
Gendis salah tingkah. Ia menunduk, malu. "Pak Radit mau ke mana lagi setelah ini?" Alih-alih menjawab, Gendis justru mengalihkan topik pembicaraan.
Radit tidak ingin memaksa. Itu hak Gendis untuk menutupi.
"Saya mungkin mau keluar sebentar," jawab Radit cepat.
"Ah, iya." Gendis kembali makan. Mereka lebih dekat karena kejadian ini.
Makan selesai. Radit berterimakasih pada Gendis dan berjanji akan mentraktir perempuan itu ke depannya.
Keduanya berdiri di depan kedai.
Gendis tersenyum manis dan berkata, "Daripada ditraktir, apa saya boleh minta yang lain, Pak?"
Kening Radit mengerut kencang. "Apa?"
Gendis menelan ludah cepat. Rasanya ragu, tetapi juga ada desakan kuat dalam diri. Sekali saja, tak masalah sepertinya.
"Saya punya tempat yang ingin didatangi, tapi kalau sendirian rasanya beda," jawab Gendis.
Radit diam sejenak. Menimbang permintaan Gendis lebih dalam dan berkata, "Ke mana? Apa tempat itu jauh dari sini?"
Kepala Gendis seketika menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Sekitar lima belas menit saja dari sini."
Radit berpikir lagi, lalu memutuskan. "Boleh."
Wajah Gendis dipenuhi senyuman paling manis. "Terima kasih sebelumnya, Pak."
"Sama-sama. Ayo, pakai mobil saya."
Gendis mengangguk. Keduanya berjalan ke arah gedung apartemen. Gendis dan Radit berjanji akan bertemu lagi di parkiran setelah memastikan diri siap. Sebab, mereka hanya memakai baju rumahan saja.
Radit mengecek ponsel sebelum turun lagi ke bawah. Hari ini belum ada satu pun pesan dari Kania. Entah pergi ke mana perempuan itu? Padahal ia menunggu sejak pagi hari.
"Mungkin dia jalan-jalan," pikir Radit berusaha berbaik sangka.
Radit duduk di tepi ranjang. Memandangi poto Kania yang ia pakai menjadi walpaper di layar ponselnya. Momen pertama kali teman perempuannya itu mengenakan hijab.
__ADS_1
"Aku mungkin bukan lelaki soleh. Aku juga belum bisa menjaga diri dengan baik, tapi aku harap Allah menyatukan kita, Na. Jujur, rasa ini menyiksa. Setelah pulang nanti, aku janji bakal lamar kamu," gumam Radit pelan.
Rasa cinta itu tumbuh semakin menyiksa diri bersamaan dengan rindu yang kian menggunung. Hanya bisa mengirim pesan saja rasanya tidak puas jika tak melihat lansung. Jelas rasanya akan berbeda.
Radit sadar. Ada Gendis yang mungkin sudah menunggunya di bawah. Oleh karena itu, ia sesegera mungkin menyimpan benda canggih itu ke dalam saku jaket berbahan denim dan segera pergi dari kamar apartement-nya.
Benar saja. Begitu Radit turun ke lantai bawah dan berjalan ke parkiran, perempuan yang kini memakai dress merah panjang selutut dengan lengan seperempat itu berdiri di depan mobilnya.
Sempat terpana dengan penampilan Gendis, Radit segera tersadar. Ia salah memuji keindahan wanita seperti itu karena selama ini ia hanya memandangi lekat Kania lewat ponsel saja.
"Maaf, saya lama," kata Radit begitu berdiri di depan Gendis.
Penampilan Radit yang berbalut kaos rumahan dengan jaket serta celana Levis panjang membuat Gendis tercengang. Lelaki itu lebih mengeluarkan aura tampannya.
"Nggak pa-pa, Pak," jawab Gendis.
Tak berapa lama seseorang pun menghampiri mereka. "Ah, maaf, aku terlambat."
Radit menoleh ke belakang. Mengerutkan kening dan berkata, "Maaf, Anda siapa?"
Gendis langsung menyambar. "Maaf, Pak, saya rasanya Bapak seperti risih kalau cuma jalan berdua. Ini keponakan saya namanya Alina. Dia tinggal di sini sekarang."
