
Di ruangan lain Pak Gani selesai menghubungi seseorang. Lelaki paruh baya itu merasakan sakit di bagian dada kanan. Mungkin terlalu lelah bekerja tanpa henti.
Tangannya menarik laci meja. Mengambil sebuah foto lawas dari dua anaknya. Salah satu mereka sudah diambil Tuhan secara mendadak. Hampir tidak percaya.
"Kenapa kamu tinggalkan Ayah, Nak?" tanya Pak Gani pada pada benda mati tersebut. Perlahan tangannya mengelus salah satu wajah dari foto tersebut. Membelainya lembut. Rindu sekali.
"Andaikan kamu masih hidup," kata Pak Gani. Rindu ini menyesakkan. Ingin berjumpa, tetapi susah melakukannya. Tak mungkin juga bisa terwujud.
Pak Gani diam sejenak memandangi satu wajah lagi. Tekadnya kian kuat. Ia yakin bisa menang, sekali pun akan berdampak buruk pada namanya sendiri.
Tak berapa lama Kinan masuk. Bergerak ke arah meja Pak Gani dan berkata, "Maaf, Pak Direktur. Sudah waktunya meeting."
Pak Gani menyimpan foto itu di laci meja. Mengangguk paham. "Baiklah. Dua menit lagi saya keluar."
Kinan sekilas melirik pada pergerakan tangan Pak Gani. Ada apa di sana? Curiga juga. "Baik, Pak." Ia pun pamit undur diri.
Pak Gani menyiapkan hati bertemu Rangga. Bisa jadi anak lelakinya itu masih murka bahkan sampai tak menyapa. Itu dilakukan Rangga selama di rumah dari semalam. Mungkin masih belum bisa menerima.
"Kamu seharusnya bersyukur," gumam Pak Gani sambil berdiri. Di akhir bulan seperti ini meeting dengan tim keuangan memang sangat diperlukan. Mengingat mereka mengevaluasi keuangan selama satu bulan ke belakang. Terutama jika ada kelebihan budget dalam satu proyek.
Pak Gani keluar ruangan. Dengan ditemani Kinan, ia turun ke lantai enam. Di mana ruangan meeting pun berada. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh beberapa orang dari tim keuangan. Termasuk Kania dan Rangga sebagai perwakilan.
"Kita mulai meeting hari ini," kata Pak Gani sambil duduk.
Kinan memilih duduk di jajaran kanan. Di mana Rangga ada di sebelahnya. Sepertinya sengaja.
"Saya minta semua laporan dari tanggal 1 sampai hari ini. Rekapannya termasuk bagaimana evaluasi akhir," kata Pak Gani.
Rupanya Kania yang bertugas. Dengan cepat perempuan itu berdiri dan menghampiri Pak Gani. Memberikan laporan yang sudah disusun rapi. "Silakan diperiksa, Pak."
Posisi Kania berada di samping kanan Pak Gani. Ketika wanita itu menunduk, menjadi kesempatan baik baginya. "Kamu sudah siap dilamar anak saya?" bisiknya.
Kania tertegun. Rangga melihat dengan jelas perubahan wajah Kania.
"Jangan lupa kalau taruhannya lebih berat," bisik Pak Gani lagi.
Tentu saja Kania kian tertegun. Namun, ia sadar sedang di mana dan melakukan apa mereka. Sehingga wanita itu cepat sadar dan menegakkan badan.
Kania terlihat menarik napas panjang. Menyemburkannya perlahan-lahan. Sudut mata kanan Kinan menangkap basah, lalu bergerak ke sampingnya. Tatapan Rangga pada Kania begitu lekat. Semakin meyakinkan diri perempuan itu bahwa ada yang terjadi antara kedua orang tersebut.
Meeting dilakukan dengan lancar. Pak Gani bisa memahami apa yang dijelaskan Kania dengan baik. Mereka pun mendiskusikan lagi beberapa rencana dana yang akan digelontorkan untuk proyek baru.
"Sebaiknya kita lebih berhati-hati," saran Rangga.
Pak Gani menatapnya lekat. "Kenapa?"
Baik di rumah maupun kantor, ayahnya sama saja. Bersikap seolah yang paling tahu. Tidak ingin mendengarkan pendapat orang lain karena merasa lebih baik. Padahal belum tentu selamanya baik. Sebab, manusia itu ada masanya benar dan juga salah.
"Karena kita belum tau pasarnya," jawab Rangga.
