Dua Lelaki

Dua Lelaki
Bertemu Rangga


__ADS_3

Desi bergabung dengan mereka. Pergi bersama ke sebuah mall yang sudah ditentukan. Niat mereka tentunya untuk menghabiskan waktu bersama.


"Kak, kita mau makan dulu apa nonton dulu?" tanya Adit pada Radit yang mengajak mereka ke sini.


Saat ini keempatnya sudah berada di mall tujuan. Tepatnya di lantai bawah.


"Mau nonton atau makan dulu, nggak masalah. Terserah kalian aja," jawab Radit.


Desi dan Kania berada di belakang sambil berpegangan tangan. Saling berbisik satu sama lain.


"Nia, kapan Radit pulang?" tanya Desi seraya berbisik pelan.


Kania ikut memelankan suaranya. "Kemarin malam, katanya."


"Kamu nggak dikasih tau?"


Kania menggeleng cepat. "Nggak. Aku taunya pas tadi pagi aja. Dia ke siram air."


Desi terkejut. Tertawa kencang, sehingga Radit dan Adit menoleh sekilas.


"Udah ada Kak Desi mah satu frekuensi sama Kak Kania. ketawa terus," kata Adit menyindir.


Desi bukannya kesal, tetapi justru meneruskan tawa. Radit sendiri mendengar sayup-sayup pembicaraan keduanya. Akan tetapi, lelaki itu memilih diam dan terus saja berjalan.


"Seriusan dia ke siram?" Desi seolah tidak percaya.


"Serius. Kalau nggak percaya, kamu bisa tanya Adit. Saksinya," jawab Kania.


Desi mengangguk mengerti. Melihat punggung Radit dari belakang.


Mereka naik ke lantai empat. Di mana bioskop itu berada. Sampai di sana rupanya film tujuan akan diputar sekitar dua jam lagi. Cukup lama untuk sekadar menunggu sambil makan.


Radit memesan empat tiket. Kania membayar untuk dua tiket, tetapi lelaki itu menolak. Jabatannya lebih tinggi dari Kania sekarang, jelas gajinya pun akan lebih banyak. Oleh sebab itu, Radit berniat mentraktir mereka.


"Anggap aja ini hadiah pertemuan lagi," kata Radit.


Kania terkekeh geli. "Emangnya kita habis LDR-an lama? Padahal cuma dua Minggu aja."


Adit dan Desi diam. Mereka memilih membungkam mulut ketika Kania dan Radit saling berbicara. Biarkan saja dua orang itu terlibat banyak percakapan.

__ADS_1


"Kan, kita juga LDR, Nia." Radit selalu menjelaskan.


Beberapa pasang mata mengarah pada mereka. Menyangka keduanya memang sepasang suami istri atau hanya pasangan yang sedang terlibat perdebatan.


"Ya, deh. Aku nggak mau ribut," kata Kania mencoba mengalah.


Mereka memutuskan untuk turun ke lantai tiga. Namun, baru saja akan pergi Desi tidak sengaja berpapasan dengan Rangga. Badannya terkena tubuh Rangga.


"Loh, Rangga," imbuh Desi.


Kania, Radit, dan Adit pun ikut serta berhenti.


Rangga terkejut bukan main, begitu pun mereka sebaliknya. Yang tidak hanya Radit saja.


"Kalian di sini?' tanya Rangga pada Desi dan Kania.


Radit mengamati Rangga. Mendengar nama itu saja mengingatkan ia pada seseorang. Sosok yang diceritakan Kania tadi pagi. Mungkinkah ini?


"Iya. Kita lagi mau nonton," jawab Desi santai. Perempuan itu menoleh pada Kania. "Bener kan, Nia?"


Kania mengangguk pelan. Kedua bola mata itu mengamati Rangga. Kejadian kemarin masih saja belum bisa lupa. Bahkan pakaian dari Rangga masih berada di mesin cuci, belum sempat dibersihkan.


"Ah, ini, Kak Rangga yang kemarin nganterin Kak Kania ke rumah, ya?" Adit ingat sesuatu.


Rangga dengan ramah menjawab. "Iya, Dek." Melihat postur tubuh Adit yang memang kecil dan paling muda di antara mereka. Jelas Rangga menganggap Adik. "Kamu adiknya Kani, kan?"


"Bener banget, Kak." Adit membenarkan.


