Dua Lelaki

Dua Lelaki
Rangga menunggu


__ADS_3

"Calon suami?" Pak Kemal terkejut bukan main. Tak ada angin ataupun hujan anaknya mengatakan hal demikian. "Coba jelaskan ke Ayah."


Kania sudah duga. Ia dengan telaten menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Rangga. Memang sedikit mengarang, tetapi demi kebaikan. Tak masalah. Sebentar saja.


Pak Kemal mencoba mencerna apa pun yang anaknya katakan, hingga ia berada di titik paling bijak. "Kalau memang lelaki itu baik. Datanglah ke rumah. Temui Ayah dan Bunda."


Sekitar satu jam keduanya berbicara tanpa adanya penyekat. Saling memahami satu sama lainnya layaknya seorang Ayah dan Anak.


***


Esok pun datang. Kania mulai tenang. Ia sudah bangun dari pukul tiga pagi melaksanakan shalat malam untuk meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa atas keputusan yang dibuatnya secara cepat.


Setelah shalat Subuh, Kania sendiri pergi ke dapur. Membantu sang Bunda memasak, walaupun hanya sekadar mengiris bumbu saja.


Hebatnya keluarga Kania, mereka tidak akan membahas sesuatu di jam makan. Jadi … waktu itu hanya akan dimanfaatkan untuk merekatkan hubungan antar anggota keluarga.


"Ayo, makan!" ajak Bu Lala pada semua anggota keluarga ketika jam dinding menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Semua orang menghampiri meja makan. Duduk di tempat masing-masing. Kania sendiri sudah bisa tenang dan bercanda dengan Adit.


"Kak, bentar lagi gajian, ya. Aku mau minta uang buat beli voucher game dong!" ujar Adit tanpa sungkan.


Kania yang berada di samping kanan pun menoleh. "Di pikiranmu itu cuma voucher aja, ya, Dek?


"Ya, gimana lagi, Kak. Aku belum kerja. Jadi, pikiranku cuma game dan pelajaran aja." Adit dengan santai menjawab.


Seperti biasa Pak Kemal dan Bu Lala tidak ingin ikut campur selama itu tidak terlalu darurat. Kedua anaknya pun bukan sedang bertengkar masalah besar.


Kania menghela napas. "Kamu itu harus belajar hemat, Dek. Cari uang itu nggak gampang, lho. Lihat Ayah sampai rela kerja keras demi bisa sekolahkan kamu."


Bukannya mendapatkan jawaban pasti, Adit justru memenangkan ceramah dari sang Kakak. 


"Iya, Kak. Bilang aja nggak mau ngasih. Kak Radit, angkat aku jadi adikmu saja." Adit bertingkah seolah menjadi orang yang tersakiti.


Kania berdecak kesal. Kelakuan Adit selalu saja membuatnya kesal, tetapi juga terkadang mengundang tawa. Begini rasanya memiliki adik laki-laki. Penuh dengan cerita asam, manis dan pahit. Campur jadi satu.


"Sana datangi Radit ke Bandung. Sekalian aja keluar dari kartu keluarga." Saking kesalnya Kania berkata begitu.


Adit sedih. Menatap kedua orang tuanya dengan sendu. "Ayah, Bunda, mau depak aku dari kartu keluarga juga?" 


Bukannya menjawab Bu Lala justru tertawa. "Sudah, sudah. Nanti kalian kesiangan. Cepat habiskan sarapan dan berangkat."

__ADS_1


Kedua anaknya menurut. Sarapan pun berjalan baik dan selesai sesuai kecepatan masing-masing.


Adit dan Pak Kemal sudah berangkat lebih dulu karena jarak tempuh keduanya lumayan jauh, sedangkan Kania sendiri masih membantu ibunya membawa piring kotor ke dapur.


"Sudah, sebaiknya kamu berangkat. Kalau sampai kesiangan nanti didenda," kata Bu Lala seraya tertawa kecil.


"Bunda bisa saja. Aku berangkat, ya. Assalamualaikum." Kania mencium telapak tangan sang Bunda dan segera pergi.


"Wa'alaikum salam," jawab Bu Lala.


Kania segera berangkat dengan menggunakan mobil pribadi. Pagi ini perasaannya membaik, sekali pun memang masih ada tidak percaya dengan keputusan yang diambilnya kemarin.


Di tengah perjalanan sebuah pesan masuk dari Rangga. Lelaki itu mengirimkan foto lantai bawah dari perusahaan tempat Kania bekerja dengan caption 'aku menunggumu' rasanya sangat canggung mendapatkan pesan sesantai itu.


Kania tak membalas. Ia menyetir lagi ke arah kantor. Hari ini pasti Desi banyak bertanya tentang kemarin. Semoga saja pertanyaannya tidak terlalu rumit.


Sepuluh menit kemudian Kania sampai di kantor. Memarkirkan mobil seperti biasa dan keluar sambil membawa tas. Kali ini langkahnya sedikit ragu dengan pikiran melayang. Mungkinkah Rangga masih ada di lantai bawah menunggunya?


Baru akan mendekati pintu utama, suara Desi menyapa telinga Kania.


