
Sementara itu Radit sendiri sedang mencari hunian baru untuk Gendis sambil makan siang di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor.
"Pak, saya maunya satu rumah, kalau ada. Biar nanti kalau orang tua saya datang, mereka nyaman," imbuh Gendis sambil menikmati sepiring spaghetti.
Radit diam. Kalau rumah, ia jelas sangat bisa merekomendasikannya sekarang juga. Namun, takutnya Gendis kurang nyaman jika berada di satu lingkungan yang sama dengannya.
"Jauh dari kantor, tidak masalah, Pak. Yang penting nyaman." Gendis membeberkan semua yang diinginkan ketika mencari hunian.
Radit hanya makan nasi ayam pedas, salah satu menu favoritnya dengan Kania. Bahkan cafe yang sedang mereka datangi pun adalah tempat kesukaan keduanya. Ah, banyak kenangan sekali. Itulah alasan Radit tidak mampu melupakan Kania. "Sebenarnya di dekat lingkungan saya ada satu rumah yang mau disewakan. Hanya beda satu rumah saja dengan rumah saya."
Gendis tersedak. Tak menyangka akan ada kesempatan itu. Dengan cepat mengambil jus jeruk di dekat piring makan dan menyedotnya kuat. Hampir habis setengah gelas. "Di dekat rumah Pak Radit? Memastikan lagi. Barangkali telinganya salah menangkap.
Radit mengangguk cepat. Ia baru mengetahui rumah itu disewakan dua hari lalu, karena saat itu pemilik rumah menitipkan kuncinya pada sang Ibu. "Iya. Dekat rumah Kania juga, tapi lebih tepatnya samping kanan rumah saya. Harganya mungkin lumayan, tapi kata si Pemilik akan disewakan per-kamar saja." Tak lupa Radit menjelaskan jenis bangunan yang dibicarakannya.
Gendis diam. Untuk menyewa rumah yang berlantai dua yang dikatakan Radit, rasanya Gendis tidak akan mampu. Namun, jika hanya disewakan per-kamar, mungkin bisa dipertimbangkan lagi.
"Untuk ukuran kamarnya lumayan luas. Saya bisa bicara seperti ini, karena Beliau saat bangun itu saya lihat sendiri. Di rumah itu ada sekitar empat kamar. Lantai atas dan bawah masing-masing terisi dua kamar. Dan, setiap kamar ada kamar mandi dalam," jelas Radit sepengetahuannya.
Gendis cukup tertarik. Jika harganya lumayan, ia akan lebih tertarik. "Untuk harganya berapa, Pak?" Gendis menyimpan lagi gelas di meja. Radit sampai detik ini belum menghabiskan setetes pun jus jeruk miliknya, sedangkan Gendis hampir habis. Cukup tahan haus lelaki itu.
Radit tidak bisa berkata pastinya. Akan tetapi, mungkin saja standar dengan orang lain. "Saya kurang tau untuk itu. Kalau kamu ada rencana melihat, saya bisa antar. Nanti biar sama Bunda juga diantarnya."
Gendis tersentak. Bertemu dengan orang tua Radit? Ini tak bisa terbayangkan, sekali pun bukan untuk hal pribadi. Namun, tetap saja harus persiapan lebih baik. "Jangan, Pak. Saya tidak mau merepotkan bundanya Pak Radit." Bagaimanapun kesopanan itu nomor satu.
Radit mengambil gelas berisi es jeruk, kali ini membiarkan cairan itu masuk ke tenggorokan lewat mulut. Segar. "Bunda yang punya kuncinya. Bunda juga yang dipercaya Beliau untuk melihat rumah, jadi saya tidak mungkin melakukannya tanpa Bunda."
"Ah." Gendis mengerti.
Gelas berisi es jeruk itu masih ada di tangan Radit. "Saya seperti ini karena merasa kasihan dengan kamu. Di sini mungkin kamu tidak punya siapa-siapa, juga pertama kalinya datang ke kota besar."
Gendis bergeming. Sesekali kedua mata itu mengerjap. "Bapak percaya sama saya, ya?" Gadis itu tersenyum kecil.
__ADS_1
Radit menyimpan lagi gelas di dekat piring. "Kewajiban saya itu cuma percaya. Entah kamu berbohong atau tidak, itu bukan urusan saya. Sekali pun saya merasa kecewa, itu juga bukan salahmu."
"Kenapa?" Gendis selalu tertarik ketika berdebat dengan Radit.
"Karena saya yang memilih percaya ke kamu." Radit tak suka berbelit-belit. Ia tak ingin juga mengulur waktu untuk sesuatu yang bisa dilakukan secepat kilat. "Jadi, kalau memang kamu pernah ke sini dan memiliki kenangan, ya itu bukan ranah saya untuk mengusik. Yang saya tau, kamu adalah bawahan yang saya ikut tarik ke sini."
Gendis semakin terpukau dengan kalimat Radit. Lelaki seperti inilah yang ditolak Kania. Padahal ia sangat menginginkan untuk bisa dicintai. Ah, pasti hanya sebatas mimpi. Mana mungkin juga. "Saya salut dengan pemikiran Pak Radit. Saya juga cukup malu karena rasanya kebaikan Bapak itu tidak bisa diukur dengan jari."
"Bukan saya yang baik, tapi Allah yang kasih jalan. Saya itu manusia biasa yang bahkan kamu tidak tau keburukan saya itu seperti apa." Radit selalu tidak ingin dikatakan baik. Ia terlalu banyak dosa untuk disebut itu. "Jangan terlalu membandingkan dirimu dengan yang lain, karena sejatinya kita punya kehidupan masing-masing. Tetaplah jadi dirimu sendiri, jangan ragu untuk melangkah. Penyesalan itu selalu datang di akhir episode."
