
Keduanya canggung setelah kejadian tersebut. Radit beberapa kali minta maaf karena sudah menyentuh Kania tanpa izin.
"Sebaiknya kita makan dulu," imbuh Kania yang berusaha menetralkan diri agar tidak terlalu gugup di depan Radit.
Radit setuju. Adit pun datang ke dapur setelah mandi. Anak lelaki itu belum mandi dari pagi.
"Nasi gorengnya udah jadi belum, Kak?' tanya Adit. Pandangannya mendapati sang Kakak salah tingkah.
"Belum, Dek. Sebentar, ya." Radit yang menjawab.
Adit masih memandangi kakaknya. Ada yang aneh. Pasti terjadi sesuatu yang tidak diketahuinya.
"Kak Kania kenapa?" tanya Adit tanpa basa-basi.
Kania tertegun. Bimbang juga, sedangkan Radit sendiri meneruskan kegiatan masak yang tertunda.
Adit membantu Radit. Dibandingkan Kania, ternyata anak lelaki itu lebih ahli dalam memasak. Terbukti ia tahu banyak hal perihal perdapuran.
"Yang pedas, ya, Kak,' kata Adit pada Radit.
Radit yang sebenarnya sedang tidak enak hati pun mengangguk saja. Padahal ia sudah terbiasa bersama Kania, bahkan saat kecil serimg menggendong perempuan itu. Namun, sekarang sedikit berbeda. Ada jarak yang harus dijaga satu sama lain.
Nasi goreng siap. Sebenarnya waktu makan siang sudah lewat, tetapi Kania dan Adit belum sempat makan sama sekali karena terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Ini baru nasi goreng. Wanginya menggoda, warnanya bikin ngiler dan pastinya enak," komentar Adit seakan membandingkan masakan kakaknya dengan Radit.
Kania kesal. Duduk lebih dahulu di meja makan seraya berkata, "Dit, kamu sebaiknya bilang ke Tante Wati biar adopsi Adit jadi adikmu saja. Dia sepertinya lebih baik ke kamu daripada ke kakaknya sendiri!"
Adit tertawa geli. "Cie, yang marah?'
Radit sudah tak ingin mendengar celoteh mereka. Menanggapinya pun, malas. Biarkan saja sesuka keduanya.
###
Senin pun tiba. Radit berangkat lagi tanpa sempar mengatakan niatnya. Terlalu banyak berpikir sampai lelaki itu merasa kehabisan waktu selama di sana.
Sama seperti Radit, Kania pun merasa demikian. Bayangan untuk mengutarakan isi hati ternyata hanyalah sebuah khayalan. Pada akhirnya ia tetap diam.
"Kak, nanti sore jemput aku di sekolah, ya," kata Adit.
Mereka sedang sarapan di meja makan pagi ini. Hanya saja tidak ada Pak Kemal kali ini karena sedang ada pekerjaan di luar kota.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Kania.
Bu Lala membawa wadah besar berisi nasi goreng. Sarapan ini bukan hanya untuk mereka, tetapi juga bagi satpam juga tukang kebun yang biasanya datang seminggu sekali.
"Nggak ada Ayah," jawab Adit.
Bu Lala menatap Adit. "Kamu, kan, bisa naik bus, Dek." Mengambil sebuah piring dan memberikannya pada anak bungsu. "Kakakmu takutnya mau pergi ke mana dulu."
Kania teringat sesuatu. "Ah, iya. Kakak ada kajian Magrib ini di dekat rumahnya Desi. Mungkin nggak bisa jemput kamu, Dek."
Sudah Adit duga. Pasti ada saja alasan yang diberikan kakaknya. "Padahal cuma sebentar, Kak." Wajah Adit lesu. Kania curiga.
Bu Lala dan Kania saling melempar pandangan. Jarang sekali lelaki paling muda di keluarga ini meminta dijemput. Biasanya pulang sendiri. Tentu saja akan menjadi tanda tanya bagi setiap anggota keluarga.
Bu Lala duduk di samping Kania. Memberi isyarat dengan mata agar anak sulungnya itu berbicara lembut dengan Adit.
Kania paham. Menghela napas kasar dan berkata, "Dek, ada apa?"
Adit yang hendak mengambil nasi goreng itu berhenti.
"Kamu ada kesulitan di sekolah?" tanya Kania lagi.
Adit mengerutkan kening. "Kakak, apaan, sih! Orang cuma minta jemput aja. Masa nggak boleh!" Nada bicara Adit sedikit bergetar. Kania jelas tidak percaya.
"Ya udah, Kakak jemput. Tapi, kamu nggak masalah ikut kajian dulu?" Kania perlu kepastian Adit.
