah?

__ADS_1


"Aku buru-buru," lanjut Kania. Tidak bermaksud lain.


"Kapan kamu bawa lelaki pilihanmu itu?" Akhirnya Bu Lala mengumpulkan keberanian.


Kedua pupil mata Kania membesar. Ia lupa pernah membuat janji.


"Bunda sama Ayah mau bertemu." Dengan senyuman kecil Bu Lala meneruskan perkataannya. Berharap sang Anak tidak tersinggung karena pada hakikatnya baik itu anak atau orang tua perlu menjaga perasaan masing-masing anggota keluarga. Itulah salah satu etika yang diterapkan pada rumah besar ini.


Kania bimbang. Tampak jelas ketika ia memutar kedua bola matanya. Bukan tidak ingin memberi kepastian, tetapi hati kecilnya yang tidak merestui. Barangkali karena terpaksa. "Aku nggak bisa janji, Bun. Tapi ... In Syaa Allah, secepatnya."


Getaran sorot mata Kania berkata lain. Tentu seorang Ibu tahu, hanya saja berpura-pura. Bisa saja ada yang sedang dijaga anaknya. "Yang penting jangan terlalu lama menunda. Kalau memang lain sudah saling punya komitmen masing-masing."


Nasihat itu tercetak di otak Kania. Tak mungkin lupa sampai ke mana pun. "In syaa Allah, Bunda. Kalau gitu, Kania pamit dulu, ya. Assalamualaikum." Gadis itu melepaskan tangannya. Berbalik badan dengan perasaan bersalah. Hati kecil terus berkata maaf seakan tidak ingin meneruskan sandiwara. Namun, dunia orang dewasa itu berbeda. Ada kalanya sandiwara untuk kebaikan itu diperlukan.


"Wa'alaikum salam." Bu Lala memandangi kepergian anak sulungnya. Anak perempuan yang dulu sering menangis hanya karena terjatuh dari sepeda saja. "Dia tumbuh baik. Jaga anak Perempuanku, Ya Rabb." Seuntas doa keluar dengan telur.


Sementara itu mobil Pak Kemal sudah meluncur keluar dari sarangnya. Bergabung dengan kendaraan lain yang ada di jalanan.


"Dek, jangan lupa jumatan hari ini. Ingat kodratmu sebagai laki-laki." Sekali lagi anggota keluarga paling tua memberikan nasihat. Sudah kewajiban memang.


"Iya, Ayah. Adit juga tau." Cowok dengan pakaian sekolah rapi itu mengangguk paham sambil bermain permainan di ponsel.


Pak Kemal terus menyetir dengan hati-hati. Mereka terjebak kemacetan di titik yang rawan. Syukurlah hanya sebentar. Mengingat waktu semakin cepat berlalu, Pak Kemal menambah kecepatan. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering, seseorang menghubungi. Lelaki paruh baya itu melirik sekilas pada tas dengan salah satu tangan lepas dari stir untuk merogoh benda itu.


Tak disadari mobil di depannya melakukan pengereman mendadak. Tentu saja Pak Kemal tidak siap, sehingga terpaksa menabrak belakang mobil di depannya. "Astagfirullah." Badan Pak Kemal ke depan. Begitu pun dengan Adit.


"Ayah!" Adit tak sengaja meninggikan suaranya.

__ADS_1


Dalam hitungan detik, seseorang dengan tubuh tinggi dan tegak keluar dari mobil di depan. Adit melebarkan kedua bola mata. Tak mungkin.


Lelaki itu melihat keadaan belakang mobilnya seiring dengan keluarnya Pak Kemal untuk meminta maaf.


__ADS_2