
"Maaf Om merepotkan," kata Pak Kemal.
Rupanya ayah Kania itu datang karena memang sedang ada di daerah sana juga. Sudah minta izin Radit, tetapi lelaki itu tidak tahu jika akan secepat ini.
"Nggak pa-pa, Om. Maaf, cuma ada air putih aja." Radit menyimpan sebotol air mineral kecil. Ia memang belum sempat belanja. Wajar saja.
Pak Kemal tersenyum kecil. "Jangan merepotkan, Nak. Om juga mau main saja. Bundamu suka bilang suruh mampir kalau ke sini."
Radit paham. Ia mengajak Pak Kemal makan dengan rendang. Akan tetapi, ayah Kania itu menolak dengan alasan masih kenyang.
Suasana berubah hening. Radit merasakan kedatangan Pak Kemal ke sini bukan hanya sekadar mampir.
"Oh, ya, Nak. Kantormu jauh dari sini?" tanya Pak Kemal memecah keheningan di antara mereka. Udara di sini memang tidak sama dengan ibu kota, sedikit lebih dingin dan juga sejuk. Mungkin karena masih adanya banyak hutan dan kebun.
"Nggak, Om. Cukup dekat. Paling cum lima menit dari sini," jawab Radit.
"Lumayan sama dengan yang di sana, ya?"
"Iya, Om."
"Semenjak nggak ada kamu, Kania juga jadi bawa mobil lagi. Katanya kalau naik angkutan umum kadang desak-desakan."
Radit sudah tahu itu. Ia pun memahami karakter Kania yang tidak suka banyak orang.
Dua bola mata Pak Kemal menyapu ruangan apartemen Radit. Cukup bersih dan luas. Bisa dikatakan anak tetangganya ini memang rajin dan menjaga kebersihan dengan baik.
Radit merasakan desakan ingin buang air kecil. Ia pamit ke kamar mandi dan meninggalkan Pak Kemal.
Saat seperti itulah bel berbunyi sekali. Pak Kemal masih diam, tetapi yang kedua barulah berdiri. Barangkali orang di luar sana memiliki kepentingan yang urgent pada Radit. Terpaksa Pak Kemal membukakan pintu.
Gendis ternyata yang datang. Perempuan dengan rambut panjang basah tersebut melongo melihat sosok Pak Kemal. Disangkanya itu adalah orahg tua Radit.
"Maaf, Pak, saya mau memberikan ini untuk Pak Radit," kata Gendis sedikit malu. Memberikan sekotak makanan yang dibelinya dari online.
Pak Kemal menerima dengan baik tanpa mempertanyakan siapa Gendis. "Baik, Nak. Raditnya sedang ke kamar mandi. Mau menunggu atau seperti apa?"
Selama di sini Gendis memang belum pernah masuk. Tentu saja karena malu dan menghargai Radit yang sepertinya sangat menjaga interaksi dengan lawan jenis. Sedikit ia bisa paham bagaimana keyakinan yang dianut Radit.
"Nggak perlu, Pak. Saya cuma memberikan itu saja. Terima kasih juga karena Pak Radit sudah memberikan rendang dari bundanya," kata Gendis.
Pak Kemal tak terlalu terkejut. Semua berhak memberikan apa pun pada orang lain. Tentu dalam bekerja akan selalu ada teman kerja perempuan dan lelaki. Semua bercampur dan sulit dihindari.
"Baik, nanti Bapak sampaikan," ujar Pak Kemal.
__ADS_1
Gendis memberikan seutas senyuman kecil. "Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya pamit."
"Sama-sama, Nak."
Gendis segera pergi dari kamar Radit. Tak menduga jika Pak Kemal memandanginya dari ambang pintu.
Pak Kemal sendiri masuk setelah menutup pintu sambil membawa makanan tersebut. Bertemu Radit yang sudah kembali.
"Om, bawa apa?" tanya Radit. Sedikit heran juga dengan ayah temannya ini.
Pak Kemal memberikan titipan Gendis pada Radit. "Tadi ada gadis manis yang datang. Katanya ini buat kamu."
Pikiran Radit langsung tertuju pada Gendis. Tidak ada lagi orang yang tahu di mana Radit tinggal. "Ah, dia teman kerjaku, Om." Radit mengambil alih kotak makanan itu. "Ayo, kita makan bersama."
"Sebaiknya kamu ucapkan terima kasih dulu. Dia gadis yang baik dan manis."
"Baik, Om."
Mereka pun duduk lagi. Radit membuka kotak makanan tersebut. Rupanya martabak manis dengan rasa keju dan coklat. Lumer sekali.
"Silakan dimakan, Om." Radit menggeser kotak itu. Menghormati Pak Kemal selayaknya orang tua sendiri. Hidup tanpa ayah memang menyakitkan, tetapi Pak Kemal selalu saja bertindak seolah ayah bagi Radit. Inilah alasan lelaki itu begitu menyayangi keluarga Kania.
"Iya, Nak." Pak Kemal mengambil satu potong kecil. Menghargai Radit pula dan tidak ingin menyinggung perasaannya. Bagaimana pun lelaki itu sudah menjadi teman sekaligus penolong Kania.
"Kamu harus kuat. Setiap manusia itu nggak langsung sukses. Merangkak dulu baru bisa lebih baik," ujar Pak Kemal..
Radit mengerti. Membahagiakan sang Bunda adalah tugasnya sekarang. Tentu bukan dari segi materi saja, tetapi juga dari jalur pengabdian sebagai anak.
