Dua Lelaki

Dua Lelaki
Adit merajuk


__ADS_3

Keesokan harinya Kania terbangun tepat pukul setengah empat pagi. Melakukan salat Tahajud seperti biasa. Mengadu pada Tuhan atas segala keresahan yang tengah melandanya.


Di hamparan sajadah perempuan dengan mukena berwarna putih polos itu pun mengangkat kedua tangan sambil bercerita. Meluapkan apa pun yang mengganjal dalam pikirannya. Sebab, sebaik-baik tempat mengadu adalah Yang Maha Kuasa.


Sambil menunggu waktu Subuh datang, Kania memilih menguntai kalimat dzikir. Memberikan ketenangan pada jiwa yang tengah kesakitan secara perasaan.


Subuh pun hadir. Suara azan berkumandang. Kania salat dan seterusnya keluar kamar. Menuju dapur. Di sana Bu Lala sedang memasak untuk sarapan sambil menunggu Pak Kemal dan Adit pulang dari masjid.


"Bun, Ayah sama Adit belum pulang, ya?" Kania berjalan mendekati bundanya. Mensejajarkan posisi. Menoleh ke arah wajan. "Weekend sarapan apa, Bun?" 


"Mereka biasanya diajak ngobrol dulu sama pak RT. Biasa nasi goreng seafod aja. Kesukaan semuanya," jawab Bu Lala.


Harum semerbak dari kecap juga bumbu nasi goreng menggoda lidah. Ingin rasanya Kania mencicipi sedikit saja. "Wanginya enak banget. Bunda, emang paling jago kalau soal masak." Pujian itu setiap hari keluar dari mulut Kania tatkala bundanya memasak apa pun.


Bu Lala menoleh, tersenyum manis. "Kamu dari kecil itu rajin banget muji Bunda kalau lagi masak. Kenapa nggak mau belajar lebih banyak?"


Kania tertawa kecil. Benar juga. "Aku suka lupa terus. Habis itu Bunda juga kadang malah ngusir kalau aku ke dapur."


"Habisnya kamu masak telur ceplok aja, dapur bisa berantakan. Bunda nggak bisa bayangin kalau kamu masak lebih rumit. Bisa-bisa dapur ini seperti kapal pecah."


Tawa Kania terus terdengar. Percakapan seperti ini memang sangat ringan dan bisa membangkitkan tali kekeluargaan di antara mereka.


"Coba deh sesekali kamu masak yang lain. Jangan telur ceplok aja. Nanti kalau udah menikah, suamimu dikasih makan apa?" Bu Lala mencoba membujuk Kania. 


Perempuan memang punya hak untuk tidak memasak dan membeli makanan di luar. Namun, jika sudah berumah tangga alangkah baiknya mencoba memasak agar bisa dinikmati bersama suami. Sungguh … pemandangan yang pasti sangat menyenangkan.


Bu Lala memberikan cutil pada Kania seraya berkata, "Mulai dari sekarang. Coba kamu selesaikan ini. Gampang, kok, aduk-aduk saja sampai harum dan merata. Bumbunya udah Bunda kasih."


Kania ragu. Akan tetapi, penasaran juga. Ingin mencoba lebih dalam ketrampilan satu ini. "Ok, Bun. Aku coba, ya."


Kerjaan itu diberikan pada Kania. Bu Lala sendiri memilih menyiapkan menu pendamping lainnya seperti telur ceplok, krupuk udang dan acar. Semuanya harus siap sebelum waktunya sarapan.


"Oh, ya, Nia. Kemarin, kan, kamu lupa belanja sayur. Kalau hari ini, gimana? Bunda ada kajian sama ibu-ibu komplek," tanya Bu Lala yang tengah menyusun piring di meja makan.


Nasi goreng jadi. Kania membawanya di atas wadah besar ke dekat meja makan. "Boleh, Bun. Sekalian aku mau ke panti asuhan juga. Udah lama."


Bu lala paham. Sejak kecil Kania sudah terlihat sifat ingin berbaginya. Bukan hanya pada Radit saja.


"Ya udah, sekalian aja belikan mereka makanan yang banyak. Pakai uang Bunda, tambahnya," kata Bu Lala.

__ADS_1


"Siap, Bun." Kania antusias.


Waktu terus berlalu sampai jam dinding berada di angka pukul enam lewat setengah jam. Keluarga Kania berkumpul di meja makan, sekali pun ini weekend


Adit sejak tadi merajuk meminta izin ayahnya untuk bisa ikut pergi ke sebuah acara sekolah


"Semua anak ikut, Yah. Aku juga mau," kata Adit


Pak Kemal sedang bercanda. Kania bisa menebak, tetapi justru ikut berakting.


"Nggak, Nak. Kamu kadang sering pulang sore karena main sama mereka," kata Pak Kemal.


Adit protes. "Tapi, ini kegiatan sekolah, Yah. Aku sama yang lain juga."


Kania menahan tawa. Biarkan saja anak lelaki itu merajuk terus menerus agar tahu rasanya dikerjain. 


"Jangan kasih izin, Yah. Adit kebanyakan main game juga. Kadang susah dimintai tolong sama Bunda juga," kata Kania memprovokasi.