Awalnya Adit menolak, tetapi lama kelamaan pun ia akhirnya luluh. Menerima tawaran Kania dan memberikan pesan jangan sampai Kakaknya itu ingkar janji.
"Iya." Kania berusaha untuk semakin lembut karena biasanya anak remaja itu masih butuh penyesuaian untuk pengelolaan emosi. "Tapi, jangan banyak ngomel, ya, di sana."
"Siap, Kak."
Adit dan Kania segera sarapan. Bu Lala bersyukur atas nikmat Tuhan karena diberi kedua anak yang bisa saling mengerti satu sama lain. Semoga saja anaknya bisa terus seperti ini sampai ia telah tiada.
Sarapan selesai. Mengingat ini hari Senin, Kania tidak membantu ibunya mencuci piring. Ia langsung berangkat bersama Adit. Namun, anak remaja itu membatalkan karena ingin naik taksi.
"Kadang ngeselin juga dia, tapi adik sendiri," gumam Kania yang lelah dengan sikap Adit.
Tak menunggu lama Kania segera berangkat. Kemacetan ibu kota selalu saja menjadi penyebab keterlambatan para karyawan. Maka dari itu, ia perlu berangkat lebih awal. Pastinya untuk mempersingkat waktu.
Mobil Kania keluar. Bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya. Benar saja, kemacetan sudah terjadi dari pertama ia bergabung. Ingin protes, tetapi semua orang pun merasakan.Tidak hanya dirinya saja.
__ADS_1
Baru saja berkendara sekitar lima menit mendadak mobil Kania mogok di tengah jalan. Ia terpaksa turun, memeriksa keadaan roda empat itu dan menemukan mesin mobilnya turun. Padahal ia sendiri sudah sering mengecek ke bengkel.
"Astagfirullah, lagi buru-buru." Kania sedikit kesal. Perempuan itu dibantu beberapa orang menepikan mobilnya ke tepi jalan. Menghubungi montir yang dikenal agar bisa datang ke tempat kejadian.
Kania bimbang. Jika naik bus jelas akan terlambat, tetapi taksi belum juga datang sejak tadi. Pastinya ia akan menerima sanksi jika terlambat. Sudah peraturannya.
"Aduh, ini gimana, ya." Kania melihat ke arah kanan. Tak ada tanda-tanda taksi akan datang. "Coba Desi satu arah. Pasti nggak bingung."
Biasanya ia tidak perlu khawatir saat mobil mogok karena ada Radit yang membantu. Namun, kali ini berbeda. Ia perlu mengurusnya sendiri.
Sekitar dua menit selanjutnya sebuah mobil datang. Suara yang dikenal Kania pun terdengar.
"Assalamualaikum," kata Rangga dari dalam mobil.
Kania terkejut. Ada senang juga bisa bertemu Rangga. Mungkin karena sedang dalam fase terdesak. Hanya saja tidak berani menawarkan diri.
"Wa'alaikum salam," jawab Kania cepat.
Rangga mengamati Kania yang berdiri di depan mobil mogok itu. "Mobilmu kenapa?"
Kania menoleh ke samping. "Biasa, turun mesin."
Rangga menepikan kendaraan di depan mobil Kania. Turun sebentar dan memeriksanya. "Benar juga."
Kania diam. Masih berharap bisa bertemu dengan taksi yang pastinya tidak banyak berhenti di halte.
Rangga mengamati Kania lekat. "Kamu mau naik apa ke kantor?"
"Nunggu taksi, tapi nggak ada lewat dari tadi. Padahal waktunya udah mepet, " jawab Kania.
"Ayo, ikut aku."
Kania ragu.
"Jangan ragu. Kamu lagi buru-buru, kan?" Rangga bertanya lagi.
Hal itu jelas. Waktu masuk kantor hanya tinggal lima menit lagi. Akan sangat terlambat jika harus menunggu taksi.
Rangga yang mengerti dengan sikap Kania yanh tidak suka menerima cuma-cuma dari orang lain pun mendapatkan ide baik. Barang kali dengan ini Kania berkenan.
"Kalau kamu merasa sungkan. Kamu bisa bayar, kok, tapi jangan pakai uang," kata Rangga yang berhasil mengejutkan kedua bola mata Kania.
__ADS_1
Kania menoleh ke samping kiri seraya berkata, "Kalau bukan uang, terus kamu mau pakai apa?"
Rangga tersenyum manis. Sedikit menakutkan bagi Kania, punduk wanita itu bahkan bergedik ngeri. Entah apa yang ada di pikiran Rangga saat ini, hanya Tuhan yang tahu.