"Oh, ya, Nak. Kamu ini sudah cukup matang sama seperti Kania," imbuh Pak Kemal.
Hati Radit bergetar. Mungkinkah Pak Kemal akan membahas perihal jodoh?
"Apa belum ingin menikah? Biar ibumu juga ada teman di rumah," tanya Pak Kemal.
Sudah Radit duga. Pernikahan akan menjadi topik hangat untuk diperbincangkan di usia seperti ini. Padahal untuk takaran lelaki, ia belum sepenuhnya siap.
"Bukan Om menyuruhmu segera menikah. Seharusnya memang Kania dulu karena dia perempuan." Pak Kemal berusaha berbicara lembut. Hal ini dilakukan atas pesan Bu Wati. "Tapi .. kalau memang sudah ada calonnya, sebaiknya dipercepat saja. Jangan terlalu lama berhubungan yang tidak sah."
Bukan hanya pada Radit. Ayah dua anak itu pun melakukan hal yang sama pada Kania. Ia menganggap Radit sama sejajar posisinya dengan Kania. Tidak ada yang dibedakan.
"Maaf, kalau kamu merasa Om ini ikut campur. Om, cuma menyarankan," kata Pak Kemal lagi.
Radit tak masalah. Sebagai orang tua jelas ayah Kania ini punya nurani yang besar untuk mendidik anak lebih baik, meskipun bukan darah dagingnya sendiri..
__ADS_1
"Nggak pa-pa, Om. Aku terima kasih karena Om mau mengingatkan, tapi sejauh ini aku memang nggak lagi berhubungan asmara dengan lawan jenis," jawab Radit.
Pak Kemal paham. Ia lega karena Radit tumbuh tanpa Ayah, tetapi bisa berpegang teguh dengan prinsip yang baik.
Radit diam sejenak. Ingin berkata lebih tentang perasaannya. Namun, ragu. Padahal waktunya sangat pas sekali.
"Syukurlah, Nak. Om, cuma ingin kamu dan Kania sama-sama mendapatkan calon yang baik. Tentu kalian juga harus terus memperbaiki diri, jangan curang," imbuh Pak Kemal.
"In syaa Allah, Om." Radit masih mempertimbangkan perihal kejujuran perasaannya pada Pak Kemal. Mungkin akan mengejutkan ayah dari dua anak tersebut.
Mereka terus berbicara sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat. Pak Kemal tak enak hati jika terus ada di sini. Ia pamit karena memang sudah memesan hotel juga.
"Om, pamit dulu, ya. Assalamualaikum." Pak Kemal berdiri. Radit ikut juga. "Jaga diri kamu baik-baik."
"Om, kalau aku datang ke rumah boleh?" Tiba-tiba Radit mengatakan hal demikian.
Kening Pak Kemal mengerut kencang. Tak biasanya Radit meminta izin. Bukannya anak itu bisa bebas datang kapan saja?
"Memangnya selama ini kamu tidak boleh datang?" tanya Pak Kemal sambil tertawa kecil.
Radit diam. Tatapannya lekat dan bahkan sangar sulit diartikan.
Pak Kemal merasa anak tetangganya ini bersikap aneh. "Kamu punya sesuatu yang harus dibicarakan?" Pada akhirnya Pak Kemal bertanya lagi daripada dihantui rasa penasaran atas apa yang terjadi.
Radit menghela napas kasar. "Ini tentang Kania, Om."
"Memangnya dia kenapa? Apa dia ganggu kamu atau seperti apa?"
Hati Radit berbisik. Memberi semangat untuk dirinya supaya jujur. Sudah terlanjur juga berbicara. Tak baik setengah-setengah.
"Aku berniat datang ke rumah bukan sekedar main saja, tapi …." Masih saja Radit ragu. Padahal biasanya bisa berbicara dengan bebas tanpa takut.
"Kamu punya niat lain?" Pak Kemal seolah bisa menebak. Mengingat ia pun seorang lelaki yang pernah melewati masa muda. "Sebagai lelaki, Bapak cuma mau kasih kamu satu saran."
Radit diam.
Pak Kemal menepuk pundak kanan Radit dan berkata, "Nak, kalau memang kamu punya seseorang yang patut diperjuangan, maka cepatlah datang temui orang tuanya. Karena lelaki sejati itu bukan yang mengajak jalan ke sana ke mari, tapi yang berani melamar perempuannya."
Kalimat itu seakan menyindir Radit. Ia sendiri masih belum bisa melakukan hal tersebut. Mungkin karena canggung, sebab antara dirinya dan Kania sudah seperti saudara. Namun, perasaan ini tidak bisa terelakan.
"Jadilah lelaki sejati yang punya adab baik. Di dunia ini memang tidak ada manusia sempurna, yang tidak punya salah atau berbuat khilap. Tapi … kita bisa berubah menjadi baik dan terus memperbaiki diri agar Allah pun menyiapkan jodoh paling baik. Jangan tunda niat baik karena sejatinya Allah lebih suka yang seperti itu," sambung Pak Kemal yang berhasil membuka kedua mata Radit.
"Om, aku akan datang ke rumah setelah dapat cuti. Semoga saja Om dan keluarga bisa menerima," kata Radit dengan yakin dan penuh kepastian.
__ADS_1
Pak Kemal tersenyum. "Datanglah, Nak." Menepuk pundak Radit sekali lagi, kemudian benar-benar pamit pulang.