Dua Lelaki

Dua Lelaki
Jawaban


__ADS_3

Dua bola mata cantik Kania membulat sempurna tatkala mendengar hal itu. "Kenapa Ayah bicara seperti itu?" Perempuan tersebut bertanya balik.


Pak Kemal menatap langit malam, manis sekali. "Kadang kala sesuatu yang dilakukan karena terpaksa itu bisa membawa dua hal. Satu, keterbiasaan yang akhirnya berujung penerimaan dengan baik. Kedua, penyiksaan batin yang tidak ada ujungnya."


Kania bertambah terkejut lagi. Mungkinkah? 


"Kadang juga, apa yang kamu anggap biasa itu justru menyakitkan untuk orang lain. Kamu pasti sudah paham karena sudah dewasa." Pak Kemal tidak perlu menjelaskan lebih detail, ia yakin anaknya paham arah perbincangan mereka. "Daripada semakin lama berjalan dengan kaki penuh luka, apa tidak sebaiknya berhenti?" 


Kania terdiam. Sepertinya, pemikiran ini tidak salah. Namun, pertanyaannya, dari manakah sang Ayah tahu? 


"Mungkin sekarang di dalam pikiranmu banyak pertanyaan yang salah satunya kenapa Ayah berbicara seperti ini?" Pak Kemal menarik napas dalam. Mengembuskannya perlahan-lahan. "Hari di mana kamu mengutarakan perasaanmu ke Radit, detik itulah Ayah tau."


Kania semakin terdiam.

__ADS_1


"Sebagai seorang Ayah, mungkin sedikit terluka. Tapi, kamu adalah putri Ayah yang paling Ayah kenali sifatnya. Di mana kamu lebih sering melawan dunia sendiri dibandingkan meminta pertolongan. Kamu merasa menjadi anak perempuan pertama yang sudah seharusnya melindungi keluarga. Ayah bangga, jujur saja. Tapi, Ayah juga terluka."


Kania menunduk. "Ayah, maaf." Tak ada lagi kebohongan yang perlu disembunyikan.


Tanpa sadar di ambang pintu Bu Lala mendengarkan dengan tenang. Yakin, jika apa yang dibicarakan sang Suami adalah yang terbaik untuk saat ini. Memilih tetap diam adalah hal yang seharusnya dilakukan.


Kania tak berani menatap mata ayahnya. Rasa bersalah menggunung. "Aku nggak bermaksud melukai Ayah, tapi saat itu aku melihat Ayah kebingungan mencari suntikan dana. Dan, cuma ayahnya Mas Rangga yang bisa bantu. Lagi-lagi, aku juga dihadapkan dengan pilihan yang sulit, antara tetap berada di jalur atau melepaskan Radit begitu saja."


Pak Kemal beberapa kali menghela napas kasar. Ada sesak di dadanya, tetapi berusaha berdamai dengan keadaan agar hidup ini tetap berjalan dengan baik. "Keputusanmu itu pasti yang terbaik menurutmu, Ayah memahami itu. Tapi, kalau keputusanmu justru menjadi sumber luka untuk diri sendiri, Ayah rasa itu juga bukan yang baik."


"Jadi, apa kamu bisa jawab pertanyaan Ayah tadi." Pak Kemal ingin segera mendengarkan jawaban anak perempuannya untuk menentukan langkah yang tepat. "Jangan sia-siakan hidupmu untuk satu hal yang dirasa tidak baik, tapi bukan berarti Ayah melarangmu menjadi istri yang baik. Pernikahan itu bukan cuma menyatukan raga saja, tapi juga hati dan jiwa. Kamu tidak mau bukan seumur hidup tersiksa?" 


Kania tak langsung menjawab. Ada sebagian dirinya yang ingin mengiyakan pertanyaan sang Ayah, tetapi ada sebagian besar juga dirinya yang bertolak belakang. Sedikit membingungkan. 

__ADS_1


"Kalau kamu bimbang, coba kamu bayangkan wajah suamimu sekarang. Bayangkan dia yang bekerja siang dan malam, bayangkan sikapnya seperti apa selama ini. Setelah itu, kamu pasti menemukan jawabannya."


Pak Kemal memberikan cara agar Kania bisa menemukan jawaban dengan cepat. Dan, ternyata hal ini pun dilakukan Kania. Dalam beberapa menit membayangkan Rangga, menarik jiwanya agar bisa menyatu dengan nama pria itu. 


"Kamu punya jawaban paling baik?" Pak Kemal menoleh ke arah Kania, tersenyum manis agar sang Anak bisa santai. "Ayah, yakin di lubuk hatimu ada jawaban paling benar dan jujur. Benar begitu bukan?" 


Kania terdiam dalam beberapa detik, kemudian mengangguk pelan dengan senyuman paling manis. Dengan hal itu saja Pak Kemal sudah bisa menebak jawaban Kania tanpa perlu mendengar.


***


Rangga menginap di hotel selama berada di kota tetangga. Seharian bertemu dengan beberapa orang yang akan menjadi client-nya, sehingga menciptakan rasa lelah. Lelaki itu merebahkan badan di ranjang dengan pakaian jas lengkap. Belum mandi sedikit pun. 


Lelaki itu memejamkan mata. Merasakan atmosfer di sekitar dan hal ini tidak sehangat di kamarnya. "Padahal Kania itu bisa dikatakan perempuan dengan tendangan maut kalau tidur, tapi kamar rasanya lebih berbeda. Di sini tenang, tapi sunyi juga."

__ADS_1


Tanpa disadari rasa rindu sudah bersarang di hati, baru saja beberapa jam berpisah. Lelaki itu memiringkan badan ke kanan, ke kiri, mencoba mencari posisi yang nyaman. "Memang tempat paling nyaman itu adalah rumah sendiri." Akhirnya Rangga bangun, menatap kunci mobil dan menyambarnya dengan cepat. Pergi dari kamar hotel dan entah akan ke mana.


__ADS_2