
Radit terpaksa pulang dulu karena harus mengganti pakaian. Kania merasa bersalah. Akan tetapi, brownis itu tetap diberikan pada Kania.
"Kasian Nak Radit," komentar Bu Lala mendengar cerita dari Adit.
Mereka kini berada di ruangan tengah menikmati pemberian dari Radit.
"Aku biarin aja. Habisnya Kakak suka jailin orang," jelas Adit yang jahil.
"Dek, jangan seperti itu. Jadi, kan, kasihan Kak Radit." Kania masih saja merasa bersalah. Andaikan ia tahu ada kehadiran lelaki itu, tentunya tidak mungkin sampai membawa selang segala.
Adit tertawa, puas. "Maaf, Kak. Habisnya Kakak suka ngeselin, sih!"
"Kakakmu benar, lho. Kamu itu jangan keterlaluan kalau jahil." Pak Kemal ikut menegur.
Satu keluarga yang bahkan belum mandi pagi itu pun asyik berkumpul di ruangan tamu. Jam dinding memang baru saja menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit. Cuacanya pun dingin, tumben sekali.
"Maaf, Yah," sesal Adit. Menyadari kesalahan yang seharusnya tidak dilakukannya.
Kania terpikirkan Radit. Semoga saja lelaki itu tidak marah. Dari raut wajahnya, sepertinya tidak. Berdoa yang baik-baik saja
"Assalamualaikum." Seseorang datang.
Radit kembali. Kania menatap lekat. Lelaki itu sudah berganti pakaian dengan yang baru. Kini lebih santai.
"Maaf, ya, Dit. Lagian kamu datang bukannya ngomong, tapi malah diam," kata Kania yang juga sedikit kesal pada sikap Radit.
Radit mendekati Pak Kemal dan Bu Lala. Mencium telapak tangannya satu per satu.
"Kamu betah di sana, Nak?" tanya Pak Kemal setelah memastikan Radit duduk di sofa panjang. Tepatnya di samping Adit.
"Alhamdulillah, betah, Om," jawab Radit.
Adit melirik pada Radit. "Pasti di sana banyak cewek cantiknya, ya, Kak? Makanya Kakak betah."
Kania memberikan tatapan tajam pada Adit. Namun, anak remaja itu sama sekali tidak terkecoh. Santai saja mengunyah.
"Hus, anak kecil ngomongin cewek cantik. Belajar dulu yang benar!" tegur Pak Kemal.
Kania tertawa lepas. "Syukurin, makanya jangan sok dewasa dulu. Umur masih Unyil udah berani bahas cewek!"
Adit melempar bantal sofa ke kakaknya. Kesal juga. "Kakak, ngeselin mulu dari tadi!"
__ADS_1
Untung saja Kania langsung menangkap bantal tersebut. "Suruh siapa ngerjain Kakak?"
Pak Kemal dan Bu Lala saling melempar pandangan. Sudah lelah menegur. Mereka bangkit dari tempat duduk dan memilih menepi di kebun belakang. Di sana lebih tenang.
"Kakakmu benar. Kamu itu masih kecil. Seharusnya belajar yang rajin," sela Radit yang memang memiliki semangat belajar melebihi pahlawan pendidikan.
Kalau sudah Radit yang angkat bicara. Adit lebih lunak. Padahal yang kakak tentunya Kania, bukan Radit. "Iya, Kak."
"Kenapa kamu nurut sama Radit daripada Kakak?" tanya Kania saking kesalnya.
Radit diam.
Adit melirik sinis. "Ya lah. Kak Radit itu baiknya kebangetan, lah Kakak. Masa minta uang lima puluh ribu aja diomelin dulu sepanjang jalan kenangan."
Radit terkekeh geli. Selalu saja ada perkataan ataupun sikap Adit yang memang berbanding terbalik dengan Kania. Bagaikan pinang dibelah dua.
Kania kesal. "Ni anak satu! Kalau bukan adik, udah Kakak buang kamu ke sungai Amazon sekalian!" Kania menghela napas kasar. Lelah sekaligus kesal. "Astagfirullah, harus banyak sabar ngadepin bocah satu ini."
"Sudah, sudah." Radit selalu saja jadi penengah. Pandangannya mengarah pada Adit. "Nggak baik berbicara seperti itu ke kakakmu, Dek. Kania ini pengganti Tante suatu saat nanti."
