Dua Lelaki

Dua Lelaki
Hari tiba


__ADS_3

Hari dinantikan tiba. Keluarga Kania berangkat sebelum Subuh ke gedung pernikahan. Melaksanakan shalat Subuh bersama dengan kru pernikahan serta keluarga Rangga.


Semua orang sibuk. Acara Ijab Qabul akan dilakukan sekitar pukul delapan pagi. Gedung ini dihiasi banyak sekali bunga dengan pelaminan yang bisa dikatakan sangat cantik dan mewah.


Tak ada pesta di malam hari nanti. Cukup di siang hari saja sesuai permintaan Kania. Oleh sebab itu, yang diundang pun bisa dikatakan cukup, baik itu dari pihak keluarga Kania atau Rangga. Mengingat acaranya hanya sampa sore.


"Saya izin rias, ya, Mbak." Tiga orang wanita cantik berambut sebahu datang ke ruangan khusus pengantin. Mereka tak lupa membawa perlengkapan tempur make up. "Perkenalkan, kami tim rias."


Saat ini Kania duduk di depan meja rias. Perempuan itu mengangguk paham.


"Bisa dibuka jilbabnya, Mbak. In syaa Allah, pintunya sudah dikunci dan hanya pihak keluarga inti saja yang boleh masuk." Salah satu dari wanita itu meminta izin.


Kania sempat ragu, tetapi berusaha untuk percaya. "Sebentar, Mbak." Tangan manis itu perlahan membuka hijab.


"Masya Allah, Mbak, manis sekali. Pantas saja pasangannya juga tampan." Lontaran pujian itu pun langsung didapatkan Kania. "Saya jadi iri, Mbak."


Kania tersenyum, malu. "Mbak, bisa saja." Menutupi apa pun perasaannya karena hari ini harus berjalan lancar.


"Bismillah. Saya mulai, ya, Mbak." Wanita itu segera membuka tas besar. Mengeluarkan alat-alat make up. Semuanya tampak sangat terawat.


Sesekali Kania terlibat percakapan dengan ketiga perias itu. Wanita yang memakai baju coklat panjang bahkan terus saja berceloteh layaknya pada teman sekelas.


"Mbak, aku kalau jadi mbak-nya. Udah pingsan duluan." tangan itu mengaplikasikan bedak tabur di wajah Kania. Perlahan sekali. "Pengantin cowoknya tampan banget."


"Ih, kamu genit!" Teman yang sedang menyiapkan jilbab menegur. "Cowok udah ada, masih aja genit."


"Kan, aku bilang kalau jadi mbak-nya. Kamu nggak paham, sih!" Wanita berbaju hijau itu memonyongkan bibir. "Lagian cowok sekeren itu mah jodohnya juga lebih keren. Bukan modelan kayak aku."


Kania mulai tertarik. "Aku rasa nggak seperti itu, Mbak." Ia punya pemikiran sendiri. "Jodoh itu nggak bisa diukur dari ketampanan atau kecantikan seseorang. Semua bisa berjodoh selama Allah izinkan. Bisa aja Mbak justru jodohnya orang luar negri yang tampan."


"Ya Allah, Mbak, bikin aku melayang aja!"

__ADS_1


Mereka tertawa bersama seakan tidak ada beban.


Kania sudah selesai dirias. Wajahnya bertambah cantik dan manis dengan riasan yang tak terlalu tebal. Pas sekali. Tak berapa lama Bu Lala pun datang ke ruangan tersebut untuk menemani anak sulungnya.


"Masya Allah, Nak. Kamu cantik sekali," puji Bu Lala.


Kania melebarkan senyum. Pangling juga melihat wajahnya sekarang. "Makasih, Bun. Aku jadi malu." Menunduk cepat.


Bu Lala paham. Ia pun pernah berada di fase ini. "Jangan malu, Sayang. Bunda juga dulu pernah menikah."


Kania akhirnya mengangkat kepala lagi. Menatap dua bola mata bundanya dari cermin. "Bun, aku gugup."


Tangan Bu Lala mengusap punggung Kania pelan. "Wajar, Sayang. Semua pengantin juga sama."


"Apa Rangga juga sama, Bun?"


"Iya."


