
"Kak, beliin voucher game, ya." Adit terus saja merengek di mobil.
"Yang lima puluh ribu aja."
Kania masih diam. Otaknya belum bisa terlepas dari sikap Rangga di kantor hari ini.
Adit menoleh ke samping. Mengamati wajah kakaknya yang berbeda dari biasa. "Kakak, sakit?"
Kali ini Kania melirik sekilas pada Adit. Kembali fokus menyetir karena masih lumayan perjalanan. "Nggak. Memangnya kenapa?"
"Aku ngajak ngomong dari tadi, tapi diam saja!" Adit mendengus kesal. "Ada yang lagi dipikirin? Kak Radit, ya?"
Kania menggelengkan kepala cepat. "Jangan sembarangan ngomong deh, Dek. Kamu memangnya ngomong apa tadi?"
Adit tak percaya. Namun, berusaha untuk tetap menghargai. "Beliin voucher game."
"Oh. Ya, nanti." Kania langsung menyetujui tanpa mengajak Adit berdebat. Wajar saja jika reaksi ini menarik rasa penasaran adik kandungnya.
"Tumben cepet." Adit tak ingin memperpanjang masalah ini. Memilih bermain ponsel dan menyelesaikan misi di game.
Enam menit berlalu akhirnya mereka sampai di mall. Kania dan Adit saling diam sambil bergerak ke arah gedung tinggi berlantai tiga tersebut. Suasana salah satu perbelanjaan terbesar di kota ini tersebut sangat ramai di malam hari.
Beberapa detik kemudian pesan dari Rangga masuk. Lelaki itu memberi kabar jika sudah ada di lantai dua seraya menyebutkan nama toko.
Kania paham. Sesegera mungkin naik ke lantai dua dan bertemu Rangga di sana.
"Assalamualaikum," kata Kania.
Rangga menyambut kedatangan calon istrinya dengan penuh senyum. "Wa'alaikum salam." Melirik pada Adit yang membalas senyumannya.
"Maaf, lama." Kania tersenyum kecil. Tak mungkin bersikap jutek saat banyak orang. "Mas, sudah lama?"
Adit membulatkan kedua bola mata. Panggilan kakaknya ke Rangga cukup mengejutkan.
"Nggak. Aku baru sampai." Rangga menjawab dengan cepat.
__ADS_1
Di depan toko perhiasaan inilah mereka berada. Ketiganya pun langsung masuk. Kania dan Adit dibuat kagum dengan beragam koleksi dari toko tersebut. Semaunya terlihat mewah dan pastinya setara dengan harganya pun.
"Kamu bisa bebas pilih cincin yang dimau. Jangan sungkan," imbuh Rangga.
Pernikahan ini sakral. Tentu dirinya akan mempersiapkan sebaik mungkin, termasuk perihal cincin dan hal lainnya.
Kania melihat berbagai bentuk cincin di etalase dengan dibantu seorang karyawan perempuan, sedangkan Adit dan Rangga sendiri memilih berdiri menunggu.
Adit mencuri pandang ke arah Rangga yang tampaknya sama murung seperti sang Kakak.
"Kak Rangga lagi berantem, ya?" Tiba-tiba anak remaja itu bertanya. Penasaran juga. "Kak Kania juga dari tadi diam aja."
Rangga sontak terkejut.
"Nggak baik lho mau menikah, tapi malah berantem. Kalau memang nggak cocok dari awal, akhiri aja." Adit terus berceloteh.
Rangga langsung menepis dugaan Adit tersebut dengan satu kalimat saja. "Kami cuma lagi lelah aja. Pekerjaan dan persiapan pernikahan itu nggak mudah. Kamu bakal paham setelah dewasa nanti."
Adit memang belum bisa terlalu dekat dengan Rangga. Selain karena mereka belum terlalu lama kenal, mereka pun kurang bertemu satu sama lain.
Rangga langsung menoleh ke samping. Menatap Adit lekat. "Kamu lebih banyak belajar, ya. Kalau punya cita-cita dikejar sekuat mungkin. Jangan lepaskan karena permintaan orang lain."
Adit memaknai kalimat tersebut bukan sekadar nasihat saja, tetapi mengandung sebuah pengalaman menyakitkan. Sepertinya begitu.
