
"Ada apa Ayah memanggilku?" tanya Rangga ketika sudah masuk. Ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Kinan. Meninggalkan perempuan manis tersebut begitu saja.
Pak Gani duduk di kursi kebesaran dengan pandangan lurus ke depan. Menatap anaknya tanpa jeda.
"Siapa perempuan tadi?" tanya Pak Gani.
Rangga tersenyum tipis. Sudah menduga.
"Pacarmu?" Pak Gani bertanya lagi.
Rangga diam sejenak, lalu berkata, "Bukan. Dia Kania, karyawan di sini juga. Satu divisi." Dengan rinci Rangga menjelaskan agar ayahnya tidak salah paham juga mengetahui siapa Kania.
Kening Pak Gani mengerut kencang. Rangga masih setia berdiri di depan meja. "Manis juga."
Rangga bergeming. Pikirannya tertuju pada hal yang buruk, tetapi belum berani mengungkapkan. Ia akan bergerak ketika lawannya melakukan tindakan.
Pak Gani melipat kedua tangan di dada. "Apa hubunganmu dengan dia?"
"Seperti yang udah aku jelaskan, aku dan dia itu rekan kerja, Ayah," jawab Rangga masih sama.
"Benarkah?" Alis kanan Pak Gani naik ke atas. "Tidak ada perasaan lebih?"
"Aku permisi kalau tidak ada hal yang penting." Rangga hendak berbalik badan, tetapi perkataan Pak Gani menghentikkananya.
"Kalau kamu tidak mau naik jabatan, setidaknya beri ayahmu cucu. Menikahlah!" tegas Pak Gani tanpa ragu.
Tangan kanan Rangga mengepal di bawah. Menahan amarah memang sedikit sulit, tetapi yang ia lewat kini adalah orang tua. Jelas egonya tidak harus diikut sertakan.
"Kalau kamu menikah, ayah tidak akan menuntutmu menggantikan peran. Biar anakmu yang menanggung," sambung Pak Gani.
Rangga menghela napas kasar. Tatapannya sulit diartikan. "Jangan libatkan orang lain dalam masalah keluarga kita. Sekali pun aku menikah, tentunya bukan karena ini."
Pak Gani menyeringai. "Bukannya dunia yang kamu lihat sekarang lebih menyenangkan?"
Rangga terus saja diuji dengan ketenangan. Masih berusaha berpikiran positif jika ayahnya tak mungkin mengungkap hal yang sudah berlalu.
"Dia menitipkannya karena percaya denganmu, tapi sepertinya kamu malah mengabaikannya," kata Pak Gani kembali.
Sindiran ini terasa lembut di dada. Seakan dirinya memang tidak bisa berbuat apa pun tanpa pemberian orang tersebut. Sosok yang paling dibanggakan oleh ayahnya.
"Ayah setuju karena itu kamu, tapi kamu sendiri justru susah memenuhi keinginan ayahmu ini," lanjut Pak Gani. Matanya sama sekali tidak berubah, terus saja menatap tajam pada sasaran.
"Ayah." Rangga menarik napas panjang. Menyemburkannya perlahan-lahan. Rasanya muak, tetapi hormatnya pada orang tua memang sudah teruji lapangan. "Aku berterima kasih karena ketulusan hati Ayah, tapi yang harus Ayah tau. Aku juga manusia yang punya keinginan sendiri. Ingin hidup sesuai apa yang aku mau."
Pak Gani mendengarkan dengan seksama tanpa sedikit pun menyela. Membiarkan waktu dimiliki oleh putranya sendiri.
"Yang paling penting adalah jangan sampai Ayah menyeret orang lain cuma karena keegoisan Ayah sendiri! Aku bakal menikah suatu saat nanti, tapi bukan dengan tujuan begitu. Sepertinya aku, anakku juga bebas menjalani hidup asalkan tidak di luar batas," tambah Rangga.
Pak Gani bergeming. Berdiri dengan cepat dan berkata, "Lalu siapa yang akan menggantikan posisi ini?" Tangan Pak Gani mengetuk meja Direktur. "Kamu sendiri saja tidak mau. Lantas apa harus orang lain? Ini perusahaan keluarga, jelas harus silsilah keluarga yang menempati."
Rangga tak lagi bisa bersabar. "Anak ayah itu pergi karena tertekan. Dia mau hidup sesuai yang diinginkannya, tapi Ayah lebih sering menganggapnya seperti robot!"
"Pelankan suaramu!" Pak Gani marah. Anak kurang bermanfaat seperti Rangga tidak pantas berkata seperti itu. "Dia pergi karena rasa iri kamu."
