Dua Lelaki

Dua Lelaki
Gamis hijau


__ADS_3

Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Kania pun terpaksa menerima tawaran Rangga. Memilih duduk di bangku belakang.


Awalnya Rangga kurang berkenan. Namun, ia berusaha berpikir positif. Barangkali Kania memang risih jika berada di depan bersamanya.


Mobil hitam itu menembus aliran hujan yang lebat. Entah kendaraan siapa ini. Yang Kania tahu jika Rangga tadi berangkat memakai bus.


Kedua ujung netra Rangga melirik Kania lewat kaca depan. Rupanya baju perempuan itu cukup basah kuyup. Pastinya kurang nyaman.


"Kamu bisa pakai handuk di belakang buat mengeringkan badan," imbuh Rangga.


Kania tersentak. Ternyata lelaki tersebut memperhatikan keadaannya.


"Kamu bisa sakit kalau seperti itu," tambah Rangga lagi.


Kania memgangguk cepat. "Iya. Maaf, aku pinjam dulu." Tangan kanan Kania mengulur ke belakang. Benar saja ada handuk di sana. Warnanya coklat. 


"Keringkan pakaianmu. Kalau kamu berkenan, ganti dulu di toko nanti," kata Rangga lagi.


"Toko?" Kania bertanya balik dengan perasaan terkejut juga. 


"Ya. Aku punya toko pakaian di dekat sini." Rangga mulai membuka diri. Padahal ia tidak suka terlalu memamerkan apa yang dimilikinya. Hidup sederhana adalah pilihan terbaik.


"Toko kecil. Ada pakaian perempuan juga," sambung Rangga.


Sebenarnya Kania butuh pakaian baru. Namun, bulan ini banyak sekali kebutuhan yang telah dibelinya. Lebih baik pulang dan mengganti pakaian yang ada saja.


"Jangan khawatir. Kamu bisa pilih sesukamu," tambah Rangga.


Jelas Kania segan. "Nggak perlu. Aku ganti pakaian di rumah saja."


"Keadaanmu basah kuyup. Lumayan jauh. Apalagi sering macet."


"Nggak pa-pa."


Rangga berdiam sembari kedua tangannya sibuk menyetir. Yang ia khawatikan adalah kesehatan Kania. Bisa saja perempuan itu sakit demam setelah ini.


"Sebaiknya diganti dulu saja. Lihat kemacetan di depan." Rangga sudah bisa menduga jika mereka akan terhalang situasi seperti ini. "Tokoku ada di sebelum lampu merah."


Kania menatap lurus ke depan. Kemacetan terjadi di beberapa meter ke depan. Biasanya sangat lama dan pastinya beresiko. Rasa dingin mulai menyapa kulit. Air hujan itu perlahan melemahkan kekebalan tubuh Kania.

__ADS_1


"Jadi, mau seperti apa?" Rangga memastikan.


Kania berpikir lebih jernih. Tak ada salahnya juga. Setidaknya ia bisa bebas dari rasa dingin yang kian lama kian mengigilkan badan. Terlebih ia sendiri sangat rentan akan cuaca dingin.


"Boleh. Tapi, aku bayar aja," jawab Kania.


"Nggak perlu. Aku ridho. Anggap saja kado."


Kania berniat protes, tetapi Rangga dengan cepat meneruskan kalimatnya.


"Kita ini pathner kerja. Jadi, sudah seharusnya bisa saling menolong. Bisa aja nanti aku yang minta tolong ke kamu," sambung Rangga.


Kania mengalah. Semakin mengulur waktu hanya akan membuat tubuhnya kian lemah. Ia setuju.


Rangga menjalankan mobil ke depan, berbelok ke arah deretan ruko yang berlantai tiga. Banyak sekali toko yang buka dan semuanya adalah fashion. Kawasan ini bisa dikatakan surganya para wanita karena selain kualitas baik. Di sini pun banyak sekali model terbaru. 


Rina tidak menyangka jika Rangga pun memiliki cabang bisnis lain selain perusahan ayahnya.


Hujan semakin lebat. Mobil Rangga berhenti di depan toko. Lelaki itu keluar lebih dahulu dan berlarian menembus huja ke dalam toko. 


Kania memperhatikannya dari dalam. Baru saja akan keluar, Rangga balik dengan membawa payung besar. Membukakan pintu samping kanan dan berkata, "Ayo, turun. Kamu nggak akan kehujanan lagi."


