Dua Lelaki

Dua Lelaki
Niat


__ADS_3

Hari terus berlalu, Rangga dan Kania merajut asa satu sama lain. Menjalani hari dengan terus mencari ridho-Nya. Kania pun sudah bisa menghadapi Radit dengan baik. Tidak lagi melibatkan perasaan dan hanya teman semata.


Siang ini, Radit pergi makan siang sendiri di kantin. Memilih berada di dekat kaca sambil menikmati keadaan luar dengan ditemani semangkuk bakso pedas. Cukup menggiurkan.


Tak berapa lama Gendis datang. Gadis itu duduk di kursi depan, menyimpan nampan yang terdapat piring nasi beserta lauknya. "Saya boleh makan di sini, Pak?" Gadis itu mengangkat kepala, tersenyum kecil.


Radit mengangguk pelan tanpa mengangkat kepalanya, sedang menikmati makan siang. 


Suasana berubah hening untuk mereka berdua. Tentunya tidak berlaku bagi sekitar. Sebab, saat ini memang jam makan siang.


Radit akhirnya mengangkat kepala, memperhatikan Gendis yang sepertinya sudah mulai nyaman di sini. "Kamu nyaman di rumah sewa barumu?" Lupa juga untuk menanyakan.


Gendis menatap lekat Radit. "Nyaman, Pak. Di sana juga banyak teman."


"Syukurlah, saya merasa lebih tenang."

__ADS_1


Gendis tertegun. Kalimat ini bisa menjadi salah paham. Bisa saja, Gendis mengartikannya dengan berbeda. 


Mereka fokus kembali makan, sampai kedua mata Gendis melihat Kania dengan Rangga yang juga masuk kantin. Untuk sekelas Direktur Utama, jelas Rangga bisa saja pergi ke tempat makan yang lebih mewah. Namun, lelaki itu terlalu sederhana. Gendis tampak menghela napas kasar, terdengar langsung oleh Radit.


"Ada apa?" Lelaki itu merasa janggal. Gendis terdiam, hanya pandangan mata saja yang lurus ke depan. Sontak Radit menoleh ke belakang, menemukan sepasang suami istri yang tengah menikmati makan siang pula. Paham. Ia kembali membalikkan badan. "Mereka sudah berdamai dengan keadaan."


Gendis tersadar, melirik Radit lagi. "Kalau Pak Radit sendiri bagaimana?"


Radit mengaduk mangkok bakso. Jika ditanya seperti itu, ia belum tahu pasti. Hanya saja, perlahan tentu saja bisa. Tidak mungkin terus terkukung dalam masa lalu yang kelam. 


Radit tertawa kecil. "Mungkin karena saya masih merasa belum butuh seseorang lagi. Saya masih ingin belajar arti berdamai dengan diri sendiri."


Kedua bola mata Gendis membulat sempurna, sedikit terkejut. "Apa itu artinya, Pak Radit tidak bisa menerima orang baru untuk saat ini?"


"Benar." Radit langsung menjawab. Terlihat sekali guratan kekecewaan di wajah Gendis. Helaan napas Radit terdengar berat. "Saya rasa, lebih baik sendiri dulu sampai merasa cukup tenang. Karena, kalau saya menerima orang saat diri masih berantakan. Jelas saja, itu bisa menjadi ladang masalah baru lagi."

__ADS_1


Gendis mendengarkan dengan baik. Cintanya memang besar, tetapi sulit juga untuk menerobos. Terlebih, Radit ini terbilang sangat hati-hati. "Berarti, saya memang tidak punya kesempatan untuk bisa dapatkan hati Pak Radit?" Tanpa canggung langsung menanyakan itu. Radit sudah terlanjur tahu juga. "Selain perbedaan keyakinan di antara kita, mungkin masalah hati pun jadi faktor penting."


Radit diam, mengukir senyum kecil. Sinar mata Gendis mengisyaratkan ketulusan, tetapi itu belum cukup untuk bisa membuka hatinya. "Sebaiknya, kamu cari pasangan yang memang satu keyakinan denganmu. Jangan menunggu saya, kamu bisa ketinggalan banyak cerita manis."


"Kenapa tidak boleh?" Gendis mulai suka dengan perdebatan. "Bukannya saya juga punya hak yang sama dengan perempuan lain untuk berharap ke Pak Radit?"


Radit menanggapi dengan tenang. "Kalau itu, mungkin benar. Tapi, saya ini manusia biasa. Jangan berharap ke saya, karena bisa jadi saya akan jadi sumber rasa kecewamu."


Gendis terdiam sejenak. Netra cantik Radit selalu menjadi sorotan karena sangat cantik dan penuh wibawa. "Kalau begitu, apa Pak Radit mau mengenalkan keyakinan yang dianut sekarang ke saya?" 


Radit terkejut. "Maksudmu?" 


"Saya ingin belajar!" Gendis yakin.


Radit kembali menghela napas kasar, mengaduk lagi bakso. Entah apa maksudnya. "Saya mungkin akan mengenalkan kalau kamu mau, tapi saya kurang setuju kalau kamu mempelajari, lalu masuk karena ingin bersama saya. Sudah saya katakan, saya ini manusia biasa. Kecuali, kamu masuk bersama hari jiwamu seutuhnya. Jadi, di mana nanti saya bukan takdirmu, kamu tetap mempertahankannya karena niatmu bukan saya."

__ADS_1


__ADS_2