
Hari ini ada peresmian Rangga menjadi seorang Direktur Utama di perusahaan. Sebagai pewaris tunggal, suka tidak suka Rangga harus menerima kenyataan tersebut. Bagi sebagian orang, ini mungkin adalah anugerah. Akan tetapi, bagi lelaki itu ini adalah tanggung jawab yang lebih berat dibandingkan pekerjaannya yang lain.
Peresmian Rangga ini diadakan secara terbuka. pak Gani mengumumkan langsung di hadapan para karyawan. Rangga mendapatkan banyak ucapan selamat dari rekan kerja. Hal ini pun sekaligus menyeret nama Kania sebagai istri dari Rangga. Beberapa pujian terlontar dari para karyawan, termasuk para wanita yang merasa iri terhadap Kania.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena sudah memberikan dukungan yang dahsyat untuk pengangkatan saya sebagai Direktur Utama. pertama-tama, yang saya ingin sampaikan adalah mohon doa juga kerjasamanya agar kita bisa membangun lebih baik lagi perusahaan ini. Dan, saya pastikan memberikan semua hak para karyawan tanpa terkecuali," kata Rangga di pidatonya.
Para karyawan sengaja dikumpulkan di lantai bawah untuk melihat peresmian tersebut. Rangga berdiri dengan pak Gani di depan sebagai keluarga pemilik dari perusahaan tersebut. Ekor mata Rangga mencari keberadaan sang istri. setelah apa yang ia cari bisa didapat, Rangga pun kembali berkata, "Terima kasih juga untuk dukungan istri saya yang selalu setia mendampingi baik suka ataupun duka. Saya berharap semoga bisa menjadi pemimpin yang adil juga bijaksana."
Semua pandangan tertuju pada karya yang berada di depan bagian kanan. perempuan itu menunjuk malu, karena merasa menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Rangga memberi isyarat dengan tangan agar karya naik ke atas. Awalnya perempuan itu tidak mau, tetapi Desi terus saja mendesak.
"Suamimu itu." Membisikan kalimat kecil agar rekannya bisa tersadar. "Aku iri loh karena kamu punya suami yang sesabar dan salam buat Rangga. Ayo cepat maju!"
Rangga menunggu dengan harap cemas agar Kania bisa maju ke depan dan mendampinginya sebagai sosok wanita yang ada di samping.
Setelah berpikir beberapa detik, Kania akhirnya memutuskan mendekati Rangga dan maju ke depan. Tatapan Rangga begitu tulus. lelaki itu langsung menggenggam tangan kanannya seolah memberitahu pada dunia bahwa, perempuan itu tidaklah sendiri.
Rangga tersenyum kecil ke arah Kania sebelum akhirnya meneruskan pidato, sedangkan Pak Gani sendiri seolah tidak peduli dengan kisah cinta anaknya. Ia hanya segera ingin mendapatkan kabar baik dari pernikahan Rangga dan Kania.
__ADS_1
Rangga kembali menatap lurus ke depan. beberapa kamera dari wartawan pun mengabadikan momentum manis antara Rangga dan Kania. "Saya dan istri mungkin tidak akan satu ruangan lagi. Kami mungkin berbeda jabatan, tapi yang perlu saya tegaskan satu hal adalah bahwa kami tetap sepasang suami istri yang harus saling mendukung satu sama lain. saya mengizinkan istri saya untuk bekerja dan mendidikan dirinya di perusahaan ini, tapi saya juga menentang Bagi siapapun yang berani mengganggu ketentraman hubungan kami."
Semua orang diam. memang benar banyak sekali desa-desus tidak menyenangkan tentang Kania yang seolah mendekati Rangga karena ingin menguasai perusahaan ini. Siapa juga yang tidak akan tergiur pada seorang pewaris tunggal dengan perusahaan yang sudah sangat. namun, justru yang di kerajaan Kania berbeda. Berada di tengah keluarga Rangga adalah sebuah uji nyali yang perlu dilewati tanpa protes. Mungkin Rangga memang sangat baik, tetapi pernikahan tanpa cinta tetaplah akan berbeda.
"Dia adalah istri saya yang saya pilih dengan hati. dia yang akan menemani saya sepanjang Hidup sampai Allah memisahkan kami," lanjut Kania.
Kania tertegun. setiap kata yang keluar dari mulut Rangga terasa menyentuh jiwa. pegangan tangan yang dilakukan pria itu pun seolah memberikan energi positif dan mengalir ke sekujur tubuhnya. cinta Rangga bukanlah sesuatu yang harus dilakukan, tetapi memangnya perlu proses untuk bisa menerimanya dengan lapang dada.
"Maka dari itu, saya berharap teman-teman bisa lebih bijak lagi dalam menilai seseorang. Saya tidak ingin mencampurkan masalah perusahaan dengan pribadi, tapi kalau sudah melebihi batas. Jangan harap saya hanya diam." Rangga tidak main-main dengan kalimatnya. Iya selalu membuktikan apapun yang sudah keluar dari mulut sebagai tanda tanggung jawab.
__ADS_1
Dari arah pintu utama, dua orang masuk dan memperhatikan Rangga juga Kania salah seorang darinya terdiam menata pilu. kedatangannya kembali disambut sebuah pemandangan yang berhasil lagi merobek hati.
"Mereka pasangan serasi, ya, Pak." Suara kecil dari seorang wanita berbadan mungil pun keluar.