
Mereka berada di meja yang sama dengan menu beragam. Radit duduk di samping kanan Rangga, Adit berada di samping kiri Rangga. Sementara dua gadis duduk di depan mereka.
"Sushi ini paling rekomen banget karena enak banget," kata Adit.
"Kamu sok tau, Dek," sambar Desi.
Adit kesal. "Beneran, Kak. Kalau nggak percaya coba aja. Aku sama teman pernah ke sini."
"Teman apa demen?" Desi meledek adik Kania tersebut.
Makanan belum tiba, tetapi Desi merasakan terjangan sakit perut yang kuat sehingga menyebabkan dirinya harus pamit ke toilet. Tak berapa lama dari sana, Adit juga melakukan hal yang sama. Ingin buang air kecil. Kini tersisa Kania bersama dua orang lelaki yang sama-sama diam.
Rangga menatap Kania. Tersenyum kecil dan berkata, "Maaf kemarin sore aku tidak sempat mampir ke rumah. Sampaikan permintaan maafku ke orang tuamu."
Kania tersentak. Terlebih melihat Radit yang hanya diam tanpa kata. Seakan lelaki itu sedang mengamati mereka sejak tadi.
Kania angkat bicara. "Nggak pa-pa. Kata Bunda, terima kasih karena udah anterin anaknya. Selamatkan dari hujan."
Rangga tersenyum kecil lagi. Hal yang jarang ia lakukan pada yang lain. "Tadinya aku ingin mampir, tapi mengingat sudah mau magrib. Tidak enak juga."
Ujung netra kanan Radit melirik Rangga. Tatapan kurang suka.
"Ah, iya, perkenalkan ini Radit. Dia dulu karyawan di sana juga, bagian penjualan. Tapi, sekarang dipindahkan keluar kota." Kania secepat mungkin mengubah topik. Bagaimana pun dirinya perlu mencairkan suasana yang terasa panas dan menegangkan.
Rangga menoleh ke samping kanan. "Salam kenal, saya Rangga. Karyawan baru di bagian keuangan."
Radit mengangguk pelan. "Salam kenal lagi. Saya Radit. Teman masa kecilnya Kania juga."
Kalimat Radit berhasil membungkam mulut Rangga. Menampar jiwa lelaki itu yang berpikir ke arah lain.
"Benar. Radit ini memang teman masa kecilku," ujar Kania membenarkan.
__ADS_1
Suasananya kembali terasa tegang. Kania sulit bernapas. Bahkan untuk sekedar menghela pun, sulit. Baru bertemu beberapa menit saja kedua lelaki di depannya menciptakan perasaan tegang untuknya.
Rangga lagi-lagi mengalihkan pandangan ke depan. Tepatnya Kania. Wajah yang dirindukan tadi pagi bisa terlihat dengan nyata. Akan tetapi, sayangnya tidak bisa dipegang.
"Oh, ya, nanti Senin kamu mau aku jemput? Biasanya hari itu jalanan semakin padat," tanya Rangga pada Kania.
Dua bola mata Kania membulat sempurna. Pertanyaan macam apa ini. Dadanya semakin susah bernapas.
"Arah rumah kita sama. Jadi, aku rasa rasa tidak masalah," sambung Rangga.
Desi dan Adit kompak belum juga datang, padahal Kania sudah bingung menghadapi situasi macam seperti ini. Ingin kabur, tetapi tidak mungkin. Ia harus tetap menghadapi kenyataan ini.
"Sepertinya Kania kurang suka." Tiba-tiba Radit berbicara. Melirik sekilas pada Rangga. "Dia itu kurang suka ngerepotin orang lain."
"Saya bukan orang lain, tapi teman kerjanya." Rangga menjawab cepat.
Layaknya permainan tenis meja. Keduanya saling melempar bola berharap bisa membobol pertahanan lawan. Menjadi pemenang untuk mendapatkan hadiah.
Padahal Rangga baru bertemu Radit, tetapi lelaki itu sudah bisa menilai bagaimana Radit. Terlihat tenang. Namun, menghanyutkan. Seperti halnya air sungai. Bukan hanya sejuk dari luar saja, melainkan menakutkan juga jika sudah ada di dalamnya.
