
"Kamu yakin?" Rangga memastikan.
Adit hanya diam. Mendengarkan kedua insan yang akan menikah beberapa hari lagi saling berbicara. Ini bukan ranahnya untuk ikut campur.
"Iya." Kania yakin.
"Ok. kita sepakat." Rangga setuju.
"Ok."
Akhirnya kesepakatan baru pun dilakukan. Mereka akan langsung pindah ke rumah Rangga tanpa adanya orang tua dari belah pihak.
Setelah makan, mereka berpisah. Rangga memilih membuntuti Kania dan Adit karena cemas. Takut terjadi hal di luar dugaan. Begitu memastikan calon istri serta adik iparnya sampai rumah, ia segera pulang.
***
Sementara itu di tempat lain Gendis mondar-mandir karena merasa gelisah. Ingin pulang ke rumah orang tua, tetapi cuaca di luar hujan. Akan sangat susah mencari kendaraan seperti taksi.
Mencoba menghubungi teman terdekat. Namun, nomornya sedang tidak aktif. Sungguh ... ini di luar dugaan.
"Coba ke depan dulu. Kali saja bisa ketemu taksi." Gendis menyambar tas di ranjang. Sesegera mungkin keluar apartment. Turun ke lantai dasar dan mendapati hujan semakin tebal.
Berdiri di depan pintu utama sambil memandangi hujan tersebut menjadi aktivitasnya saat ini. Mungkin ibunya memang sakit biasa. Bisa dikatakan penyakit senja. Akan tetapi, baginya hal ini juga darurat.
"Tuhan, aku harus gimana?" Gendis berharap pertolongan Tuhan datang di waktu yang tepat. Yakin. "Aku pasrahkan semua padamu, Tuhan."
Selang dua menit suara derap langkah kaki mendekati bersamaan dengan pertanyaan seseorang. "Kamu sedang apa?" tanyanya.
Gendis otomatis menoleh ke belakang. Mendapati sosok Radit yang memakai pakaian santai. Kaos pendek rumahan berwarna hitam dengan celana training hitam juga. "Pak Radit."
Radit mengamati Gendis yang rapi sekali dengan tas. "Kamu mau pergi dalam keadaan cuaca hujan seperti ini?"
Gendis mengangguk pelan. "Ya, Pak. Saya harus pulang."
__ADS_1
"Ke rumah?" Radit langsung paham.
"Benar. Ibu saya sakit."
Radit diam sejenak. Sekali-kali melirik keadaan kota yang sejak tadi sore diguyur air hujan tanpa henti.
"Saya mau nunggu taksi di depan." Gendis hendak menerobos curah hujan memakai payung di tangannya. Namun, sekejap berhenti karena tawaran Radit.
"Ayo, saya antar." Radit kasihan melihat Gendis. "Kamu bisa tunggu sebentar di sini. Saya bawa jaket dulu."
"Pak, nggak usah." Gendis tak enak hati. Mencegah dengan tangan kanannya. "Saya naik taksi saja. tinggal nunggu di depan."
Radit menghela napas kasar. "Kalau hujan selebat ini, biasanya taksi juga jarang lewat. Sebaiknya saya antar saja. Tunggu di sini."
Radit tak bisa dicegah, dan Gendis pun menerima dengan baik. Selain memang sedang butuh sekali, ia merasa diperhatikan sebagai bawahan dan teman satu gedung.
Menunggu Radit sambil memegangi payung dengan pandangan lurus ke depan menjadi kesenangan tersendiri. Menarik pikirannya ke kejadian masa lalu. Di mana ada seorang lelaki yang selalu mengulurkan tangan ketika dirinya berada di batas jurang. Menyenangkan jika diingat, tetapi sekaligus menyakitkan juga.
"Kamu kedinginan nggak di sana?" Gendis bertanya sendiri sambil menengadahkan kepala. "Sudah lama, ya, nggak ke tempat peristirahatanmu. Doain aku kuat biar bisa datang."
"Aku baik, Mas. Aku baik." Gendis menepuk dadanya dua kali. "Aku baik di depan orang."
Tanpa disadari Radit mendengar dan menyaksikan dari belakang. Melihat bagaimana perempuan itu menepuk dadanya dengan lembut seolah menandakan jika memang ada sesak di sana.