"Nia, tunggu!" Desi berteriak sampai beberapa pasang mata memperhatikan Kania.


Desi mendekat. Kania menatapnya tajam. "Kamu jangan berisik! Malu sama orang." Pandangan yang lain semakin kuat. Seolah Kania ini adalah sasaran empuk yang bisa dijadikan santapan makan siang.


Kania tak sadar sama sekali. Ia melangkah dengan hati-hati dengan perasaan berkecamuk.


"Kita ke dalam, yuk!" Desi meraih lengan kanan Kania. Membawa perempuan itu masuk ke area gedung.


Ketika kedua kaki Kania berada di lantai bawah. Ia langsung disuguhi pemandangan wajah Rangga. Benar saja. Lelaki itu masih menunggunya. Kania acuh. 


"Selamat pagi, Rangga," sapa Desi.


Kania tersenyum kecil.


Rangga melirik Kania. "Selamat pagi."


"Tumben jam segini sudah ada di kantor?" Arloji di tangan Desi berada di angka tujuh lewat empat puluh tiga menit. Hanya ada tujuh belas menit lagi untuk masuk. Biasanya Rangga masuk di menit-menit akhir.


Ketiganya berdiri di depan lift. Menunggu bersama.


"Sedang ingin saja," jawab Rangga sembarangan. Kania sama sekali tak melihatnya. Mungkin marah, padahal bukan Rangga yang memaksa. Justru perempuan itu yang tetap pada pendiriannya. 

__ADS_1


Lift terbuka. Mereka masuk dengan dua karyawan lainnya. Akan tetapi, Desi tertinggal sesuatu di dalam mobil. Ia keluar lagi. 


Lift berjalan ke lantai selanjutnya. Dua karyawan itu keluar. Kini hanya ada Kania dan Rangga saja. Suasana terasa hening.


"Kamu sudah tenang?" Rangga memulai percakapan di antara mereka. Melirik sekilas pada Kania. "Aku cemas karena kamu nggak jawab pesanku."


Entah pesan mana yang dimaksud Rangga. Lelaki itu tidak menjelaskan secara rinci.


"Aku baik," jawab Kania cepat 


Rangga merasakan perubahan drastis dari cara bicara juga tatapan Kania. Mungkin marah, tetapi ia sudah memperingatkan Kania tentang hal ini. 


"Masih ada waktu untuk mengubah keputusanmu. Aku dan ayah belum datang juga," kata Rangga. Yakin jika perasaan seseorang itu tidak bisa dirubah secepat kilat.


Mencintai Kania memang sebuah anugerah bagi Rangga. Hanya saja ia tak ingin bersama hanya karena sebuah keterpaksaan. Bisa sangat berdampak pada perkembangan pernikahannya nanti. Lebih baik melepaskan daripada memeluk, tetapi penuh kesakitan.


Lift terus berjalan menuju ruangan yang mereka kehendaki.


"Jangan bahas hal yang sudah ditentukan. Sebaiknya rencanakan apa yang perlu dilakukan," kata Kania.


Rangga menghela napas. Sepertinya lebih baik menyerah. Keras kepalanya Kania sulit dilemahkan. "Kamu memang seperti ini, ya?" 


Kania seketika menoleh. "Maksudmu?" 


Lift berhenti di lantai empat dan berhenti. "Selalu teguh pada pendirian. Baguslah. Itu artinya aku juga harus sama."


Mereka keluar lift. Berdiri di depannya. Untung saja tidak ada orang yang melihat. 


"Karena melihat tekadmu yang luar biasa aku jadi termotivasi. Jangan harap bisa lari," kata Rangga.


Jantung Kania berdentam. Ia semakin jatuh ke jurang dan sulit diselamatkan. Bahkan untuk menepi pun sepertinya tidak bisa.


Rangga tersenyum kecil. Manis memang terlihatnya. "Aku dan ayah akan datang beberapa hari lagi. Mungkin di weekend ini. Tunggu aku di sana."


Kania merasa bersalah. Ini bukan permainan, tetapi sebuah janji tetaplah harus ditepati. Ibaratnya, kita harus tidak bisa lagi mundur selangkah pun.


"Ayahku menunggu," kata Kania yang berhasil membuat Rangga terkejut. 


"Beliau bilang kalau lelaki yang sejati akan datang menemui orang tua wanita karena hakikatnya seorang wanita itu memang masih milik orang tuanya selama belum menikah. Jadi … jangan ragu. Seperti aku yang maju terus tanpa peduli akibatnya," sambung Kania.


Rangga tertantang. Kania ternyata calon istri yang sangat diidamkan. Memiliki kekuatan diri yang tangguh, sehingga tidak bisa goyah oleh apa pun.

__ADS_1


"Baiklah. Kali ini aku maju, tapi jangan sekali-kali minta aku mundur lagi. Karena kamu sendiri yang memberi semangat," imbuh Rangga sambil berjalan menjauhi Kania dan menuju tempat duduknya.


Kedua kaki bergetar hebat. Rasanya susah sekali berjalan ke sana. Ingin lari dan berteriak. Maju atau mundur, semuanya kena. Mungkin saja ini jodoh yang Tuhan pilihkan. Terbaik menurut-Nya.


__ADS_2