Seperti biasa Adit lebih menurut pada Radit. Bahkan terlihat lebih jenak untuk dihadapi. Kania benar-benar heran.
Kania kembali mengambil sepotong kue brownies yang memang menjadi makanan kesukaan perempuan tersebut.
Kania acuh. Ia tetap menikmati lembutnya kue yang memang sangat disukai.
Adit berdiri sambil membawa sepotong kue. Menoleh pasa Radit dan berkata, "Kak."
Radit mengangkat kepala. Fokus pada Adit. "Ya."
"Kemarin Kak Kania diantara cowok. Nggak tau siapa. Udah gitu dikasih gaun juga," ungkap Adit.
Kania tersedak, sedangkan bola mata Radit membulat sempurna.
"Kak Kanianya juga senang banget tau," tambah Radit sengaja.
Kania kesal. Memukul lengan kanan adiknya dan berkata, "Kamu kalau ngomong suka sok tau!"
Radit bergeming. Pikirannya terbang tanpa arah. Sampai detik ini tak ada satu pun pembicaraan hal ini pada dirinya dari Kania. Barangkali ini termasuk privasi yang memang tidak seharusnya banyak orang tau.
"Kakak cemas banget. Udah kayak yang ketahuan selingkuh aja sama pacarnya." Adit terus saja berceloteh sampai membangkitkan amarah kakaknya. Namun, sebelum dirinya terkena amukan sang Kakak. Ia lebih dahulu menyelamatkan diri dari Kania dengan berlarian ke arah dalam. "Kakak Kania panik, nih!"
__ADS_1
Rasa kesal Kania memuncak. Punya satu adik saja membuat kepalanya terasa pecah apalagi jika punya dua. Bisa gila di usia muda.
"Adit!" Kania berteriak kencang. Orang sabar pun akan berubah ganas ketika dirinya tertindas. "Astagfirullah, sabar."
Radit tak bergerak. Rasa terkejutnya masih terasa bahkan mungkin sampai mengguncang jiwa. Entah lelaki mana yang dimaksud Adit.
Kania diam. Suasana berubah hening. Tak ada satu kata patah pun yang keluar dari keduanya. Melebur bersama pikiran masing-masing.
Dua menit dalam keadaan seperti itu berhasil menarik jiwa penasaran Radit keluar. "Wah, sepertinya kamu udah punya teman baru, ya? Syukur lah."
Kania merasakan kalimat itu bukan sebuah bentuk syukur, melainkan perkataan yang menutupi sebuah kenyataan sesungguhnya.
"Aku jadi nggak terlalu khawatir. Kamu, kan, sering ceroboh. Kadang kalau pas datang bulan aja suka malas ke mana-mana. Mau minum ditahan karena harus gerak," kata Radit.
Kania diam sejenak, lalu berkata, "Dia itu teman kantor. Karyawan baru."
Radit mendengarkan. Berusaha untuk berdamai dengan diri dalam menanggapi masalah seperti ini. Bagaimanapun Kania berhak berteman ataupun memiliki interaksi yang lebih pada orang lain.
"Sudah lama masuknya?" tanya Radit masih terus menenangkan diri. Tidak dipungkiri jika perkataan Adit sudah mengulurkan rasa cemburu, tetapi perlu menyadari jika status mereka hanyalah teman.
"Pas kamu pindah, dia datang," jawab Kania.
"Di divisi keuangan?"
"Ya. Tinggal di dekat aku."
"Samping kamu?" Radit penasaran. Getaran dalam dada kian bergejolak. "Ada kursi kosong, kan, di sana?"
Kania mengangguk pelan. "Ya."
Radit diam.
"Dia anaknya Pak Gani," tambah Kania. Ia yakin jika Radit pasti mengenalnya.
Pikiran Radit tertuju pada satu nama. Namun, itu tidak mungkin. Sebab, ada alasan kuat.
"Maksud kamu Kevin?" Pada akhirnya Radit mengucapkan nama tersebut. "Dia ada di sana?"
Kening Kania mengerut kencang. "Kevin? Siapa dia?" Ekspresi Kania menunjukkan perempuan itu tidak tau. "Bukannya Rangga. Anaknya Pak Gani."
Radit terkejut sekaligus heran. "Rangga siapa?"
__ADS_1
Kania ikut heran. "Ya, Rangga. Anaknya Pak Gani yang sekarang kerja. Sekantor saja tau, masa kamu sendiri nggak tau?"