
Pada akhirnya mereka tetap makan bersama. Desi dan Kania duduk saling berdampingan, sedangkan Rangga sendiri berada di depan mereka.
Banyak sekali perbincangan yang ketiganya lewati termasuk perihal pekerjaan. Rangga yang baru masuk di perusahaan pun merasa tersanjung dengan dedikasi dua wanita di depannya karena bekerja dengan sangat baik.
Setelah makan mereka semua berpencar ke tujuan masing-masing. Kania pulang ke rumah karena akan menghabiskan sisa weekend dengan bersantai di kamar saja.
***
Sementara itu di tempat lain Radit hanya diam di apartemant. Tak ada kegiatan di hari libur ini. Ingin pulang, tetapi belum waktunya. Sebab, pekerjannya di Minggu depan sangat banyak dan perlu konsentrasi yang tinggi.
"Aku lapar. Sebaiknya cari makan di luar sekalian ngenal daerah sini," kata Radit.
Apartement ini berada di jantung kota. Harganya pun memang sebanding dengan fasilitas dan lingkungan yang disuguhkan. Cukup wort it bagi lelaki lajang yang memang sangat sibuk bekerja.
Radit mendapatkan kamar di lantai lima. Ia turun ke lantai bawah dengan mrnggunakan lift. Begitu berada di lantai tiga, ternyata seseorang masuk. Mata Radit terbelalak, tak percata. "Kamu!" Sontak tangan kanannya menunjuk ke arah orang tersebut.
"Pak Radit." Rupanya Gendis yang masuk.
Lift berjalan seperti biasa lagi menuju lantai bawah. Hanya ada mereka di sana. Gendis canggung, apalagi semenjak kejadian di kantor itu. Radit selalu mengingatkannya makan ketika bertemu. Mungkin hanya sekadar perhatian dari atasan untuk bawahannya, walaupun berbeda divisi.
"Kamu tinggal di sini juga" tanya Radit. Ia memang tidak pernah bertanya banyak perihal pribadi bawahan. Itu bukan ranahnya. Oleh karena itu, ia jelas terkejut ketika mendapati Gendis di sini.
Gendis berdiri di samping Radit. Hidungnya bisa mencium dengan sangat kuat harum parfum yang dipakai Radit. Menenangkan sekali. Menarik Gendis ke dunia yang berbeda.
Netra kanan Radit melirik ke samping. Mengamati Gendis yang aneh. "Kamu baik-baik aja, kan?"
Sontak Gendis tersentak. Ia tertangkap basah. Malu sekali. "Aku baik, Pak. Maaf, tadi kurang konsen." Terpaksa berbohong demi menutupi rasa malunya.
Radit tertawa kecil. "Aku tanya, kamu tinggal di sini juga?"
Gendis mengangguk cepat. "Ya, Pak."
"Sudah lama?"
"Baru sekitar tiga bulanan."
__ADS_1
"Lumayan."
Gendis lagi-lagi mengangguk pelan. Ia canggung. Jantungnya kian berdentam tak karuan. Terlebih parfum Radit menggoda. Benar-benar perlu iman yang kuat.
Lift berhenti di lantai bawah. Radit lebih dulu melangkah, kemudian disusul Gendis. Dua orang itu berjalan tanpa sejajar, Gendis memilih mengekor di belakang.
Radit tiba-tiba berhenti, hingga menyebabkan Gendis menabrak punggungnya.
"Aduh!" Gendis memegang kening.
Radit berbalik badan. Menatap Gendis lekat dan berkata, "Kamu mau keluar juga"
Dengan tangan kanan memegang kening, perempuan itu membenarkan kalimat Radit dengan anggukan juga. Ia lapar.
"Pak Radit mau ke mana?" Entah angin apa yang membuat Gendis berani bertanya. Semoga saja satu tujuan dan bisa bersama.
"Saya gabut di kamar, lapar juga. Jadi, mau cari makan sekalian ngenal tempat sekitar sini," jawab Radit jujur.
Gendis terpikir sesuatu. Pas sekali. "Pak Radit mau makan yang enak, tapi hemat?"
"Memangnya ada?" Kening Radit mengerut. Selama di sini, ia selalu makan di dekat kantor ataupun membeli di online. Tentu harganya pun standar.