Radit sejenak diam. Ternyata Gendis begitu peka akan kebiasannya yang tidak ingin berduaan saja. Setidajnya ada orang lain selain mereka saja. "Ah, iya, selamat siang. Saya Radit, atasannya Gendis."
Alina tersenyum manis. Sama persis dengan Gendis, mungkin karena masih terikat keluarga. "Pak Radit ternyata masih muda dan tampan. Pantas saja Tante suka."
Radit terkejut.
Gendis langsung mendekati Alina. Membungkam mulut anak gadis itu dan berbisik, "Kamu jangan banyak bicara, Sayang."
Radit menyaksikan itu.
Alina melepaskan tangan Gendis. "Iya, maaf, Tante."
"Maaf, Pak, kadang Alina ini banyak bercanda." Gendis sebenarnya malu, tetapi berusaha untuk tetap tenang.
Radit sendiri tak ingin memikirkan hal sepele. Ucapan itu bisa saja spontan atau memang benar. Tak masalah baginya selama Gendis bersikap wajar. Pada dasarnya ia memang tidak bisa mengontrol perasaan manusia lainnya.
__ADS_1
"Ayo, kita berangkat. Takutnya hujan. Kadang kalau sore suka hujan," ajak Gendis memecah suasana yang canggung.
Alina melirik Gendis. Tantenya ini selalu saja demikian.
"Sebaiknya begitu. Ayo, naik." Radit juga setuju.
Ketiganya pun berjalan ke arah mobil. Radit berada di jok depan, sedangkan Gendis dan Alina sendiri memilih duduk berdampingan di jok belakang.
"Tan, jangan potong uang sakuku, ya," bisik Alina takut juga.
Mobil baru saja berjalan. Gendis menghela napas sambil berkata pelan, "Kita lihat saja nanti."
Alina berdecak kesal. "Aku, kan, nggak sengaja." Ia memaki diri termasuk mulutnya dalam hati. Selalu saja ada kejadian seperti ini. "Iya, deh, aku salah." Alina duduk tenang di tempatnya, menatap keluar lewat jendela samping.
Bisik-bisik itu terdengar Radit. Akan tetapi, ia memilih tetap diam dan berpura-pura tidak tahu. Urusan orang lain itu bukan tanggung jawabnya. Bukan pula menjadi hal yang seharusnya ia ketahui. Itulah rahasia Radit tetap hidup tenang selama ini.
Gendis diam. Sesekali mencuri pandang pada Radit. Kedatangan lelaki itu beberapa hari ke belakang bisa dikatakan membuatnya gila. Kenangan indah itu berputar lagi di otak, rasanya sesuatu hidup kembali. Padahal ia dengan sadar mengakui jika Radit adalah orang lain.
"Nanti tolong tunjukan jalannya, ya. Saya belum hapal," ujar Radit pada Gendis.
"Iya, Mas." Tanpa sadar Gendis menjawab seperti itu.
Radit mengerutkan kening, sedangkan Alina langsung mencubit lengan kanan tantenya sambil berbisik, "Tan, sadar."
Gendis seketika tertarik ke dunia nyata lagi setelah berkelana ke alam bawah sadar. "Astaga, maaf, Pak Radit."
Di sini Radit merasa semakin ada yang tidak beres dengan Gendis. Ia penasaran, tetapi bukan waktunya untuk bertanya lebih dalam.
"Jadi, ke mana kita mau pergi?" tanya Radit sambil menyetir. Menyisihkan sebentar rasa penasaran dalam diri.
"Oh, ya. Kita pergi ke kanan, Pak. Nanti ada danau yang indah," jawab Gendis.
"Danau?" Radit mengulang lagi kata itu.
"Iya, Pak. Danau manis," jelas Gendis.
Sebentar Radit diam. Entah ada apa di tempat itu. Mungkin sebuah kenangan manis terukir di sana bagi Gendis. Maka dari itu, wanita tersebut memintanya ke sana. "Baiklah. Tolong, kasih tau saya jalannya. Pandu."
__ADS_1
"Siap, Pak." Gendis bersemangat.
Alina hanya bisa memandangi tantenya tersebut. Menyunggingkan senyum tipis. Antusias Gendis memberikan kebahagiaan untuknya. Berharap ini terus berlangsung dan tak lagi hilang.