Dua Lelaki

Dua Lelaki
Kotak susu


__ADS_3

Kania tidak bisa tidur sepanjang malam mengingat perkataan Rangga. Ia memang terbangun di tengah malam untuk melaksanakan salat sepertiga malam seperti biasanya. Semoga saja hal di luar kendali tidak terjadi setelah bertemu kembali dengan Radit.


***


Pagi hari pun datang menyapa. Kania sibuk mempersiapkan sarapan, sedangkan tangga sendiri Tengah menikmati olahraga di belakang rumah. sengaja di bagian belakang ada halaman yang terbilang luas untuk dijadikan tempat merenung. ini biasanya dipakai ketika Rangga sedang ingin membuat desain terbaru.


setelah selesai olahraga, Rangga langsung pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Sejenak ia mengintip ke arah dapur dan mendapati sosok harinya Tengah berjibaku dengan pekerjaan rumah. "Sepertinya dia butuh bantuan." kedua bola mata Rangga melihatkannya kesulitan dalam mengambil kotak di kitchen set paling atas. Pada akhirnya lelaki itu pun memilih membantu sang istri sebelum akhirnya mandi.


"Duh, susah banget, sih!" Kania sedikit kesal karena kitchen set atas memang tergolong lumayan lebih tinggi dari tinggi badannya sendiri. "Aku tahu kalau yang punya rumah ini tinggi, rapi nggak usah susah bikin setinggi ini juga." Gadis itu sedikit kesal.


Tangan Kanan Kania mengulur ke atas, mencoba sekali lagi. barangkali bisa digapai. akan tetapi, usahanya tetaplah tidak membuahkan hasil. Ia kalah. Tiba-tiba tangan seseorang langsung mengambilkan kotak susu yang diinginkan oleh Kania. Deru napas orang tersebut terdengar tepat di telinga Kania. Sepertinya ia tahu siapa yang berani berada di belakangnya.


"Kamu kalau butuh sesuatu, bisa panggil aku. Jangan sungkan." Rangga mengambil kotak susu tersebut, kemudian menyimpan di meja dekat kompor. "Kita ini suami istri. Artinya, kita harus kerja sama."

__ADS_1


Kania menelan ludah. belum pernah mereka berada di posisi yang sangat dekat. Bahkan punggung Kania saat ini menempel di dada suaminya. Ini Gila. Bukankah tidak ada adegan seperti ini dalam bayangan keduanya?


Rangga mengamati Kania. perempuan itu tidak mengeluarkan sepatah katapun. "Kamu dengar tidak?"


"Astagfirullah, iya, Mas." Kania terkejut. Lagi-lagi ia melamun ketika sedang berdekatan dengan Rangga, padahal sudah Seharusnya lebih fokus ketika diajak berbicara. "Makasih, Mas."


Rangga mengamati bahasa tubuh Kania yang berbeda. Perempuan itu seolah sedang dalam zona tidak nyaman. mungkin karena jarak di antara mereka yang dekat sekali. "Maaf, aku bukannya mau mendekatimu. Tapi, kalau bukan seperti ini, aku nggak bisa bantu."


Harapan hanyalah harapan, kini posisi Kania semakin terdesak. Rangga masih mempertahankan posisi tanpa peka sedikit pun, sehingga kini mereka saling berhadapan dan mengikis jarak. Kania mendadak gugup.


Rangga apa lagi. Kedua kakinya kesulitan melangkah mundur seolah tidak memiliki kekuatan sama sekali. pada akhirnya, Rangga tetap berada di posisi semula. menahan sebisa mungkin perasaan yang membuncah dalam diri. Dan, terus menyadarkan diri bahwa memaksa seseorang itu tidak baik. "Kamu mungkin sedang senang karena Radit mau datang, tapi kalau boleh jujur." Rangga tersenyum simpul. "Aku takut."


kedua bola mata kanan membesar. Ia paham dengan ketakutan yang dirasakan sang suami. mengingat Dasar pernikahan mereka Bukalah saling mencintai, melainkan cinta sebelah tangan.

__ADS_1


Wajah Rangga lesu jika membayangkan hal yang tak ia diinginkan. Menarik kembali Radit ke kantor pusat adalah keputusan yang sangat berarti. hanya saja, keahlian lelaki itu dibutuhkan sekarang. Rangga harus bisa memisahkan antara masalah pribadi dengan perusahaan. Bagaimanapun jika dirinya sudah menjadi seorang pemimpin, ia perlu berbuat seadil mungkin untuk memajukan perusahaan. Termasuk menarik beberapa orang yang bisa memberikan banyak manfaat.


"Aku tahu sulitnya melupakan seseorang, Apalagi itu cinta pertama. Tapi, sebagai pemimpin baru nanti. aku harus bisa memisahkan antara masalah pribadi dengan pekerjaan. Mungkin ada fase di mana aku harus lihat kamu bareng Radit. mungkin juga aku akan cemburu dan marah. Tapi, kembali lagi ke prinsipku yang nggak mau bikin kamu kurang nyaman di pernikahan ini." Rangga berterus terang.


"Jangan lupakan aku kalau kamu sudah bisa bertemu Radit. Setidaknya kamu harus tahu kalau ada sosok laki-laki yang akan menunggumu di rumah," sambung Rangga.


****



selamat siang. aku mau ajak kalian ke sana (tertera di cover). kali aja ada yang mau baca ceritaku di sana. Insya Allah, akan selesai bulan besok dan harga koinnya murah. Cukup bayar 36ribu sudah bisa untuk membuka 60 bab selama 1 bulan.


jangan lupa mampir ya.🥰

__ADS_1


__ADS_2