Dua Lelaki

Dua Lelaki
Jalan bersama


__ADS_3

Weekend memang diidentikan dengan hari yang paling cocok untuk berjalan-jalan. Begitu pun dengan Kania. Perempuan itu diajak oleh Radit keluar, bermain. Tentunya tidak berdua saja, tetapi bersama Adit dan Desi. Main bersama.


"Kak, jangan kelamaan dandan. Nanti Kak Radit kesel," pesan Adit sebelum Kania masuk kamar.


Kania bergegas mandi dan mengganti pakaian dengan yang lebih baik. Gamis merah muda dengan hijab pasmina hitam menjadi pilihan perempuan itu kali ini. Tas kecil berbentuk bulat pun mempermanis penampilan Kania. Tidak banyak riasan yang dipakai hanya sedikit lipstik berwarna nude dengan sedikit bedak. Manis terlihatnya.


"Bismillah, siap." Kania mengamati penampilannya dari atas sampai bawah. Semuanya terlihat sempurna. "Sebaiknya cepat keluar. Takutnya Radit udah di depan."


Langkah Kania dimulai. Mendekati pintu dan turun ke bawah. Sesampainya di lantai bawah, ia langsung disambut oleh celotehan Adit.


"Astagfirullah, anak gadis Bunda baru keluar. Cantiknya," kata Adit sedikit menyindir.


Kania menghela napas kasar. "Alhamdulillah, Anak Gadis Bunda memang paling cantik. Anak Bunda yang tampan ini udah siap belum?"


Bu Lala tersenyum kecil melihat kedua anaknya saling sindir, tetapi dengan bahasa halus. "Anak Bunda memang paling cantik dan tampan."


Kania mendekati bundanya dan berkata, "Bun, Kania sama Adit pergi dulu, ya. Bunda mau nitip apa nanti?" Kania meraih tangan kanan Bu Lala. Mencium punggung tangan.


"Hati-hati di jalan. Nggak usah. Bunda sama Ayah mau pergi ke kondangan juga," jawab Bu Lala.


Adit mengikuti jejak kakaknya. Berpamitan pada sang Bunda.


"Ya udah, kita pamit, ya, Bun. Assalamualaikum," ujar Kania.


"Wa'alaikum salam," jawab Bu Lala.


Adit dan Kania keluar rumah. Ternyata di sana sudah ada Radit menunggu.


"Assalamulaikum," imbuh Radit.


"Wa'alaikum salam," jawab Kania dan Adit secara bersamaan.


Mereka akan pergi menggunakan mobil berwarna hitam milik Radit.


"Udah siap semuanya?" tanya Radit. Sesekali ujung netra kanan lelaki itu melirik Kania. Manis sekali. Namun, sekejap mata segera memalingkan wajah. Godaan memang selalu ada.


"Kak Kania nih lama banget, Kak," kata Adit penuh kekesalan.


Kania terpancing kesal. "Orang cuma sebentar juga. Kamu aja yang kurang sabaran."


Adit memanyunkan bibir. "Masa mandi sama dandan aja habisnya satu jam lebih. Astagfirullah, Kak." Adit berdecak kesal.

__ADS_1


"Dek, baru sejam. Apalagi kalau orang itu kebanyakan sampai berjam-jam." Kania membela diri. Tak ingin juga dituduh sebagai penyebab Radit harus menunggu lama. "Perempuan itu memang kebanyakan sering lama persiapan diri. Wajar saja. Mereka suka dengan kecantikan dan keindahan. Yang penting jangan sampai berlebihan, nggak baik."


"Ya, ya, Bu Ustad," kata Adit.


Radit terkekeh kecil melihat keduanya selalu saja berdebat. Andaikan orang asing yang melihat. Tentu saja akan beranggapan jika Radit dan Kania ini kurang akur.


"Ya udah, kita lebih baik berangkat aja. Jangan lupa jemput Desi dulu," ajak Radit.


Kania dan Adit segera masuk mobil. Adit berada di jok depan dengan Radit, sedangkan Kania berada di jok belakang.


Mobil itu meluncur meninggalkan pekarangan rumah Kania. Melewati jalan perumahan dan bergabung dengan mobil lainnya di jalur utama kota. Tujuan pertama mereka tentunya menjemput Desi, lalu pergi menonton film.


Sepanjang jalan Adit terus saja mengoceh. Memberitahu Radit banyak hal termasuk sikap Kania selama ditinggalkan oleh lelaki itu.


"Kak Kania kadang sering ngelamun, lho, Kak," ujar Adit.


Kania diam, sedangkan Radit mencoba mendengarkan.


"Memangnya kenapa?" tanya Radit.


"Nggak tau. Mungkin pengen ikut sama Kakak ke sana." Adit mengikut sertakan sedikit tawa pada kalimatnya. "Kan, Kak Radit sama Kak Kania udah seperti pasangan. Ke sana ke mari berdua."


Radit tertawa kecil. "Kita, kan, teman sejati. Jadi ... ke manapun harus sama-sama."


"Nggak ada yang bisa memisahkan. Sekalian aja menikah," kata Adit yang berhasil membuat Radit bergeming.