__ADS_1
"Astagfirullah." Rangga mengelus dada.
"Kamu yang melenyapkannya. Kamu yang menghasutnya!" tekan Pak Gani.
"Ayah terlalu egois!" geram Rangga. Luntur sudah rasa hormat pada seorang Ayah. Mungkin ini yang dirasakan dia selama ini, ditekan habis-habisan sampai mentalnya down. "Ayah, boleh menelanku, tapi jangan sampai menyentuh Kania. Gadis itu tidak ada hubungannya dengan ini."
"Dia kriteria calon istri yang baik. Selain cantik, anggun. Ayah juga sudah melihat riwayat kehidupannya," kata Pak Gani.
Rangga kesal. Perbuataan seperti ini melanggar aturan. Mencari tahu hanya karena punya tujuan. "Ayah, menyelidiki Kania?"
Pak Gani tau memungkiri itu. "Sudah dari seminggu yang lalu. Ayahmu ini bukan orang yang bodoh. Mana mungkin tidak tau apa yang dilakukan anaknya."
Kekesalan Rangga memuncak jika sudah menyangkut masalah pribadi. Sebab, ia sudah merelakan cita-citanya demi masuk perusahan ini. "Jangan pernah sentuh Kania sedikit pun, Ayah!"
Pak Gani tersenyum miring. "Sepertinya ada cinta di mata anak Ayah ini." Dugaannya jelas tidak salah karena ia pun pernah merasakan masa muda. "Kenapa tidak menikahinya saja? Itu lebih baik karena sangat menguntungkan. Semakin cepat kamu menikah, semakin cepat ayahmu ini dapat cucu. Pastikan cucu pertama ayahmu ini laki-laki."
Rangga kehabisan kata-kata. Sebaiknya pergi dari sini. "Aku permisi." Kali ini berbalik badan dengan cepat dan keluar ruangan.
Kinan menyambutnya. "Rangga, kita bicara sebentar di jam makan siang. Kamu bisa?"
Rangga tak menjawab. Lelaki itu memilih pergi begitu saja. Kinan semakin kesal. Diacuhkan Rangga membuatnya naik pitam dan berpikiran gila. Lelaki seperhatian Rangga bisa seketika dingin saat sedikit berjauhan. Ini menyebalkan.
Rangga kembali ke ruangannya. Kania melirik sekilas, perubahan wajah Rangga yang drastis itu bisa dilihat jelas. Tentu saja Kania khawatir.
Merasa bersalah atas kejadian di parkiran tadi, Kania mengambil secarik kertas dan menuliskan sebuah pesan untuk Rangga. Tak lupa ia memberikannya pada lelaki itu.
"Apa ini?" tanya Rangga.
Rangga membaca memo itu. Tersenyum tipis. Cukup menghibur. Setidaknya ia bisa lupa akan kekesalan yang tengah membuncah dalam benak.
"Terima kasih," ujar Rangga pelan sambil menyimpan secarik kertas itu di saku. Anggap saja barang berharga.
***
Di kota lain Gendis menunggu kedatangan Radit. Sejak Minggu sore ia terus saja melihat ke arah apartment salah satu atasannya di kantor tersebut. Berharap Radit cepat pulang dan melihatnya.
Sampai akhirnya hari Senin pun datang. Wanita manis itu tak kunjung juga bertemu. Mungkinkah Radit tidak pulang? Atau justru tak akan datang ke sini lagi?
Hari Gendis resah tak karuan. Ingin mengecek ke bagian pemasaran, tetapi malu. Tak mungkin seorang wanita lebih dahulu memulai, jelas saja akan dianggap sebagai murahan. Biasanya masyarakat beranggapan seperti itu.
Selama bekerja Gendis terus saja memikirkan Radit. Candu rasanya bertemu dengan pria gagah itu. Selain kekagumannya akan sikap Radit yang ramah. Ia juga merasa lelaki tersebut banyak menawarkan kedamaian yang selama ini sulit dicari.
"Aku beli kopi aja ke bawah," kata Gendis.
Arloji di tangannya baru saja menunjukkan pukul sepuluh pagi. Namun, rasa kantuk sudah menyerang kuat. Memang sebaiknya mencari minuman yang bisa memberikan efek segar pada kedua kelompak mata.
Gendis menutup laptop. Bergegas turun ke lantai bawah menggunakan lift. Di sana memang ada beberapa kedai cofe dan salah satunya favorit Radit. Baru akan melangkah, ia tak sengaja mendengar suara seseorang yang pastinya dikenal betul dari belakang.
Gendis berbalik badan. Menemukan pemandangan yang luar biasa Indah. Di hadapannya Radit sedang berbicara dengan salah satu petinggi di kantor ini.