"Bukannya kamu juga sekedar teman?" tanya Rangga yang jelas tidak suka dipojokan.
Kania bimbang. Tidak berniat membenarkan salah satu dari mereka. Sebab, keduanya sama saja keras kepala. Seakan perdebatan ini menyenangkan bagi kedua lelaki tersebut.
Radit kesal. Wajahnya saja berubah. Hanja saya lelaki itu berusaha keras agar tidak terlihat jelas. Berdamai dengan keadaan yang pastinya tidak akan selalu sesuai dengan khalayalan.
"Jadi, apa bedanya dengan saya?" Rangga terus mendesak. Seutas senyum manis menghiasi wajahnya. Menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi dalam diri. "Apa karena kamu merasa jadi teman masa kecil jadi aman? Bukannya setiap manusia itu tetap saja ada sisi jahatnya?"
Kania kian sulit menghadapi situasi. Semakin lama ketegangan terasa lebih kuat bahkan susah dihentikan. Memuncak dan berada di fase kejayaan.
Radit tetap tenang. "Sepertinya prasangka kamu salah. Saya bukan merasa aman karena teman masa kecil, tapi memang saya dan Kania ini sudah seperti saudara. Bisa tanyakan ke orang tua Kania kalau kamu merasa kurang yakin."
__ADS_1
Rangga bergeming. Tatapannya lekat ke arah Radit. Empat bola mata itu saling bertemu satu sama lain dan menerobos mata lawan seakan ingin mencari tahu sesuatu. Entah apa itu, yang jelas tingkat penasaran di antara keduanya sangat tinggi.
Kania berharap Desi dan Adit segera datang. Tak sanggup rasanya berada di situasi ini dua menit lagi. Ingin mencairkan keadaan hanya saja sulit. Sungguh ... Ini menegangkan.
"Apa dengan landasan itu bisa membebaskan kamu dari salah satu manusia yang punya niat jahat? Sekarang rasanya bukan cuma orang lain yang menakutkan, tapi keluarga juga terkadang sama. Apalagi cuma sekedar teman masa kecil," kata Rangga.
Tangan kanan Radit mengepal tepat di bawah meja. Kekesalan meningkat. Atmosfer di sini terasa sangat panas dan bisa membunuh banyak orang.
Tak berapa lama dua karyawan datang membawa pesanan. Kania lega. Setidaknya ia bisa bebas bernapas bebeeapa menit saja.
"Silakan dinikmati Mas, Mbak," kata salah satu karyawan sebelum pergi.
Mata Kania berbinar terang melihat makanan menggiurkan di depan mata. Sifat aslinya keluar dan hal ini paling disukai Radit.
"Kamu lebih suka yang varian ini, kan?" tanya Radit. Lelaki itu menyodorkan sepiring kecil sushi dengan varian ikan salmon. "Makan yang banyak, ya," katanya lagi.
Kania mengangguk cepat. "Pastinya, Dit." Senang sekali perempuan itu.
"Dulu pas satu kantor kita sering makan di sini. Jadi, kangen pengen makan berdua," ujar Radit sambil sudut mata kanannya melirik Rangga. Entah apa tujuannya.
Kania ingat. "Ah, iya. Biasanya kita datang ke sini pas gajian. Jadi ingat pas gajian pertama."
Radit ikut teringat masa itu. Di mana mereka membeli apa pun yang diinginkan memakai gaji pertama. "Aku ingat. Kamu makan banyak karena merasa senang dapat gaji pertama."
Senyum Kania mengembang layaknya bunga mawar merah yang tengah merekah. "Bener banget. waktu itu aku senang karena bisa beli makanan dengan hasil kerja sendiri. Sampai-sampai rasanya perut mau meledek."
Kania dan Radit tertawa kecil, sedangkan Rangga diam. Melihat kedekatan antara Radit dan Kania memberikannya kesimpulan jika Radit memang memiliki peraasaan lebih dari sekadar teman masa kecil.
"Kamu ngikutin mulu. Kesal aku!" Tiba-tiba Desi dan Adit datang. Mereka duduk di tempat semula. "Adiknya Kania ini pengen aku karungin dan lempar ke sungai kalau bisa."
Adit cukup tertawa. Pada akhirnya mereka makan bersama dengan perasaan yang jelas berbeda
__ADS_1