Dua Lelaki

Dua Lelaki
Kania ke klinik perusahaan


__ADS_3

Kania segera bekerja di tempat duduknya. Desi datang bersamaan dengan Heri. Keduanya terlibat lagi perdebatan yang lumayan sama-sama kuat.


"Dasar, cowok playboy!" ketus Desi ketika duduk di tempatnya.


Heri tak ingin kalah. Sama ketusnya. "Daripada perempuan yang nggak laku-laku."


"Eh, enak aja, ya." Desi kian kesal.


Kania dan Rangga saling melempar pandangan. Pemandangan ini selalu menjadi makanan sehari-hari beberapa hari ini. Rasanya mau gila.


"Makanya cari cowok sana!" kata Heri.


Desi tak terima. "Halah! Cowok sekarang mah pada gila semua! Mendingan lajang daripada punya pasangan gila."


Perdebatan itu terus saja terjadi. Sampai akhirnya Pak Ganjar datang dan berkata, "Tim keuangan akan meeting dengan Pak Gani siang ini."


"Siap, Pak!" Semua menjawab cepat.


Setiap akhir bulan tim ini akan melakukan meeting untuk evaluasi keuangan bulanan. Di mana mereka juga sibuk dengan mempersiapkan gaji untuk para karyawan. Jelas saja jika Rangga, Desi dan Kania sampai tak sempat mengobrol ketika bekerja.


Meeting akan dilakukan pukul sebelas siang. Tepatnya sebelum makan siang. Arloji di tangan Kania menunjukkan pukul sepuluh, masih ada satu jam lagi.


Mendadak perut Kania terasa sakit. Padahal sudah tidak datang bulan lagi. Apa mungkin karena terlalu makan sedikit saat sarapan? Bahkan ia lupa makan malam kemarin.


Kania menggerakkan kursi ke sana ke mari. Rasa sakit ini semakin kuat, sampai akhirnya perempuan itu menyerah dan memutuskan untuk pergi ke klinik perusahaan.


Kania berdiri dan berkata pada Desi, "Des, aku ke klinik dulu, ya."


Desi yang sibuk mengecek laporan pun langsung menoleh. "Kamu sakit?" 


Rangga melirik sekilas pada mereka. Tentunya mendengar perbincangan itu.


Kania mengangguk pelan. "Aku sakit perut. Mau minta obat aja atau rebahan sebentar. Nggak kuat." Tangan kanan perempuan itu memegang perut. Memang sakit rasanya.


Desi paham. "Ya sudah, nanti aku ambil alih aja pekerjaanmu. Ada yang perlu dibawa ke meeting, kan?" 


"Iya. Tapi, nggak perlu. Aku cuma beberapa menit aja di sana."


"Kalau masih sakit, diam saja dulu."


Kania cukup tersenyum, lalu pergi ke arah lift. 


Rangga mendengar dengan sangat jelas. Timbul rasa khawatir dalam diri. Menuntun dirinya untuk berdiri.


Desi menyadari. Memperhatikan lelaki itu dan berujar, "Mau ke mana?" Titik penasarannya muncul.


Rangga menelan ludah. Tak ingin ketahuan. "Beli kopi dulu." Tidak ingin banyak ditanya. Rangga langsung pergi begitu saja.


Desi hanya memandangi dua temannya pergi secara bersamaan. Mungkin memang mereka ada perlu, begitu saja dalam pikirannya.


Heri rupanya memperhatikan Rangga dan Kania. Pikiran lelaki itu berbeda, sedikit suudzon. Otak gilanya keluar.


Desi haus. Ia berdiri dan pergi ke dapur kecil ruangan ini. Mengambil air mineral di kulkas kecil dan meneguknya. Baru selesai, Heri datang mendekati.


"Kania sama Rangga itu nggak pacaran, kan?" tanyanya tanpa basa-basi dan membuat Desi kaget.


Desi selesai minum. Mengarahkan badan pada Heri dan memasang wajah kesal. "Kamu bisa nggak, sih, kalau datang itu minimal jangan ngagetin orang?"


