
Kania menikmati waktu bersama suaminya sampai waktu salat Magrib tiba. Mereka melaksanakan salat lebih dahulu di mushola kantor, kemudian keluar gedung itu bersama sambil bergandengan tangan. Satpam kantor saja merasa iri.
"Mereka seperti pangeran dan putri. Dua sejoli yang terus bersama," kata satpam kantor.
Rangga yang menggandeng tangan kanan Kania itu pun seolah ingin menunjukan pada seluruh dunia, jika wanita manis yang kini sudah mulai luluh itu adalah istrinya.
"Mas, aku mau makan di luar. Kamu gimana?" Kania menoleh ke samping kanan sambil berjalan.
Rangga berpikir sejenak, lalu berkata, "Boleh. Aku juga sedikit bosan makan di rumah terus."
"Jangan bilang kalau kamu bosan makan masakanku, Mas?" Kania melirik sinis.
Rangga terkekeh kecil. "Bukan, Nia. Tapi, aku cuma bosan dengan suasananya. Kan, itu manusiawi. Kita juga butuh suasana baru untuk mempererat hubungan."
Kania diam. Keduanya sampai di depan mobil, masuk bersama dan memasang sabuk pengaman. Rangga bersiap mengendarai mobil.
__ADS_1
"Aku kalaupun harus masakan kamu setiap detik juga, tidak ada bosannya." Rangga menyalakan mobil.
Kania baru saja selesai menyimpan tas di bangku belakang. "Mulai gombalnya. Aku kurang suka, lho."
Mobil berwarna hitam itu mulai berjalan meninggalkan parkiran. "Loh, kok, aneh? Perempuan itu, kan, paling suka dipuji atau digombalin."
"No!" Kedua tangan Kania membentuk huruf X ke arah Rangga. Lelaki itu melirik sekilas, kemudian fokus lagi mengemudi sampai keluar dari gerbang gedung. "Nggak semua perempuan itu sama. Bagi aku, sebuah gombalan itu nggak masuk ke hati. Kenapa? Karena mungkin aku sudah terbiasa dengan berbagai kenyataan yang cukup sulit. Dunia itu nggak seindah gombalan para lelaki."
Tawa Rangga keluar lagi. Semakin lama mengenal Kania, ia bisa memahami begitu kuatnya karakteristik seorang anak perempuan yang begitu paham dengan keadaan dunia. Sifat melindunginya pun begitu kuat. Pantas saja perempuan itu tampak keras kepala, susah diberi masukan. Namun, sekarang tidak terlalu.
"Aku bicara serius, lho, Mas!" Kania menegaskan.
Kania bergeming.
"Aku cuma salut aja sama kamu." Rangga kembali meneruskan kalimatnya. "Manusia itu memang sering melakukan kesalahan, berlaku untuk kamu dan aku juga. Tapi, kamu termasuk hebat karena bisa bertahan sendirian. Melewati setiap fase hidupmu yang pastinya tidak banyak orang tau serumit apa."
__ADS_1
Kania semakin terdiam. Pandangannya lurus ke depan. Entah mengapa, untuk sekarang berdiskusi dengan Rangga lebih menarik dibandingkan dengan yang lain, bahkan ketika bersama ayahnya. Mungkin ini yang dinamakan proses pernikahan dalam menyatukan dua insan yang berbeda. Dengan cara yang bahkan bisa dikatakan sepele.
Lalu lintas mendadak berhenti dan kemacetan pun terjadi, terpaksa Rangga ikut menunggu dengan banyak pengemudi lainnya. Ia menoleh ke samping kiri, mengamati wajah istrinya yang semakin hari semakin bersinar terang. "Kamu hebat, aku bersyukur bisa memiliki kamu. Terima kasih sudah memilihku juga."
Kania tertegun. Kalimat itu menyentuh hati. Namun, tidak lama. Sebab, suara bunyi ponsel wanita itu berbunyi, menandakan ada sebuah pesan masuk.
Kania bergegas merogoh ponsel di tas belakang, melihat layar benda itu yang membuat kedua matanya membulat sempurna. "Mas." Suaranya hampir tertahan.
Rangga mengerutkan kening. "Ada apa, Nia?" Penasaran. Mengambil alih benda canggih di tangan kanan istrinya dan membaca isi pesan. Diam sejenak.
"Sepertinya kita harus ke sana, Mas." Kania tak ingin terjadi sesuatu. Ini seperti perintah.
Rangga menghela napas kasar. Menatap wajah sang Istri dan berkata, "Ok, kita ke sana. Tapi, sebelum itu aku mau bilang sesuatu sama kamu."
Kania mengangguk pelan.
__ADS_1
"Apa pun yang kamu dengar nanti, jangan buat kamu kehilangan jati diri. Kamu ada di belakangku dan aku pastikan kamu tetap aman. Kamu percaya, Nia?" Wajah Rangga berubah serius.
Kedua kalinya Kania menganggukkan kepala. Saat ini bukan waktunya untuk berdebat dengan diri. Harus segera bergerak. "In Syaa Allah, Mas." Keyakinannya meningkat tajam terhadap Rangga. Fakta di lapangan jika Rangga tidak pernah mengecewakan sejauh ini.