Adit menatap tajam Kania. "Kakak, apaan sih! Bukannya bantuin malah bikin Ayah tambah nggak kasih izin!" 


Bu Lala di sini tidak ikut campur. Mungkin paham bagaimana sikap suaminya. Biarkan saja.


Kania mungkin tahan berakting, tetapi tidak berlaku pada Pak Kemal. Ayah dari dua anak itu melepaskan suara tawa, sehingga adit paham.


"Ayah, ngerjain aku, ya?" tanya Adit.


Pak Kemal mengangguk pelan. "Ya, Nak. Ayah cuma bercanda."


Sekali pun sedikit kesal, tetapi Adit bisa memahami. Sekaligus menyimpulkan jika ayahnya memberikan izin. "Jadi, Ayah kasih izin, kan?"


"Iya. Ayah, mana mungkin larang kalau itu memang kegiatan sekolah. Tapi, ingat pesan Ayah. Jangan bergaul sama anak yang lupa waktu apalagi sampai lupa salat. Ayah, ambil semua fasilitas yang kamu pakai!" Nada bicara Pak Kemal tidak main-main. Adit merinding.


Sebagai Ayah jelas Pak Kemal harus bisa bersikap tegas, tetapi juga memahami perasaan anak-anaknya. Memberikan kebebasan sesuai tingkat umur mereka. Tentu dalam hal yang positif.


"Siap, Yah!" Adit memberi hormat.


"Tadi aja manyun, sekarang kasih hormat." Kania menyindir.


Adit menoleh sinis. "Ih, Kakak, iri, ya? Mentang-mentang nggak bisa main karena Kak Radit lagi jauh. Kasihan."

__ADS_1


Adit meledek Kania. Bu Lala menggelengkan kepala dengan sikap anak lelakinya ini. 


"Ayo, sarapan dulu. Nanti nggak enak," tegur Bu Lala pada kedua anaknya yang sering sekali terlibat perdebatan. Sekali pun begitu, bagi Kania pemandangan ini adalah hal yang bisa membentuk rasa kasih sayang keduanya.


Sarapan selesai. Mengingat ini weekend. Kania memilih membantu bundanya membersihkan rumah dan dapur. Dengan memakai setelan baju tidur berlengan panjang dan celana panjang juga hijab rumahan berwarna hitam tersebut. Kania pergi ke teras untuk menyiram tanaman.


Adit ada di dekat teras tengah bermain game. Mendapati kakaknya keluar, lalu menyalakan kran air samping rumah.


"Kak, katanya Kak Radit pulang, ya?" tanya Adit yang mendengar kabar ini dari bundanya.


Kania mengangguk cepat. "Ya. Katanya, sih."


Adit menghentikan permainan di ponsel. "Loh, katanya. Memang Kakak udah nggak komunikasi lagi?" Rasanya tidak mungkin karena pertemanan dua orang itu sangat erat. "Jangan bilang kalau Kakak ngeblokir kontak Kak Radit?"


Kania sedang memegang selang. Menyiram bunga kesayangan bundanya. Segala jenis bunga, ada. Bahkan warna-warni. Memang indah dipandang mata jika terawat dengan baik.


"Kamu ini kalau ngomong suka sembarangan. Mana mungkin Kakak ngeblokir Radit," jawab Kania cepat.


Adit diam. Entah mengapa mulut anak remaja itu langsung terbungkam. Pastinya ada sesuatu yang terjadi. 


Kania sendiri terus berceloteh. Tak peduli dengan diamnya Adit. "Radit itu spesial buat Kakak. Selain teman masa kecil, dia juga orang yang bisa merubah Kakak yang tadinya pecicilan jadi lebih baik."


Hening. Hanya suara air keluar dari selang. Perlahan Kania bergerak ke arah kanan. Penasaran juga.


"Hei, kamu kenapa diam?" tanya Kania. 


"Kak," kata Adit dengan suara pelan.


"Apaan, sih!" Kania kesal. Berbalik badan dengan selang masih menyala. Tak disangka sosok Radit sudah ada di depannya. Air itu mengenai tubuh lelaki tersebut. Namun, bukannya menghindar Radit justru terdiam membiarkan air itu membasahi wajah dan bajunya.


"Astagfirullah!" Kania kaget. Ia segera menjatuhkan selang di tangannya ke bawah. "Kamu?"


Dua bola mata Radit menatap dalam Kania. Ingin memeluk. Namun, ditahan karena mereka bukanlah keluarga yang seharusnya melakukan itu.


"Maaf, aku nggak tau," kata Kania malu.


Adit menahan tawa. Ia sudah menduga hal ini. Membiarkan kakaknya malu sendiri atas perbuatannya. "Lagian main balik badan aja. Kan, kena orang!" Adit berteriak.


Kania dan Radit saling melempar pandangan. Diam tanpa kata seolah ada banyak rindu dan cerita yang perlu disampaikan.

__ADS_1


"Assalamualaikum. Nia, aku pulang," kata Radit penuh kebahagiaan. Wajah Kania tidak berubah. Masih manis tanpa make up sedikit pun. Cantik alami.


__ADS_2