
Setelah makan siang, Kania kembali bekerja seperti biasa. Berbincang dengan Desi di sela menyelesaikan pekerjaan adalah hal yang cukup menjadi hiburan. Sesekali kedua wanita itu saling melempar senyum ketika ada hal yang menyenangkan.
Gendis tampak banyak diam, Kania tidak terlalu memperhatikan. Namun, Desi jelas tak bisa menutup mata.
"Apa dia lagi ada masalah, ya?" Desi sedikit berbisik ke telinga Kania. Gadis itu melirik Gendis. "Dia diam terus dari habis makan siang."
Kania ikut khawatir. Melirik Gendis sekilas, dan memang auranya terasa lebih menakutkan.
"Coba kamu tanya." Desi berbisik lagi. Kania merespon dengan menggelengkan kepala. Tak ingin ikut campur masalah orang lain. "Takutnya dia lagi ada masalah besar dan berpengaruh ke mentalnya. Kamu dengar sendiri banyak yang bunuh diri karena merasa sendiri."
Kania menghela napas kasar. Meyakinkan diri sebelum bertanya. Menggerakan badan agak menghadap Gendis. "Maaf." Kalimat itu berhasil mengangetkan Gendis, bahkan sekarang perempuan itu menoleh. "Kamu dari tadi melamun terus, apa ada masalah besar?"
Sorot mata Gendis tidak bisa berbohong. Begitu kosong.
Desi diam di belakang Kania, menunggu jawaban.
"Kalau misal ada masalah, kamu bisa cerita sama aku atau Desi. Jangan terlalu banyak dipendam, mungkin dengan seperti itu, kamu bisa sedikit lega." Kania mengingat akan kondisi Gendis yang hanya sebatang kara di sini.
Gendis mengubah raut wajahnya dengan cepat, memasang wajah lebih manis. "Saya cuma sedang lelah saja." Wanita itu mengukir senyum kecil.
__ADS_1
Desi mengerutkan kening, kalimat itu tidak sama dengan bahasa tubuh Gendis. Bisa terlihat jelas sekali.
Kania tidak ingin ikut campur terlalu dalam. Dengan menyambut hangat Gendis saja, sudah cukup. "Begitu." Menelan ludah. "Kalau seperti itu, banyaklah istirahat." Kania mengalihkan pandangan lagi.
"Kamu lebih beruntung karena punya bahu kuat untuk bersandar. Saya harap, pernikahanmu jauh lebih bahagia dari sebelumnya," kata Gendis.
Kania tertegun sebentar, kemudian menjawab. "Aamiin, terima kasih." Mengulum senyum sebagai bentuk rasa terima kasih.
Desi hanya memandangi Gendis, menerka-nerka apa yang sebenarnya ada di pikiran gadis itu. Namun, lagi-lagi Kania dengan lembut menegurnya. Mengatakan jika itu bukanlah ranah mereka untuk tahu lebih detai.
Waktu terus berjalan sampai waktu pulang tiba. Kania dihubungi Rangga untuk naik ke lantai atas, memintanya menunggu lelaki itu sampai selesai bekerja.
"Kamu bisa duduk dulu di sopa. Aku mau selesaikan ini dulu," imbuh Rangga.
"Ok, Mas." Kania setuju. Bergerak mendekati sopa dan duduk tenang. Mengingat ini akan membutuhkan waktu lumayan lama, perempuan itu pun memutuskan untuk mengeluarkan ponsel dan berselancar di dunia maya.
Satu, dua, tiga menit berlalu. Sampai akhirnya pukul lima lewat empat puluh lima menit pun Rangga menyelesaikan satu dokumen, melirik Kania yang tertawa sendiri melihat layar ponsel. Penasaran. Lelaki itu berdiri, mendekati istirnya dan langsung merebahkan badan di sopa dengan kepalanya di atas pangkuan Kania. "Aku lelah, boleh tiduran sebentar?" Rangga memejamkan mata.
Kania terkejut, hampir saja ponsel seharga enam juta itu terlempar ke bawah. "Astagfirullah, Mas. Aku kaget." Mengusap dada dua kali.
__ADS_1
"Kamu lebih fokus ke ponsel daripada aku." Dengan mata terpejam, lelaki itu berkata-kata. "Aku lebih butuh sentuhanmu dibandingkan benda mati itu."
Kania mengerutkan kening. "Maksudnya?"
Rangga terkekeh geli, membuka mata. "Jangan berpikiran ke hal aneh, maksud aku itu." Meraih tangan kanan Kania, menempatkan di kepalanya. "Sentuhan seperti ini, dielus."
"Ah, itu." Kania terdiam.
Tawa Rangga lepas kali ini, lucu sekali ekspresi Kania. "Jangan bilang kamu berpikiran aneh?" Matanya menusuk tajam.
Kania sontak membuang muka. "Kalimat Mas itu terlalu ambigu. Bikin salah paham juga. Jadi, yang salah bukan aku, kan?"
Rangga tertawa lagi, mengulurkan tangan ke atas dan mencubit hidung Kania. "Ternyata wanita itu memang tidak mau mengalah. Pantas saja, disebut tulang rusuk. Memang harus dijaga baik-baik."
"Mas, belajar ngegombal dari siapa?"
"Dari Ayah."
Kedua bola mata Kania membulat, menoleh kembali pada Rangga. Tak salah dengarkah telinganya? Tidak mungkin.
__ADS_1
"Kalau Ayah bukan seorang ahli gombal, mana mungkin bisa menarik perempuan lain ke rumah tangganya? Wanita itu akan luluh ketika dipuji terus menerus, lalu setelah itu akan larut bersama kita." Sudut bibir Rangga terangkat ke atas, senyumnya terpaksa. "Tapi, aku sendiri tidak akan sama, karena yang aku ambil itu baiknya, bukan buruknya. Dan, wanita pun tidak sama semuanya."