Heri tertawa kecil. Kelakuannya memang seperti itu. "Ya, maaf. Aku terbiasa seperti itu."


Wajah Desi penuh kekesalan. Ingin sekali membanting lelaki itu ke dalam lubang buaya agar segera menjadi santapan satwa tersebut. Jika musnah, mungkin dunianya akan lebih tenang.

__ADS_1


"Mereka pacaran, ya?" tanya Heri sekali lagi.


Desi menggelengkan kepala. "Nggak. Memangnya kenapa?" Desi jadi penasaran. Heri ini selalu saja ingin ikut campur masalah orang lain. "Kamu kepo banget kayaknya."


Heri tertawa lepas lagi. Ia bisa dikatakan seperti itu. Namun, ada yang lebih kepo darinya. Tentu tidak ingin menyebut nama. "Mereka itu beda. Kalau yang satu pergi, pasti yang satunya ikut. Kamu nggak merasa aneh?" 


Mendengar itu Desi menjadi terbuka pikirannya. Benar juga perkataan Heri. Selama ini keduanya selalu terlibat bersama. Bahkan kemarin pun tatapan Kania sedikit berbeda pada Rangga. Bisa jadi dugaan Heri benar. 


"Iya juga, sih. Tapi … aku nggak mau suudzon dulu. Yang aku tau Kania itu memang anti pacaran. Keluarganya itu nggak setuju," jawab Desi.


Heri diam. Kalau memang seperti itu, pastinya ada yang lebih besar lagi. "Apa mungkin mereka mau menikah diam-diam?" 


Desi terkejut. Susah mengikuti alur pikiran Heri. Lelaki itu terlalu banyak menebak apa yang belum terjadi. Desi menyimpan air mineral sisanya di kulkas. "Kamu kebanyakan suudzon. Makanya, jangan banyak pacaran. Jadi gila, kan?"


Heri tak terima. "Enak aja. Aku seperti ini juga karena perempuan."


Desi diam. "Maksudnya?" Menatap dalam Heri.


Secepat kilat Heri melangkah dari Desi. Terkadang ia terlihat terbuka, tetapi tak jarang juga tertutup pada siapa pun. Terlebih pada Desi.


Desi berdecak kesal. Heri ini selalu saja memancing amarahnya yang penuh dalam diri. Andaikan dihalalkan untuk membunuh sesama manusia, mungkin sudah dilakukannya. Saking kesal.


"Astagfirullah, sabar, Des." Perempuan itu secepat mungkin pergi dari dapur kecil. Kembali bekerja.


Sementara itu Kania sampai di klinik perusahaan. Di sana ia meminta obat serta tiduran di ranjang. Bukan tanpa alasan dirinya ingin ke sini. Jika bukan karena rasa sakit yang luar biasa, tentunya ini tidak mungkin terjadi.


"Minum obatnya. Nanti kamu bisa sembuh. Saya tinggal dulu karena ada keperluan," kata petugas klinik.


Kania mengambil obat. Menuruti perkataan ahli kesehatan di perusahaan ini.


Di kamar inilah akhirnya Kania merebahkan diri. Memegang perut yang masih saja sakit. Perlahan pikirannya terbang tanpa batas. Ada beberapa momen menarik yang ingin ia putar lagi dalam ingatan.


Tak terasa setetes cairan bening keluar. Pikirannya menuntun pada sosok Radit. Lelaki yang dicintai, tetapi sulit digapai. Bahkan saat ini mungkin sudah tak bisa diraih.


Kania cukup senang. Setidaknya pengorbanan ini bisa berperan penting bagi banyak orang. Tak masalah apa yang akan terjadi padanya. Ia hanya perlu memahami sesuatu bahwa kehidupan di dunia ini memang tidak selamanya indah.


