
Kania dan Rangga sampai di tempat bekerja seperti biasa. Pasangan itu tetap melakukan hal yang sama dengan karyawan lainnya. Bekerja seprofesional mungkin.
Waktu berjalan tanpa terasa. Rangga segera pergi ke mushola ketika panggilan azan itu terdengar. Kania dan Desi mengantar, berjalan berdua di antara tatapan orang lain pada mereka.
"Nia, kamu nggak ngerasa aneh, ya?" Desi merasakan kejanggalan ketika berjalan seakan semua pandangan orang itu tidak lepas dari mereka. "Sebenarnya mereka itu ngapain, sih, liatin kamu?"
Kania sendiri diam. Sudah pasti perkataan Ranggalah yang menjadi pemicu paling utama. Namun, ia tetap tidak ingin memikirkan terlalu dalam. "Udah, biarin aja. Kita mau sholat, kan?' Bagi Kania ini tak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan Rangga dalam membelanya di hadapan orang banyak tadi.
Mereka pun sampai. Kania shalat, sedangkan Desi hanya duduk menunggu. Tidak berapa lama Rangga keluar tergesa-gesa. Munculah rasa curiga dalam diri, mau ke mana lelaki itu?
__ADS_1
"Dia kayaknya punya kepentingan mendesak," gumam Desi yang mencoba untuk tidak ikut campur akan masalah orang lain.
Kania pun keluar. "Ayo, makan." Memakai sepatu lagi dan mengajak Desi. Siang ini Rangga mengatakan ada kepentingan yang tidak bisa ditinggal, sehingga menyarakan istrinya untuk makan tanpa perlu menunggu. Kania bebas makan dengan siapa pun selama tidak melampaui batas.
Sepanjang jalan menuju kantin, sekali pun Desi terus mengoceh tentang pendapat perempuan itu perihal pernikahan Kania dengan Rangga. Justru Kania lebih terlihat melamun. Memikirkan lagi perkataan suaminya tadi pagi, di mana sorot mata Rangga seolah mengisyaratkan isi hati lelaki itu.
"Jadi, sebenarnya kamu sama Rangga itu menikah karena apa, sih? Aku pengen banget tau." Desi akhirnya berada di fase bertanya. Menoleh ke samping kanan, menjumpai temannya berjalan dengan pandangan kosong. Pasti ada sesuatu yang terjadi. "Nia."
"Kania!" Desi menaikan satu oktaf nada bicaranya, sehingga kali ini berhasil membuat teman perempuannya itu menoleh. "Kamu dengerin aku nggak dari tadi?"
__ADS_1
Jelas saja tidak. Kania lebih fokus pada pemikiran sendiri.
Desi berhenti, otomatis Kania pun berhenti. "Kamu sebenarnya punya masalah, kan? Yang mungkin nggak mau cerita ke orang lain. Ini bisa juga berhubungan sama pernikahan kalian." Desi merasa itu ada hubungannya.
Kania terkejut. Desi selalu saja bisa menebak. Akan tetapi, tentunya ia perlu menutupi sebaik mungkin. "Ah, nggak." Perempuan itu membantah. "Maaf, aku tadi ngelamun soalnya keingatan Mas Rangga."
Desi melongo. Panggilan Kania pada Rangga sudah berbeda, membuat iri saja. "Mas Rangga?" Ia mengulang kalimat Kania. "Kamu panggil Rangga dengan itu?"
Kania mengangguk cepat. "Iya, memangnya kenapa? Ada yang aneh?" Rasanya memang sedikit aneh, tetapi ini juga permintaan Rangga. "Aku juga awalnya agak canggung, tapi mau gimana lagi? Dia sekarang suamiku." Kania merangkul lagi lengan kanan Desi. Mengajaknya berjalan. "Setidaknya aku harus hormat dan patuh ke Mas Rangga sekarang. Ya, walaupun sebenarnya ...." Kania sukar meneruskan.
__ADS_1
Desi diam sambil mengamati wajah Kania. Ada sebersit perasaan kasihan, karena ia sendiri tahu bagaimana rasa cinta Kania pada Radit. "Kamu nggak bisa lupain Radit, ya? Atau jangan-jangan pernikahan ini cuma pelampiasan semata?"
Kania tertegun. Benarkah itu? Bukankah ini keputusan bulat yang ia lakukan sendiri dengan berbagai pertimbangan. "Aku lapar. Jangan bahas dulu apa pun, ya." Ia terus berjalan cepat sembari memegang lengan Desi. Tidak seharusnya terus menerus larut dalam keputusan yang sudah dibuat. Hidup bukanlah tentang kemanisan semata, tentu saja akan selalu ada kepahitan yang menyertai.