Lengkungan senyum kecil mengembang di bibir Gendis. Dengan dekat Radit saja, ia merasa memiliki sebuah bahu lebar untuk bersandar. Akan tetapi, ia pun tak bisa mengandalkan lelaki itu untuk setiap waktu.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya perbincangan ini bisa berakhir di kesepakatan dua pihak. Mereka akan bertemu di akhir pekan untuk melihat rumah yang akan disewakan. Mengingat Gendis ini baru di kota besar, maka Radit menawarkan untuk menjemput gadis itu di halte depan apartemen Gendis. Ini dilakukan karena wanita itu belum tahu sepenuhnya seluk beluk area sini.
"Kita kembali ke kantor. Kamu bisa pertimbangkan dulu mana yang terbaik. Jangan terlalu terburu-buru." Radit berdiri dan akhirnya pergi meninggalkan Gendis lebih dulu karena harus membeli kopi untuk teman siang ini. Pasti akan sangat ngantuk jika tak diimbangi dengan minuman penguat kekuatan mata.
"Iya, Pak. Terima kasih sebelumnya," jawab Gendis.
Gendis meneruskan makan sambil sesekali menikmati lonjakan kesedihan di hati. Jangan sampai perasaan ini mengubah moodnya untuk bekerja lagi. "Aku datang. Semua masih saja, ya." Tangan kanan Gendis menghapus sedikit tetes cairan bening yang keluar dari bagian mata kiri. Jangan menangis, memalukan!
***
Hari terus berlalu, weekend pun tiba. Kania yang terbangun pukul dua malam tadi kembali tertidur karena lelah. Maka dari itu, ketika azan Subuh berkumandang, wanita manis itu masih terlelap nikmat.
Selama menikah, baik Rangga ataupun Kania tidak ada yang meminta tidur terpisah. Mereka tetap bersama di satu kasur, tetapi menjaga privasi masing-masing.
Rangga terbangun lebih dulu. Pria itu duduk di kasur dan menoleh ke samping. Sesekali tersenyum melihat wajah manis Kania tanpa hijab. Rambut panjang itu tergerai bebas dengan posisi tidur Kania terlentang, tetapi sayangnya wanita itu melingkar. "Aku merasa lagi tidur sama anak kecil. Area tempat tidur dikuasai sama dia semua."
Ini bukan kejadian baru, dari pertama menikah pun sudah begitu. Awalnya Rangga merasa kurang nyaman. Bahkan, lelaki itu beberapa kali terjatuh karena terdorong tubuh Kania. Bisa dikatakan terlalu brutal untuk seorang wanita, tetapi bagaimana lagi. Kania adalah istrinya.
Pada akhirnya Rangga memutuskan untuk membenarkan posisi tidur sang Istri. Ia merubah posisinya agar bisa menghadap ke arah tubuh Kania, melihat sekejap sambil berkata, "Kamu sepertinya lelah. Apa pekerjaanmu akhir-akhir ini lebih banyak?" Dari cara Kania tidur serta raut wajah wanita tersebut, Rangga bisa merasakan kelelahan kuat. Seharusnya Kania di rumah saja, tetapi perempuan itu punya hak untuk lebih berkembang.
__ADS_1
Rangga perlahan meraih badan Kania hendak memangkunya dan mengganti posisi tidur perempuan itu. "Ya Allah, dia berat sekali." Tak menyangka bobot Kania akan seberat ini.
Rangga berhasil membuat tubuh istrinya lurus, kini perlahan merebahkan lagi ke tempat tidur. Namun, karena terlalu berat sampai akhirnya lelaki itu tak sanggup menopang lagi dan terjatuh di badan Kania.
Entah ini semesta yang sudah mengatur atau memang keberuntungan Rangga, ia tak sengaja menyentuh bagian bibir sang Istri. Sontak saja sentuhan itu berhasil membuka kedua mata Kania dan mendiamkannya dalam kurun waktu beberapa menit.
Dua bola mata Rangga mengerjap. Adegan apa ini? Hal yang seharusnya bisa dilakukan lebih manis justru terjadi karena kecelakaan.
Kania sadar. Dengan cepat mendorong Rangga ke belakang sampai lelaki itu tersungkur ke bawah. "Astagfirullah, Mas!" Kania kaget. Langsung bangun dan mengatur napas. Apa yang sudah terjadi? Apa ini?
Sementara itu Rangga merasakan kesakitan di bagian punggung. Meluncur dari atas ke bawah cukup meremukkan badan. Kekuatan istrinya lumayan besar, layaknya gempa yang mampu merobohkan rumah besar. "Kenapa sepagi ini kamu sudah main dorong mendorong? Salah aku apa, Nia?"
****
GIVE WAY
AKAN ADA LIMA PEMENANG YANG BERHAK MENDAPATKAN SALDO DANA MASING-MASING SENILAI 20 RIBU.🎉🎉🎉
CARANYA:
Wajib baca cerita ini sampai tamat.
Berikan komentar, vote, like dan dukungan lainnya.
Selalu sertakan hastag #Dualelaki (Contoh, #Dualelaki Thor, ini kenapa harus ditendang?" )
Pemenang akan diundi oleh Author tanggal 10 Januari.
__ADS_1
Jangan lupa ikutan, ya.🥰🥰 Semakin banyak dukunganmu, semakin besar pula kesempatan untuk mendapatkan hadiah.🤫