
Kania sendiri masih diam, sampai akhirnya Radit kembali berucap. "Jangan gadaikan pernikahanmu hanya karena cinta manusia. Kamu mengerti dengan kalimat itu, kan?" katanya. Kania seketika mengangguk pelan.
"Pergilah. Seperti halnya Rangga yang ridho kamu datang menemuiku padahal dia bisa melarangmu, tapi kebesaran hatinya patut diacungi jempol. Selamat berbahagia, Kania." Suara Radit pelan, tetapi penuh makna.
Pak Kemal mengurungkan niatnya untuk masuk, memilih berbalik badan dan pergi dari ruangan Radit dirawat. ingin berbicara dengan anaknya, tetapi bukan waktu yang tepat.
Kania mengatur napas agar tidak lagi meneteskan air mata. Pernyataan keduanya berhasil memporak-porandakan jiwa siapa pun. Cinta mereka tidak salah, tetapi mengapa keluar di waktu yang salah. Kenapa tidak sejak dahulu? Pengecut sekali keduanya. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada yang bisa diselamatkan selain menikmatinya, walaupun kurang suka.
"Jangan menangis, aku nggak bisa hapus air matamu. Rangga mungkin bisa, tapi dia juga sepertinya lebih menjaga dirimu karena ini." Dada Radit semakin sesak. Setiap tetes air mata yang keluar dari netra Kania menjadi kesakitannya sendiri. "Pergilah, jangan berat ke aku. Kita sudah beda jalan."
Kania tersenyum getir. "Selamat berbahagia juga. Assalamualaikum." Tak ada yang bisa diputar untuk Kania. Ia akhirnya membalikkan badan dengan membawa sisa air mata di kedua manik-manik. Berjalan perlahan mendekati pintu dengan perasaan tak karuan. Semuanya berakhir, mereka telah dewasa harus paham satu sama lain.
Radit mengukir senyum kecil, melepas kepergian Kania yang sebenarnya bisa saja disambutnya dengan baik. "Wa'alaikum salam. Jangan jadi istri yang kurang baik, Nia. Posisimu sudah berbeda." Dengan setengah ikhlas melihat orang yang dicintai menjauh.
Dua insan itu telah mengeluarkan apa yang ada di benak. Berjanji akan memulai lebih indah lagi dari nol, walaupun memang tidak akan semudah pada umumnya. Menerima takdir Yang Maha Kuasa bahwa cinta itu tidak perlu saling memiliki.
Bagi Radit, tak peduli Rangga memiliki Kania dengan cara apa. Yang ia pahami sekarang adalah berdamai dengan keadaan. Yang pasti kubu lawannya pun sudah melewati beberapa fase sebelum berada di titik sekarang. Hal yang mungkin bisa membuat gila jiwa dan batin.
__ADS_1
Kania pamit pada ibu dan adiknya. Sempat menanyakan sang Ayah, tetapi mereka pun tidak tahu. Memutuskan untuk tetap pulang. Sebelum sampai rumah, ia beberapa kali menghubungi Rangga hendak menawarkan bakmi yang biasanya dinikmati lelaki itu. Akan tetapi, lelaki tersebut tidak menjawab teleponnya.
"Mungkin Mas Rangga udah tidur." Kania berpikiran positif lebih dulu. Ia langsung tancap gas keluar dari area rumah sakit menggunakan mobil pribadi.
Kenangan kejadian beberapa menit lalu mengusik pikiran. Sesekali perempuan itu menghela napas kasar, mengapa baru sekarang mereka bisa dengan bebas mengutarakan perasaan. Mungkin inilah yang dinamakan takdir, tak bisa ditebak dan susah sekali diluruskan jika sudah membengkok.
"Kami ternyata saling cinta, tapi sayangnya semesta punya rencana lain. Astagfirullah." Kania terus saja menenangkan hati. Menampar diri dengan berbagai kenyataan yang ada termasuk perihal statusnya saat ini.
Lalu lalang kendaraan begitu padat, mungkin karena weekend. Bahkan dua kali Kania mengalami kemacetan, tak masalah. Jalan ini milik umum, jelas saja ia perlu bersabar ketika kendaraan sedang membludak dan menghasilkan kemacetan.