Dalam beberapa detik di antara cucuran air hujan di luar mobil, Kania terpana. Sikap Rangga manis layaknya seseorang yang dekat. Bahkan lelaki itu mengingatkan Kania pada sosok Radit, sekalipun mereka tidak sama persis.


Kania tersadar. "Ah, maaf. Baik." Perempuan itu keluar. Berdiri di bawah payung bersama Rangga dan bergegas ke arah toko. 


Rangga menyimpan payung. Seorang karyawan perempuan menghampiri mereka.


"Selamat datang, Pak Rangga," sapa karyawan tersebut dengan ramah. Ia juga melempar senyum ke arah Kania yang langsung dibalas cepat oleh Kania sendiri.


"Ayo, masuk. Kamu bisa sakit." Rangga mengajak Kania melewati karyawan tersebut yang mengikuti mereka juga.


"Assalamualaikum," kata Kania.


"Wa'alaikum salam," jawab Rangga.


Kania berhenti. Matanya dimanjakan oleh beragam model pakaian wanita dan pria. Banyak sekali pilihan dan tentunya akan kalap. "Masya Allah, Ini semua tokomu?" 


Rangga melempar senyum. "Iya. Usaha kecil-kecilan."

__ADS_1


Tak disangka. Kania pikir Rangga hanya mengandalkan perusahan ayahnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak Rangga?" Si Karyawan berusaha menyambut pemilik tempatnya bekerja. 


Rangga menoleh ke samping kanan. "Tolong, temani teman saya memilih pakaian. Bungkus berapa pun yang dia mau."


Kalimat Rangga berhasil membuat Kania protes. "Aku cukup satu aja. Untuk ganti sekarang."


Rangga menatap Kania. "Terserah kamu. Pilih saja yang disuka."


Tawaran Rangga jelas menggiurkan bagi para perempuan. Tak mungkin ditolak begitu saja. Namun, bagi Kania ini bukanlah kesempatan. Ia tahu diri.


"Mari, saya bantu, Mbak," kata si Karyawan.


Kania menurut. Mengikuti ke bagian toko terdalam, sedangkan Rangga sendiri memilih duduk di sopa. Menunggu.


Banyak sekali pakaian untuk berhijab di sini. Bahkan memang kebanyakan memang diisi dengan tipe pakaian muslimah. Dengan model yang tidak pasaran dan tentunya nyaman.


"Mbak, bisa pakai gamis yang ini. Cantik sekali," kata si Karyawan memilihkan sebuah gamis berwarna hijau muda dengan aksen renda di dada. 


"Ini produs best seller kami, Mbak. In syaa Allah, kualitasnya baik," sambung karyawan tersebut.


Dari penampilannya saja Kania sudah jatuh hati. Selain warnanya yang terlihat adem juga desainnya sederhana, tetapi indah. Entah siapa yang men-desain pakaian secantik ini.


Karyawan tersebut menoleh ke belakang. Aman. Melempar senyum pada Kania dan bergeser sedikit agar mendekat. "Ini bocoran saja, ya, Mbak."


Kania mengerutkan kening. "Bocoran apa, Mbak?" 


"Baju ini hasil karya Pak Rangga sendiri."


Kedua bola mata Kania membulat sempurna. Benar diluar dugaannya. Rangga memiliki banyak skill selain di bidang keuangan.


"Pak Rangga tidak mau ada yang tau. Ini rahasia kita berdua saja, ya," bisik karyawan yang menyangka Kania ini adalah bagian dari hidup atasannya.


Kania paham. Matanya mengarah ke arah Rangga. Lelaki itu asyik bermain ponsel dengan khusu.


"Baru kali ini Pak Rangga bawa teman perempuan. Saya merasa tersanjung sekali," sambung karyawan perempuan itu lagi.


Dari penampilan Rangga yang sama sekali tidak menunjukkan jika lelaki itu memiliki banyak keahlian. Tidak menyimpan jutaan kepintaran.

__ADS_1


"Apalagi yang warna hijau ini warna yang pertama kali Pak Rangga inginkan. Beliau pikir wanita yang memakainya pasti terlihar cantik." Beberapa bocoran sampai di telinga Kania mengenai Rangga.


Kania bergeming. Tangannya ragu mengambil, hingga pandangannya bertemu dengan netra Rangga dan lelaki itu berkata, "Gamis itu cantik. Kamu pasti suka dan cocok juga dipakai."


__ADS_2