Kania mencubit lengan kanan belakang adiknya sambil berkata, "Dek, kamu ini kalau ngomong suka semaunya!"


Adit mengaduh kesakitan. "Aw, sakit, Kak." Memegang lengan kanan belakangnya. "Lama-lama lenganku ini habis dicubit Kakak mulu!"


Kakak beradik itu memang hanya akur sebentar saja. Namun, tetap saling menyayangi satu sama lain.


"Kamu kalau ngomong itu jangan sembarangan. Harus bisa disaring mana yang baik mana yang buruk sesuai situasinya," tegur Kania.


Bagaimanapun Kania punya hak untuk mendidik adiknya. Memberitahu mana yang baik ataupun tidak. Mengingatkan jika Adit salah.


Radit tidak ikut campur lebih dahulu. Membiarkan Kania bertindak selaku kakaknya. Jika memang tidak mempan, jelas ia perlu bertindak. Adit adalah adik baginya. Terkadang iri pada Kania karena memiliki saudara yang bisa diajak bercanda ataupun berdiskusi.


"Bukan aku yang salah bicara, Kak. Tapi, hati Kakak juga sepertinya bilang seperti itu," kata Adit. Tentunya anak remaja itu pun tahu isi hati kakaknya.


Mata Kania terbelalak. Berusaha memahami mungkin Adit seperti ini karena ingin Radit peka.

__ADS_1


Mobil Radit berhenti di lampu merah. Tak sengaja Kania melihat seorang anak perempuan berusia enam tahun yang duduk termenung di sisi jalan sambil mengamati kemacetan di depan.


"Dit, tunggu sebentar, ya. Aku mau ke sana dulu," kata Kania sambil menunjuk pada anak tersebut.


Pandangan Radit dan Adit bersamaan menuju ke arah sasaran. Melihat bagaimana sedihnya wajah sang Anak yang hanya bisa meratapi di tengah keramaian kota.


Kania membuka pintu belakang. Tak lupa mengambil uang dari dompet dan beberapa permen dan coklat di tas. Makanan kecil yang selalu ada menemani. Sengaja menyediakan agar bisa makan ketika menunggu bus ataupun butuh cemilan.


Kania turun. Berjalan melewati beberapa pengendara motor dan mobil yang berada di samping kanan kendaraan Radit. Dengan berjalan pelan, perempuan itu pun sampai di depan sang Anak. Berjongkok dan berujar, "Sayang, kamu di sini sendirian?"


Awalnya sang Anak sedikit takut. Sepertinya tidak terbiasa ada di jalanan. Kasihan juga.


"Jangan takut. Kakak, bukan orang jahat, kok." Kania mencoba mengajak komunikasi dengan anak tersebut. Melihat kondisinya yang lusuh dan kurus membuat hati Kania menjerit kencang. Betapa perlu banyak bersyukur dirinya atas nikmat yang Tuhan berikan.


"Kakak ada coklat sama permen." Kania memberikan makanan tersebut pada anak itu. "Ini juga ada uang buat kamu jajan."


Si Anak masih saja diam. Mungkin saja masih berpikir jika Kania jahat. Akan tetapi, Kania berusaha sebaik mungkin untuk bisa menyentuh hati si Anak. "Diterima, ya, Sayang. Jangan takut. Kalau makanannya kurang. Kakak, kasih lagi."


Perlahan anak itu mengulurkan tangannya. Menerima dengan baik pemberian Kania. Senyum kecil diberikan pada Kania. "Makasih, Kak."


Kania bahagia. Pemandangan ini menampar diri agar lebih bersyukur lagi.


Sementara itu di mobil Radit terus saja memandangi gerak-gerik Kania. Kebaikan perempuan itu memang sudah teruji sejak kecil. Kania bahkan sering membawa makanan untuk persiapan jika bertemu dengan anak gelandangan di perjalanan ke sekolah.


"Kak Kania itu sebenarnya suka sama Kak Radit. Aku bicara seperti ini bukan tanpa bukti. Yakin juga kalau Kak Radit ngerasain yang sama," ucap Adit.


Radit bergeming.


Adit menatap Radit lekat. "Jangan banyak berpikir, Kak. Wanita itu nggak suka banyak nunggu. Kalau Kakak lambat, bisa aja dibawa sama orang."


Radit membalas menatap. "Kamu itu masih kecil. Jangan banyak bicara soal orang dewasa."


"Umurmu udah tujuh belas tahun. Aku juga laki-laki. Jadi ... kita sama." Adit mendadak berubah menakutkan. "Kalau Kakak nggak ada niatan serius sama Kak Kania. Setidaknya jangan banyak kasih perhatian. Perempuan kadang susah kalau udah nyaman. Kita bicara sesama lelaki aja."


Radit menjitak kening Adit pelan. "Kamu udah mulai berpikir jauh, Dek. Kania mau ke sini, jangan bahas lagi."


Kania kembali. Adit dan Radit berpura-pura tidak terjadi apa pun.


"Untung belum jalan," ujar Kania ketika masuk.


Tak berapa lama lampu pun berubah hijau. Kendaraan berjalan lagi begitu pun dengan mobil Radit

__ADS_1


__ADS_2