Dua Lelaki

Dua Lelaki
Perintah Rangga


__ADS_3

Seminggu berlalu setelah kepulangan Radit kembali ke perusahaan, semua berjalan normal seperti biasanya. Kania menjalani hari layaknya seorang karyawan kantoran. Sesekali mengeratkan pertemanan dengan Gendis yang ternyata ikut bergabung pada Desi dan dirinya.


Sejujurnya Kania hanya kasihan, sebab perempuan itu tak punya teman. Terlebih sikap Gendis yang ramah dan cepat tanggap pun bisa menarik perhatian Kania.


Waktu terus berjalan menuju jam makan siang. Sampai detik ini pun Kania belum ada rencana makan di mana. Entah mengapa rasanya malas sekali, tetapi perut harus diisi agar bisa terus beraktivitas.


"Nia, aku mau ke toko kue langganan itu. Kamu mau ikut atau nggak?" Desi berjalan dari arah depan ke meja Kania. "Katanya di sana lagi ada diskon besar-besaran." Desi mengetahui itu dari karyawan toko yang kini sering berkomunikasi dengannya.


Gendis mendengar. Namun, diam.


Kania menoleh ke samping kanan, mengerutkan kening kencang seraya berkata, "Aku kayaknya nggak deh. Lagi malas makan."


Desi duduk di bangku sendiri. "Kenapa? Biasanya kamu paling suka makan kue." Perempuan itu rupanya baru keluar dari ruangan kepala tim keuangan. "Jangan bilang kamu lagi puasa. Ini, kan, hari Kamis."


Kania menggeleng cepat. "Aku lupa makan sahur tadi. Mas Rangga juga nggak izin puasa hari ini."


Gendis tertarik ingin ikut andil, tetapi malu.


"Ya udah, kamu mau makan apa buat siang ini?" Desi mengarahkan kursi ke depan Kania. Menatap lekat perempuan yang sudah berkeluarga tersebut. "Ajak aja suamimu makan di luar."


Kania diam. Tidak mungkin. Setelah menjadi Direktur Utama, Rangga lebih sibuk dari biasanya. Bahkan dua hari lalu baru pulang dari dinas luar kota, lelaki itu benar-benar bekerja dengan baik dan profesional. "Mas Rangga sibuk, Des. Aku juga nggak mau ganggu."


Desi diam, melirik sekilas ke arah Gendis. Kemudian, menoleh ke arah Kania lagi. "Biasanya kamu makan sama Radit, sih."


Tiba-tiba Gendis terbatuk, sontak Kania menoleh ke samping kiri.


"Ah, maaf, saya mengganggu percakapan kalian." Gendis masih saja berbicara formal, walaupun Desi dan Kania sudah sering mengajaknya berbicara santai.


Kania tersenyum kecil. Merasakan sesuatu yang terasa janggal. "Eh, nggak pa-pa, kok. Kamu mau makan di kantin siang ini?"


Gendis membenarkan kacamata. Berdiam diri sejenak dan berkata, "Sepertinya begitu. Saya dan Pak Radit berniat mencari hunian baru siang ini."

__ADS_1


"Memangnya yang sekarang kenapa?" Desi langsung bertanya, penasaran juga.


"Ah, itu." Gendis gugup. Beberapa kali membenarkan kacamatanya.


Kania peka. "Mungkin kurang nyamannya, ya, di sana?" Senyum itu semakin merekah. Tak ingin memojokkan Gendis apalagi harus ikut campur masalah pribadi wanita tersebut. "Memang kalau soal tempat tinggal itu, kita harus cari yang nyaman. Kan, di sana kita lakuin hal-hal yang bersifat privasi."


Gendis mengangguk cepat. "Iya."


Desi masih saja melirik sinis. Dari sekian orang yang ada di ruangan tim keuangan, hanya perempuan itu saja yang kurang nyaman dengan keberadaan Gendis. Bukan tidak suka, melainkan merasa ada yang aneh di balik sikap diam perempuan tersebut.


Mereka kembali ke percakapan semula, Kania sendiri memutuskan untuk membeli makanan secara online saja nanti. Sementara Gendis akan makan di luar, semua sudah terarah dengan baik. Mereka kini fokus bekerja, sampai akhirnya waktu salat tiba.


Desi dan Gendis sudah kabur lebih dulu. Kania langsung turun ke lantai bawah dan menuju mushola. Tak ada tanda-tanda Rangga, mungkin pria itu sibuk sekali hari ini. "Biasanya Mas Rangga suka ke ruangan buat ngajak sholat." Sesekali Kania celingukan, mencari keberadaan sang Suami.


Kania sampai di mushola, salat berjemaah bersama karyawan muslim lainnya. Setelah salat selesai, wanita itu tak langsung beranjak dari sana. Memilih menguntai kalimat dzikir sampai ponsel yang ada di atas sajadahnya berbunyi. Benda itu biasanya akan ditaruh di sajadah bagian pinggir atas sajadah ketika salat.


Kania berhenti berdzikir, meraih benda pipih dan canggih tersebut seraya berkata, "Biasanya Desi suka kirim pesan kalau ke toko kue." Mengira temannya itu yang mengirim pesan.


