Dua Lelaki

Dua Lelaki
Radit gelisah


__ADS_3

Di tempat lain Radit gelisah dari siang. Ia tak bekerja dengan baik. Ada yang aneh dalam diri, tetapi sulit ditemukan. Entah apa.


"Selamat siang, Pak." Seorang karyawan masuk. Sudah sempat mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban. "Saya bawa laporan untuk hasil penjualan bulan ini."


Radit memfokuskan diri. Tak baik terus menerus seperti ini.


"Baik. Akan saya periksa," kata Radit.


Karyawan lelaki itu menyimpan dokumen di meja, lalu kembali pergi. Radit masih belum bisa berkonsentrasi. Namun, ia berusaha sebaik mungkin.


Perlahan lelaki itu mengambil laporan. Melihat lembar demi lembar yang ada di dalam map Semuanya sama dan tidak ada yang melenceng. Penjualan bulan ini mencapai target di menit terakhir. Cukup melelahkan, tetapi setiap kerja keras selalu mendapatkan hasil akhir yang baik.


Waktu menunjukkan pukul empat sore.waktu pulang sebentar lagi. Cuaca di luar mulai mendung. Awan gelap menggantung dengan nyaman di langit kota ini. Terlihat sekali hujan akan datang dalm waktu dekat.


"Hujan lagi sepertinya," kata Radit.


Setelah salat Ashar tadi, Radit terbayang Kania. Tidak sabar pula untuk datang menemuinya lagi. Akan tetapi, harus lebih sabar karena belum saatnya.


Rindu yang berselimut dalam diri kian menyiksa. Sesuatu yang seharusnya tidak ada dalam diri karena bukan hak Radit. Hanya saja lelaki itu tetaplah manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan. Mencoba memperbaiki diri dan terus berlari meminta perlindungan Yang Maha Kuasa.


Satu jam itu tidak terasa. jam pulang pun tiba. Sejalan dengan itu hujan datang menyapa semesta. Menghentikan sementara aktivitas manusia di bagian kota ini. Ya ... barangkali di belahan bumi lain pun sama.


Radit menyambar tas serta kunci mobil. Mengingat persedian makanan siap saji di kulkas habis. Ia terpaksa harus mampir lebih dahulu ke supermarket.


Lelaki itu keluar ruangan. Menyapa beberapa karyawan yang masih ada.


"Terima kasih atas kerja keras kalian," kata Radit.


"Terima kasih juga, Pak." Tiga karyawan yang masih ada menjawab.


Ritual yang selalu saja menjadi penutup hari dari Radit menjadi kesan tersendiri untuk karyawannya. Ia kini dikenal sebagai atasan yang ramah dan selalu menolong. Tidak galak, tetapi tegas. Bisa memposisikan diri seperti apa keadaannya.


Radit lebih dulu naik lift. Badannya remuk, mungkin karena terlalu penat bekerja dan cuaca pun sedang tidak bersahabat. Hanya saja sebagai seorang pekerja yang hidup sendiri. Ia harus tetap kuat dalam keadaan apa pun.


lift berhenti di lantai empat. Di mana Gendis kala itu masuk dengan tiga orang temannya. Mereka tersenyum pada Radit dan berdiri di depan lelaki itu.


"Gendis, kamu itu harus banyak bergaul. Masa sampai usia sebesar ini belum ada pacar," kata seorang karyawati berbaju merah.


Gendis berada di tengah temannya.


"Dia itu, kan, udah pernah punya pacar," sahut karyawati berpakaian kemeja putih dengan rambut diikat ekor kuda.


Radit mendengarkan saja, sedangkan Gendis sendiri merasa malu karena kehadiran Radit.


"Ah, iya, aku lupa. Maaf." karyawati berbaju merah merasa bersalah. Menepuk pundak kanan Gendis dan berkata lagi, "Seharusnya kamu udah nikah, ya. Maaf."


Gendis mengukir senyum. Tak masalah. "Itu sudah masa lalu." Tampak jelas jika kesedihan itu masih bersisa.


"Kenapa nggak cari penggantinya? Kamu itu cantik. Jangan single aja. Apalagi kamu punya orang tua yang sakit, kan? Mereka pasti mau punya cucu." Salah satu dari karyawati itu juga ikut andil.

__ADS_1


Gendis tak banyak berbicara. Melihat banyaknya teman yang sudah berpasangan bahkan menikah memang ada rasa iri dalam hati. Namun, ia perlu menyadarkan hati jika setiap manusia sudah Tuhan siapkan jodoh terbaik. Barangkali dirinya masih belum bertemu.


Radit sama sekali tidak terganggu dengan pembicaraan mereka sampai akhirnya karyawati berbaju merah seolah berbangga diri bisa memiliki pasangan dan seakan menyudutkan Gendis yang masih saja sendiri.