Bu Lala mengambil napas panjang. Mengembuskannya perlahan. "Kamu berhak bahagia."


Kania tertegun. Mengukir senyum lagi seperti biasanya. Mereka hanya menunggu acara sambutan selesai dan Ijab Qabul dilalukan. Setelah itu, keduanya akan keluar menuju ruangan resepsi.


Kegugupan Kania semakin bertambah tatkala bundanya menceritakan bagaimana perjuangan pernikahan itu tidaklah mudah.


"Kamu harus sudah siap mental setelah sah jadi istri," kata Bu Lala.


"Kenapa, Bun?" Kania penasaran. Pandangannya tak lepas dari sang Bunda. "Apa pernikahan itu menakutkan?"


Jika dikatakan menakutkan, rasanya tidak melulu. Ada kalanya manis sekali. Namun, tentu saja harus seimbang. Akan sangat tidak adil jika hanya cerita manisnya saja yang ditulis, sudah pasti yang kelamnya pun, penting.


"Sebenarnya bukan menakutkan, tapi lebih tepatnya memang tidak akan sama dengan saat lajang," jawab Bu Lala.

__ADS_1


Kania tak berniat menyela. Biarkan saja ibunya terus menjelaskan.


"Pernikahan itu seperti halnya gerbang ke dunia lain." Bu Lala diam sebentar, lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Di mana kamu dan dia menjadi orang asing pertama yang masuk ke dunia itu. Kemudian, akan bertambah saat kamu dikarunia anak."


Kania terus menyimak.


"Nah, untuk bisa hidup di sana. Di mana tempatnya jauh berbeda dari sebelumnya, kalian harus bisa saling mengimbangi. Bagaimana caranya terus bekerja sama tanpa memberi batasan pada tugas apa pun," sambung Bu Lala.


Sampai sini Kania sedikit mengerti. Setidaknya dengan ini membuka matanya jika setelah sah menjadi seorang istri, ia memerlukan kekuatan yang berasal dari diri sendiri.


"Kalian harus bisa jadi pemimpin di dunia itu yang saling adil dan bijaksana. Baik pada diri sendiri, pasangan, ataupun penghuni lainnya." Bu Lala terus menjelaskan.


Ketiga perias sudah tak ada di ruangan. Mereka pamit ketika tugas selesai. Jelas saja karena harus menemui Rangga dan mempersiapkan calon pengantin lelaki.


"Nasihat Bunda, jangan pernah banyak mengumbar aib pernikahan ke publik. kalau suatu saat kalian merasa tidak sejalan lagi dan segala cara sudah dilakukan, sebaiknya berpisah secara baik-baik," nasihat Bu Lala.


"Allah itu tidak suka perceraian, Bun." Kania baru bersuara.


"Benar sekali." Bu Lala mengelus pelan pundak anaknya. "Tapi, Allah juga tidak suka hamba-nya menyiksa diri terus menerus. Kalau memang dirasa perpisahan itu paling baik, ya sudah."


Percakapan mereka terpaksa terhenti karena kedatangan Adit dengan wajah datar.


"Ijab Qabulnya selesai," ujar Adit.


"Ayo, kita keluar, Nak." Bu Lala mengajak Kania berdiri dengan mengulurkan tangan.


Kania berdiam diri beberapa detik. Statusnya sudah berubah dalam sekejap mata. Tak bisa mundur lagi. "Iya, Bun." Berdiri sambil menerima uluran tangan bundanya di bagian samping kanan. "Terima kasih sudah nemenin Kania dari dalam kandungan sampai ke gerbang pernikahan."


Suasana mengharu biru dirasakan Adit. Kakaknya digandeng keluar oleh sang Ibu. Lelaki itu pun segera menyusul untuk mengantarkan kakaknya ke ruangan utama.


Setiap langkah yang diambil Kania terasa mengambang. Pikirannya pun melayang. Beberapa langkah menuju seseorang yang sudah memiliki hak atas dirinya. Tak bisa lari melarikan diri.

__ADS_1


Pintu terbuka. Semua mata tertuju pada Kania dan Bu Lala juga Adit. Ketika Kania mengambil langkah sekali, pandangannya tertuju pada sosok di bagian samping kanan ruangan yang sama tengah menatapnya juga.


__ADS_2