Kania diam sejenak, melihat sekitar. Tak ada Rangga, mungkinkah pria itu tidak turun untuk salat? Ah, rasanya tidak mungkin. Rangga saja sering bangun malam untuk sekadar salat malam.


Dengan cepat Kania membalas pesan. Bukannya mengiyakan, perempuan itu justru bertanya untuk apa. Jelas saja ia heran, karena biasanya Rangga memanggil dirinya atas kepentingan perusahaan.


Tak ada balasan lagi. Kania segera membuka mukena atas dan bawah, melipat lagi agar rapi dan menyimpan di tempatnya bersama sajadah. Masih memegang ponsel dengan wajah penuh tanda tanya.


"Ini bukan jam kerja. Mas Rangga ada apa, ya?" Segala pertanyaan keluar di benak Kania, sedikit penasaran juga.


Langkah perempuan itu berjalan ke arah pintu keluar mushola dan bersamaan dengan bunyi pesan. Pasti itu Rangga, benar saja.


"Jangan banyak tanya. Datang saja." Kania membaca dengan pelan pesan dari Rangga. Gadis itu mendengus kesal, seharusnya Rangga bisa menjelaskan maksud dari permintaan ini.


Kania diam di dekat pintu keluar, menghela napas kasar dan berkata, "Ini kalau bukan suami, aku ajak ribut juga. Astaghfirullah, sabar." Kania mengelus dada dua kali. Perintah Rangga itu lebih penting, begitu yang Kania ketahui. Maka dari itu, perempuan tersebut pun segera pergi dari mushola dan bergegas menuju lantai atas.

__ADS_1


Ketika hendak mendekati lift, tak sengaja kedua ekor mata Kania melihat Rangga dan Gendis berjalan bersama ke arah pintu keluar. Mereka tampak serasi dari belakang, pantas saja banyak yang berharap keduanya bisa bersama.


Kania diam, seminggu sudah menghindari pertemuan dengan Radit. Bahkan ketika menginap di rumah orang tuanya pun, ia tak pernah keluar rumah saat suara Radit terdengar menyapa orang tuanya. Ini adalah cara terbaik Kania agar segera bisa melepaskan segala rasa untuk lelaki itu. "Ternyata menunggu seseorang itu belum tentu bisa bersama. Bertahun-tahun menyukai, tapi akhirnya semesta punya cerita lain."


Kania diam sebentar sampai kedua punggung orang yang ditatapnya hilang dari pandangan. Setelah itu sadar, bergerak ke arah lift dan memencet tombol lantai paling atas.


Pesan Rangga tadi tidak sempat dibalas, biarkan saja. Lelaki itu pasti sudah menunggu di ruangannya. "Kadang Mas Rangga itu nyebelin juga. Kasih perintah, tapi nggak ngejelasin buat apa!" Kania berdecak kesal.


Lift terus berjalan membawa Kania ke lantai atas. Lantai di mana dulunya hanya beberapa kali dipijaknya, kini hampir setiap hari. Untung saja Rangga mengganti sekretaris wanita dengan pria, setidaknya tidak ada gosip gila yang harus menerpa telinga Kania. Bukan cemburu, hanya saja perempuan itu tidak ingin hidup damainya terganggu.


Kania keluar lift, menyapa sekretaris lelaki yang usianya lima tahun dari Rangga dan memiliki keterampilan yang baik.


"Selamat siang, Nyonya Rangga," kata sekretaris.


Kania canggung. Padahal ia juga karyawan biasa di sini. "Selamat siang, Pak."


Seakan sudah paham dengan kedatangan Kania, lelaki itu langsung mempersilakan Kania untuk masuk.


Dengan rasa penasaran yang mendorong kuat, Kania masuk sambil mengucap salam. "Assalamualaikum." Kedua kakinya kini berada di lantai ruangan Rangga.


Hening. Tak ada jawaban apa pun, bahkan sosok Rangga pun tidak ada di sana. Kania menyorot setiap siku ruangan, memang tidak ada. Tangan kanannya masih memegang knop pintu bagian dalam ruangan. "Loh, Mas Rangganya mana?"


Kania diam di sana dengan perasaan bingung. Padahal lelaki itu yang memintanya datang, tetapi justru pria itu yang tak ada. "Ini gimana ceritanya, sih!" Kania kesal. Menyalakan ponsel hendak mengunjungi Rangga. Namun, tanpa diduga pintu terdorong ke depan, sehingga tubuh Kania pun sama dan hampir jatuh.


"Eh!" Kania berteriak, tetapi lengan kekar dari belakang meraih pinggangnya dan berhasil menyelamatkan Kania. "Astagfirullah."


Kini tubuh Kania bisa berdiri tegak lagi seperti tadi, walaupun tangannya sudah terlepas dari knop pintu. Hanya saja, kini punggung itu berada di depan tubuh seseorang. Jantung Kania berdentam, posisinya seperti Kania sedang dipeluk.


"Kamu lagi apa diam di dekat pintu? Bukannya langsung masuk aja," tanya Rangga dengan suara pelan. Tak lupa lelaki itu menutup rapat pintu agar adegan ini tidak dinikmati orang lain.


Kania menelan ludah. Pasalnya, suara Rangga terdengar jelas di telinga karena wajah lelaki itu seakan berada di belakang panca indera pendengarannya. Posisi apa ini? Menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2