
Dua hari setelah pernikahan, semua keluarga setuju kedua mempelai itu pindah ke rumah Rangga. Bu Lala dan Pak Kemal mengantarkan anak perempuannya pindah serta memberikan nasihat pada keduanya.
Pindahan selesai. Kini Rangga dan Kania sudah seperti keluarga pada umumnya. Mereka tetap memutuskan menghuni satu kamar bersama, karena pada hakikatnya menikah memang seperti itu.
"Nanti kalau kamu ngerasa nggak nyaman, aku bisa pindah ke kamar tamu."
Masih basah di ingatan Kania perihal perkataan suaminya. Namun, tak tega juga. Sekali pun menikah tidak ikhlas, ia tetap seorang Istri yang harus menjalankan peran.
Hari ketiga pernikahan, tidak ada catatan bulan madu. Yang ada bekerja kembali ke kantor. Keduanya bersiap di pagi hari. Kania membuat sarapan simple, hanya roti tawar yang diberi selai. Rangga sendiri sedang ada di kamar, baru selesai mandi.
Kania menyusul sang Suami ke kamar. Niatnya untuk mengajak sarapan. Akan tetapi, ketika sesampainya di kamar, ia melihat Rangga sedang bercakap lewat telepon dengan seseorang. Dasi di leher lelaki itu bahkan belum terikat sempurna. Dengan cepat Kania mendekat, mereka saling berhadapan dengan tinggi Kania hanya sedada Rangga saja.
Kania memperhatikan Rangga yang terus saja berkata-kata, entah dengan siapa. Yang pasti lelaki itu bisa kesiangan, jika belum siap-siap. Sorot mata Kania fokus pada dua sisi dasi yang belum bertemu. Perlahan kedua tangan terangkat ke atas, mengambil kedua sisi dan mulai mengikat.
Rangga tersentak. Sulit mengeluarkan kata-kata, apalagi saat ini sedang berbicara juga dengan lawannya di telepon. "Saya bicarakan nanti. Assalamualaikum." Rangga langsung menutup telepon. Mengamati betapa lihainya sang Istri tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
Dasi terikat sempurna. Kania mengangkat kepala, menatap lekat Rangga. "Seharusnya Mas minta tolong." Suara wanita itu lembut, layaknya sedang berbicara dengan Radit. "Aku nggak mungkin nolak."
Sekali pun demikian, Rangga tetap segan. Sorot mata Kania tidak pernah berbohong, walaupun gerak tubuh wanita itu memang mengarah padanya. "Aku tadi terima telepon dulu. Makasih."
Kania diam. Teringat Radit yang selalu lupa mengikatkan dasi. "Dulu Radit suka lupa kalau ikat dasi, jadi aku yang selalu mengikatnya sebelum kerja." Tersenyum kecil. Tetap saja sosok tinggi itu tidak terlihat seperti Rangga, tetapi Radit.
Rangga bergeming. Sudah tertebak. Dari kelihaian Kania dalam mengikatnya saja bisa terbaca, jika kemampuan itu tidak datang dalam waktu sekejap mata. "Kalian sedekat itu, ya?" Rasa penasaran menarik Rangga ingin tahu.
Kania mengangguk kecil. "Kami punya kesamaan yang banyak, tapi banyak juga kekurangan yang sama juga. Pokoknya, orang sering bilang kalau kami itu pasangan serasi atau mungkin akan kembar."
Kania paham.
Mereka pun keluar kamar. Sarapan dan langsung berangkat. Mengingat keduanya sudah menikah dan semua karyawan pasti mengetahui. Keduanya pun memutuskan untuk berangkat bersama dengan memakai kendaraan Rangga.
Sesampainya di parkiran kantor. Kania segera keluar, Rangga menyusul. Berjalan bersama ke arah gedung dan langsung disambut oleh banyak tatapan para karyawan.
__ADS_1
"Lihat, deh, cewek itu. Serakah, ya." Satu karyawan perempuan berambut pendek dengan kemeja putih pun menatap Kania. Ada satu temannya juga yang sedang bermain ponsel.
Kania dan Rangga berada di depannya dua langkah, baru saja melewati karyawan tersebut. Kania melangkah lagi, tetapi Rangga berhenti.
"Dia udah dekat sama Radit dulu. Eh, nikahnya malah ngembat anak yang punya perusahaan. Emang harta itu menggiurkan." Lagi-lagi perkataan kurang mengenakan keluar dari karyawan tersebut.
Rangga seketika menarik lengan kanan Kania, sehingga perempuan itu kaget, lalu berada di sampingnya. Rangga menggerakkanbadan, posisi karyawan tersebut ada di di samping kanan. "Jangan pernah berani membicarakan istri saya di belakang!" Dengan tatapan tajam Rangga memberikan peringatan pada karyawan tadi.
Kania terkejut. Perkataan jelek itu terdengar telinga, tetapi tidak ia hiraukan. Sudah biasa.
Rangga menyatukan jari jemari kanan miliknya dengan jari jemari kiri Kania. Sentuhan yang mungkin terjadi karena terpaksa. Mengangkat tangan mereka bersama seraya berkata, "Dia menikah karena saya mencintainya. Dia menikah karena saya memilihnya. Jadi ... kalau sampai saya mendengar lagi perkataan gila seperti itu, jangan harap bisa menginjakkan kaki di tempat ini lagi!"
Kedua karyawan tadi panik. Meminta maaf dengan sangat sopan.
"Kalian adalah orang dewasa yang harusnya paham bagaimana caranya menghargai orang lain! Di dunia ini kita hidup dengan berbagai macam orang, jadi jangan sama ratakan kalian dengan orang lain. Bisa jadi apa yang kalian lihat itu bukanlah hal yang sebenarnya!" Rangga segera pergi menarik Kania. Tidak peduli tanggapan orang tentangnya, ia hanya perlu menutup kuping dan terus berjalan.
__ADS_1