Kania sudah selesai memilih cincin. "Aku yang ini aja, Mas. Sederhana." Sebuah cincin yang memang memiliki desain yang sederhana dengan hanya satu mata berlian saja. "Ini lebih elegant daripada yang lain."
Biasanya para perempuan akan senang memilih perhiasan yang mewah dengan harga fantastis. Terlebih yang mengajaknya adalah seorang anak dari direktur utama. Aji mumpung. Namun, berbeda untuk Kania. Wanita manis itu lebih suka kesederhanaan.
"Kamu yakin?" Rangga bertanya untuk memastikan. "Nggak mau pilih yang lebih cantik?"
Kania tetap pada pendirian. Hal ini sama dengan keputusan perempuan itu yang tidak bisa diganggu gugat. Benar-benar definisi anak perempuan pertama yang selalu teguh pada pendirian.
"Baiklah. Mbak, saya pesan cincin ini yang sama. Untuk pernikahan," kata Rangga.
"Baik, Pak. Sebentar kami persiapkan." Seorang karyawan perempuan itu segera memproses pemesanan Rangga.
__ADS_1
Ujung netra kanan Kania tak sengaja melihat kalung yang sama dengan miliknya. Adit pun ternyata menyadari.
"Kalungnya sama dengan pemberian Kak Radit, ya, Kak?" Suara Adit kencang dengan telunjuk kanan mengarah ke etalase.
Kania menelan ludah, sedangkan Rangga langsung mengikuti arah tangan Adit.
"Bisa jadi Kak Radit juga beli di sini," tambah Adit.
Kania diam. Membahas ini di depan Rangga memang tidak salah, tetapi rasanya kurang sopan saja. Mengingat Rangga dan Radit ini seolah bersaing saat lamaran kemarin.
"Dia kasih kakakmu itu?" Rangga menanggapi dengan tenang. Padahal hatinya sedikit terusik cemburu. "Kalung di sini biasanya memiliki jumlah yang terbatas. Yang artinya cuma beberapa orang yang pakai. Seperti cincin tadi, paling cuma sekitar lima orang saja yang punya karena stoknya memang tidak pernah banyak."
Kania memahami sekarang mengapa Radit memintanya menjaga kalung itu dengan baik.
"Selain di sini, mereka juga buka cabang di beberapa mall juga." Rangga seolah sedang mempromosikan toko yang sudah menjadi langganannya. "Toko ini adalah toko utama yang memang sudah menjadi langganan keluarga kami termasuk Ibu."
Di kalimat ini Kania merasakan aura kesedihan saat Rangga mengatakan kata 'Ibu' ada yang lelaki itu sembunyikan.
"Wah, keluarga Kakak berarti orang kaya, ya?" Justru Adit yang terpukau, bukan Kania yang hakikinya akan menikahi Rangga. "Kan, harganya lumayan mahal."
Rangga tersenyum kecil. "Alhamdulillah, Allah titipkan rezeki berbentuk harta yang lumayan banyak ke kami, tapi itu semata-mata nggak membuat kakak harus sombong."
Adit mengacungi jempol. Dibanding dengan Kania, Rangga lebih banyak berbicara bersama Adit. Bahkan ketika sudah keluar toko dan makan di lantai empat.
"Kalau sudah menikah nanti, Kak Kania bakal dibawa ke rumah Kak Rangga, ya?" tanya Adit masih saja belum puas membahas.
Kania menatap Adit tajam. Ia dan Rangga saja belum membahas sampai jauh ke sana.
"Tergantung kakakmu." Rangga tak ingin memaksa. "Sejatinya orang yang sudah menikah sudah harusnya berpisah dari kedua orang tua untuk menghindari perbedaan. Kakak sendiri sudah siap rumah."
"Seriusan, Kak?" Adit semakin takjub. Selain badan Rangga yang tinggi tegak dengan kedewasaan, rupanya lelaki itu memiliki pemikiran yang cukup matang.
Rangga membenarkan. "Iya. Kalau kakakmu bersedia tinggal jauh dari orang tuanya. Kakak, boyong ke rumah yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan."
Kania tersedak. Ini seperti sindiran dan juga tantangan. "Memangnya Mas pikir aku nggak bersedia? Ayo, kita tinggal terpisah dari kedua orang tua. Jangan sampai Ayah Mas ikut campur juga!"
__ADS_1