Pak Gani mengetuk-ngetukkan tangan kanan di meja. Salah satu ciri jika ayah dari dua anak itu memang sedang mempertimbangkan.
__ADS_1
"Sepertinya mentalmu belum terasah dengan benar." Pak Gani menyeringai. "Dalam bisnis, kita memang perlu adanya keberanian. Gagal atau berhasil, itu adalah keputusan akhir."
Rangga tak ingin kalah. Tatapannya pun kian lebih tajam. Tak peduli yang tengah dihadapinya ini adalah seorang Ayah. "Itu memang benar, tapi kita juga perlu mempertimbangkan dengan matang sebelum terjun. Ibaratnya, kita tidak mungkin masuk jurang jika tahu keberadaannya. Waspada itu tetap harus."
Semua orang di ruangan meeting diam. Suasananya mendadak mencengkram. Kania yang berdiri di depan ikut gugup. Pasalnya, Rangga terlihat melibatkan kekesalan di urusan pribadi pada meeting kali ini.
Atmosfer terasa panas. Semua orang kesulitan bernapas. Bahkan Kinan yang biasanya tenang pun mendadak gelisah. Dua orang yang memang memiliki hubungan kekeluargaan itu sedang saling berdebat. Memang tidak salah, karena ini waktunya meeting dan setiap kepala boleh mengeluarkan pendapat masing-masing.
"Kita perlu banyak belajar lagi dari kesalahan masa lampau. Di mana perusahaan mengalami kerugian besar dan hampir saja gulung tikar," kata Rangga yang tahu perkembangan perusahaan keluarga, walaupun baru kali ini bergabung.
Kania tersentak. Sampai detik ini telinganya belum pernah mendengar kabar miring seperti itu.
"Di mana saat itu hampir kehilangan karyawan dan jumlahnya tidak sedikit. Jadi … pebisnis pun harus bisa meminimalisir kerugian. Jangan semua di limbas," kata Rangga.
Pak Gani tersenyum kecil. Cukup puas dan bangga dengan kemajuan anaknya. Rangga bisa cepat belajar dan mengikuti kegiatan perusahaan dengan baik. Tidak salah jika ia menginginkan anaknya itu untuk menggantikan posisinya sekarang.
"Jadi, sebaiknya apa yang harus kita lakukan?" tanya Pak Gani.
Rangga terus saja menatap ayahnya. Dadanya naik turun karena terus menahan amarah yang bergejolak dalam jiwa. Ia perlu menenangkan diri agar tidak sampai mengikutsertakan masalah pribadi dengan pekerjaan. Sadar betul jika itu bukanlah perbuatan yang baik.
Kania berdiri dengan wajah menunduk. Ingin segera berakhir meeting ini dengan suasana paling menegangkan.
"Kita harus meneliti dulu pasar sebelum bertindak. Sebaiknya lakukan pengamatan sejauh mungkin," jawab Rangga.
Pak Gani bertepuk tangan. Semua orang terdiam.
"Kamu mungkin karyawan baru, tapi sepertinya sudah belajar lebih banyak. Pertahankan posisimu dan terus belajar agar segera naik jabatan," kata Pak Gani dengan bangga.
Pak Gani tidak heran. Rangga itu selalu kuat dalam pendirian sejak kecil. "Alasannya?" Melipat kedua tangan di dada. Menunggu jawaban dari anak yang dahulu kecil.
"Karena saya merasa lebih pantas di posisi ini daripada naik jabatan tanpa sebab!" tegas Rangga.
Kania diam. Kalimat Rangga menunjukkan jika lelaki itu tidak ingin berpangku tangan dan menerima begitu saja kekuasaan. Salut juga.
"Semua orang menginginkan itu, ternyata kamu sebaliknya." Pak Gani menyunggingkan senyum kecil.
"Jangan pandang orang dengan sama rata, Pak. Semua orang itu berbeda. Baik dari segi fisik, sifat ataupun keturunan. Bahkan dua saudara pun bisa berbeda, apalagi orang lain."
Di sinilah hati Pak Gani terusik. Anaknya ini seolah sengaja menyindir. "Benarkah?" Ia tetap tenang.
Rangga tersenyum kecil. "Benar, Pak."
Merasa dipojokkan dalam kalimat terakhir. pak Gani pun mengakhiri debat sekaligus meeting siang ini. Ia memberitahu Kinan agar memanggil Rangga dan Kania ke ruangannya.
Pak Gani keluar lebih dahulu, kemudian disusul yang lain. Yang tersisa hanya Kinan, Rangga dan Kania.