Kania merogoh ponsel di saku rok panjangnya. Melihat pesan terakhir Radit yang bahkan sama sekali tidak dibalas. Ia bimbang. Entah rangkaian kata seperti apa lagi yang perlu dipersembahkan pada lelaki itu. Terlebih perasaannya pun belum bisa menerima keadaan.


"Aku harus ikhlas. Jangan sampai masalah sekecil ini jadi beban berat. Kesepakatan ini aku ambil secara sadar. Jadi … aku juga harus paham konsekuensinya," imbuh Kania yang terus saja menyadarkan diri. 


Hanya berselang dua menit seseorang datang. Secepat kilat Kania menghapus  jejak kemalangan. Barangkali ada orang lain juga yang tengah sakit seperti dirinya.


Kania memejamkan mata. Ponsel masih ada di tangan kanan. Suara derap langkah kaki itu kian mendekat ke arahnya, lalu suara Rangga terdengar menyapa telinga.


"Kamu sakit?" tanyanya dengan suara lembut.


Otomatis Kania membuka mata. Menoleh ke samping kanan. Lelaki itu berdiri sambil membawa satu cangkir. Entah apa isinya. 


"Minum teh manis hangatnya. Biar badanmu mendingan," katanya lagi.


Sejak kapan lelaki ini perhatian? Batin Kania terus saja bergelut sendiri.


Rangga menyimpan cangkir di meja kecil. Berdiri tegak di samping Kania seraya berkata, "Sebaiknya kamu pulang lagi kalau sakit. Jangan terlalu dipaksa."


Enak sekali lelaki ini berkata demikian. Tak pahamkah jika dunia kerja itu keras. Di mana bisa saja Kania kehilangan pekerjaan dalam waktu dekat saja. Ah … menyebalkan.


"Ayah juga pasti paham," kata Rangga lagi.


Mendengar Rangga menyebut nama lelaki yang membuatnya terpaksa melakukan keputusan itu terasa ingin muntah. "Aku baik-baik saja. Cuma sakit perut."


Rangga memandangi Kania. Sejak tadi perempuan ini terus saja menghindarinya. Seakan memang tidak ingin bertatap muka atau berbicara. Hanya membahas yang perlu saja.

__ADS_1


"Kamu masih marah?" Rangga terus mengajukan pertanyaan. Kania bergeming.


"Maaf, kalau seperti itu," lanjut lelaki itu lagi.


Kania menghela napas kasar dan berkata, "Nggak ada yang perlu minta maaf. Kita sama-sama dewasa. Santai saja."


Kania bergerak bangun dari tempat tidur. Hendak meraih cangkir teh manis hangat itu, tetapi Rangga lebih peka. Ia mengambilkannya untuk Kania.


"Temanmu nggak bertanya apa pun?" Setelah memberikan teh manis, Rangga mengajukan pertanyaan. "Dia sepertinya penasaran dengan hubungan kita."


Kania menyeruput pelan air manis itu. Hangat sekali ke perut. Lumayan menenangkan. "Memangnya ada hubungan apa kita? Aku rasa biasa saja."


Rangga menelan ludah. Dengan kata lain Kania memang tidak mengakui tentang kesepakatan mereka. "Memang benar, tapi mungkin dia tetap saja penasaran.'


Kania duduk sambil memegang cangkir teh. "Lama-lama juga nanti dia tahu. Mungkin pas kita mau menikah."


Suasana berubah hening. Rangga hanya diam mengamati Kania. Dari sorot mata perempuan itu saja sudah terlihat nyata, ada keterpaksaan yang jelas dan tidak bisa hilang begitu saja.


"Aku rasa Ayah masih bisa dinego. Aku akan coba sekali lagi." Tiba-tiba Rangga berkata demikian.


Kania tertegun. "Untuk apa?"


"Jangan terlalu membohongi diri. Aku bisa paham perasaanmu."


Lagi-lagi Rangga membahas apa yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Sikapnya ini memancing amarah Kania yang memang belum stabil. "Kamu bisa tidak jangan bahas itu lagi?" Intonasi Kania naik satu oktaf.