"Perempuan itu minimal harus ada pasangan, Gendis. Kita kan bisa minta apa-apa sama mereka. Jadi ... ya nggak terlalu boros. Bodo amat mereka mau susah atau nggak. Kan, kita pacarnya," celetuk karyawati itu.


Lift berhenti di lantai dasar. Mereka keluar bersama terutama Radit dan Gendis. Ketika kedua kaki menginjak di lantai dasar. Kalimat kurang menyenangkan pun ia dapati.


"Cewek yang nggak pernah pacaran itu malah jadi jomblo tua, lho."


Gendis di sana terlihat sekali tertekan. Susah sepertinya bagi perempuan itu melawan, sehingga hanya diam tanpa kata.


Radit menghampiri mereka dan berkata, "Gendis, kamu mau pulang?" Entah mengapa ia ingin menyelematkan perempuan malang itu dari keadaan yang kurang menyenangkan tersebut.


Gendis diam, sedangkan dua temannya saling berbisik.


"Ayo, sama-sama. Cuaca juga hujan. Kamu tidak bawa payung?" tanya Radit lagi.


Gendis mengangguk cepat. Bersyukur bisa bertemu Radit. "Iya, Pak Radit."


"Maaf, Pak, memangnya rumah Gendis satu arah, ya?" Jiwa ingin tahu karyawati berbaju merah keluar. Ia yang paling penasaran di antara yang lainnya. "Seingat saya Gendis ini ke arah kanan."


Radit bersikap tenang. "Saya rasa berbuat baik itu tidak perlu melihat dia satu arah atau tidak karena itu sudah diniatkan dari hati."


Kedua karyawati tersebut langsung diam. Radit memang berbicara secara lembut, tetapi kalimat lelaki itu langsung menyindir secara halus.


"Saya mendengar kalian membicarakan tentang pacaran atau kekasih. Apakah wanita atau pria yang lajang seumur hidup itu hina? Atau mungkin dipandang rendah? Saya rasa tidak karena setiap orang berhak untuk memilih jalan kehidupan!" tegas Radit sekali lagi.


Radit masih mempertahankan senyum kecil. Ia terkenal ramah, tetapi juga tegas. "Saya bukan ingin ikut campur, tapi ada baiknya kita lebih bijak lagi sebelum berbicara. Di dunia ini banyak orang yang terluka karena lisan, tentunya kita memang tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas ketidaksukaan seseorang atas perkataan kita. Tapi ... kita punya kewajiban untuk lebih berhati-hati lagi."


Mereka akhirnya mengerti dan Gendis ikut bersama Radit keluar gedung. Hujan semakin besar, bahkan kini angin kencang mengikut juga. Banyak orang yang terpaksa tertahan di gedung. Menunggu reda.


Gendis dan Radit sampai di mobil. Bukan ingin berduaan dengan perempuan itu, tetapi memang Radit hanya menyelematkan saja.


"Pak, saya turun di halte saja," kata Gendis tidak enak hati.


Radit juga merasa kasihan jika menurunkan Gendis di tengah hujan badai. "Tidak perlu. Kita pulang sama-sama." Di sini Radit lupa akan niatnya pergi ke supermarket.


Kendaraan roda empat itu berjalan perlahan keluar parkiran gedung. Menerobos curah hujan yang masih tinggi. Sekali pun menunggu akan lama sekali. Mengingat waktu shalat Magrib sebentar lagi.


Sepanjang jalan Gendis hanya menutup mulut. Menatap keluar lewat jendala. Air hujan itu menenangkan. Membawanya terbang ke bayangan masa lalu yang menyenangkan.


"Kamu kenapa tidak melawan?' Radit memulai percakapan. "Tidak baik kalau cuma diam. Sesekali lawan saja."


Gendis tak berniat menoleh sebentar pun. Pandangannya masih saja asyik memandangi hujan. Menyenangkan.


"Mereka bukan bermaksud buruk. Jadi ... Aku tidak perlu membalas. Hak mereka juga untuk memamerkan kekasih atau pasangan, Pak," jawab Gendis.


Radit terus menyetir dengan hati-hati. Sebisa mungkin melaju dengan kecepatan rendah mengingat jalanan masih sangat licin.

__ADS_1


"Pak, saya tidak masalah orang menyudutkan bagaimanapun. Yang penting bukan menyenggol orang tua atau keluarga," tambah Gendis.


Radit sepemikiran. Ia mungkin akan melakukan hal yang sama. Selama tidak terlalu meleber ke arah keluarga, rasanya masih bisa ditahan. Hanya saja terkadang ia geram dengan perlakuan orang seperti itu. Seakan semuanya menjadi mudah jika memiliki pasangan. Padahal Tuhan itu sebaik-baik tempat untuk berlindung.


"Pak Radit sendiri kenapa masih lajang?" Gendis memberikan pertanyaan yang lumayan sulit. "Mungkin karena perempuan yang Pak Radit suka, ya?"