Kania mengawasi dengan matanya. Bisa saja Adit berucap di luar dugaan. Selalu begitu anak lelaki tersebut.


"Oh, ya, kamu mau nonton juga?" Desi kembali memulai bertanya. "Kalau, ya, cerita yang ini katanya mulai dua jam lagi." Tak lupa ia memperlihatkan tiket yang bergambar sebuah film.


Rangga mengangguk pelan. "Ya. Aku mau nonton itu. Katanya lagi booming." Ia mengetahui hal ini dari internet. Daripada pulang ke rumah, memang sebaiknya mencari kegiatan lain di luar saja. Itu pikiran Rangga.


"Kakak, gabung sama kita aja," ajak Adit yang memang humble pada siapa pun.


Hanya Radit di sini yang cukup diam. Ia terus menelisik Rangga dari ujung rambut sampai kaki. Memang mirip dengan Pak Gani, tetapi ia baru melihatnya. Entah benar lelaki yang berdiri di depannya itu anak Pak Gani? Sebaiknya singkarkan dulu pemikiran demikian. Sama saja dengan berprasangka buruk pada orang lain.


"Bener itu. Daripada kamu nggak ada teman," tambah Desi.

__ADS_1


Kania serba salah. Ingin mengajak juga, tetapi takut Radit berpikiran aneh-aneh. Namun, jika tidak, Rangga juga teman atau pathner kerjanya.


"Takut mengganggu," jawab Rangga yang peka melihat sikap Radit hanya diam terpaku.


"Tenang aja. Kita biasa," ucap Adit.


Setelah melewati beberapa kali perdebatan akhirnya Rangga pun memutuskan untuk bersama mereka.


"Kita mau makan sushi. Kak Rangga, nggak masalah?" Di sini Adit seakan sudah kenal lama dengan Rangga. Tentu saja hal ini membuat lelaki itu merasa nyaman dan terasa berada di lingkungan keluarga.


"Kakak apa saja, Dek," jawab Rangga.


Kania tidak heran melihat lawan bicara Adit santai. Sebab, dari pertama bertemu dengan Rangga. Ia merasakan banyak kesepian yang timbul dari sorot mata lelaki tersebut.


"Ok, berangkat!" Adit menggandenga tangan Radit. Jelas saja ia tidak akan menjadi kacang yang lupa kulitnya. Lupa akan siapa yang mengajak ke sini.


Radit biasa saja. Sikap Adit ini sudah biasa.


"Ni Bocah satu!" geram Kania sedikit pelan.


Rangga yang tak jauh dari dirinya pun tersenyum simpul. Ekspresi kesal Kania menggemaskan. Bahkan perempuan itu terlihat lebih anggun dari biasanya. Cantik sekali.


Kania lebih dulu berjalan menyusul Radit dan Adit. Mengomel di belakang kedua lelaki itu yang ditujukan untuk adiknya.


Kedua bola mata Rangga mengikuti dengan cepat. Pandangannya pun penuh dengan arti.


Desi bisa merasakan dan peka. Wanita manis itu tersenyum kecil dan berkata, "Kalau suka, jangan dipendam."


Sontak Rangga terkejut dan mengarahkan pandangan pada Desi.


"Jangan suka diam saja kalau memang menyukai seseorang. Minimal ungkapkan dengan cara temui orang tuanya," sambung Desi.


Rangga mengerutkan kening. "Maksudnya?" Sedikit kurang mengerti.


Desi menghela napas kasar. Rupanya Rangga juga tipe lelaki yang kurang paham atau bahkan kurang peka akan keadaan perempuan. "Begini, ya." Desi mulai menjelaskan dengan baik.


Ketiga orang temannya sudah jauh di depan, tetapi mereka masih asyik saja berbicara.


Kania menoleh sebentar. Menangkap langsung keduanya yang sama sekali tidak ada pergerakan dari tempat berdiri. Rasa penasaran pun menerkam diri. Ingin tahu apa yang tengah kedua temannya ini lakukan.

__ADS_1


Berbeda dengan yang lain, Radit sendiri lebih penasaran tentang Rangga. Tergerak dalam hati ingin tahu. Mencari informasi sebanyak mungkin dari sumber terpercaya. Semoga saja bisa.


"Jangan sampai keduluan Kak Rangga," bisik Adit pada Radit ketika keduanya berjalan bersama.


__ADS_2