Rangga terdiam.


"Aku capek. Aku pengen diam dan istirahat. Seharusnya kamu senang karena kamu bisa menikah dengan orang yang kamu cintai!" Kania semakin kesal.


Rangga tidak terima. Ibaratnya, Kania memandang dirinya itu lemah dan selalu berlindung di ketiak sang Ayah. "Aku memang senang, tapi sayangnya kesenanganku ini di bawah penderitaan orang lain. Ini nggak adil namanya!" 


Atmosfer di ruangan tersebut lebih panas dari biasanya. Untung saja tidak ada orang. Mereka bisa bebas berdebat sampai kapan pun. 


Rangga menatap penuh cinta yang bercampur kesal. Wajah Kania itu manis, tetapi sayangnya wanita itu selalu saja tidak ingin mendengarkan arahan dari orang lain. Entah ini hanya terjadi pada mereka atau pada semua orang yang ditemui Kania.


"Aku mau menikahimu. Aku mau menjagamu, tapi bukan dengan cara pemaksaan seperti ini. Sama saja aku merampas kamu seenaknya. Pernikahan itu harus dilandasi kata ikhlas. Kalau tidak, untuk apa bersama?" Rangga terus berceloteh.


Rupanya di sini yang belum bisa beranjak dewasa itu Kania. Ia merasakan tamparan keras dari kalimat Rangga kali ini.


"Kalau memang kamu mau meneruskan rencana ini. Belajarlah lebih ikhlas. Belajar menerima keadaan. Berdamai dengan diri. Aku nggak masalah kalau kamu belum bisa cinta, tapi setidaknya buatlah dirimu lebih nyaman," pinta Rangga dari hati yang paling dalam. 


Sakit rasanya melihat Kania memperlihatkan perasaan keterpaksaannya dengan jelas. Seakan ia berubah menjadi penjahat dalam kurun waktu sekejap saja. Miris sekali.


Perlahan Kania luluh. Ia menyadari egonya terlalu tinggi, sampai sulit menerima masukan dari Rangga. Lelaki itu benar jika ia memang belum bisa berdamai dengan keadaan. Barangkali rasa cinta pada Radit yang menyebabkan dirinya berekspektasi tinggi pada kehidupan.


"Aku minta maaf." Kania mulai luluh. Suaranya pun kembali lembut.


Rangga bergeming. Memang lelah menghadapi Kania. Satu perempuan saja bisa membuatnya gila, apalagi jika dirinya berada di posisi Heri yang memiliki banyak wanita. Sudah dipastikan besok ia tak lagi menjadi penduduk dunia. Gila pastinya.


"Aku harus belajar ikhlas mulai sekarang," kata Kania sambil menunduk, malu.


Rangga mengukir senyum, bahagia. Sekeras apa pun batu, tetap saja akan luluh jika terpercik air selama bertahun-tahun. Begitu pun dengan manusia. Asalkan kita sabar, sudah pasti akan ada hasil akhir yang bahagia.


"Maaf karena kamu pasti merasa terpojokkan. Jujur, aku bingung sekarang." Seperdetik kemudian air mata Kania jatuh lagi. Pipi yang baru saja kering itu kembali basah.


Rangga merasa bersalah. Tangannya menjulur ke depan hendak menghapus jejak kemalangan itu, tetapi ditariknya kembali karena tahu posisi mereka seperti apa sekarang. "Jangan menangis, aku mohon."


Kania diam.


Rangga mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna putih dari saku celananya. Memberikan pada Kania seraya berkata, "Hari ini mungkin sapu tangan yang bisa mengusap air matamu, tapi nanti setelah kita sah. Aku pastikan tanganku sendiri yang melakukannya."

__ADS_1


Pandangan mereka saling bertemu. Menatap mata lawan satu sama lain dan mengikat kedua bola mata lawan bicara dengan kencang. 


"Jangan menangis. Aku nggak bisa berbuat apa pun sekarang," pinta Rangga sekali lagi.


__ADS_2