Radit bergeming sambil menyetir. Bisa dikatakan demikian.


"Memang paling susah buat move on, Pak. Saya sudah mengalaminya. Apalagi orang itu berkesan sekali," lanjut Gendis.


Radit tak menjawab. Ia rasa Gendis sudah tahu jawabannya. Tidak membutuhkan lagi penjelasan panjang kali lebar.


Perjalanan pulang kali ini tidak terlalu mendapati kemacetan. Hujan membuat hampir setengah pengendara mobil dan motor berteduh. Entah karena malas menerobos hujan atau memang lebih suka menunggu reda.


Radit dan Gendis sampai di parkiran apartement. Keduanya keluar dan berjalan saling berdampingan, tetapi tetap menjaga jarak.


Ketika kedua oramg itu sampai di dalam gedung. Radit merasakan sakit kepala yang luar biasa. Suhu tubuhnya pun meningkat panas. Sepertinya lelaki itu mengalami demam tinggi.


Gendis memperhatikan perubahan drastis Radit ketika mereka masuk lift. "Pak Radit, baik-baik saja?" Menatap lekat.


Radit mengangguk cepat. Tak ingin sampai merepotkan orang lain. "Saya baik."


Lift mulai berjalan. Gendis kurang percaya. Melihat wajah Radit yang memerah dengan pandangan sayu saja sudah menjadi patokan jika lelaki itu memang sakit. "Bapak, yakin?" Tetap bertanya untuk memastikan.


"Iya. Tenang saja."


Lift berhenti di lantai dua. Gendis pamit keluar, sedangkan Radit meneruskan perjalanan ke lantai empat. Jedanya hanya sebentar. Mungki satu menit saja. Radit sudah sampai di lantai empat.


Rasa sakit yang diderita lelaki itu semakin terasa. Kian kuat dan bisa mengalahkan pertahanan diri. Radit sebisa mungkin berjalan ke kamarnya, membuka pintu dan masuk. Tubuhnya mulai demam. Dengan cepat membaringkan badan di sofa panjang. Terasa sekali suhu tubuh meningkat tajam. Cuaca memang tidak sedang bersahabat, banyak sekali orang yang tumbang dan akhirnya dirawat.


Suhu tubuh Radit semakin panas. Lelaki itu meringkuk sendiri di sofa. Biasanya sang Bunda akan merawat dengan baik dan Kania pun mengirimakan bubur yang dibuat khusus oleh Bu Lala.


"Astagfirullah, badanku sakit semua. Panasnya tinggi." Radit mengusap kening. Baru saja ditempat hawa panas menerpa punggung tangan kanannya.


Suara azan berkumandang dari masjid terdekat. Radit berusaha keras untuk bangun. Masih ingat kewajibannya sebagai seorang muslim. Namun, apadaya kenyataan tak sesuai keinginan. Tubuhnya terlalu lemah. Tidak ada tenaga untuk sekadar bangun saja.


"Astagfirullah," gumam Radit.


Di kamar lain Gendis merasa gusar melihat kondisi Radit tadi. Mengaganggu pikiran. Ingin memastikan, tetapi ragu. Pada akhirnya gadis itu hanya diam setelah membersihkan diri.


Ia langsung ke dapur setelah mandi. Membuat sup ayam yang niatnya akan diberikan pada Radit. Barangkali atasannya itu belum menyiapkan makan malam.


Gendis menggunakan bahan segar dan bumbu yang pas, sehingga menghasilkan sup ayam dengan aroma yang lezat. Cukup waktu sekitar lima belas menit untuk memasak. Gendis membawanya ke tempat tahan panas beserta nasi. Bisa saja Radit tidak ada.


"Sebaiknya aku kasihkan langsung. Mungkin Pak Radit udah selesai sembahyangnya," kata Gendis membawa wadah itu dan keluar kamar. Di sebelah kamar Gendis memang hanya ada tiga unit. Jadi ... satu lantai itu terdiri dari empat unit dengan pemilik yang berbeda.


Gadis manis yang kini memakai piyama berbentuk dress panjang dengan lengan panjang itu pun penuh gairah pergi ke lift. Bertemu Radit dan memberikan masakan buatannya memang hal menyenangkan.


Gendis naik lift untuk sampai ke lantai empat. Suasana di lorong memang sepi. Tak ada satu pun. Gendis langsung menuju unit Radit. Memencet bel dan menunggu.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari dalam. Gendis mencobanya sekali lagi, tetapi masih saja. Begitu ketiga kali barulah pintu itu terbuka. Memperlihatkan Radit yang kacau.


"Pak Radit!" Gendis kaget. Seiring dengan kalimat tersebut tubuh Radit ambruk ke bawah. "Pak Radit!" Gendis semakin khawatir. Sesuai dugaannya ada yanh salah dengan lelaki yang selalu menolongnya tersebut.


__ADS_2