Lima belas menit akhirnya Kania sampai depan gerbang rumah. Mencoba memberikan klakson dua kali, tetapi tidak ada satpam yang ada. Pada akhirnya Kania keluar dan membukakan sendiri gerbang. "Pak satpamnya ke mana, ya?" Celingukan mencari lelaki bertubuh tegak yang selalu siap siaga. "Mungkin Beliau lagi makan." Lagi-lagi tak berpikiran negatif.
Mobil Kania berhenti di depan teras. Keluar cepat dan masuk rumah sambil berkata, "Assalamualaikum." Keadaannya hening. Tak ada tanda-tanda Rangga berada. Kania terus berjalan, tak lupa menutup pintu.
Perempuan yang hanya meninggalkan rumah sekitar satu setengah jam itu bergerak maju ke area ruangan tamu. Sepi sekali. Akhirnya ia melangkahkan kaki ke arah tangga, barulah terdengar suara dari dapur. Itu pasti Ibu pembersih rumah.
Kania meneruskan langkah, perlahan menaiki anak tangga dan sampai di lantai dua. Di sini hanya ada dua kamar, dan satunya adalah kamar utama. Ruangan yang hanya ditempati oleh Rangga dan Kania. Dan, paling uniknya tidak ada yang boleh masuk selain mereka. Maka dari itu, khusus ruangan ini mereka sendiri yang membersihkan. Bisa dikatakan Rangga tidak suka ada yang mengetahui privasi dirinya dengan sang Istri.
__ADS_1
Kania membuka knop pintu, mengira sang suami ada di sana. Sebab, tak ada di ruangan tamu. Tempat terakhir mereka saling berbicara. Namun, ketika kedua kakinya melangkah masuk. Netra Kania pun tidak menemukan sosok Rangga.
Kania terdiam dengan tangan kanan memegang knop pintu, sedikit heran. Menyusuri setiap sudut ruangan kamar, tetapi tak ada pertanda apa pun. Mungkinkah Rangga di ruangan lain? Bisa jadi.
"Mas Rangga mungkin olahraga. Biasanya kalau weekend, jam olahraganya bertambah," imbuh Kania melepaskan tangan di knop pintu dan membiarkan pintu itu tertutup otomatis. Ia terus berjalan, lelah rasanya. Barangkali dengan sedikit beristirahat bisa membuat badannya tenang, termasuk jiwanya.
Oleh karena itu, perempuan yang baru menikah beberapa minggu tersebut merebahkan badan di kasur. Tak ada Rangga rasanya bebas, ia bisa menguasai ranjang ini. Sebab, jika ada lelaki itu memang sedikit tidak leluasa. Entah kenapa?
"Aku tidur sebentar sebelum salat Dzuhur." Kania memejamkan mata. Badannya remuk, tetapi jiwanya lebih remuk. Semua sudah berlalu, menghapus kenangan adalah keputusan yang paling tepat.
Di ruangan yang luas untuk sekelas kamar, Kania mengisyaratkan pikiran dan badan. Melupakan sejenak beberapa masalah di otak dan berharap mimpi indah bisa menemaninya.
Waktu terus berjalan, sampai Kania pun terbangun setelah setengah jam tidur. Lumayan nikmat. Ia mengucek kedua mata dan mengitari sekeliling, belum ada sosok Rangga juga. Dengan rasa penasaran karena tidak ada chat masuk ke ponsel. Ia cepat keluar dari kamar, mencari keberadaan sang Suami. Bukan karena rindu, tetapi sedikit penasaran saja. Tak lupa ponsel pintar pun dibawanya, karena sedang mengetik pesan pada Desi yang kala itu mengirimkan pesan juga sebelumnya.
Ketika turun dari tangga, tak sengaja bertemu dengan Ibu pembersih rumah. Wanita paruh baya itu tersentak seraya berkata, "Maaf, Neng, Ibu tadi sempat gedor pintu. Tapi, Neng sepertinya tidur pulas."
Kania berdiri di depan wanita tersebut. Mengurai senyum manis dan berkata, "Maaf, Bu, saya mungkin kelelahan. Ibu, ada perlu."
__ADS_1
Belum sempat si Ibu membuka mulut, Kania mendapatkan pesan dari nomor yang dianggapnya keramat dan lumayan menakutkan. Bergegas wanita itu memilih membacanya dulu dan terkejut bukan main. Ini tidak salah? Tak mungkin juga. Kedua bola mata Kania membulat sempurna dengan tangan kanan sedikit bergetar. "Nggak mungkin."