"Kalian dipanggil Pak Gani ke ruangannya," kata Kinan.
Kala itu Kania dan Rangga sedang membereskan berkas.
Kania mengangkat kepala dan berkata, "Saya?" tanyanya pada Kinan.
__ADS_1
"Memangnya di sini ada orang lain lagi?" Kinan sinis.
Rangga ikut mengangkat kepala dan berkata, "Berbicaralah dengan sopan pada orang lain."
Kinan melipat kedua tangan di dada. Berdiri di samping kursi Pak Gani seraya berkata, "Perasaan aku sudah sopan, tapi perempuan ini yang tidak paham."
Kania mengerutkan kening. "Maaf, saya cuma bertanya. Apa itu salah?" Merasa tidak terima. Berkas selesai dibereskan. "Rangga benar, kita memang harus sopan dalam berbicara. Tapi … kalau lawan bicaranya seperti ini. Saya rasa tidak perlu."
Kania bergegas meninggalkan ruangan.
Kinan merasa kesal. "Siapa dia? Beraninya sama aku?"
Rangga terus saja membereskan berkas tanpa ingin berkata lagi. Kali ini pandangan Kinan tertuju padanya.
"Kamu dan dia punya hubungan?" Kinan rupanya mencium gelagat yang tidak beres.
Rangga diam sejenak, lalu berkata, "Kenapa kamu mau tau?"
"Karena kamu itu adiknya mantan tunanganku."
"Apa hubungannya?"
"Tetap saja kamu itu adik."
Rangga membawa berkas di tangan. Menatap Kinan lagi. "Bagiku kamu itu cuma wanita yang mau memanfaatkan keadaan. Saat Kakak di puncak, kamu datang sebagai wanita yang ditunjuk Ayah menjadi tunangannya. Tapi, lain ceritanya saat Kakak dinyatakan bunuh diri. Kamu seolah berperan sebagai orang lain yang tidak butuh lagi!"
Kinan menelan ludah. Sorot mata Rangga menakutkan. Lelaki ini memang susah untuk ditaklukkan. Bahkan dengan menebar pesona pun akan tidak mempan. Benar-benar kuat imannya.
"Kamu salah paham." Kinan membela diri.
Rangga tersenyum tipis. "Apa yang membuatmu yakin kalau aku salah paham? Di mana letaknya?"
Kinan tertegun. Tak bisa mendapatkan jawaban yang baik. Sekali saja salah menjawab, ia bisa terjerumus jurang. Terlebih Rangga ini tipe lelaki yang begitu pintar dalam membaca situasi.
"Itu …" Kinan gugup. "Aku bukannya tidak butuh kakakmu lagi, tapi orang yang meninggal itu tidak bagus untuk dikenang. Mereka bukan lagi bangsa kita."
Rangga geram. Tangan kirinya mengepal besar di bawah. Bersyukur tidak sampai terjebak ke permainan yang disuguhkan Kinan. Sang Kakak memang malaikat. Andaikan tidak terbongkar sebelum meninggal. Mungkin Rangga akan menganggap Kinan itu sosok pahlawan bagi kakaknya karena selalu ada di sisi orang tercintanya itu.
"Aku bersyukur Kakak lebih memilih pasangannya yang di sana daripada kamu, karena kenyataannya mulut dan sifatmu sama-sama memuakkan!" tegas Rangga yang berhasil membuat Kinan terkejut.
"Dia yang di sana itu cuma wanita biasa." Kinan tak ingin kalah.
Telunjuk kanan Rangga mengarah ke wajah Kinan bersamaan dengan sorot matanya yang sulit diartikan. "Aku lebih menghormati wanita itu dibanding kamu. Dia mungkin wanita biasa, tapi etikanya lebih elit dari sekelas sekretaris yang pendidikannya mungkin lebih tinggi!"
Rangga tak ingin memperpanjang perdebatan ini. Maka dari itu, ia pun memilih pergi meninggalkan Kinan. Bersiap ke ruangan ayahnya. Mungkin saja Kania sudah ada di sana.
Baru melangkah beberapa kali di luar. Ia mendengar suara minta tolong dari depan. Suara yang paling merdu menurutnya dan itu bersumber hanya beberapa meter saja dari tempatnya sekarang.
"Tolong!"
Rangga berlarian menghampiri sumber suara. Barangkali terjadi sesuatu di sana. Bisa saja sangat darurat.
__ADS_1