"Kamu banyak belajar dengan cepat. Saya bersyukur Joni merekomendasikan kamu," kata Pak Wiranto.
Radit lebih bersyukur lagi karena di sini setidaknya bukan hanya jabatan saja yang diraih, tetapi juga ilmu dan teman baru. Pengalaman terbaik yang pastinya akan melekat dalam benak.
__ADS_1
"Iya, Pak. Saya juga senang di sini karena banyak belajar ilmu baru. Apalagi arahan Bapak itu sangat bagus dan bisa dipahami dengan baik," jawab Radit.
Gendis lupa pada tujuannya. Terus saja menatap Radit tanpa jeda bahkan kedua matanya seakan tidak mengedip sekali pun.
Radit berhenti berbicara dengan Pak Wiranto setelah atasannya itu pergi. Membalikan badan dan tidak sengaja bertemu pandangan dengan Gendis. Lelaki itu mengurai senyum, mendekati Gendis.
Jelas saja jantung Gendis berdentam. Setiap ayunan langkah kaki Radit terasa sampai ke jiwa. Seolah menyentuh sanubari dan sanggup merobohkan pertahanan diri. Ingin rasanya berlari, kemudian memeluk erat lelaki yang hanya tinggal dua langkah kaki sampai di depannya. Ah … ini gila memang.
"Apa kabar?" tanya Radit ketika sudah berdiri di hadapan Gendis.
Gendis diam. Tak berkutik sedikit pun. Badannya mendadak sulit digerakkan, begitu pun dengan mulutnya yang tiba-tiba membisu.
Radit heran. "Kamu kenapa?" Masih terus bertanya sampai akhirnya Gendis tersadar.
"Astaga, maaf." Gendis malu. Bisa-bisanya melakukan seperti ini. "Apa kabar, Pak Radit?"
Radit tersenyum tipis. Manis sekali untuk Gendis.
"Kamu melamun?" tanya Radit lagi.
Beberapa karyawan mengamati mereka. Tentu saja keduanya tidak mungkin selamat dari tatapan orang lain. Bahkan gosip tipis-tipis pun mulai beredar bahwa Gendis dan Radit ini memiliki hubungan spesial.
Kantor ini memang tidak melarang selama itu masih bisa terkendali. Dalam artian kedua orang yang menjalin hubungan bisa membedakan mana waktunya bekerja dengan waktu santai.
Radit tertawa kecil. Gendis lucu juga. "Padahal saya tanyakan hal yang sama, tapi kamu malah bertanya balik. Sepertinya kamu sedang melamun."
Wajah Gendis memerah. Malu campur senang. Bisa mendengar tawa renyah Radit yang memang jarang terlihat.
"Kabar saya baik. Oh, ya, saya bawa oleh-oleh. Mungkin kamu suka. Nanti saya berikan kalau sudah pulang," kata Radit.
Gendis mengangguk pelan. Sulit bernapas rasanya jika berhadapan dengan Radit. Namun, ia terus berusaha sebaik mungkin menutupi kegugupan ini.
"Pak Radit, mau ke mana?" Gendis mengalihkan pembicaraan.
"Saya ngantuk. Mau beli kopi di sana." Radit menunjuk kedai yang menjadi langganannya.
Pas sekali. Gendis bisa memiliki alasan untuk bisa bersama Radit. "Saya juga mau ke sana, Pak."
"Kebetulan sekali. Ayo, sama-sama."
Gendis menyambut baik dengan anggukan. "Boleh, Pak."
Radit berjalan lebih dulu melewati Gendis. Membuat wanita itu lebih terpana pada dirinya.
"Jangan terlalu banyak melamun. Kamu bisa kesambet setan nanti," pesan Radit sambil berjalan.
Lengkungan senyum terpampang jelas di bibir Gendis. Senang bukan main. Hubungan mereka pun hanya sebatas atasan dan bawahan, tetapi Gendis merasakan kenyamanan. Tak apa jika Radit sudah memiliki calon, ia hanya ingin tetap seperti ini tanpa berniat merebut.
"Aku sudah janji sama kamu, kan? Kalau nanti bertemu lelaki yang sama, aku bakal tetap ada di sampingnya. Jangan khawatir," gumam Gendis pelan. Berbalik badan dan segera menyusul Radit yang sudah jauh dari depan mata.
Gendis mengekor dari belakang. Mereka sampai di kedai. Memesan kopi sesuai keinginan dan membayar masing-masing.
Kopi di tangan. Radit lebih dulu naik ke lift, sedangkan Gendis berlarian menuju toilet karena ingin buang air kecil.
__ADS_1