"Ada, Pak. Saya biasanya makan di sana karena hemat. Kalau Pak Radit mau, bisa ikut. Kebetulan saya juga mau makan," jawab Gendis.
Perempuan yang jarang berbicara dengan orang itu kini seperti berbeda. Berani berinteraksi, padahal Radit bisa dikatakan sangat asing.
Jelas Radit berkenan. Ia akan di sini sekitar dua tahun, sesuai kontrak. Jelas saja harus tahu banyak tentang kuliner dan lain halnya. "Boleh."
"Ayo, lewat sini, Pak." Gendis membimbing Radit ke arah luar gedung apartemen, selanjutnya berjalan ke arah gerbang, dan berbelok ke kiri.
Di sebelah kiri gedung, tepatnya dekat dengan kedai kopi. Ada sebuah warung makan yang konsepnya parasmanan. Di sana pun harganya terbilang sangat murah dengan menu rumahan yang menggoda selera.
Keduanya berada di depan kedai. Radit memperhatikan keadaan kedai yang sangat penuh. "Ramai sekali?"
"Iya, Pak. Karena di sini itu murah. Saya kadang makan hanya habis sekitar dua belas ribu, lumayan," sahut Gendis.
__ADS_1
Jelas saja Radit membelalakkan mata. "Kamu makan apa?"
"Cuma telor, sayur, tempe orek, krupuk, sambal, lalapan sama es teh manis aja, Pak."
"Masya Allah, itu bisa dikatakan murah."
Gendis tersenyum tipis. Hatinya damai mendengar Radit berkata demikian. Sepertinya seliter air jernih baru saja menyiram tubuhnya hingga merasakan kesegeran yang luar biasa. Berada di samping Radit pun menentramkan. Bisa dikatakan Radit memiliki kedamaian bagi hati yang sedang mencari tempat.
"Ayo, masuk, Pak. Menunya banyak dan enak." Gendis mengajak Radit masuk.
Kedua kaki Radit mengayun cepat ke arah kedai. Benar saja, menu di sini menggugah selera. Mungkin bisa dikatakan ini warung tegal, tetapi konsepnya memakai parasmanan.
Begitu masuk, Radit dan Gendis langsung disambut hangat oleh ibu paruh baya yang ramah. Keduanya pun mengambil nasi dan lauk yang diinginkan, kemudian bayar. Untung saja tempatnya luas, sehingga mereka bisa mendapatkan tempat. Tak apa sekali pun di belakang.
Radit duduk berhadapan dengan Gendis. Lelaki itu mengambil menu lele goreng, sambal, lalapan, sayur kangkung, tahu goreng juga es teh manis. Begitu dicoba, rasanya langsung menendang lidah.
"Enak, Pak?" tanya Gendis sedikit was-was. Sebab, yang ia ajak makan adalah atasannya, bukan teman biasa. Penilaian Radit sangat penting.
Ekspresi Radit kurang bisa dibaca oleh Gendis. Ia kian takut ketika Radit hanya diam seolah sedang merenungkan nasib yang tak kunjung berubah.
"Pak Radit," panggil Gendis sekali lagi.
Barulah Radit sadar. "Ah, maaf. Saking enaknya, saya sampai keingat masakan Bunda."
Lega. Dada Gendis bisa bernapas. "Saya kira Pak Radit kurang suka."
"Tidak mungkin. Ini enak." Radit mengatakan itu sambil melempar senyum paling manis. Melelahkan jiwa Gendis yang sudah sangat rapuh karena kebaikan lelaki tersebut. "Kalau tau dari awal, saya pasti makan di sini kalau habis dari kantor. Terima kasih."
Gendis terharu. Padahal hanya menunjukkan tempat makan saja, bukan melakukan sebuah kebaikan yang bernilai tinggi. "Syukurlah kalau Pak Radit suka karena dia juga suka."
"Maksudnya?" Radit kurang paham.
Dua pupil mata Gendis membulat sempurna. Mulutnya tak bisa bekerja sama.
"Dia siapa?" tanya Radit penasaran. Sejak pertemuan pertama, Gendis selalu memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Awalnya, Radit biasa saja. Akan tetapi, semakin ke sini, ia tergelitik ingin tahu lebih. Wajar saja.