Gendis tersenyum kecil. Terpaksa, sepertinya. "Aku mau mengulang masa indah itu, Mas. Andai kamu tidak memilih jalan perpisahan dengan kematian secara tragis. Seberat itukah bebanmu, Mas?"
Radit menahan kedua kakinya untuk melangkah. Telinga itu menjadi saksi bisu semua keluh kesah di dada Gendis.
Setelah memastikan perempuan di depannya kembali tersenyum. Radit barulah mengambil langkah ke depan. Pura-pura tak melihat.
"Ayo, saya antar!" Langsung membuka payung.
Gendis menurut. Mengikuti jejak kaki Radit dari belakang. Di tengah derasnya hujan serta di bawah payung, mereka berdua berjalan beriringan. Tak tahu perasaan keduanya seperti apa. Yang jelas ini hanyalah sebatas bantuan kemanusiaan yang dilakukan Radit pada Gendis.
__ADS_1
"Kamu bisa beritahu saya alamatnya," kata Radit ketika mereka sudah ada di mobil.
Gendis duduk di samping Radit. Memakai sabuk pengaman dan menyebutkan salah satu kawasan di sana.
"Orang tuamu tinggal di sini juga? Bukannya di luar kota?" Radit mulai menyalakan mesin mobil.
Gendis membenarkan posisi duduknya. "Mereka pindah dua minggu lalu karena ayah dapat pekerjaan di sini."
Radit ikut senang. "Syukurlah. Jadi kamu bisa dekat sama mereka."
Gendis lebih bersyukur karena bisa dikelilingi dengan orang-orang baik. Terus berusaha memperbaiki diri dari masa lalu.
"Mereka itu paling penting buat aku. Kadang aku masih dianggap anak kecil sama mereka." Dengan wajah yang ceria, Gendis memuji kedua orang tuanya. "Sering banget Ibu itu datang ke apartemen untuk bawakan makanan kesukaan, padahal Ibu sendiri udah sering lupa jalan kalau mau pulang."
Saat ini yang dilakukan Radit hanya mendengarkan. Itu justru yang paling dibutuhkan Gendis.
"Ternyata hidup jauh dari orang tua itu ada tidak enaknya. Pas kita sakit, tidak ada yang merawat. Tapi, hidup memang harus belajar mandiri agar kita bisa dewasa." Gendis menatap lekat ke depan tanpa ingin tahu ekspresi Radit saat ini.
Sesekali Gendis menarik napas panjang. Mengembuskan perlahan-lahan. Rasanya menyesakkan di dada.
"Kita tidak bisa selamanya bergantung ke orang tua karena punya jalan sendiri. Menurut saya, hidup sendiri itu bisa mengajarkan kalau dunia ini memang tidak semanis itu," komentar Radit.
Gendis menyunggingkan senyum kecil. "Pak Radit benar juga. Kadang kita perlu namanya belajar sendiri biar merasakan hasil dengan sangat puas."
Perbincangan ini cukup menarik untuk Radit. Perjalanan mereka mungkin baru seperempat jalan saja. Selain karena cuaca buruk yang terjadi, sehingga tembus pandangan Radit tak bisa jauh. Ia pun harus lebih hati-hati berkendara dengan kecepatan rendah.
Suasana di luar mengundang rasa dingin bagi tubuh siapa pun termasuk Gendis. Perempuan itu sedikit menggigil. Radit melirik sekilas ke samping dan tangannya mengulur ke belakang.
"Pakai jas ini. Kamu bisa mati kedinginan." Tak disangka Radit mengambil jas yang memang sengaja dia simpan di belakang jika sewaktu-waktu dibutuhkan. "Ini bersih, kok."
Gendis menoleh ke samping. Belum mengambil alih jas itu dan hanya menatap Radit lekat. Semua perlakuan Radit manis dan semakin menariknya ke dunia berbeda yang penuh dengan berbagai bunga.
"Kamu bisa ambil. Saya sedang menyetir." Radit tak bisa menyetir dengan satu tangan.
__ADS_1
Gendis sadar. "Maaf, Pak. Terima kasih." Segera mengambil jas dan memakainya. Harum parfum Radit menenangkan. Ini lebih segar dari apa pun.